CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
TANTANGAN


__ADS_3

Ketengangan masih terasa di samping kolan ikan besar yang terletak ditengah – tengah kediaman keluarga Ming.


“ Ahhhh….”, Fan Jianying berteriak spontan waktu ada yang mendorongnya dengan keras dari belakang.


Hira yang melihat nonanya dicelakai langsung saja menangkap pelayan yang sengaja membuat onar tersebut.


Sedangkan Dayu terlihat memegangi tubuh Fan Jianying agar tidak sampai jatuh ke atas tanah. Pelayan yang ditangkap Hira hanya bisa menangis karena merasa dirinya tak bisa mengelak lagi.


Pelayan yang ditabrak tubuh Fan Jianying terlihat sedikit syok waktu melihat beberapa roti persik panjang umur yang dibawanya tersebar ditanah.


Saat tersadar, dia langsung berlutut memegangi satu persatu roti persik panjang umur tersebut sambil menangis, meratapi nasibnya.


Melihat putri Wei Xieun bermain mata dengan pelayan yang ditangkap oleh Hira, Fan Jianying hanya bisa memutar bola matanya malas.


“ Hufft….Gadis ini terus saja berbuat ulah….”, batin Fan Jianying capek.


Pada awalnya gerombolan wanita bangsawan hendak duduk setelah mendapatkan tatapan tajam dari putri Wei Xieun, tapi mendengar teriakan Fan Jianying merekapun menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat keributan baru apalagi yang terjadi disana.


Tiba – tiba seorang gadis yang tadi dikenalkan oleh madam Chou sebagai keponakan luarnya datang dan menatap tajam Fan Jianying dengan tubuh bergetar menahan marah.


“ Kamu !!!...bagaimana kamu bisa menghancurkan hadiah ulang tahun yang telah disiapkan oleh ibundaku untuk kakekku !!!....”, teriak Vivi marah.


“ Hadiah ulang tahun?...”


“ Roti persik panjang umur jelek ini !!!...”


“ Nona…berhentilah menarikku dalam masalah. Bukankah jebakan ini sangat terlihat jelas !!!...”


Batin Fan Jianying kembali memutar bola matanya malas menanggapi trik murahan yang dilakukan oleh putri Wei Xieun dan kroni - kroninya itu  kepadanya.


Melihat semua orang fokus melihat keributan yang terjadi, sudut bibir putri Wei Xieun sedikit terangkat dan lewat gerakan matanya Vivi, keponakan luar madam Chou tersebut kembali berteriak.


“ Ohhh…rotiku…lihatlah bentukmu sekarang. Padahal ini dibuat khusus oleh Tuan Aming dari  D’delicius Restorant !!!...”, teriak Vivi histeris.


Gadis muda yang Fan Jianying yakini tidak jauh berbeda dengan usianya itu menggunakan sepiring roti persik panjang umur yang sangat jelek itu untuk menjatuhkannya.


“ Apa dia gila !!!...bagaimana bisa roti jelek itu adalah buatan dari restoran terkenal !!!...aku rasa Dayu bisa membuat yang lebih baik dari itu !!!....”, batin Fan Jianying mulai geram.


“ Helllo….kalian ini bodoh atau apa !!!...”, teriak Fan Jianying dalam hati.


Namun dia tak mungkin melakukan hal itu. Semua orang sebenarnya sudah paham jika ini adalah perbuatan putri Wei Xieun, karena tidak mungkin jika restoran sekelas D’Delicious membuat roti sejelek itu.


Jika dijaman modern, mungkin restoran tersebut akan menuntut keponakan madam Chou tersebut karena dianggap telah merusak nama baik restorannya.


Meski begitu, semua orang hanya bisa diam membisu karena tidak mau berurusan dengan putri Wei Xieun.


“ Bibi…”, ucap Yihua yang tidak terima putri Wei Xieun terus saja menindas Fan Jianying.


“ Diamlah dulu…kita lihat apa yang akan dilakukan Fan Jianying sekarang…”, ucap madam Ronger kembali fokus pada Fan Jianying dan menunggu keputusan apa yang akan dibuatnya.

__ADS_1


Fan Jianying bisa saja pergi dan mengacuhkan semuanya. Tapi sekarang dirinya membawa nama besar keluarga Bai, jadi dia tidak bisa acuh seperti itu.


Dia sadar, posisinya sekarang sangatlah tidak baik. Semua orang terlihat sedang membingkainya, menunggu dirinya membuat kesalahan dan menggunakan hal itu untuk menghancurkannya.


Tapi bagaimanapun, melihat pelayan kecil yang mendorongnya menangis terseduh – seduh dan badan Fan Jianying lah yang menabrak gadis pelayan yang membawa roti tersebut hingga jatuh berserakan dilantai.


