Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 202


__ADS_3

Pagi itu Papa Aksa tampak tidak bersemangat dari hari biasanya, ia hanya duduk termenung di atas kursi rotan dengan kekuatiran yang begitu menyiksanya.


"Apa yang kamu pikirkan, Mas?" tanya Fany.


"Gak ada, Sayang," jawabnya singkat dengan gelengan kepala.


Papa Aksa memilih masuk kamar daripada duduk bersama di ruang tamu.


Fany pun kwatir melihat Papa Aksa yang tidak banyak bicara dari biasanya, ia tersenyum sebentar kemudian menyusul Papa Aksa ke kamarnya, Fany menepuk bahunya pelan sebelum mengutarakan pertanyaan yang tampaknya ingin sekali ia tanyakan pada Papa Aksa.


"Mas, kenapa?" Fany bertanya dengan penasaran.


"Mas, lagi banyak pikiran," ucapnya tegas.


"Boleh aku tau itu apa, Mas?" jawab Fany.


Fany bersemangat, entah apa yang sedang dipikirkannya, ia memeluk Papa Aksa setidaknya mau sedikit menceritakan keluh kesah yang mengganjar hatinya.


"Mas..." panggilnya pelan.


Papa Aksa merespon kecil dengan mengangguk tapi tidak menoleh ke arahnya.


"Kenapa pagi - pagi sudah murung?" tanyanya membuat Papa Aksa menoleh ke arahnya.


"Mas, tidak tau harus memulainya darimana," jawabnya dingin.


"Cerita saja Mas, bukankah aku Istrimu?" ujarnya.


"Mas bingung dengan sifat Keysa, yang sampai sekarang belum bisa menerima keberadaan mu, Sayang," ucapnya sedih.


Fany segera memeluk Papa Aksa kembali, air matanya mengucur deras membasahi wajahnya yang cantik.

__ADS_1


"Ternyata ini yang mengundang aura suram yang tidak mengenakkan mu, Mas? tanyanya menangis.


"Maafkan Mas ya, Mas, bukannya mau menyembunyikan ini dari kamu, hanya Mas gak mau kamu sedih," jawabnya.


"Kita doakan saja Mas, semoga dengan apa yang terjadi, Keysa menyadari segala perbuatannya," lirihnya.


"Mudah - mudahan, Sayang," gumamnya tidak yakin.


"Mas kan bisa bilang sama aku sejujurnya, dan menyampaikan dengan terbuka, biar tidak ada kesedihan, karena aku terluka saat Mas sedih," tuturnya.


Papa Aksa tersentuh mendengar ucapan Fany, lalu memeluk tubuh mungilnya dengan uraian air mata.


"Mas tidak tau, kamu sangat perhatian sama Mas," jawabnya haru.


"Mas, jangan sedih lagi ya, cerita sama aku kalau ada apa-apa," lirihnya.


"Iya, Sayang," gumamnya senyum.


Mereka berpelukan dengan mata berbinar-binar, dengan luapan cinta yang menggebu.


"Ayok," jawabnya singkat.


Papa Aksa pun bersemangat, sesampai di ruang makan, Keysa pun makan dengan lahap.


"Keysa...." panggil Papa Aksa setelah Keysa selesai makan.


"Iya, Pa," jawabnya singkat.


"Hari ini kita ke Rumah Sakit, ya!" ajak Papa Aksa.


"Ngapain, Pa?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Papa mau konsultasi dengan Psikiater," jawabnya tegas.


"Psikiater? ngapain Papa ke sana?" Keysa bertanya lagi.


"Ada yang ingin Papa tanyakan dengan Psikiater, Keysa," jawabnya.


"Papa kan sakit Kanker? kok berobatnya ke Psikiater?" tanyanya bingung.


"Papa tau, tapi Papa perlu konsultasi dengan Psikiater," jawabnya.


Papa Aksa membujuk Keysa, agar mau ke Psikiater, dengan alasan menemani Papanya.


"Siap - siap ya, Papa mandi dulu," perintah Papa Aksa.


"Iya, Pa," jawabnya bingung.


Keysa beranjak dari duduknya, menghampiri Sofa putih besar dan empuk, yang berada di ujung ruangan, ia pun duduk di atas Sofa menyandarkan punggungnya ke Sofa, mencoba menenangkan pikirannya sembari memikirkan ajakan Papanya.


"Apa Papa, gila? kok tiba-tiba mau ke Psikiater?" tanyanya dalam hati.


Mood Fany pagi itu sangat buruk, ia menghempaskan tubuhnya di Sofa dengan perasaan campur aduk, sudah hampir Sepuluh menit ia duduk di Sofa, tiba - tiba Papanya lewat untuk mengambil obat, panik saat melihat Keysa yang masih acak-acakan.


"Keysa, kok belum mandi? tanyanya lembut.


"Sebentar, Pa," jawabnya berdiri sembari menatap Papanya tajam.


Papa Aksa menghela nafas panjang, menggigit bibir bawahnya keras - keras, berusaha menahan rasa nyeri yang ada dihatinya. Fany menghampiri Papa Aksa dan mengelus pundaknya lembut.


"Sudahlah, Mas, jangan marah-marah, kita harus sabar menghadapinya," ucapnya lembut.


Wajah Papa Aksa kembali tenang, Papa Aksa membelai rambut Fany dengan penuh kasih sayang, walaupun ia tidak bisa mengungkapkan, tapi dalam hatinya ia sangat menyayangi Fany dan bersyukur memiliki Istri yang baik dan perhatian.

__ADS_1


********


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏


__ADS_2