
Didalam hutan kematian selain membuat obat dan racun, Fan Jianying terus meningkatkan kultivasinya hingga sampai ke tingkat paling tinggi.
Fan Jianying yang giat berkultivasi akhirnya sekarang sudah menembus level tujuh ( tingkat surgawi ) dengan tanda ranah yang dimilikinya berwarna emas yang bersinar sangat terang.
Dalam tingkat surgawi ini ada tujuh lapisan yang harus ditembusnya. Namun semua itu berhasil dilaluinya dengan mudah.
Hingga puncaknya, pada lapisan terakhir dia memerlukan waktu dan tenaga lebih banyak dari pada sebelumnya.
Dalam lapisan akhir ini, Fan Jianying merasa dantian emas yang ada ditengah – tengah tubuhnya perlahan – lahan mulai terbentuk, mengantikan dantian emas yang sebelumnya berada disana.
Berbagai benang tipis aneka warna satu persatu mulai mengalirkan energy kedalam dantian emas yang baru itu secara konsisten dan terus menerus.
Hingga benang tipis berwarna emas mulai muncul dan mendominasi penyaluran energy kedalam dantian meas baru itu dalam jumlah besar.
Fan Jianying seperti merasa jika dantian emas barunya itu sudah terisi penuh dan hampir meledak.
Namun dia berusaha untuk terus menahannya dengan sekuat tenaga agar tidak meledak sebelum dantian emas baru tersebut terbentuk secara sempurna.
Darah segar terlihat mengalir di sudut bibir Fan Jianying karena besarnya luapan kekuatan yang berusaha dia tahan didalam tubuh.
Klakk…klakkk…klakkkk….klakkkk…
Dantian emas baru tersebut akhirnya terbentuk dengan sempurna. Dan luapan tenaga yang sangat besar tadi perlahan - lahan mulai stabil dan peredaran kekuatannya sudah normal seperti sedia kala.
Tiubuh Fan Jianying yang awalnya terasa sangat panas hingga seperti terbakar perlahan mulai normal kembali.
Dengan adanya dantian emas baru yang lebih sempuran disana, maka kekuatan besar yang ada dalam tubuh Fan Jianying bisa dikontrol dan dikelola dengan mudah.
Suasana hutan kematian tiba – tiba terasa sangat sunyi, bahkan angin pun seakan tak berani berhembus saat aura kekuatan yang sangat besar datang dan langsung menyelimuti seluruh tubuh Fan Jianying.
Aura yang membungkus tubuhnya perlahan menghilang seiring dengan lancarnya peredaran kekuatan dalam dantian tubuhnya.
Tubuh Fan Jianying terasa lebih ringan dan segar setelah berhasil memalui lapisan ketujuh, menyempurnakan kultivasinya di tingkat surgawi.
Dia sangat berharap, pada saat berada dalam level ini dia bisa kembali ke dunianya setelah misi di dunia asing ini tercapai.
Gao dan Huma langsung memberikan selamat kepada sang Ratu begitu wajah Fan Jianying membuak kedua matanya.
Saat ini, Huma melihat jika Ratunya lebih cantik dan lebih bersih dan bersinar dari pada sebelumnya.
Bahkan kulitnya yang putih mulus tanpa noda dapat menyala dalam kegelapan meski tidak ada penerangan apapun.
Semua makhluk dalam hutan kematian menunduk hormat begitu Fan Jianying lewat dihadapan mereka.
“ Ratu, tolong ulurkan tangan anda…”, ucap Huma serius, membuat Fan Jianying seketika langsung menghentikan langkah kakinya.
Fan Jianyingpun segera mengulurkan tangannya, tak lama kemudian burung phoenix api tersebut langsung mematuk jari telunjuk Fan Jianying hingga berdarah.
“ Saya sekarang sudah menjadi hewan kontrak anda Ratu…”, ucap Huma sambil menjilat dan menelan darah yang keluar dari jari Fan Jianying.
Begitu juga denga Gao yang mengikuti jejak Huma, langsung menjilati jemari Fan Jianjing begitu darah tersebut hendak menetes.
“ Saya juga sudah menjadi hewan kontrak anda Ratu…”, ucap Gao dengan sikap hormat.
