
Pada masa awal menjalin hubungan, dunia begitu indah, Fany, cenderung menerima masa lalu Papa Aksa dengan mudah dan berkhayal masa depan akan lebih baik setelah menikah dengannya, Fany terlena dengan khayalan di masa awal hubungannya, ternyata kenyataan tidak selalu seindah khayalan.
Menjadi Ibu tiri, tentu merupakan tantangan sendiri, pasalnya Ibu tiri selalu dicitrakan sebagai sosok yang menyeramkan seperti Dongeng anak - anak, jalan hidup yang digariskan Tuhan memang begitu indah, ia menghadirkan lentera kala api yang membara telah sirna, ia memiliki rencana yang jauh lebih bermakna dan berharga di balik semua itu.
Keysa membanting pintu kamar, ia marah, kesal bukan kepalang, barang - barang yang ada di kamarnya ia lempar ke lantai. Buku - buku, Boneka, tas, dan bantal guling. Seakan tak puas ia juga mengacak - acak sprei tempat tidurnya, ia sangat jengkel, hatinya penuh sesak oleh kemarahan dan protes yang tidak didengarkan Papanya, sudah beberapa kali Papanya dan Bu Zana, menjelaskan tentang Fany, yang sudah menjadi Ibu sambungnya, Keysa benci, ia berontak tak sudi punya Ibu sambung.
Tok...tok...tok.
"Keysa, buka pintu, dengarkan Papa dulu," ucapnya memohon.
Keysa tidak perduli, ia terlanjur jengkel pada Papanya, yang terus-menerus merayu agar menerima Ibu barunya itu, tubuhnya di hempasan ke kasur yang sudah berantakan, air matanya membanjir, tangisnya tak tertahan di sergap kesedihan yang teramat dalam.
"Keysa, Papa mau bicara," panggilnya.
"Tidak, Keysa benci sama Papa," ucapnya sembari berteriak.
__ADS_1
Keysa bangkit, ia mengambil foto Mamanya di meja belajar, dipandanginya lekat - lekat foto itu kemudian mendekapnya penuh cinta, ia rindu pada Mamanya yang meninggal karena penyakit Kanker yang di deritanya.
"Papa, belum siap bicara, Keysa," jawabnya frustasi.
"Tidak ada yang boleh menggantikan Mama di rumah ini," ujarnya.
"Tolong, buka pintunya," ucapnya sambil menggedor-gedor pintu Kamarnya.
Hati Keysa semakin kuat memberontak, membuka pintu kamarnya dengan tatapan matanya yang sinis, Papa Aksa memandang Keysa dengan tatapan tak mengerti sambil melirik kamarnya yang berantakan bak kapal pecah, Papanya bingung dengan perlakuannya yang tidak masuk akal.
"Bagaimana mungkin, ia sayang, sedangkan Keysa bukan anaknya," jawabnya tegas.
"Tapi dia menganggap mu, seperti anak sendiri," ujarnya.
"Apa mungkin ada Ibu tiri yang baik hati?" ucapnya mengejek.
__ADS_1
"Ada, buktinya ia tidak pernah marah sekalipun kamu mengabaikannya," jawabnya.
"Tidak, Keysa tidak percaya," ucapnya tegas.
Keysa, tidak bergeming meskipun Papanya sudah menjelaskannya berkali-kali, ia tetap tidak percaya sama sekali. Di mata Keysa, Ibu tiri dinilai sosok yang kejam, tidak berperasaan dan suka menyiksa, imej negatif itu terlanjur melekat di benaknya, menjadi protektif, dan menganggap Ibu tiri sebagai pengganggu, baginya, Ibu kandungnya akan selalu mendapatkan tempat spesial di hatinya, seperti halnya Papanya, tapi tidak dengan Fany.
"Keysa, Agama tidak pernah memandang rendah Ibu tiri, melainkan mengangkat derajat seseorang bukan karena statusnya, akan tetapi bagaimana perilaku, moral, dan amaliah yang di lakukan," tuturnya lembut.
"Yang jelas, Keysa tidak suka dengan Wanita itu, Pa!" ucapnya tegas.
"Ibu tiri bukanlah Ibu sampingan, jika Ibu tiri berbuat sebagaimana Ibu kandung memperlakukan anak - anak dan keluarganya dengan baik tentunya akan membawakan kemuliaan, kebaikan di dunia dan akhirat, selayaknya Ibu kandung yang juga bertugas dan berkewajiban untuk anak - anak dan keluarganya," jawabnya tegas.
"Kalau ceramah, di Mesjid, Pa," ujarnya sinis.
____________________
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