
Setelah memberi salam kepada kedua orang tua madam Chou dan menyapa seluruh anggota keluarga Ming yang hadir, Fan Jianying pun terus mengikuti madam Chou seperti anak anjing karena tak tahu harus melakukan apa di tempat seperti itu.
Dari jauh, semua wanita yang berkumpul diruangan tersebut menoleh dan mulai memperhatikan Fan Jianying begitu gadis itu keluar dari rumah utama bersama madam Chou.
Fan Jianying yang terlihat terus menempeli madam Chou selama acara berlangsung membuat semua orang mulai berbisik – bisik dibelakang.
" Siapa gadis cantik itu ?..."
" Aku belum pernah melihatnya...."
" Apa bagian dari keluarga Ming ?..."
" Apa itu anak haram tuan besar Ming ?..."
" Astaga !!!...dia seperti anak anjing yang terus mengikuting Ming Chou...."
Dan sederet bisikan lainnya, mereka terus berasumsi sediri karena melihat begitu dekatnya madam Chou dengan gadis yang wajahnya sangat asing bagi mereka.
Menyadari hal tersebut, madam Chou pun segera menggandeng satu tangan Fan Jianying dan mengajaknya untuk masuk kedalam kerumunan wanita bangsawan tersebut.
Saat mendekati kerumunan tersebut, madam Chou dengan senyuman lebar mulai memperkenalkan adik iparnya tersebut kepada para wanita bangsawan yang ada disana.
“ Anda mungkin belum mengenalnya, ini adalah adik ipar ketigaku, nona kedua Fan…”, ucap madam Chou ramah.
Semua orang terlihat terbelalak waktu madam Chou mengetakan bahwa gadis cantik yang berasamanya itu adalah nona kedua keluarga Fan yang baru saja menikah dengan tuan muda ketiga Bai.
Selain terkejut, banyak juga yang langusung menatap Fan Jianying dengan sinis saat melihat kecantikan alami yang mempesona dari gadis muda belia yang ada dihadapan mereka saat ini.
Gadis belia yang tampak bersinar terang seperti keindahan bunga yang baru saja mekar membuat banyak dari mereka yang tidak bisa menyembunyikan rasa iri yang perlahan mulai tumbuh subur dalam hati mereka.
Dan ada beberapa dari mereka yang terlihat mencibir dan menatap Fan Jianying dengan sinis waktu mengingat kembali rumor yang menyebutkan jika gadis cantik tersebut memiliki sikap angkuh dan kejam.
Meski diam, namun sikap semua orang menunjukkan seolah Fan Jianying tidak pantas untuk bergabung dengan mereka meski gadis itu adalah putri sah dari Fan Shaosheng.
“ Meski cantik namun sifat angkuh dan kejam yang dimiliki membuatnya terlihat sangat buruk. Tidak seperti adiknya, Fan Nuan yang lembut dan baik hati….”, bisik – bisik terus terdengar kemana kaki Fan Jianying melangkah.
Dari awal madam Chou sudah memprediksi akan mendapatkan hasil seperti ini, tapi dia terus saja membawa adik iparnya itu maju dan menemui semua orang yang ada disana.
Bagaimanapun juga, Fan Jianying saat ini sudah menjadi bagian dari keluarga Bai. Tentunya ini adalah ujian pertama yang harus dia hadapi di masyarakat.
__ADS_1
Dan sebisa mungkin, gadis itu harus bisa melewatinya dengan baik agar bisa diterima dan masuk kedalam lingkungan sosia mereka.
Mungkin untuk saat ini masih ada madam Chou yang mewakili keluarga Bai karena sang mertua yang kondisinya tidak terlalu baik untuk menghabiskan waktu diluar bercengkerama bersama demi menjalin hubungan baik dengan bangsawan lainnya.
Namun, nantinya jika madam Chou berhalangan hadir, Fan Jianying yang harus mengantikannya sudah siap mental dan bisa mengatasi semuanya dengan tenang.
“ Maafkan aku…tapi semua ini harus bisa kamu lalui…”, batin madam Chou sedih.
Meski hatinya sedih mendengar semua bisik – bisik buruk tentang adik iparnya, namun hal itu tak membuat madam Chou menghentikan langkahnya untuk mengajak adik iparnya menyapa semua orang yang hadir disana.
Tampaknya, rumor yang dihembuskan oleh Fan Nuan cukup berhasil mempengaruhi pemikiran semua orang, terutama mereka yang undangan minum teh nya selalu di tolak oleh Fan Jianying dimasa lampau.
Meski tatapan semua orang terasa sangat tidak nyaman, tapi karena jiwa yang menempati tubuh nona kedua Fan ini adalah orang lain yang berasal dari dunia modern, tentunya dia memiliki pikiran terbuka.
Apalagi dulunya dia adalah wanita karir yang sukses diusia muda yang sudah melewati berbagai macam kerasnya hidup, pandangan tersebut tidak dihiraukan dan Fan Jianying sama sekali tidak perduli karena menurutnya hanya akan membuang waktu saja.
Fan Jianying merasa dia tidak pernah menyinggung siapapun dan tidak memerlukan bantuan apapun dari mereka, jadi untuk apa perduli dengan apa yang mereka katakan..
Meladeni mereka hanya akan membuang energinya dengan percuma. Sekarang yang perlu dia lakukan hanyalah menikmati pesta dengan tenang.
Fan Jianying yang berada dalam fase terbaiknya saat ini tentunya bagai sebuah bunga yang baru saja mekar, segar dan wangi serta memiliki pesona tanpa batas.