“ Jika anda masih memerlukan hewan kontrak lain, anda bisa mencarinya didalam hutan kematian. Dan mereka akan dengan senang hati terikat dengan anda tanpa diminta…”, ucap Huma menjelaskan.
mendengar ucapan Huma, tentu sajacFan Jianying merasa sangat senang karena memiliki hewan kontrak sama dengan memiliki sekutu yang bisa dia ajak untuk menjalankan misinya nanti.
Diapun segera berjalan mengelilingi hutan kematian untuk mencari hewan manalagi yang akan dijadikan hewan kontrak untuk menemani perjalanannya menjalankan misi.
Melihat ada ular berkepala tiga berwarna unggu dengan tiga titik kecil dikepalanya sedang bergelayut manja didahan, Fan Jianyingpun segera memanggilnya dan membuat kontrak darah dengannya.
Ular berkepala tiga itu dia beri nama Sunny. Selanjutnya Fan Jianying dan ketiga hewan kontraknya kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba disebuah padang rumput.
Dipadang rumput yang membentang luas ditengah – tengan hutan kematian dia melihat singa jantan yang gagah sedang berlari mengejar mangsanya.
__ADS_1
Gerakannya yang cepat dan gesit dalam menghabisi mangsanya membuat kedua mata Fan Jianying bersinar terang.
“ Wow…daebakkk….”, ucap Fan Jianying antusias.
Setelah singa jantan tersebut menghabiskan makanannya, Fan Jianying segera berjalan menghampirinya.
Dan kontrak darahpun berhasil dibuatnya. Fan Jianying yang sudah merasa cukup pun mulai berjalan keluar dari padang rumput.
Namun baru beberapa jengkal kakinya melangkah, dari sudut matanya dia melihat sebuah kuda putih yang sangat gagah.
Bulu putihnya yang panjang tergerai dengan indah. Suara ringgikan kuda langsung mengetarkan tubuhnya hanya dengan mendengar suara ringikannya saja.
“ Amazing….”, Fan Jianying pun langsung berjalan cepat menuju kuda tersebut dengan kedua bola matanya membulat sempurna, takjub.
Setelah dilihat cukup dekat, ternyata kuda putih terebut bukan hanya kuda biasa karena aura yang memancar dari tubuhnya terasa sangat kuat.
“ Lexus !!!...”, teriak Gao dan Huma berbarengan.
Fan JIanying segera menyipitkan matanya sambil menatap kearah Gao dan Huma yang ternyata mengenal kuda putih tersebut.
Mendapat tatapan tajam dari Fan Jianying, Gaopun berjalan mendekat dan mulai memperkenalkan kuda putih tersebut kepada sang Ratu.
“ Ini adalah Lexus, kuda sang Ratu dulu. Dia menghilang seiring lenyapnya tubuh Ratu di hutan kematian. Dan sekarang dia kembali karena kekuatan sang Ratu sudah dapat anda miliki sepenuhnya…”, ucap Gao menjelaskan.
Kuda putih tersebut langsung menunduk, mensejajarkan kepalanya dengan tinggi tubuh Fan Jianying dan langsung membenturkan kepalanya kekening Fan Jianying hingga berdarah.
Saat darah Fan Jianying menempel dikening Lexus, Kristal berwarna biru langsung muncul dan menancap kuat dikening kuda putih tersebut dengan sempurna.
Setelah mendapatkan tiga hewan kontrak lagi, Fan Jianying pun membawa keempat hewan kontraknya itu masuk kedalam cincin ruangnya dan menempatkan mereka dalam suatu wilayah yang penuh dengan mana sebagai makanan mereka.
Kecuali Lexus yang segera dinaikinya untuk membawanya keluar dari dalam hutan kematian menuju kamp militer di kota Fushou.
Sebelum keluar dari dalam hutan kematian, Fan Jianying sudah mengambil beberapa tumbuhan yang bisa meningkatkan mana dan yin dalam suatu area.
Diapun segera menanamnya di kawasan yang dia gunakan sebagai tempat tinggal hewan kotraknya agar tetap sehat dan kekuatan mereka bisa bertambah.
