
Keysa, masih dipojokan kamar yang gelap, dengan rambut acak-acakan, mata berkantung dan sayu terlihat seperti Orang gila, duduk termenung.
"Keysa, buka pintunya, Ibu mau bicara," teriak Bu Zana dari luar.
Tuk..tuk...tuk,
Suara kaki berjalan di lantai, menuju kamar Keysa, yang masih tertutup rapat itu, Bu Zana kaget dan menoleh kearah suara kaki itu.
"Ya, ampun, Pak Aksa," gumamnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Papa Aksa, tidak kalah kaget saat melihat Bu Zana, berdiri tegak di depan pintu kamar Keysa.
"Bu Zana, ngapain disini?" tanyanya penasaran.
"Ngajak, Keysa, makan Pak," jawabnya.
"Kenapa? tidak mau keluar, Bu?" tanyanya.
"Keysa, mandi, Pak," jawabnya berbohong.
"Keysa, pembohong," teriak Papa Aksa.
"Pak, jangan kasar - kasar, nanti Keysa marah," ucapnya ketakutan.
__ADS_1
"Apa Bu? Saya sangat menyayangi Keysa, mana mungkin Saya bersikap kasar padanya," jawabnya senyum.
"Ibu, tahu," ucapnya gugup.
"Ibu, menunggu, Keysa sampai keluar?" tanya Papa Aksa dengan suara parau nya.
"Iya Pak," jawabnya lega.
Papa Aksa, melangkahkan kakinya dan meninggalkan Bu Zana yang masih tetap berdiri di depan pintu kamar Keysa, Mata Bu Zana memanas, sesuatu keluar dari matanya, ia menangis memohon pada Allah, agar Keysa membuka pintu kamarnya, dan kembali memanggilnya sembari menjerit.
"Keysa, tolong buka pintunya," pintanya.
Bu Zana, memilih menangis dibandingkan marah sebagai luapan rasa sedihnya, melihat keadaan Keysa, semakin hari semakin menjadi-jadi, nasehat yang diberikan Bu Zana tidak masuk otaknya, semua dianggap asap baginya.
"Jangan salahkan Keysa, jika sekarang seperti ini, Keysa begini karena Papa," teriaknya.
Kesal, marah, sedih, semuanya dicampur men jadi satu, ingin sekali bercerita pada Bu Zana, tapi ia bingung bagian mana yang harus diceritakannya, Fany, hampir tidak ada komunikasi, dan berbicara hanya seperlunya saja, Fany, bukanlah tipe anak yang suka menceritakan kesedihannya pada Orang lain, ia hanya bisa menangis dalam kamar, sampai hatinya lega.
"Keysa, dengarkan ibu, buka pintunya," ucapnya memohon.
Entah apa yang dirasakan Bu Zana, air matanya keluar begitu saja, ia menatap Keysa, yang tiba-tiba berdiri didepan pintu Kamarnya, ia melihat Keysa, agar ia bisa menerima semua apa yang terjadi, Keysa langsung memeluknya, menumpahkan kesedihannya didalam dekapan Bu Zana, ia mengelus pundaknya agar Keysa tenang, kesedihannya bertambah saat mendapat dekapan dari Bu Zana, pelukan hangat yang selama ini dirindukannya dari sosok seorang Ibu yang telah pergi untuk selama-lamanya.
"Keysa, yang sabar ya," pintanya terbata-bata.
__ADS_1
"Enggak Bu, gak mau...Bu,,," ucapnya dalam tangis
"Sabar sayang, Ibu tau Keysa, anak yang kuat," jawabnya tersedu.
Bu Zana, memperhatikan wajahnya lekat - lekat, ia tampak lelah dengan semua rasa ego-nya, yang begitu menyiksanya, hingga kehilangan akal sehatnya, wajahnya pucat dengan senyumnya yang sinis, dan rasa putus asa.
"Bu, Keysa mau mati saja," teriak Keysa.
"Jangan ngomong begitu, dosa," ucapnya menutup mulut Keysa.
"Keysa, gak kuat, Bu," jawabnya frustasi.
Bu Zana menggelengkan kepalanya sembari mengusap wajahnya yang cantik, dengan penuh kasih sayang.
"Keysa, Mamamu pasti sedih melihat keadaanmu seperti ini, ucapnya mengingatkan.
"Keysa, mau ikut Mama, Bu," jawabnya tersedu.
Bu Zana, menangis meratapi nasibnya yang malang, menderita setelah kepergian Mamanya, untuk selama- lamanya dan tidak akan pernah kembali untuk Keysa.
________________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1