
Cinta tidak kenal waktu, kondisi, usia dan siapa, Cinta adalah pendekripsian yang tidak ada habisnya, Cinta bukan apa-apa bagi yang tidak pernah merasakan sebab ia hanya sebuah kata, mudah diucapkan namun tidak mudah untuk dijelaskan. Pernikahan merupakan impian dan tujuan dari pasangan yang dilanda asmara, menjelang pernikahan banyak perasaan campur aduk yang dirasakan bagi kedua mempelai, seperti yang dirasakan Fany dan Papa Aksa.
Setelah menghabiskan waktu satu Jam dengan Fany, Papa Aksa pun pamit dan kembali ke Kantor untuk kembali bekerja, dengan manja Fany pun mengantarkannya ke Mobil.
"Hati-hati ya Om," ucapnya.
"Iya Sayang," jawabnya.
"Nanti sore jangan lupa ya Om," ujarnya.
"Ngapain?" tanyanya.
"Loh, tapi cetak undangan," jawabnya mengingatkan.
"Oh iya, Om hampir lupa," lirihnya.
"Dasar pelupa," ucapnya mengejek.
__ADS_1
"Maklum Sayang, banyak pikiran," jawabnya.
Fany tersenyum, dan menatapnya dengan manja karena ia tahu betapa beratnya beban pikirannya yang sangat menguras tenaga menjelang Pernikahan.
"Om, jangan banyak berpikir entar sakit," ucapnya.
"Iya Sayang, terimakasih ya atas perhatiannya," jawabnya haru.
"Sama-sama Om," lirihnya.
"Sayang, tau gak menikah adalah sebuah komitmen terhadap cinta untuk hidup bersama baik suka maupun duka, Om harap Kamu mengerti," tuturnya.
"Syukurlah, Kamu bersyukur punya Nenek yang selalu mendukungmu dan menjadikanmu menjadi pribadi yang lebih baik," jawabnya.
"Benar Om, Fany bahagia memiliki mereka dan Fany tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas semua kebaikannya," ujarnya sedih.
"Menikah bukan berarti menyerah, punya cita-cita untuk membahagiakan Kakek dan Nenekmu adalah kewajiban mu, asal tidak mengabaikan peran mu sebagai Istri," ucapnya tegas.
__ADS_1
"Terimakasih ya Om atas pengertiannya, Fany bangga memiliki calon Suami yang baik, pengertian dan juga tidak egois," jawabnya haru.
"Kakek dan Nenekmu adalah Orang yang sangat berperan dalam hidupmu yang sudah memberikan segalanya untuk kebahagiaanmu, dan menyayangimu dengan tulus dari kecil sampai sekarang, jadi Kamu harus melakukan yang terbaik untuk mereka dihari tuanya," tuturnya.
"Iya Om, Fany tidak salah memilih Om sebagai calon Suamiku, karena Om baik dan perduli dengan Kakek dan Nenek," ucapnya tersedu.
"Pernikahan bukanlah sebuah akhir, tapi merupakan sebuah awal yang terus Kita jalani dalam kasih sayang dan membuat Kita bahagia selamanya, dan Om selalu berdoa agar ikatan cinta Kita selalu dalam Ridho Allah yang akan membawa Kita ke Surga," jawab Papa Aksa.
"Iya Om, Fany juga akan berusaha menyayangi Fany seperti Om menyayangi Kakek dan Nenek, semoga Pernikahan ini membawa Kita menuju bahagia bersama Orang-orang yang Kita sayangi," ujarnya.
Tiba-tiba Papa Aksa tersentuh dengan ucapan Fany, ia pun memandangnya dan memeluk tubuhnya yang mungil dengan kencang sebagai luapan rasa bahagianya saat mendengar ucapannya.
"Sayang, hiduplah bersamaku, dan jangan pernah berubah," ucapnya sambil mencium pucuk kepalanya dengan mesra.
"Fany tidak akan pernah berubah, karena Om segalanya bagiku," jawabnya.
Mereka kembali berpelukan dengan mata saling memandang hingga bibirnya hampir bersentuhan, detak jantungnya berdetak kencang merasakan kehangatan yang luar biasa yang tidak pernah ia rasakan, sensasi aroma Parfum Papa Aksa yang sangat menggoda membuat Fany enggan untuk melepaskan pelukannya dan ingin selamanya dalam pelukan tubuhnya yang kekar itu.
__ADS_1
___________________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