Begitu tiba di kota Fushou, salju pertama yang turun dikota tersebut menyambut kedatangannya. Membuat Fan Jianying semakin mengeratkan mantel bulu hewan yang dipakainya agar hawa dingin tak sampai masuk kedalam tubuhnya.
Karena mantel bulu binatang yang digunakannya berasal dari jaman modern, maka model dan bahan yang digunakan berkualitas bagus dan elegan.
Dan tentunya bisa menahan udara dingin lebih baik dari pada mantel yang dibuat pada jaman kuno ini.
Bukan hanya mantel bulu saja yang dari jaman modern, sepatu dan topi serta sarung tangan yang digunakannya juga berasal dari jamannya.
Bahkan Fan Jianying juga memakai penutup telingga seperti hedashett agar daun telinganya tetap hangat.
Dengan anggun, Fan Jianying yang menggunakan pakaian serba coklat susu tersebut terlihat mulai mendekat kearah kamp. Militer.
Hira yang kebetulan keluar untuk meminta sedikit bahan obat kepada tabib di pusat kota, terlihat sangat senang melihat kedatangan Fan Jianying.
Tanpa sadar Hira segera berlari dan langsung memeluk erat Fan Jianying begitu gadis tersebut turun dari atas kuda.
“ Nyonya….akhirnya anda kembali….”, ucap Hira memeluk erat Fan Jianying sambil sesenggukan.
“ Hey…aku tak apa – apa. Lihatlah, betapa sehatnya aku…”, ucap Fan Jianying sambil menghapus air mata di pipi Hira.
Diapun segera mengajak Hira masuk kedalam kamp bersama kuda putih yang ditungganginya tadi dan menyerahkan kepada salah satu prajurit yang ada dipintu gerbang untuk dijaga.
Fan Jianying langsung menuju tenda dimana Bai Cheung berada setelah mendengar cerita Hira jika suaminya terkena tusukan belati beracun dari Heng Yuan.
Melihat lelaki jahat yang selalu menindasnya begitu ada kesempatan terbujur kaku diranjang, membuat hati Fan Jianying luluh.
Dengan tatapan nanar, dia berjalan mendekat kearah ranjang dan duduk disamping tubuh Bai Cheung sambil mengenggam satu tangan suaminya itu dengan lembut.
Melihat keromantisan itu, Liam dan Hira berjalan keluar dalam diam. Membiarkan nyonya mudanya itu melepas rindu dengan sang suami.
__ADS_1
Meski diabaikan, nyatanya tidak membuat Fan Jianying serta merta membenci sang suami. Bagaimanapun keduanya sudah terikat secara hukum dan negara sah sebagai suami istri.
Hati Bai Cheung menghangat waktu melihat istrinya itu menitikkan air mata. Bagaimanapun kerasnya hati Fan Jianying, jika dihadapkan pada pemandangan seperti itu dirinya pasti akan sedih.
Mata Fan Jianying seketika terbelalak lebar waktu memeriksa denyut nadi Bai Cheung. Karena masih belum yakin, sekali lagi dia memeriksa dan hasilnya tetap sama.
“ Hira….”, teriak Fan Jianying lantang.
Hira yang berada didepan tenda bersama Liam tergopoh - gopoh masuk kedalam begitu Fan Jianying berteriak.
“ Ada apa nyonya ?...Apa anda terluka ?...”, tanya Hira cemas.
" Aku tidak apa - apa....aku memanggilmu untuk meminta tolong mengambilkan perlengkapan agar aku bisa mengobati suamiku...", ucap Fan Jianying lembut.
Hira dan Liam langsung bernafas lega mengetahui jika madam ketiganya tersebut baik - baik saja dan segera berlalu untuk mengumpulkan semua peralatan yang di butuhkan nyonya mudanya itu.
Setelah semua peralatan tersedia, sebelum dia memulai mengobatan gadis itu berpesan kepada keduanya agar tidak membiarkan siapapun masuk dan menganggu proses pengobatannya.
“ Ingat !!!...apapun yang terjadi didalam. Kalian tidak boleh masuk dan jangan sampai membiarkan siapapun masuk hingga aku keluar sendiri untuk memanggil kalian….”, pesan Fan Jianying tajam.
