
Sudah dua hari ini Dayu di breafing pribadi oleh Fan Jianying. Hati kecilnya merasa jika waktu yang dimilikinya tinggal sedikit lagi jadi dirinya berusah sangat keras agar pelayan pribadinya itu bisa secepatnya menguasai resep makanan miliknya.
Untuk itu dia berusaha untuk menyerahkan beberapa tugas kepada Dayu dan pelayan senior Gaeng agar dia bisa meninggalkan kediaman dengan tenang.
Selain resep andalan, Fan Jianying juga menyuruh Dayu untuk melakukan kreasi sendiri dengan mengembangkan resep yang sudah ada.
Hal ini diharapkan jika nantinya Fan Jianying tidak bisa kembali ke kediaman Bai, Impereal Restoran masih bisa terus berjalan.
“ Nyonya, apa anda tidak ingin memberikan sesuatu buat tuan muda ketiga. Saya dengar jika matriark Bai akan mengirim paket ke wilayah perbatasan timur…”, ucap pelayan senior Gaeng dengan wajah serius.
Meski Bai Cheung sama sekali tidak menganggapnya sebagai istri, tapi secara hukum dia adalah istri sah tuan muda ketiga Bai.
Jadi untuk menunjukkan baktinya diapun terpaksa harus menyiapkan sesuatu untuk sang suami yang sedang menjalankan tugas disana.
Mengingat jika membasmi hewan mutasi tidaklah mudah, maka dalam kesempatan kali ini Fan Jianying ingin menguji ramuan racun yang telah dibuatnya.
Dimana ramuan tersebut dia buat seperti bom molotof namun dalam ukuran lebih kecil sehingga dalam sekali lempar beberapa hewan mutasi dapat mati sekaligus.
Dan dalam radius seratus meter dari bom tersebut meledak, hewan mutasi yang mencium aroma obat tersebut diudara akan langsung lemas seketika.
Namun ramuan tersebut masih belum diuji oleh Fan Jianying karena masih baru saja selesai dibuat.
“ Mungkin ini saatnya aku menguji kemampuanku dalam membuat racun…”, batin Fan Jainying bangga.
Selain memberikan beberapa botol ramuan racun yang sudah dibuatnya, Fan Jianying juga memberikan Bai Cheung biskuit yang akan membuat seseorang kenyang seharian hanya dengan mengkonsumsi satu keping biskuit seukuran telapak tangan orang dewasa.
Pada awalnya dia membuat biskuit tersebut sebagai persiapan seandainya dia jadi pergi ke hutan kematian sebagai bekal.
“ Kurasa ini semua cukup untuk persediaan selama beberapa bulan untuk seluruh prajurit yang ada. Setidaknya mereka bisa menghemat bahan makanan yang ada….”, guman Fan Jianying sambil mengemasi semua biscuit aneka rasa yang telah dipersiapkannya dalam beberapa kantong palstik tersebut.
Selain biskuit dia juga memberikan suaminya dendeng daging kering dengan aneka macam rasa dan aroma.
Tidak lupa dia mengirimkan satu toples besar kimci dan acar segar serta buah – buahan kering sebagai camilan agar nutrisi suaminya terjaga.
Selain makanan dan kudapan, Fan Jianying juga menyiapkan beberapa obat – obatan yang telah diberikan label agar tidak salah penggunaan.
Tidak lupa beberapa helai pakaian hangat, mantel binatang yang tebal dan sepatu kulit binatang yang kuat hingga mampu melawan cuaca dingin yang ekstrim sekalipun.
Tak lupa dia juga memberikan suaminya sepucuk surat yang berisi cara penggunaan racun dan obat – obatan yang diberikannya.
Juga keterangan mengenai biskuit yang dia buat seperti biskuit para tentara di medan perang dimana dalam satu keping sudah mencukupi semua nutrisi yang diperlukan oleh tubuh serta mengenyangkan.
“ Akhirnya beres juga…”, ucap Fan Jianying lega.
Diapun segera menyuruh Dayu dan pelayan senior Gaeng untuk mengangkut barang yang akan diberikan kepada suaminya, tak lupa juga menempelkan surat yang telah ditulisnya dibagian atas paket.