Meski tidak salah, darimanapun Fan Jianying lah yang harus bertanggung jawab disini. Apalagi dia sudah mendapatkan label sebagai istri yang ditinggalkan dan sekarang akan bertambah satu label jika dia sengaja menghindar.


Heng Yuan yang masih setia berdiri tak jauh dari kerumunan terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat dan pandangan terus tertuju pada pertengkaran Fan Jianying dengan putri Wei Xieun.


“ Yuan…sepertinya akan ada sesuatu yang menarik, karena ada putri Wei Xieun, sang pembuat onar disana…”, ucap Yang Yuwen yang langsung membuka kipas lipatnya untuk menghalangi sinar matahari yang hendak menerpa wajahnya.


Fan Jianying masih terlihat berpikir untuk mengatasi masalah ini hingga melihat wanita paruh baya yang dia yakini adalah ibu dari keponakan luar madam Chou tersebut berjalan mendekat dan menghampirinya.


“ Tidak perduli kamu didorong dengan sengaja atau tidak, tapi semua orang disini melihat jika anda lah yang menabrak pelayanku. Jadi, madam ketiga anda harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini…”, ucapnya dengan senyum licik.


Meski wanita paruh baya hanyalah orang luar dari kediaman Ming, tapi mengingat jika adiknya adalah salah satu selir yang disukai oleh kaisar saat ini jadi dia berani berulah.


Apalagi ada putri We Xiaeun yang ada dibelakangnya, sehingga membuat ibu dan anak ini tidak merasa takut jika keluarga Fan berani menyalahkan mereka.


Pilihan Fan Jainying hanya satu yaitu mengganti roti buah persik panjang umur tersebut atau menghindar dan menjadi bahan cibiran karena berani menganggu pesta panjang umur tuan besar Ming.


Berita tersebut tentunya akan cukup cepat menyebar dari mulut ke mulut dan secara tidak langsung akan mempengaruhi reputasi keluarga Bai serta keluarga Fan secara bersamaan.


Yang Yuwen yang melihat jika Fan Jianying masih tetap tak berekspresi meski sudah dipojokkan seperti itu dan tidak sedikitpun ada rasa takut dikedua matanya mulai mengangkat satu alisnya dan berguman “ Ternyata ini lebih menarik dari yang kuduga….”.


“ Ibunda…bagaimanapun pelayan malang ini harus mengganti roti buah persik panjang umur yang sudah ibunda beli dengan harga seribu tael…sedangkan orang yang seharusnya bertanggung jawab malah seakan mengabaikannya…”, ucap Vivi dengan wajah dibuat sesedih mungkin.


“ Apa !!!...seribu tael !!!...bercanda mereka, kue sejelek ini harganya setinggi itu !!!...tidak mungkin !!!!...mereka pasti ingin merampokku sekarang !!!...”, batin Fan Jianying mulai geram.


Melihat Fan Jianying menunjukkan sedikit reaksi, putri Wei Xieun merasa sedikit puas dan berharap rencananya kali ini akan berhasil.


“ Salah sendiri kamu menikahi Bai Cheung dan sekarang membuatnya pergi ke medan berbahaya. Maka dari itu  mulai sekarang aku akan membuatmu tidak punya muka lagi sehingga kamu tak akan berani untuk keluar rumah selama - lamanya… ”, batin putri Wei Xieun tersenyum puas.


“ Nona muda Ming, roti ini seharga seribu tael ?...apa kau bercanda ?...”, ucap Fan Jianying santai.


Waktu Fan Jianying berkata seperti itu, kerumunan orang – orang mulai melihat dan bisik – bisikpun mulai terdengar.


Banyak orang yang setuju jika tidak mungkin roti persik panjang umur yang jumlahnya tak banyak itu seharga seribu tael, paling mahal juga tiga ratu tael.


Apalagi diantara mereka banyak yang sering membeli roti di D’Delicious restoran dan mereka tentu tahu harga roti disana sebenarnya.


“ Ini jelas perampokan di siang bolong…”, guman salah satu orang diantara kerumunan dan diangguki oleh yang lainnya.


Vivi yang mendengar ucapan tersebut wajahnya langsung merah padam seketika. Meski dia masih kecil, setidaknya dia masih lebih tua satu tahun jika dibandingkan dengan Fan Jianying.


Meski hanya sebagai cucu luar tuan besar Ming, tapi karena kepandaiannya dalam menarik simpati orang, dia menjadi salah satu gadis yang disukai oleh keluarga Ming.


