CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
PENYELIDIKAN


__ADS_3

Dalam cincin ruangnya Heng Yuan yang berhasil mengeluarkan semua racun yang ada dikakinya dan segera membalut luka yang ada kakinya dengan perban setelah diolesi obat.


“ Untung saja racunnya tidak terlalu mematikan…”, guman Heng Yuan lega.


Diapun segera merebahkan tubuhnya dengan kedua tangan menopang kepalanya. Meski tubuhnya beristirahat namun  pikirannya terus bekerja, mencoba mengingat dengan detail gadis muda yang dilihatnya di kamp militer tadi.


“ Benar, aku yakin jika gadis itu adalah Fan’er. Tapi kemana dia pergi ?...padahal jelas – jelas aku lihat dengan kedua mataku sendiri jika dia masuk kedalam tenda itu..”, batin Heng Yuan penasaran.


Untuk membuatnya jelas, diapun berencana untuk datang ke gunung Weixi, tempat Fan Jianying dirawat untuk mencari tahu semuanya.


“ Kurasa aku harus segera pergi ke paviliun Huangwe digunung Weixi begitu kondisiku sudah pulih….”, guman Heng Yuan antusias.


Diapun kemudian segera mengistirahatkan tubuhnya diatas ranjang dan mulai terlelap karena efek obat yang baru saja dikonsumsinya.


Sementara itu, Fan Jianying yang baru saja terbangun merasa jika tubuhnya sangat segar. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian diapun segera keluar dari dalam cincin ruang untuk kembali ke tenda.


Bai Cheung yang juga baru saja membasuh muka tiba – tiba melihat istrinya muncul didalam tenda langsung menghempaskan tubuh munggil tersebut keatas ranjang dan mengukungnya.


Mendapat perlakuan seperti itu setelah tiba didalam tenda tentu saja membuat Fan Jianying terkejut dan melotot tajam kepada suaminya.


“ Apa – apaan kamu !!!...lepaskan aku !!!...”, ucap Fan Jianying ketus sambil meronta - ronta ingin melepaskan diri.


“ Tidak…sebelum kamu menjelaskan semuanya padaku…”, Bai Cheung mengeram dengan suara rendah dan berat.


Melihat istrinya masih terdiam seakan tak ingin menjelaskan apapun kepadanya, Bai Cheungpun segera mengulum daun telingga istrinya hingga gadis itu mengerang marah.


“ Aku bisa berbuat lebih jika kamu masih tetap keras kepala…”, ucap Bai Cheung mengancam.


Fan Jiamying yang tidak mau dikalahkan begitu saja segera mengigit leher sang suami hingga berdarah dan langsung berlari keluar waktu Bai Cheung memegangi lehernya dengan wajah kesakitan.


Bukannya marah, melihat darah yang ada ditangannya Bai Cheung malah terkekeh dan segera membersihkan lehernya dengan air bersih dan mengolesi obat disana.


“ Nakal...lihat saja bagaimana nanti aku akan menghukummu…”, guman Bai Cheung sambil mengusap – usap lehernya yang sedikit perih itu.

__ADS_1


Sementara itu, Fan Jianying langsung menyambar minuman yang ada diatas meja dapur sambil mengatur nafasnya begitu tiba disana.


Koki Lizeng hanya bisa menggeleg – gelengkan kepalanya waktu melihat gadis yang semalam kembali membuat semua orang pusing, datang dihadapannya sambil berlari tanpa ada beban apapun.


“ Darimana anda semalam ?...”, tanya koki Lizeng penasaran.


“ Semalam, aku tidur duluan karena terlalu capek…”, ucap Fan Jianying sambil meneguk kembali air dalam gelas yang baru saja di isi ulang oleh koki Lizeng.


Melihat koki Lizeng menautkan kedua alisnya, Fan Jianying sudah bisa menebak jika semalam suaminya pasti kembali membuat kehebohan setelah dirinya tiba - tiba menghilang tanpa pamit.


“ Aku semalam tidur ditenda lain setelah tahu jika tenda suamiku dimasuki penyusup…”, ucap Fan Jainying beralibi.


“ Tapi, kenapa para prajurit tidak ada yang bisa menemukan anda ?...”, koki Lizeng kembali bertanya dengan tatapan penuh selidik.


“ Seluruh tubuhku aku tutup dengan selimut, jadi tidak ada yang menyadarinya jika aku tertidur disana. Suamiku sudah tahu dimana aku berada, makanya dia menghentikan pencarian semalam….”, ucap Fan Jianying berusaha meyakinkan.


Untuk jawaban terakhir ini tampak koki Lizeng sedikit puas, meski dia masih mengarahkan tatapan penuh kecurigaan kepadanya.


