
Menikmati belaian angin, pelukan Langit biru serta belaian kasih sayang, ada rasa kepuasan tak terlukiskan, juga bangga pada diri sendiri memiliki seorang Suami yang tampan dan kaya raya juga baik dan perhatian, tapi sifat Keysa yang sampai saat ini belum bisa menerima keberadaannya, sekalipun sudah resmi menjadi Istri Papanya, membuat ia serba salah menjalani hari-harinya yang penuh kebencian itu, dadanya sesak dan tidak tau harus melakukan apa untuk menaklukkan hati Keysa, Anak bawaan dari Suaminya itu.
Sekalipun Keysa, sangat membencinya, Fany tidak membalas membencinya, ia tetap menjaga sifatnya agar tidak membuat masalah baru dalam kehidupan rumah tangganya yang baru seumur jagung itu, cinta dan kasih sayangnya pada Keysa, dan Papa Aksa mampu membuatnya bertahan demi Orang - Orang yang sangat dicintainya.
Seperti kebiasaan seorang Istri, ia melayani Suami dan Keysa, layaknya seorang Ibu, sekalipun tidak anggap ia tetap sabar dan ikhlas menerima perlakuan, Keysa yang tidak terpuji itu.
Tok...tok... tok,
"Keysa, sarapan yok," panggil Fany sembari mengetuk pintu kamarnya.
Keysa, tidak menjawab, malah menghidupkan musik kencang, sebagai luapan rasa bencinya membuat seisi rumah terganggu, terlebih Papanya yang masih tidur, dengan langkah kakinya yang gontai ia meninggalkan kamarnya dengan mata berkaca-kaca. Tak beberapa lama ia berpapasan dengan Bu Zana, yang kebetulan lewat menuju Kamarnya, melihat Fany, dengan mata berkaca-kaca lalu menghampirinya.
"Ada apa, Bu?" tanyanya penasaran.
"Gak, apa-apa Bu, cuma kena debu saja," jawabnya mengusap kedua matanya.
Bu Zana, senyum sambil melirik kearah kamar Keysa, yang tidak biasanya menghidupkan musik kencang di kamarnya, Bu Zana kembali menatap Fany, hingga mata mereka saling memandang, ia semakin yakin, Fany menangis bukan karena debu tapi Keysa lah penyebab Fany menangis.
"Kasihan sekali, Fany, Ya Allah," bisiknya dalam hati.
__ADS_1
Bu Zana, melenguh melampiaskan kekesalannya, menatap wajah Fany, yang pucat dengan pandangan matanya yang kosong, tiba-tiba, Fany, membenamkan kepalanya di dada Bu Zana, tangisnya pecah.
"Bu, Fany, gak kuat..." ucapnya tersedu.
"Sabar, Bu," jawabnya sambil mengelus pundaknya lembut.
"Keysa, menyakitimu lagi Bu?" tanyanya kesal.
"Iya, Bu," lirihnya sedih.
"Keysa, memang keterlaluan," ucapnya setengah berbisik.
"Pantas, Ibu, juga penasaran ada musik di kamarnya," ujarnya
"Fany, tidak dianggap, Bu," ucapnya sembari menjerit.
"Sudah, gak usah dipikirkan, nanti Ibu sakit," ucapnya meyakinkan.
"Gak bisa Bu, Fany kepikiran terus," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Harus bisa Bu, masih banyak Orang yang sayang dan perduli dengan Ibu," ucapnya tersedu.
"Iya Bu, tapi kenapa, Keysa sangat membenciku!" jawabnya tegas.
"Akan ada masanya, Keysa, menerima keberadaan Ibu, percayalah," tuturnya lembut.
Fany, melepaskan pelukannya sembari merapikan rambutnya yang acak-acakan, hatinya mulai lega dengan senyumnya yang tipis.
"Terimakasih ya Bu," ucapnya senyum.
"Sama - sama, Bu, intinya sabar," jawabnya mengingatkan.
"Iya Bu," lirihnya.
Dengan langkah berat, kakinya melangkah menapaki Keramik putih menuju kamarnya, Papa Aksa, yang masih lelap dengan mimpi-mimpi indahnya, hingga tidak menghiraukan Fany, atas perlakuan Anak semata wayangnya itu, ia menatap Papa Aksa dalam-dalam, dan tidak sanggup membangunkannya.
Fany, menganggap Pernikahannya hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan nya sebelumnya, ia menggeleng kesal, memendam sendiri rasa kesal itu sendirian.
_________________
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