
Malam semakin larut. Suara jangkrik terdengar saling bersahutan. Suara burung malam, terdengar memecah heningnya malam. Membuat rasa takut dan bulu kuduk berdiri. Siapapun yang tidak terbiasa dengan suasana malam seperti ini, pasti tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.
Begitu juga dengan Damian. Meskipun, dia sudah berusaha memejamkan mata, tetapi tetap saja suasana malam di rumah Vera membuatnya merinding. Mungkin juga karena dia tidak terbiasa dengan kamar yang bukan miliknya.
Damian bergegas keluar untuk mencari seseorang yang bisa diajaknya begadang. Akan tetapi, lampu di dalam rumah Vera hanya beberapa yang dihidupkan. Sehingga membuat suasana malam semakin tampak hening dan remang-remang.
Mata Damian melihat keberbagai sudut rumah. Bayangan-bayangan hitam mulai bermunculan di dalam pandangan Damian. Seolah, mereka berusaha mendekat dan hendak menerkamnya. Tubuh Damian mulai bergetar dan hatinya berdebar-debar tidak beraturan.
Jantung Damian serasa berhenti berdetak, ketika sebuah tangan menyentuh lengannya. Kakinya terasa lemas dan tubuhnya terduduk ke lantai. Tiba-tiba lampu menyala dengan terang.
"Damian, ada apa?" tanya Vera kaget melihat Damian terduduk di lantai.
"Aku ...," jawab Damian gugup sehingga tidak bisa berkata-kata.
Vera membantu Damian berdiri dan memapahnya kembali masuk ke dalam kamarnya. Vera segera mengambilkan air minum, lalu membantu Damian minum air yang Vera bawa. Damian masih tampak syok.
Ternyata, Damian memiliki trauma masa kecil yang tidak semua orang tahu. Saat itu, Damian masih berusia 7 tahun. Saat mereka berlibur ke villa milik keluarga Damian, Damian tersesat saat sedang bermain petak umpet bersama kedua kakaknya.
Damian lalu bertemu seorang wanita yang ternyata mengalami gangguan jiwa. Dia menganggap Damian sebagai anaknya yang hilang. Wanita itu kemudian mengurung Damian didalam sebuah kamar yang gelap tanpa ada sorot lampu sedikitpun.
Tidak hanya itu, wanita itu juga menakut-nakuti Damian, dengan hantu bayangan hitam yang suka menerkam anak-anak yang nakal. Meskipun pada akhirnya Damian berhasil ditemukan orangtuanya, tetapi trauma itu tetap melekat dihati Damian hingga dewasa.
Damian tiba-tiba memeluk Vera. Vera sempat kaget dan berusaha melepaskan pelukan Damian.
"Biarkan aku memelukmu sebentar. Hanya satu menit," bisik Damian pelan di telinga Vera.
Vera menghentikan usahanya melepaskan diri dari pelukan Damian. Selama ini, Vera tidak pernah melihat sosok Damian yang begitu lemah dan ketakutan. Tidak tega rasanya melihat Damian seperti itu. Kalau hanya menyewakan sebentar dirinya untuk jadi penopang rasanya juga tidak akan ada masalah.
Vera menarik napas panjang. Jika saat ini dirinya masih berstatus calon istri Rendra, maka tidak akan mungkin dia membiarkan laki-laki lain memeluknya. Sesuai kata-katanya, hanya semenit saja, Damian melepaskan pelukannya.
"Terima kasih, sudah bersedia menjadi sandaran aku saat ini," ucap Damian sambil menatap Vera.
"Sama-sama. Kamu sebenarnya kenapa? Kamu ada takut kegelapan?" tanya Vera.
"Begitulah. Ada sedikit trauma di masa kecilku," jawab Damian lalu dia mulai menceritakan tentang masa lalunya.
Ada perasaan nyaman, ketika dia bercerita pada Vera. Seolah dia memiliki tempat untuk bergantung. Vera, satu-satunya wanita yang mampu membuatnya ingin melepaskan trauma yang dialaminya. Dia ingin terlihat sempurna di hadapan Vera.
__ADS_1
Jika Damian ingin masuk di dalam keluarga Vera, tentunya dia juga harus bisa memahami kebiasaan keluarganya. Damian tahu, kebiasaan orang-orang seperti keluarga Vera. Mereka akan mematikan lampu-lampu yang di rasa tidak diperlukan. Tentunya untuk berhemat biaya listrik.
"Tidak apa-apa. Suatu saat, trauma itu akan hilang perlahan-lahan. Apa sekarang kamu masih belum bisa tidur?" tanya Vera.
"Masih. Apakah kamu bersedia menemaniku berbincang-bincang malam ini?" tanya Damian serius.
"Boleh saja, tapi tidak didalam kamar. Aku akan menemani kamu, sambil menonton TV. Ayo kita keluar," ajak Vera sambil membantu Damian turun dari ranjang.
Vera mencoba membantu Damian, tetapi Damian menolak karena dia sudah bisa berjalan sendiri. Vera mengikuti langkah Damian dan segera menghidupkan TV setelah sampai di ruang keluarga.
Damian duduk bersandar sedangkan Vera duduk tidak jauh darinya. Malam ini, Vera dan Damian menonton film sambil sesekali Damian berkomentar. Vera membalas komentar Damian dengan membumbui kata-kata Damian.
