
Rasa penasaran mulai menghantuinya, saat Fany merasakan ada hal aneh pada Keysa.
"Om, besok Fany pulang dulu ya! karena harus membantu Kakek dan Nenek untuk berjualan," tutur Fany.
"Kok tiba-tiba pulang?" tanyanya.
"Fany sudah terlalu lama di sini Om, kasihan Nenek," jawabnya senyum.
"Bukan karena Keysa kan?" tanyanya.
"Gak Om, lagian Fany kangen sama Kakek dan Nenek," jawabnya.
"Kalau begitu, besok Om yang antar pulang. Sekalian kenalan dengan Kakek dan Nenekmu," ucapnya.
"Gak usah Om, Fany bisa pulang sendiri" jawabnya.
"Gak, Om sekalian mengucapkan terimakasih karena sudah mengijinkan mu untuk menemani Keysa," tuturnya.
"Om gak terganggu?" tanyanya.
"Gak, Om malah senang bisa mengantarkan calon Istri ku pulang," jawabnya senyum.
"Gombal,,,!" ujarnya.
"Om gak tau gombal, Om hanya mengucapkan isi hatiku saja," ucapnya.
Fany tersenyum, sambil menatapnya kagum, dengan segala kebaikan dan kesabarannya.
"Om istirahat ya," ucapnya sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
"Om gak ngantuk," ucapnya.
"Loh, Om kan besok kerja?" tanyanya.
__ADS_1
"Gak, Om cuti dua hari," jawabnya.
"Om, mau kemana?" tanya Fany.
"Lagi malas," jawabnya singkat.
"Harus semangat Om," lirihnya.
"Iya Om tahu, tapi dengan sikap Keysa Om kesal," ucapnya frustasi.
Bibirnya tersenyum tapi sorot matanya tidak bisa berbohong begitu menyimpan sejuta amarah yang harus dipendamnya demi kebaikan bersama.
"Om, Keysa adalah anak Om satu-satunya, Om harus sabar dan yakin Keysa pasti berubah," ucapnya.
"Karena itu, Om sabar," jawabnya.
"Fany, untuk saat ini Kamu adalah orang yang paling dekat dengan Om, jadi bantu Om untuk menghadapi semua ini," ucapnya.
Papa Aksa nampak begitu tegar, tapi hatinya sangat hancur dengan perlakuan Anak semata wayangnya, yang tidak mengerti dengan kondisinya saat ini, senyum yang selalu tersungging di bibir tipisnya kini sirna ditelan bumi.
"Oh Tuhan, bantu Aku untuk menjalani semua ini, Aku rapuh dan tidak berdaya," bisik nya dalam hati sambil menggigit kedua bibirnya.
"Om, sebaiknya istirahat," ucap Fany.
"Tidak, kalau Kamu tidak keberatan, tetaplah disini bersamaku," jawabnya dengan nada tersendat
"Iya, asal Om janji tidak akan pernah sedih," ujarnya.
"Kamu tidak memelukku?" tanya Papa Aksa dengan membentangkan kedua tangannya.
Fany merebahkan kepalanya di dadanya yang bidang sambil menarik bulu -bulu yang menghiasi dadanya dengan manja.
"Fany, besok kamu sudah tidak bersamaku lagi, Om sedih," ucapnya.
__ADS_1
"Fany kan gak kemana-mana Om, hanya pulang untuk sementara," jawabnya.
"Iya, tapi Om tidak sanggup tanpa dirimu," tuturnya.
"Mulai lagi gombalnya," ucapnya sambil menatapnya dengan mesra.
Fany melihat kedua mata biru itu sedang menatapnya tersenyum sambil mencium pucuk kepala Fany dengan mesra, nafasnya mulai naik turun saat dada Fany yang montok itu menempel ditubuhnya yang kekar.
"Om kenapa?" tanya Fany saat melihat Papa Aksa gemetar menahan rasa gejolak dihatinya.
"Gak apa-apa Sayang," ucapnya dengan tersenyum.
Fany yang masih polos dan lugu, nampak ketakutan saat tubuhnya semakin memeluknya dengan kencang hingga membuat Fany susah untuk bernafas.
"Om lepasin," ucapnya sambil berusaha mendorong tubuhnya.
"Sayang, biarkan Om memeluk mu," ucapnya dengan nada mendesah.
"Om, jangan," lirihnya saat Papa Aksa meraba dadanya yang montok itu.
"Om, tolong jangan lakukan itu," ucapnya ketus dengan sorot matanya yang tajam.
Papa Aksa tersentak saat mata mereka saling memandang dan perlahan melepaskan pelukannya dengan wajah tersipu.
"Maafkan Om ya," ucapnya memohon.
Fany hanya diam sambil mengancing kemejanya yang berantakan.
"Om nakal," lirihnya sambil menatap ke sudut ruangan.
__________________________________________
jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1