Apalagi kedekatannya dengan putri Wei Xieun menjadikannya nilai plus dan  membuatnya semakin besar kepala serta menganggap dirinya lebih tinggi dari gadis seusianya.

__ADS_1


Melihat bahwa Fan Jianying secara jelas menantang kewibawaannya, Vivi yang tak terima pun kembali menyerang lawannya secara membabi buta.


“ Putri kedua keluaga Fan, Fan Jianying !!!...beraninya kamu meragukan kata – kataku !!!...jangan berpikir dengan kamu menuduhku seperti itu, kamu akan bebas dari tanggung jawab !!!...bilang saja jika kamu tak mampu membayarnya !!!...”, teriak Vivi dengan dada naik turun karena emosi.


Madam Ming kelima tak menyangka jika putrinya akan kehilangan ketenangan setelah mendapatkan satu kalimat dari Fan Jianying.


Wanita paruh baya itu mengkerutkan kening dan melirik Vivi, berharap putrinya itu tidak bertindak gegabah dan kembali tenang.


Tapi sayangnya, Vivi saat ini dibutakan oleh kemarahannya dan tidak memperhatikan tatapan ibundanya yang masih terus berusaha untuk memberinya kode.


Madam Ming kelima tiba – tiba saja menyesal menyetujui permintaan putrinya untuk menggunakan sepiring roti persik panjang umur demi mempersulit Fan Jianying.


Dengan penuh amarah, Vivi benar – benar memanggil nama lengkap Fan Jianying. Dalam acara public seperti itu, memanggil nama lengkap seseorang, terutama yang sudah menikah dianggap sikap yang sangat kasar.


Kemarahan Vivi ini tampaknya semakin memperburuk keadaannya sendiri. Saat ini usianya sudah memasuki usia wanita muda untuk menikah.


Tapi, setelah banyak keluarga bangswan yang melihatnya seperti itu, tentunya akan membawa kesulitan tersendiri baginya nanti.


Meski dia sangat disukai tuan besar Ming, namun statusnya sebagai cucu luar tuan besar Ming tetap menjadi pertimbangan utama beberapa keluarga untuk menjadikannya menantu perempuan dalam keluarga mereka.


Meski putri Wei Xieun puas dengan tindakan yang dilakukan oleh Vivi, namun melihat temannya itu sudah keluar batas dan malah menjatuhkan dirinya sendiri.


Tak dapat dipungkiri hatinya pun merasa sedih, apalagi waktu melihat banyak orang mulai memandang rendah madam Ming kelima dan putrinya.


Vivi yang mulai tersadar saat melihat rauit wajah sedih putri Wei Xieun dan ibundanya, tak mungkin juga menarik kata – kata yang telah diucapkannya.


Dia kemudian menyuruh Fan Jianying untuk mengganti roti persik panjang umur dalam waktu satu jam dan langsung menyajikannya kehadapan tuan besar Ming.


“ Ingat !!!..waktumu hanya satu jam...jika kamu tak berhasil, kamu harus menghadap dan meminta maaf sendiri dihadapan kakek !!!...”, ucap Vivi lantang.


Setelah mendengar ultimatum yang dikeluarkan oleh Vivi dan melihat Fan Jianying mengkerutkan sedikit keningnya, putri Wei Xieun akhirnya membiarkan ekpresi kesedihan dan ketidak puasan diwajahnya menghilang.


“ Mari kita lihat…apa kamu bisa keluar dari masalah ini sekarang ?...”, batin putri Wei Xieun puas.


Semua orang tentunya sangat tahu jika roti yang dijual di D’Delicious restoran sangatlah khas. Tidak ada seorangpun koki yang bisa menyamainya.


Bahkan sekelas koki Lin Ziqi, sebelum menutup usia juga tak mampu membuat roti seenak buatan  D’Delicious restoran.


Jadi mereka mulai menatap iba karena merasa Fan Jianying sekarang tidak akan mungkin bisa melewati semuanya ini dengan mudah.


Sementara itu, diistana terlihat seorang lelaki tampan sedang fokus pada semua berkas yang ada dihadapannya sambil mendengar berita dari kediaman Ming yang baru saja diterimanya.


Lelaki tampan itu melambaikan satu tangannya dan tak lama sosok manusia berpakaian hitam muncul dihadapannya.


“ Yang Mulia, hamba siap menjalanka perintah anda…”, ucapnya sopan.


“ Pergilah ke kediaman Ming. Jika putri Wei Xieun mempersulit dan menghukum Fan Jianying, selamatkan dia…”, perintahnya tajam.


“ Dipahami…”, sosok tersebut langsung menghilang seperti udara yang tak terlihat.

__ADS_1


__ADS_2