Heng Yuan yang merasa jika kondisi tubuhnya sudah pulih mulai menjalankan rencananya. Dengan kekuatan meringankan tubuh yang dimilikinya, diapun segera melesat pergi kepegunungan Weixi.


Tidak sampai setengah hari dia sudah berada di paviliun Huangwe. Seperti yang sudah dia duga sebelumnya jika penjagaan disana sangatlah ketat.


Heng Yuan yang tak bisa menerobos masuk karena cidera di kakinya yang masih belum sepenuhnya pulih akhirnya mengunakan jurus pamungkas.


Diapun segera menunjukkan plankat pemberian Ratu Qilin kepadanya yang hanya akan dia gunakan jika dalam kondisi terdesak.


Para prajurit yang berjaga segera mengambil plankat tersebut dan menyampaikannya kepada tabib Shilin.


Tabib Shilin terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam waktu melihat plankat pemberian Ratu Qilin tersebut.


Diapun segera menyuruh Heyna untuk bersiap – siap karena hari yang ditakutkan akhirnya tiba juga.


" Untung saja madam ketiga Bai sudah membuatkan aku topeng wajah yang mirip dengannya...", ucap Heyna sambil memasangkan topeng wajah tersebut ke wajahnya.

__ADS_1


Kemudian diapun segera berganti pakaian dan berias menggunakan barang - barang Fan Jianying.


Selanjutnya, Heyna segera meminum obat pemberian tabib Shilin, tubuhnya pun terasa sangat lemas dan akhirnya gadis itu pun tertidur.


Begitu semuanya dirasa sudah rapi dan peran Heyna terlihat sangat natural maka tabib Shilinpun mulai berjalan keluar untuk menemui lelaki utusan Ratu Qilin di depan gerbang.


“ Maaf tuan, namun untuk saat ini madam muda ketiga Bai sedang beristirahat jadi tidak bisa menemui anda…”, ucap tabib Shilin sopan.


Heng Yuan yang sudah mengetahui jika akan diusir secara halus inipun sudah menyiapkan beberapa alsan yang tak akan bisa ditolak oleh tabib shilin.


“ Saya diutus oleh Ratu Qilin untuk memberikan tonix ini kepada madam muda ketiga. Mengingat jika penyakit madam ketiga sama dengan penyakit yang diderita oleh almarhum Ratu Shua, jadi beliau ingin saya melihat bagaimana kondisi madam ketiga. Meski saya tidak bisa berbincang, setidaknya ijinkan saya untuk melihat sebentar agar saya bisa melaporkan semuanya nanti di istana…”, ucap Heng Yuan menjelaskan.


Tabib Shilin pun masih berusaha untuk menolak namun kegigihan Heng Yuan membuat laki – laki tersebut tak memiliki pilihan lain selain mengajak pemuda tersebut masuk.


“ Karena lemahnya kondisi tubuh madam muda ketiga Bai, jadi sebaiknya kita langsung pergi setelah melihatnya agar tidak menganggu waktu istirahat beliau…”, ucap tabib Shilin mengingatkan.


Heng Yuan terlihat sedikit sangat sedih waktu melihat wajah pucat gadis yang dicintainya itu terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang.


Kondisi sama yang sering Heng Yuan dulu lihat jika Fan Jianying sedang sakit. Setelah memastikan semuanya, diapun segera memberikan tonix yang dibawanya dan pamit undur diri.


Setelah kepergian Heng Yuan, tabib Shilin kembali menginstruksikan kepada semuanya agar lebih memperketat lagi penjagaan.


Tabib Shilin yang curiga tentang maksud kedatangan Heng Yuan segera mengirimkan surat kepada putra mahkota Qin Shi Huang untuk menyelidikinya.


Dia sedikit merasa lega karena Fan Jianying telah mempersiapkan semuanya sebelum dirinya pergi ke hutan kematian hingga bisa menghalau kecurigaan semua orang kepadanya.


Dalam perjalanan Heng Yuan terlihat berpikir keras tentang identitas gadis misterius yang berhasil dilihatnya di kamp militer negara Huangshan yang sangat mirip dengan Fan Jianying.


“ Jika itu bukan Fan’er…lalu, siapa gadis itu ?...”, batin Heng Yuan penuh tanda tanya.


“ Apa Bai Cheung memiliki wanita lain selain Fan’er ?...”, memikirkan hal tersebut membuat Heng Yuan mengertakkan giginya dengan kuat.


Diapun bertekad untuk mencari tahu semuanya dengan sedetail – detailnya. Jika benar Bai Cheung melakukan kecurangan, maka dia akan mengekspos semuanya dihadapan keluarga Fan hingga Bai Cheung dan seluruh keluarga Bai tidak akan memiliki muka lagi di ibukota.

__ADS_1


__ADS_2