Matriark Bai tersenyum lebar waktu melihat besarnya paket yang akan diberikan oleh Fan Jianying untuk suaminya.
Melihat paketnya sangat besar, Fan Jianying hanya bisa mengusap – usap tengkuknya dengan senyum canggung.
“ Maaf nenek, aku takut suamiku tak cukup makan disana jadi aku membawakannya camilan dan makanan yang lumayan banyak…”, cicit Fan Jianying malu – malu.
“ Tidak apa, aku tahu jika cucu perempuanku ini sangat mengkhawatirkan suaminya…”, ucap matriark Bai tersenyum bahagia.
“ Tidak apa Fan’er…ibunda tahu jika kamu pasti sangat khawatir Cheung akan kurus selama disana…”, ucap Lien Hua dengan nada menggoda.
Ketiganya pun mulai tertawa hingga suasana menjadi hangat. Namun kehangatan tersebut membuat seseorang yang tak sengaja lewat di depan kediaman utama berdiri mematung.
“ Berapa banyak uang yang dia habiskan untuk mengirim paket sebanyak itu ?...”, batin madam Chou tak senang.
Namun mengingat kembali jika adik iparnya itu sama sekali tak meminta uang kepadanya, hatinya pun sedikit lega.
__ADS_1
Setidaknya gadis itu tidak membebaninya dengan keperluan yang tidak penting menurutnya. Dengan wajah angkuh, madam Choupun segera berbalik arah menuju pelatarannya.
Setelah semua paket dinaikan keatas kereta, kusir segera membawanya dengan cepat.
Kurir yang dibayar oleh matriark Bai adalah yang terbaik dan termahal sehingga hanya dalam waktu tiga hari paket tersebut akan sampai diwilayah perbatasan timur.
Jika dalam dunia modern biasa disebut paket ekpres (one day) dimana dalam hitungan jam bisa sampai.
Jika memakai paket yang biasa, kiriman paket akan sampai paling cepat dua sampai tiga minggu karena kusir melewati jalur biasa yang aman sehingga memakan waktu yang lama.
Selama melatih Dayu dan pelayan senior Gaeng dalam beberapa hari terakhir, Fan Jianying terlihat beberapa kali bertemu dengan tabib Shilin untuk berkonsultasi mengenai hutan kematian dan panggilan jiwanya.
“ Hubungi aku lagi jika waktunya sudah dekat…”, ucap tabib Shilin mengingatkan.
Fan Jianying terlihat sangat lega karena tabib Shilin sudah mempunyai cara yang ampuh agar Fan Jianying bisa meninggalkan kediaman Bai jika waktunya sudah tiba.
Tentu saja rencana yang diberikan oleh tabib Shilin kepada Fan Jianying tersebut sudah dia diskusikan dengan putra mahkota Qin Shi Huang dan mendapatkan persetujuannya.
Sehingga jika ada hal buruk yang terjadi dalam pelaksaannya.Dia masih bisa menggunakan kandidat terkuat untuk menduduki kursi kekaisaran selanjutnya itu untuk menyelamatkan Fan Jianying.
Sementara itu diwilayah perbatasan timur, siang hari yang terik, meski angin berhembus sangat kencang namun tak bisa menghilangkan rasa panas yang menyengat tubuh.
Didalam tenda, terlihat jenderal besar Tian bersama Bai Cheung dan beberapa orang kepercayaannya sedang membahas mengenai rencana penyerangan ke markas pemberontak yang sudah mereka ketahui posisinya.
Juga mengenai bahan makanan yang semakin menipis, sedangkan kiriman dari ibukota terpaksa harus dia bagi di beberapa daerah yang dilewati kereta pengangkut karena wilayah tersebut mengalami kekeringan sehingga menyebabkan tanah diwilayah tersebut mnejadi gersanng dan tidak menghasilkan.
Padahal pendapatan pokok masyarakatanya adalah bercocok tanam. Meski sudah melaporkan ke pusat, namun karena masih banyaknya permasalahn yang lebih penting yang harus ditangani, untuk sementara waktu wilayah tersebut terabaikan.
Jenderal besar Tian yang mengetahui hal tersebut tentunya tak bisa diam dan berpangku tangan apalagi sebentar lagi musim dingin tiba.
Tentunya masyarakat membutuhkan bahan pangan sebagai persiapan menyambut datangnya musim dingin sebentar lagi.