Liam dan Hira pun spontan mengangguk dan mulai berjaga didepan tenda. Meski sudah berpesan kepada keduanya, namun untuk mengantisipasi hal buruk, Fan Jianying tetap memasang selubung pengaman disekitar dalam tenda.
Dia takutnya akan ada kekuatan jahat diluar kendalinya datang menganggu proses pengobatan yang sedang dia lakukannya.
“ Apa yang dilakukannya ?...”, batin Bai Cheung curiga waktu istrinya itu menyayat nadi ditangannya.
Langsung saja darah hitam mengalir dengan derasnya begitu nadinya disayat. Darah hitam pekat itu Fan Jianying tampung dalam wadah kecil yang telah Hira siapkan tadi.
Begitu semua racun sudah keluar, Fan Jianying segera mengangkat telapak tangannya. Pusaran sinar mulai muncul ditangannya, sedetik berikutnya luka sayatan tersebut langsung hilang tak berbekas.
Bai Cheung yang melihat seluruh prosesnya hanya bisa terbelalak dengan mulut terbuka lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya itu.
“ Ba…bagaimana dia bisa melakukan itu…”, ucap Bai Cheung sambil menatap tajam sang istri dengan tatapan tak percaya.
Fan Jianying yang tak bisa melihat arwah Bai Cheung terlihat fokus pada apa yang sedang dikerjakannya saat ini.
Dia segera meneteskan darah yang telah diambilnya tadi kedalam sebuah tabung kecil untuk menguji tingkat racun yang ada dalam tubuh suaminya.
“ Racun pelemah level tujuh…”, guman Fan Jianying yang langsung mengambil penawar racun dari dalam cincin ruangnya.
Lagi – lagi mata Bai Cheung melotot waktu mengetahui cincin munggil dengan permata biru kecil ditengahnya yang bertengger manis dijari tengah sang istri adalah sebuah cincin ruang.
“ Sangat unik…baru kali ini aku melihat cincin ruang sebagus itu…”, guman Bai Cheung terpesona.
Selanjutnya, Fan Jianying segera memberikan obat penawar racun tersebut kepada Bai Cheung dengan mengangkat sedikit kepala suaminya agar obat bisa masuk kedalam tubuh.
Namun, karena kondisi Bai Cheung yang parah maka obat tersebut tak dapat masuk kedalam tubuhnya.
Fan Jianying tak ingin bahan langkah yang digunakan untuk obat tersebut terbuang sia - sia maka langkah yang harus diambilnya adalah memberika obat tersebut melalui mulutnya.
Dia sedikit ragu untuk mengmbil opsi terakhir tersebut. Memandang bibir punuh pucat dihadapannya, tanpa sadar Fan Jianying menelan ludahnya dengan susah payah.
" Tidak apa - apa...ini hanya pengobatan tanpa ada tendensi apapun....", ucap Fan Jianying berusaha menenangkan hatinya.
Namun, pada saat hendak memasukkan obat tersebut kedalam mulutnya, sudut matanya kembali melihat bibir Bai Cheung dan membuatnya kembali ragu.
" Hey...dia adalah suamimu, jadi tak masalah jika kamu melakukan hal itu....", batin Fan Jianying bermonolog.
Dengan mengumpulkan tekad yang kuat, Fan Jianying pun segera meminum obat tersebut dan memasukkan obat tersebut kedalam mulut Bai Cheung menggunakan mulutnya.
“ Ap…apa yang dia lakukan ?...”, ucap Bai Cheung dengan wajah memerah.
“ Lancang sekali dia menciumku….”, ucap Bai Cheung sedikit malu.
Meski dia paham jika Fan Jianying melakukan hal itu hanya untuk membantu memasukkan obat kedalam tubuhnya.
__ADS_1
Namun, Bai Cheung yang belum pernah seintim tersebut dengan seorang wanita merasa sangat malu, meski Fan Jianying adalah istri sahnya.
Jika saja Fan Jianying bisa mendengar apa yang ada dalam pikiran Bai Cheung saat ini, mungkin dia akan langsung muntah darah menganggap suaminya itu terlalu percaya diri.