Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 192


__ADS_3

Kunci terakhir ternyata cocok dengan pintu kamar Keysa, Fany dan Bu Zana menangis dengan suara tertahan, lalu mengangkat tubuhnya ke kasur.


"Bu, tolong panggilkan Ambulans, Keysa harus segera di rawat." perintah Fany sembari membersihkan darahnya.


"Iya, Bu." jawabnya sedih.


Bu Zana dengan tangan gemetar menelepon Ambulans, ia tidak habis pikir kenapa Keysa menyakiti dirinya lagi. Setelah menunggu beberapa saat Mobil Ambulance tiba, Fany dan beberapa perawat membopong tubuh Keysa kedalam Mobil.


"Bu, sebaiknya Ibu tinggal kasihan, Bapak." perintah Bu Zana.


"Tapi bagaimana dengan Keysa, Bu?" tanyanya menangis.


"Biar Ibu saja yang ikut, Ibu di rumah saja." jawabnya tegas.


"Tolong, kabari secepatnya ya, Bu." pintanya.


"Ya, Bu." ujarnya


Mobil Ambulance melaju kencang, takut Keysa kehabisan darah lagi, Bu Zana menangis sambil memeluknya erat.


"Kenapa kamu lakukan ini? kamu gak tau ini sangat berbahaya." gumamnya.


Tangisnya pecah saat melihat wajahnya pucat, sekujur tubuhnya dingin, Bu Zana menyuruh Supir Ambulans lebih cepat lagi.


"Pak, tolong lebih cepat lagi, badan Keysa dingin." pintanya menangis.

__ADS_1


"Iya, Bu," jawabnya singkat sambil melirik ke arah Keysa.


Tak terasa Mobil Ambulance tiba, beberapa Dokter dan Perawat sudah menunggu sebelum Ambulans tiba, dengan cepat mereka membawa Keysa ke ruangan Emergency.


"Bu, silahkan tunggu di luar." perintah Dokter.


"Tolong Dokter, berikan yang terbaik untuk, Keysa." ucapnya memohon.


"Ya, Bu." jawabnya tegas.


Bu Zana sedih, tak terasa air matanya mengucur deras membasahi wajahnya dengan perasaannya yang hancur, ia tidak menyangka setelah kepergian Mamanya untuk selama-lamanya Keysa berubah seratus persen.


"Ya Allah selamatkan, Keysa." gumamnya berkali-kali dengan khusuk.


Bu Zana tak sabar menunggu, ia mengintip dari kaca jendela dengan perasaan campur aduk, Keysa lemas dan belum sadarkan diri.


Kring... kring...,


Ponsel Bu Zana berdering, ia menatap layar ponselnya, ada panggilan dari nomor Fany.


Bu Zana menunduk, ia menyeka air matanya dan berusaha mengumpulkan keberaniannya, setelah panggilan beberapa kali Bu Zana mengangkat Ponselnya dengan tatapan penuh arti.


"Halo, Bu, lama sekali angkat Ponselnya? Keysa bagaimana, Bu?" tanyanya bertubi - tubi.


"Maaf Bu, Keysa masih di ruangan Emergency." jawabnya.

__ADS_1


"Tolong, tanya Dokternya, Bu?" perintah Fany tak sabar.


"Dokternya belum keluar, Bu." jawabnya.


"Lama? mudah - mudahan tidak terjadi apa-apa ya, Bu!" ucapnya sedih.


"Ya Bu," jawabnya dingin.


Fany menutup ponselnya, ia menangis karena tidak bisa mendampingi Keysa, dan tidak mungkin juga ia meninggalkan Papa Aksa yang dalam keadaan sakit, ia berusaha tenang dan tidak memikirkan hal buruk tentang Keysa.


Setelah menunggu satu jam Dokter keluar, Bu Zana berlari menghampiri Dokter.


"Bagaimana keadaan Keysa, Dokter." tanyanya.


"Keysa belum sadar, tapi kita sudah memberikan obat agar ia cepat sadar." tuturnya.


Bu Zana menganggukkan kepalanya, dan berdoa agar Keysa secepatnya sadar.


Bu Zana seakan tak berdaya, ia hanya duduk termenung dan menatap Orang yang lalu lalang di hadapannya, sesekali ia melirik keruangan Keysa di rawat dan berharap ia sadar, bahkan saat itu wajah Bu Zana sudah basah oleh air mata yang sejak tadi membanjiri wajahnya.


Bu Zana menenangkan dirinya dalam diam, dan tidak tau harus berbuat apa selain pasrah dan berdoa pada yang Maha Kuasa, Keysa bisa melewati masa kritisnya.


"Bagaimana kalau Papanya tau, Keysa di Rumah Sakit? pasti Papanya sedih dan penyakitnya kambuh." gumamnya sedih.


***********

__ADS_1


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏


__ADS_2