
Keysa pun seakan tak berdaya dengan sikap Bu Zana yang bersikap tegas, dan tidak bosan-bosan mengarahkannya agar membuka hatinya untuk menerima keputusan Papanya.
"Keysa, dalam Agama pun ketika seseorang ditinggal wafat oleh pasangannya, baik Suami yang ditinggal wafat oleh Istrinya atau sebaliknya Istri ditinggal wafat oleh Suaminya, maka ia dibolehkan untuk menikah lagi. Tidak ada larangan dalam Agama untuk menikah lagi bagi seseorang yang sudah ditinggal wafat oleh pasangannya," ucapnya
"Ibu sok pintar,"; jawabnya ketus.
"Bukan sok pintar tapi memang itulah kenyataannya, karena seorang Anak tidak dibenarkan melarang Orang tuanya untuk menikah lagi setelah Istrinya meninggal," ujarnya.
"Wajarlah Bu, Keysa marah saat Papa menikah lagi," ucap Keysa sinis.
"Marah wajar tapi melarang tidak dibenarkan, keputusan Papamu harus kamu hormati, karena Papamu sangat membutuhkan pendamping hidup sebagai curahan kasih sayang sekaligus sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologisnya, rata-rata kalau Istri yang meninggal pasti Suami menikah lagi, Laki-laki mana tahan hidup sendiri." jawabnya.
Keysa tidak menunjukkan tanda-tanda ia sadar, ia justru semakin marah dengan jawaban yang tidak masuk akal.
"Keysa, jangan pendam perasaan yang muncul begitu mendengar Papamu menikah lagi, lebih baik ungkapan agar Papamu mengetahui perasaanmu yang sebenarnya dan mempertimbangkan kembali posisi mu atas keputusan barunya," ucapnya.
"Percuma Bu, Keysa juga takut Papa sedih," jawabnya.
"Ibu tau Kamu adalah seorang Anak yang baik yang tidak ingin melihat Orang tuanya sedih," ujarnya sambil memeluknya dengan rasa haru.
__ADS_1
"Keysa, sayang Papa Bu," ucapnya tersendat.
Mereka kembali berpelukan, dengan isak tangisnya yang sangat memilukan, Bu Zana pun menyuruh Keysa membaringkan tubuhnya di kasur.
"Istirahatlah, Kamu pasti lelah," perintah Bu Zana.
"Terimakasih ya Bu, Ibu selalu ada untuk Keysa," ucapnya dengan mata terpejam.
"Sama-sama, tidurlah dan tenangkan hati dan pikiran mu," jawabnya.
Bu Zana pun segera keluar meninggalkan Keysa dan menghampiri Papa Aksa yang tertidur lelap di Sofa.
Pikiran Bu Zana mulai melayang-layang memikirkan cara agar Keysa dan Papanya tidak terjadi kesalahpahaman, karena ia sangat sedih saat Orang-orang yang disayanginya saling membenci satu sama lainnya.
Saat ia sibuk mempersiapkan segala bumbu masakannya, tiba-tiba Papa Aksa pun menghampirinya membuatnya kaget.
"Kok masak sih Bu, bukannya membujuk Keysa,' ucapnya kesal.
"Keysa lagi tak enak badan Pa," jawabnya gugup.
__ADS_1
"Ibu sudah kasih obat," tanyanya.
"Sudah Pak, bagaimana kalau besok saja Kita pergi tunggu Keysa sembuh," jawabnya.
"Terserahlah Bu, Saya capek," ujarnya frustasi sambil membalikkan tubuhnya.
"Pak,,,!" ucap Bu Zana gugup.
"Ada apa Bu," jawabnya sambil membalikkan tubuhnya sambil menatapnya.
"Apakah Bapak sudah minta izin pada Fany? ini untuk meminimalisasi penolakan lamaran dari pihak Fany, jika sudah diterima dan sepakat maka Kita bisa meminta izin pada Kakek dan Neneknya Fany untuk melakukan acara lamaran, sekaligus membawa seserahan yang akan diberikan kepada pihak Keluarga Fany sebagai bahan pelengkap saat hari Pernikahan nanti. Dalam acara ini akan ada prosesi pembukaan lamaran sekaligus musyawarah di mana pihak Keluarga Laki-laki dan Perempuan saling menanggapi maksud dan tujuan serta membahas rencana untuk Pernikahan, dalam acara ini juga akan disampaikan penerimaan dari pihak Keluarga Fany, apakah lamaran diterima atau tidak,' tutur Bu Zana dengan hati-hati.
"Betul juga kata Ibu, terimakasih sarannya ya Bu," ucapnya senyum.
"Sama-sama Pak, sudah seharusnya Kita saling mengingatkan," jawabnya lega saat melihatnya tersenyum kembali.
___________________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏
__ADS_1