Hal itu tentunya membuat semua orang terdiam malu dan hanya bisa memaki dalam hati saja karena tidak ingin menyinggung madam Chou yang dengan setia mendampingi Fan Jianying berkeliling.
Jika Fan Jianying terlihat tenang tak terganggu sedikitpun dengan semua bisikan buruk dibelakanganya, namun hal itu tidak terjadi pada kedua pelayan yang setia mengikutinya.
Dayu dan Hira terlihat sangat geram dan ingin merobek mulut para wanita j****g tersebut yang telah berani meremehkan dan menghina madam ketiga Bai itu.
Namun semua itu berhasil mereka tahan demi menjaga nama baik madam ketiga, khusunya nama baik keluarga besar Bai dan tidak ingin membuat Fan Jianying mendapatkan masalah.
Jika yang tadi ikut adalah Heyna, hal buruk tersebut pastilah terjadi mengingat gadis itu mudah terprovokasi dan tidak bisa mengendalikan emosinya dengan benar.
Ditengah – tengah acara ramah tamah tersebut, tiba- tiba ada pelayan berbaju hijau berjalan mendekat kearah madam Chou.
Setelah cukup dekat, pelayan tersebut dengan raut tegang, sedikit berjingkat dan membisikkan sesuatu ketelingga madam Chou.
Ekspresi madam Chou seketika berubah menjadi suram dengan raut wajah serius, seperti ada sesuatu hal penting yang sedang terjadi.
Fan Jianying yang mengerti ekpresi tersebut segera melayangkan senyum manisnya seolah berkata “ saya baik – baik saja, silahkan kakak ipar pergi…”.
__ADS_1
Melihat adik iparnya tampak menikmati acara yang sedang berlangsung, Madam Choupun merasa sedikit tenang.
Setelah kepergian kakak iparnya, Fan Jianying melihat sekeliling untuk mencari tempat yang nyaman. Pada saat melihat sudut yang lumayan bagus untuk menikmati keindahan taman keluarga Ming, diapun mulai berjalan ke arah sana.
Tempat tersebut sedikit tersembunyi sehingga dirinya tidak kembali menjadi pusat perhatian semua tamu yang hadir.
Meskipun dia masih bisa mendengar semua kata yang diucapkan semua orang dalam kerumunan tentang dirinya, Fan Jianying merasa tidak ada gunanya dia marah.
Semua orang bebas untuk mengatakan apapun yang mereka inginkan dengan mulut mereka sendiri dan tidak ada yang bisa mengendalikan.
“ Kalian jangan terprovokasi…dengan statusku, apapun yang aku kerjakan pasti akan digunjingkan oleh mereka. Jadi jangan buang tenaga untuk hal yang tidak penting seperti itu…”, ucap Fan Jianying lembut.
Perlahan – lahan kepalan kedua tangan pelayannya itu mulai terbuka, amarah yang ada dalam diri Dayu dan Hira sedikit – demi sedikit mulai menghilang mendengar ucapan lembut dan hangat Fan Jianying.
Sikap perhatian yang diberikan oleh Fan Jianying kepada keduanya membuat Hira semakin mengidolakan gadis muda yang ada dihadapannya itu.
Selain cantik dan baik hati, madam ketiganya itu ternyata juga berhati lapang dan bisa tetap tenang disaat banyak orang menghina dan mencemoohnya.
Tanpa ketiganya sadari, sejak tadi ada seorang lelaki tampan mengenakan jubah broiler biru tua berdiri didekat jendela dengan satu tangannya memegang kipas yang menutupi sebagian wajahnya menatap tajam kearah dimana Fan Jianying berada.
Saat lelaki itu melihat Fan Jianying memuntahkan kue yang baru saja dimakannya, wajahnya terlihat mulai menggelap seperti tinta dan berguman pelan “ Fan’er masih sama seperti sebelumnya, dia sangat pemilih. Tentu saja rasa kue dikediaman ini tidak selezat yang ada dikediaman keluarga Fan maupun keluarga Bai…”.
Heng Yuan terus saja mengamati gadis cantik yang masih tersimpan rapi dalam hatinya itu.
Meski Fan Jianying sudah membuatnya sakit dan kecewa, namun rasa cinta yang sangat dalam membuat lelaki itu masih sabar menunggu.
Berharap ada suatu keajaiban yang bisa membuat gadis cantik yang memenuhi isi hatinya itu kembali kepadanya.
“ Yuan…apa yang kau lihat hingga seserius itu ?...”, tanya Yang Yuwen menepuk pundak temannya itu dari arah belakang.
Ketika Heng Yuan berbalik, dia melihat Yang Yuwen berdiri tepat dibelakangnya dengan menggunakan jubah brokat dengan warna merah darah, membuat aura ketegasannya sangat terasa.
Yang Yuwen mulai mengikuti arah pandang Heng Yuan dan tersenyum tipis sambil berkata “ ternyata disinilah semua wanita cantik berkumpul….pantas saja jalanan menjadi sedikit sepi hari ini…”.
Heng Yuan mengabaikan kelakar Yang Yuwen dan segera mengajaknya untuk masuk kedalam kediaman dan berkumpul bersama para lelaki disana.
Namun belum juga Heng Yuan beranjak masuk kedalam kediaman, dia mendengar suara keributan diluar yang membuatnya menghentikan langkah kakinya dan kembali menoleh kearah luar jendela.
“ Putri Wei Xieun…apa yang membawanya kemari…”, batin Heng Yuan tidak tenang.
__ADS_1