
Papa Aksa mengerutkan keningnya, bingung dan serba salah atas apa yang terjadi pada Keysa, ia tersulut emosi, hingga menendang kursi yang ada di kamarnya, sebagai luapan rasa kecewanya, tiba - tiba Keysa merasa pandangannya gelap, mendengar suara kursi yang terlempar ke dinding, ia jatuh pingsan, Papa Aksa panik sembari menjerit, membuat seisi rumah gempar.
"Bu Zana, Fany...! tolong, Keysa pingsan," teriaknya keras.
Bu Zana dan Fany yang sibuk di dapur, berlari menghampiri Papa Aksa yang terus menjerit sambil menepuk wajah Keysa yang pingsan itu, Fany, menjerit dan menyalahkan Papa Aksa.
"Mas, Keysa, kenapa?" tanyanya penasaran.
"Mas, tidak tau tiba-tiba ia pingsan," jawabnya menangis.
"Mas, keterlaluan," ujarnya.
Bu Zana, tak kalah panik melihat keadaan Keysa yang lemas tak berdaya itu membuat air matanya mengucur deras membasahi wajahnya, perdebatan Fany dan Papa Aksa menambah suasana semakin panas, dan mencari solusi agar mereka tidak saling menyalahkan.
"Pak, Keysa pingsan karena lapar," ucapnya hati-hati.
"Apa, Keysa sering pingsan, Bu?" tanya Fany.
"Tidak, Bu," jawabnya singkat.
"Atau, Keysa tidak sarapan pagi?" kata Fany lagi.
"Tadi ia makan sedikit, susu yang disediakan pun tidak diminum," ucap Bu Zana sedih.
"Keysa, agak sulit di atur," jawab Papa Aksa.
Keysa, yang tidak tahu ketika dirinya pingsan entah berapa lama, tiba-tiba ia mencium bau Minyak kayu putih, matanya masih terpejam kemudian terdengar suara - suara ribut yang menyatakan ia sulit diatur.
__ADS_1
"Apa? Keysa sulit diatur? dulu Mama tak pernah mengatakan begitu," teriaknya.
Keysa merasa tersinggung, ia membuka mata, memandang Bu Zana, Fany, Papanya secara bergantian, lalu memandang foto Mamanya yang terletak di meja belajarnya.
"Keysa mau tidur, ngantuk," kata Keysa.
"Sudah sore, Keysa makan dulu saja ya, biar istirahat," bujuk Papanya.
"Iya Keysa, biar minum obat, badanmu panas," ucapnya memohon.
"Tidak, Keysa tidak sakit," jawabnya tegas.
Bu Zana menghampirinya, membantu Keysa bangkit dan membingbingnya ke dapur, lalu Fany menyiapkan semangkok Sop Ayam kesukaannya, Papa Aksa bersiap ke Kantor karena ada masalah penting yang harus diselesaikannya, sebelum berangkat Papa Aksa berpesan agar menjaga Keysa dengan baik, takut terjadi apa-apa dengannya.
"Keysa, makannya yang banyak, jangan sampai pingsan lagi, jangan lupa minum obatnya," perintah Papa Aksa.
"Maaf, Papa khilaf," jawabnya singkat.
"Pasti, Papa dihasut Wanita murahan ini ya," hardiknya.
"Jaga bicaramu, Fany tidak pernah mengajarkan Papa, untuk membencimu," ucapnya tegas.
"Sudah, Mas, gak usah berdebat lagi," jawabnya lembut.
"Jangan diambil hati ya," ucapnya setengah berbisik.
"Iya Mas, Fany ngerti," jawabnya senyum.
__ADS_1
Papa Aksa menganggukkan kepalanya, lalu bergegas menuju Mobilnya yang sudah diparkiran didepan rumah, Fany mengantarkannya ke pintu sambil menggandeng tangannya dengan mesra.
"Mas, berangkat dulu ya," ucapnya mencium kening Fany.
"Hati - hati, Mas," jawabnya manja.
"Iya, sayang," ujarnya sambil melambaikan tangannya.
Fany, menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menuju pintu dan menghampiri Keysa dan Bu Zana di dapur, jantungnya berdetak kencang dengan langkah kakinya yang gontai menapaki Keramik putih itu.
"Bu, badannya panas sekali," ucapnya panik.
"Panggil, Dokter ya Bu," jawabnya.
"Iya, Bu," lirihnya sambil membelai rambutnya yang hitam legam itu.
Fany, bergegas mengambil ponselnya dan memanggil Dokter Hasan, langganan keluarganya.
"Selamat, sore Dokter, tolong segera datang kerumah, Keysa sakit," perintah Fany.
"Iya, Bu," jawabnya singkat.
Fany, membantu Bu Zana untuk membawanya ke kamar, ia merasa bersalah dengan apa yang terjadi, matanya yang indah mulai berkaca-kaca, melihat keadaannya yang tidak berdaya itu, wajahnya pucat dengan pandangan matanya kosong.
__________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏🙏
__ADS_1