Damian mulai merasa nyaman dan mulai melupakan apa yang terjadi sebelumnya. Damian akhirnya tertidur pulas disamping Vera. Vera bergegas pergi mengambil selimut lalu diselimutkan ke tubuh Damian. Vera kemudian bersandar di kursi di sebelah Damian. Vera juga terlelap dalam mimpinya.
Keesokan harinya, Bu Hena dan pak Anto merasa kaget, saat melihat Damian dan Vera tidur diruang keluarga. Bahkan dengan kondisi TV masih hidup. Jadi, semalaman bukan mereka yang nonton TV, tetapi mereka yang ditonton TV.
Bu Hena segera membangunkan Vera, karena waktu adzan subuh sudah berkumandang. Vera kemudian membangunkan Damian karena Vera tahu mereka memiliki keyakinan yang sama. Jadi tidak ada salahnya untuk mengingatkan sesama.
Vera mencolek sedikit lengan Damian. Tetapi ternyata Damian terlalu lelap. Vera mencobanya sekali lagi, akan tetapi tetap saja Damian tidak bereaksi.
"Tapi apa, Ayah?" tanya Vera kaget.
"Kamu harus menjelaskan pada kami, kenapa kalian bisa tidur di sini," ucap pak Anto penuh curiga.
"Iya, Ayah. Vera pasti akan cerita sama Ayah dan ibu," jawab Vera sambil berdiri.
Pak Anto segera membangunkan Damian dengan agak keras, sehingga Damian langsung terbangun. Damian tampak kaget sekaligus bingung. Rupanya dia ketiduran di sofa saat menonton film bersama Vera.
"Ada apa, pak Anto?" tanya Damian.
"Mari kita salat subuh berjamaah," jawab pak Anto sekaligus ajakan untuk salat.
"Oh, baik," jawab Damian sambil menatap ke arah Vera yang tersenyum.
Mereka kemudian melaksanakan salat berjamaah yang diimami oleh pak Anto. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga kecil. Setelah mereka melakukan salat, Bu Hena dan Vera menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sementara Damian dan pak Anto duduk berbincang di ruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi yang dibuatkan oleh Vera.
"Pak Anto, saya ingin minta maaf. Saya memutuskan untuk pulang hari ini. Dan masalah sewa kamar, silahkan pak Anto kirim nomor rekening. Besok akan saya transfer secepatnya," ucap Damian. Damian berencana membatalkan sewa, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk tetap menyewa walaupun entah kapan dia akan datang menginap di rumah ini lagi.
__ADS_1
"Pak Damian. Jika Pak Damian tidak pasti kapan akan menginap ke rumah saya ini, lebih baik tidak perlu menyewa. Uang yang kemarin saja, sudah cukup untuk biaya menginap pak Damian saat anda datang ke kampung kami," jawab pak Anto.
"Saya tidak ingin membuat pak Anto rugi. Pasti suatu saat, saya akan datang untuk menginap di rumah ini lagi. Saya tidak ingin saat itu, pak Anto melarang saya saya tinggal karena sudah di tempati orang lain," ucap Damian terus terang.
"Paling-paling anak laki-laki kami yang pulang untuk menengok kami," jawab pak Anto sambil tersenyum.
"Ayah, sarapan sudah siap," ucap Vera sambil melihat ke arah Damian yang terlihat bahagia, tidak seperti semalam.
"Oh ... Pak Damian, mari kita sarapan dulu sebelum pak Damian pulang. Saya berharap pak Damian akan suka dengan apa yang disiapkan kami. Maklum di kampung, masakannya tidak akan seenak di kota," ucap pak Anto basa-basi.
"Saya malah lebih suka masakan kampung. Apalagi jika yang memasak adalah Vera," jawab Damian keceplosan.
"Maksud pak Damian, Vera?" tanya pak Anto kaget.
"Bukan, maksud saya, yang masak juga asli gadis dari kampung," jawab Damian sebisanya.
Biar saja kalau pak Anto curiga. Asalkan tidak memaksaku berterus-terang, Aku juga tidak termasuk memberitahu jika aku dan Vera sudah saling kenal sebelumnya, batin Damian.
"Ayo, ayah! Nanti keburu siang. Vera mau pergi ke sekolah," ucap Vera agak keras.
"Iya, Vera. Ayo pak Damian," ajak Pak Anto lalu melangkah menuju ke ruang makan yang ada di dapur.
Sarapan yang terlihat sederhana, tetapi rasa kebersamaan yang membuat Damian tidak ingin melewatkan saat ini dengan percuma. Damian menikmatinya dan berharap didalam hatinya, bahwa suatu saat, Damian akan bisa mengulangi lagi setiap momen bahagia di rumah ini, dengan status sebagai keluarga sungguhan, bukan tamu.
Sebelum Damian pergi, Damian menunggu Vera akan segera memberinya jawaban atas tawarannya kemarin. Akan tetapi, Samapi saat dia hendak pergi, Vera tidak tampak sama sekali. Akan tetapi, sebuah pesan singkat dia terima dari Vera, jika Vera akan meminta izin kepada ayahnya terlebih dahulu.
Meskipun dengan perasaan kecewa, Damian memang harus bisa menerima semua keputusan Vera. Karena ini salah satu langkah untuk bisa masuk kedalam kehidupan Vera selanjutnya.
Damian pergi dengan masih menyimpan harapan, bahwa Vera akan menerima tawarannya bekerja untuknya.
Bersambung
sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku, judulnya Bidadari Yang Di abaikan karya Santi Suki.
Jangan lupa mampir ya, ceritanya keren banget ...
__ADS_1