Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 194


__ADS_3

Walaupun Dokter belum mengijinkan Keysa pulang dengan keadaannya yang belum stabil, tapi Keysa bersikeras minta pulang dengan alasan jenuh, Dokter segera menghubungi Fany dan menyuruhnya untuk segera datang ke Rumah Sakit.


Kring,,,kring,,,,


"Halo, selamat siang Bu, ini Dokter Lee." ucapnya sopan.


"Iya, ada apa Dokter?" tanya Fany.


"Ini tentang Keysa, Bu." jawabnya.


"Ada apa dengan Keysa, Dokter?" tanyanya penasaran.


"Lebih baik, Ibu segera datang ke Rumah Sakit, karena ada hal penting yang ingin dibicarakan tentang Keysa," jawabnya.


"Apa tidak bisa lewat telepon, Dokter, karena Suami saya dalam keadaan sakit," ujarnya.


"Lebih baik Ibu datang," pintanya.


"Oh begitu ya, Dokter." ucapnya.


"Ya Bu," jawabnya singkat.


Fany menutup ponselnya, ia bingung mencari alasan agar bisa keluar menemui Dokter Lee tanpa menaruh curiga Papa Aksa, lalu Fany menelepon Bu Zana untuk segera pulang.


Sembari menunggu Bu Zana, Fany pamit pada Papa Aksa.


"Mas, sebentar aku keluar untuk membeli obat yang sudah habis." ucapnya hati - hati.


"Suruh saja Bu Zana, Sayang." jawabnya.


"Mas, aku sekalian mau menemui Dokter Ansel," ujarnya.


"Ya sudah, jangan lama-lama ya, Sayang." lirihnya.


"Sebentar kok, Mas," ujarnya senang.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Bu Zana tiba di rumah, dan menyuruh Bu Zana menjaga Papa Aksa selama ia di Rumah Sakit.


"Bu, tolong jaga Bapak, dan jangan cerita sama Bapak ya," pintanya.


"Ya Bu," lirihnya.


Fany pun segera menuju Rumah Sakit, sepanjang perjalanan hatinya bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Keysa hingga Dokter menyuruhnya datang ke Rumah Sakit, setelah menempuh perjalanan setengah jam, Fany bergegas menuju ruangan Dokter Lee.


Tok...tok... tok,


"Silahkan masuk," perintah Dokter.


"Selamat sore, Dokter," ucapnya senyum.


"Selamat sore, Bu, silahkan duduk," jawabnya mempersilahkan Fany duduk.


"Ada apa Dokter? apa yang terjadi dengan Keysa?" tanyanya penasaran.


"Begini Bu, sepertinya Keysa harus segera di bawa ke Psikiater atau Psikolog, ini tentang perilaku Keysa yang menyakiti dirinya sendiri.' tuturnya.


"Oh, tapi sebaiknya Ibu harus segera membawa Keysa ke Psikiater sebelum melakukan hal yang lebih parah lagi," jawabnya.


"Iya, Dokter," jawab Fany.


"Kebetulan Saya punya teman seorang Psikiater yang sangat terkenal di Kota ini, kalau Ibu mau ini kartu namanya," ujarnya menyerahkan kartu nama.


"Terimakasih, Dokter," ucapnya.


"Sama - sama, Bu." jawabnya.


"Kapan Dokter, aku ke sana?" tanya Fany.


"Lebih cepat lebih baik, Bu," jawabnya.


"Apa Keysa sudah bisa pulang, Dokter?" tanyanya.

__ADS_1


"Besok, Keysa sudah bisa pulang, dan Ibu segera membuat janji pada Dokter Indra." perintahnya.


"Ya, Dokter," lirihnya.


Tiba-tiba Ponsel Dokter Lee berdering, ia menatap layar ponselnya senyum, karena yang meneleponnya adalah Dokter Indra, setelah berbicara panjang lebar, Dokter Lee menyuruhnya segera datang ke Rumah Sakit.


"Bu, kebetulan Dokter Indra ada urusan di Rumah Sakit ini, jadi Ibu bisa menemuinya hari ini," ucapnya.


"Syukurlah, Dokter," jawab Fany.


Sembari menunggu Dokter Indra, Fany pamit untuk menjenguk Keysa, ia ingin memastikan Keysa baik - baik saja, Fany bergegas menuju ruangannya di rawat. Setelah di depan pintu ia ragu untuk menemuinya, karena keadaannya yang tidak stabil, setelah berpikir beberapa menit ia memberanikan diri untuk menemuinya, ia membuka pintu pelan - pelan dengan tangan gemetar.


"Keysa, bagaimana keadaanmu?" tanyanya lembut.


Keysa kaget dan menoleh ke arah Fany, dengan tatapan sinis.


"Keluar...! aku tak sudi melihat wajahmu!" teriaknya histeris.


"Keysa, maafkan aku jika kehadiranku mengganggumu, aku hanya ingin memastikan kamu baik - baik saja," ucapnya ketakutan.


"Kamu kira aku gila," jawabnya sinis.


"Bukan, bukan itu," ujarnya melambaikan tangannya.


"Terus apa?" tanyanya.


"A...aku hanya ingin menjenguk mu," jawabnya gugup.


"Gak perlu! keluar!" ujarnya marah.


Fany berlari keluar dari ruangannya sambil menangis dengan perasaan campur aduk, jauh di lubuk hatinya ia ingin memeluk dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.


Fany menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa, agar Keysa menerima keberadaannya, air matanya mengalir deras membasahi wajahnya yang cantik, tatapan matanya yang kosong menjadi isyarat hatinya sedang terluka.


*************

__ADS_1


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏


__ADS_2