
Fany berharap dengan mendonorkan darahnya, adalah jalan terbaik yang ia tempuh untuk menyelamatkan nyawa Keysa, yang kebetulan golongan darahnya A. Ia segera masuk ruangan dengan beberapa Perawat untuk segera mengambil darahnya.
Papa Aksa mendongakkan kepalanya, mencoba menghilangkan beban yang menghimpit dadanya, kerongkongannya terasa mencengkram hingga ia tidak bisa berkata apa - apa selain pasrah.
"Ya Tuhan, saat ini aku tidak minta apa - apa, aku hanya ingin selamatkan anakku, dan berikan kekuatan pada Istriku," ucapnya khusyuk.
Setelah menunggu waktu satu jam, seorang Perawat membawa satu bungkus darah menuju ruangan Keysa di rawat, ia berlari menuju ruangan Fany, ia tertidur pulas, menunggu biusnya hilang.
"Maaf Pak, Ibu belum siuman," ucap seorang perawat.
"Istri saya tidak apa - apakan? tanyanya kwatir.
"Tidak Pak, Ibu baik - baik saja," ucapnya meyakinkan.
"Terimakasih ya Tuhan!" bisiknya dalam hati sembari mengintip Fany dari kaca jendela.
Papa Aksa kembali keruangan Keysa, Dokter Lee, sedang mendonorkan darah Fany pada Keysa, ia menatap wajah Keysa yang pucat membuat hatinya sedih, hingga matanya mulai berkaca-kaca menyaksikannya penderitaan Keysa yang melukai hatinya.
"Keysa, yang kuat ya, nak! Papa tidak sanggup melihatmu terluka," bisiknya dalam hati.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, Fany dan Keysa siuman pada waktu yang bersamaan, Papa Aksa sedikit bingung dan penasaran.
"Kok, bisa ya? mereka siuman pada waktu yang sama?" tanyanya dalam hati.
Papa Aksa bingung harus menjenguk siapa, ia duduk di kursi dengan perasaan campur aduk, air matanya mengucur deras sebagai luapan rasa bahagianya.
"Terimakasih Tuhan, engkau mendengar doaku, anak dan Istriku selamat," bisiknya dalam hati sambil mengusap air matanya.
Dengan langkahnya yang gontai, ia menghampiri Keysa dengan tatapan matanya yang sendu, lalu memeluknya erat dengan isak tangisnya.
"Terimakasih Tuhan, engkau sudah menyelamatkan anakku," ucapnya setengah berbisik.
Keysa menatap sekelilingnya, tatapan semua Orang yang ada di ruangan tertuju padanya, Keysa memalingkan wajahnya, ia tidak suka di tatap seintens itu oleh banyak Orang. Tatapannya tertuju pada Fany, yang berdiri di samping Papanya, Wanita yang sangat dibencinya, ia menatapnya sinis dan tidak menginginkan keberadaannya di ruangan itu.
"Istirahatlah, kamu pasti lelah," ucapnya singkat lalu mengajak Fany dan Bu Zana keluar.
Fany dan Bu Zana, mengikuti langkah Papa Aksa keluar dari ruangan, karena mereka tahu Keysa butuh istirahat setelah menerima Donor darah dari Fany.
"Sayang, kamu juga pasti lelah, sekarang pulanglah! biar Mas, dan Bu Zana yang jaga Keysa," perintah Papa Aksa.
__ADS_1
"Tidak Mas, aku mau disini jagain, Keysa," ucapnya tegas.
"Sayang, nanti kamu sakit," ujarnya.
"Tidak, aku baik - baik saja, Mas," ucapnya.
Papa Aksa memeluknya sembari mencium pucuk kepalanya lembut, dengan hati-hati berbunga - bunga, ia terharu melihat perjuangannya untuk menyelamatkan Keysa, hingga rela mendonorkan darahnya untuk Keysa, Orang yang sangat membencinya, tapi itu tidak membuatnya benci, justru membantu Keysa agar Keysa selamat.
"Sekali lagi, terimakasih ya Sayang! kamu sudah menyelamatkan nyawa Keysa," ucapnya haru.
"Sama - sama, Mas," jawabnya singkat membalas pelukan Papa Aksa.
"Sayang, kemarin kamu belum jawab pertanyaan, Mas," ucapnya mengingatkan.
"Apa ya, Mas?" jawabnya pura - pura lupa.
"Masih muda sudah pikun," ujarnya.
"Benar, Fany, lupa, Mas," ucapnya seraya mengerutkan keningnya.
__ADS_1
______________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏🙏