
Putra mahkota melihat roti persik panjang umur yang seukuran kepalan tangan bayi, sangat imut dan lucu yang ada ditangannya.
Dia bisa membayangkan jika hanya dengan dua kali gigitan saja roti tersebut sudah habis. Bahkan jika mau, roti ini bisa langsung sekali makan.
" Cukup efisien dan ekonomis....", guman putra mahkota sambil terus mengamati roti tersebut.
Saat putra mahkota mengendusnya, dia cukup terkejut waktu mendapati bahwa bukan hanya bentuknya saja yang menyerupai bentuk aslinya.
Tapi juga aroma dan rasanya, meski isian roti yang lembut dan sedikit lengket namun terasa sangat mulus dan halus serta rasa manis yang pas tidak terlalu berat dilidah.
Membuat orang yang menikmatinya seakan dibawa terbang keatas awan. Bahkan aroma dan rasa segar buah persik asli begitu terasa disetiap gigitan.
“ Gadis kecilku sudah tumbuh dewasa rupanya…”, batin putra mahkota tersenyum lembut sambil memasukkan kembali potongan terakhir roti kedalam mulutnya.
Pangeran kedua merasa sedikit heran bagaimana saudaranya itu bisa segembira itu hanya karena bisa memakan roti persik panjang umur sekecil itu.
“ Ada yang aneh…”, batin pangeran kedua penasaran.
Diapun segera menyuruh bawahannya untuk mencari informasi darimana datangnya roti persik panjang umur yang membuat saudaranya itu sangat bahagia.
Balik lagi ke kediaman Ming, tuan besar Ming yang sangat puas dengan roti persik panjang umur yang dibuat oleh Fan Jianying memberikannya hadiah berupa uang tunai senilai dua ribu tael dan satu set perhiasan emas dengan batu zamrud sebagai hiasannya.
Setelah mengucapkan terimakasih, Fan Jianyingpun kembali kehalaman tempat berkumpulnya wanita bangsawan untuk mengambil hadiahnya.
Mata Vivi terkunci pada semua asesoris mahal dan berharga yang ada didalam nampan perak yang ada dihadapannya itu.
Setelah berpikir bahwa semua itu akan segera menjadi milik Fan Jianying sebentar lagi, hatinya penuh dengan rasa kecemburuan.
Hati Vivi semakin panas ketika melihat Fan Jianying keluar dari ruang utama membawa sekotak perhiasan yang dia tahu adalah milik almarhum buyutnya, ibunda kakeknya..
“ Bagaimana…bagaimana kau bisa mendapatkan itu ?...”, tanya Vivi sambil menunjuk kearah Fan Jianying dengan penuh kecemburuan.
Kedua mata Fan Jianying melihat arah benda yang ditunjuk oleh Vivi membuat senyuman lebar mengembang sempurna diwajahnya, namun sebelum dirinya bersuara Dayu sudah menginterupsinya.
“ Tuan besar Ming memberikan hadiah ini sebagai ucapan terimakasih atas roti persik panjang umur lezat yang dibuat oleh madam ketiga…”, Dayu pun mengatakan semuanya dengan bangga.
__ADS_1
Sekali lagi wajah Vivi seakan tertampar kenyataan, akibat tindakan gegabahnya sekarang bukan hanya mendapatkan nilai plus dalam perjamuan.
Gadis busuk itu juga mendapatkan hadiah yang sudah lama Vivi incar namun sang kakek masih berat untuk melepaskannya.
Dan sekarang benda itu diberikan kepada Fan Jianying begitu saja. Itu sangat tidak adil bagi Vivi, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa – apa dan hanya memendam kekesalannya dalam hati.
Madam Ming kelima memberikan nampan perak yang berisi semua aksesoris dan perhiasan sambil menyipitkan matanya, seakan memberi peringatan keras dan jelas kepada Fan Jianying untuk tidak menerima aksesoris tersebut.
Meski Fan Jainying paham dengan kode yang diberikan oleh madam Ming kelima, namun dia berusaha polos dan tak mengerti apa – apa.
Sambil senyum lebar, nampan perak tersebut diambilnya dari tangan madam Ming kelima. Sempat terjadi tarik menarik karena tampaknya ibunda Vivi tersebut enggan untuk melepaskan nampan tersebut.
Dengan satu hentakan keras, akhirnya Fan Jianying berhasil mengambil nampan dan memasukkannya kedalam kantung kain yang sudah disiapkan oleh Dayu.
Lady Rose tersenyum bahagia waktu melihat betapa frustasinya madam Ming kelima waktu menyadari kekalahan dan kehilangan benda kesayangannya itu.
“ Apakah kamu sedang meratapi gelang emas mutiara milikmu…”, ucap Lady Rose menyindir.
Madam Ming kelima sangat kesal hingga hampir muntah darah mendengar ucapan Lady Rose yang terlihat masih setia mentertawakannya.
“ Apa yang kau katakana Lady, itu hanyalah sebuah gelang. Sama seperti gelang karang bertabur berlian yang kamu masukkan sebagai taruhan tadi…”, ucap madam Ming kelima setengah hati.
Mata Lady Rose terlihat cerah dan senyumnya mereka dengan indah diwajahnya. Baginya tidak masalah melepaskan gelang – gelang berharganya itu hanya untuk melihat madam Ming kelima yang angkuh tersebut menelan kata – katanya seperti ini.
“ Terimakasih kepada nyonya – nyonya mulia yang murah hati atas hadiah yang anda sekalian berikan kepada saya. Semoga rejeki anda sekalin mengalir dengan deras karena kebaikan hati ini…”, ucap Fan Jianying dengan sikap hormat.
Meski semua yang dikatakan oleh Fan Jianying hanyalah basa – basi belaka. Namun tampaknya semua orang menganggapnya asli.
Dan mereka semakin kagum kepadanya. Bukan hanya rendah diri dan berbakat, namun Fan Jianying juga dinilai sangat sopan.
Hal ini membuat semua orang mulai berpikir jika semua rumor yang beredar tersebut palsu dan hanya omongan sampah yang dihembuskan oleh orang yang iri dengan gadis cantik dan polos itu.
Untuk itu, merek semua bertekad akan membersihkan dan mengembalikan nama baik Fan Jianying serta menyebarkan kehebatan dan kerendahan hatinya hari ini.
Setelah seluruh lelucon dan ketengangan akhirnya berakhir, para nyonya yang hadirpun menarik nafas lega dan terlihat kepuasan diwajah mereka.
__ADS_1
Selain bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa memakan roti persik panjang umur yang sangat lezat mereka juga mendapat cerita menarik untuk diceritakan kepada keluarga dan teman terdekat yang tidak bisa hadir begitu mereka kembali.
Dalam sekejam mata, rumor buruk tentang Fan Jianying yang selama ini beredar di masayarakat tampaknya akan mulai menghilang dan digantikan dengan berita tentang kehebatan dan kerendahan hatinya.
Ketika melihat Fan Jianying keluar dari kerumunan dalam keadaan baik – baik saja dengan wajah ceria, madam Chou terlihat sangat lega.
“ Saya senang kamu baik – baik saja adik ipar. Maaf, tadi kakak harus menemani Litle Kiew yang jatuh, jadi tak bisa membantumu. Jangan sekali - kali membuat kakak khawatir lagi….”, ucap madam Chou langsung memeluk tubuh adik iparnya itu dengan erat.
Fan Jianying terlihat tersenyum bahagia atas perhatian kakak iparnya itu. Sesuatu hal yang selalu ingin dengar semasa hidupnya dulu.
Ada seseorang yang begitu mengkhawatirkan kondisinya seperti ini. Meski itu hanya sebuah pelukan, namun itu sudah cukup menenangkan hatinya.
“ *T*erimakasih atas perhatian anda, kakak ipar…”,Fan Jianying tersenyum manis sambil mengenggam kedua tangan madam Chou.
“ Lalu, bagaimana kondisi little Kiew sekarang ?...”, tanya Fan Jianying cemas.
“ Dia sudah tidur sekarang. Lukanya sudah dibalut. Mungkin untuk sementara waktu dia akan sedikit kesulitan karena luka yang ada dipergelangan kakinya…”, ucap madam Chou menjelaskan.
“ Setibanya dirumah nanti, aku akan membuatkan kudapan manis untuknya agar suasana hatinya membaik…”, ucap Fan Jainying bersemangat.
Fan jianying sangat tahu jika little Kiew sangat menyukai kudapan manis seperti cookies coklat buatannya.
Sedangkan, sang kakak little Fan lebih senang kudapan dengan rasa gurih seperti cookies keju ataupun stick bawang.
Fan Jianying terlihat membungkuk sedikit waktu madam Ronger berpamitan kepada madam Chou sebagai bentuk kesopanan bertemu dengan ibu tirinya.
Melihat Fan Jianying hanya memasang wajah datar membuat madam Ronger merasa bersalah karena tidak membantunya waktu dirinya ditindas oleh putri Wei Xieun.
“ Dia pasti kecewa padaku…”, batin madam Ronger sedih.
Meski dia tidak terlalu suka dengan Fan Jianying dan merencanakannya agar keluar dari kediaman keluarga Fan.
Namun melihat kinerjanya hari ini yang sedikit banyak bisa mengangkat derajat keluarga Fan karena keahilannya memasak membuat selir ayah Fan Jianying tersebut memiliki pandangan berbeda sekarang.
“ Kurasa aku harus segera mengatakan kepada tetua Fan mengenai kepergian Bai Cheung. Semoga dengan ini Fan Jianying bisa memperoleh keadilan dan tidak menderita lagi…”, batin madam Ronger penuh tekad.
__ADS_1