Semua orang menyadari jika masalah pangan ini akan menjadi sangat krusial. Bagaimanapun para prajurit membutuhkan asupan energy untuk berlatih dan berperang.
Mengingat banyaknya hewan mutasi yang beracun, mereka tidak bisa sembarangan berburu binatang liar untuk dijadikan bahan makanan jika tidak ingin mati keracunan.
Wajah semua orang terlihat sangat tegang dan gelisah, mencoba mencari jalan keluar atas permasalahan yang mereka hadapi saat ini.
Tiba – tiba suara Liam membuyarkan pertemuan siang itu dan masing – masing orang pun mulai kembali ke tempatnya masing – masing.
“ Ada apa ?...”, tanya Bai Cheung datar.
“ Ada paket dari kediaman Bai tuan…”, ucap Liam senang.
Bagaimana tidak senang, paket yang hampir memenuhi satu kereta tersebut semuanya berasal dari kediaman Bai, meski ada beberapa kecil paket untuk para prajurit lainnya.
Sangat tidak mungkin dari banyaknya paket tersebut tidak ada makanan sama sekali.
Setidaknya malam ini Liam tidak lagi makan bubur zaitun yang hambar tapi bisa makan enak hasil kiriman dari kediaman tuan mudanya itu.
Perlahan Bai Cheung pun mulai menurunkan dan membongkar paket besar tersebut .
Dapat dia lihat dari sekotak besar paket tersebut, ada dua paket kecil dari ibunda dan neneknya serta satu paket besar dari istrinya.
“ Apa aku tidak salah lihat, dia mengirimiku paket sebanyak ini ?...”, batin Bai Cheung tersenyum sinis.
Setelah membuka bungkus paket dari nenek dan ibundanya, Bai Cheung segera mengambil dendeng daging kering dan memberikannya kepada Liam untuk diberikan kepada koki yang ada didapur sebagai tambahan lauk makan malam hari ini.
Liampun menerima satu buntel besar dendeng daging kering dengan gembira dan langsung melesat kearah dapur.
“ Setidaknya, ini bisa menjadi semangat para prajurit untuk bertempur besok…”, guman Bai Cheung lirih.
__ADS_1
Setelah membuka paket ibunda dan neneknya, Bai Cheung segera menyisihkan barang – barang tersebut ke tepi ranjangnya.
Saat ini dia sangat penasaran dengan paket besar yang dikirim oleh istrinya itu. Entah kenapa jantung Bai Cheung berdetak sangat kencang waktu memegang paket tersebut.
Apalagi saat dia melihat ada sepucuk surat yang ditempel di atas paket. Dengan tangan gemetar dia mulai mengambil surat yang tertempel disana.
Setelah menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya secara perlahan, Bai Cheung pun mulai membaca tulisan yang ada di depan amplop.
“ Teruntuk suamiku tersayang…dari istrimu Fan Jainying…”, hati Bai Cheung seketika bergetar hebat waktu melihat tulisan yang sangat rapi tersebut.
Bai Cheung yang awalnya sangat berdebar dengan wajah cerah waktu membuka amplop merah dan mengeluarkan isi yang ada didalamnya.
Namun selang beberapa detik, ekspresi wajahnya berubah drastis waktu membaca isi yang ada didalam suart yang dikirim oleh Fan Jianying tersebut..
“ Apa ini ?...dasar wanita jahat !!!...”, Bai Cheung mendesah kecewa.
Semua bayangan yang ada dalam pikirannya waktu membuka amplop berwarna merah maroon tersebut hancur berkeping – keping waktu mengetahui jika istrinya hanya menulis tata cara penggunaan racun dan obat – obatan yang dia berikan serta manfaat semua camilan dan makanan yang dia kirimkan disana.
Bai Cheung pun mulai membuka isi paket dan membongkarnya. Diapun mulai mencari ramuan yang berisi racun dan obat – obatan yang telah dijabarkan dalam surat dan menyisihkannya serta menyimpannya ditempat yang aman.
Selanjutnya diapun mulai melihat bahan makanan dan kue yang dikirim istrinya tersebut kepadanya.
“ Apa dia pikir aku serakus itu hingga mengirimiku makanan sebanyak ini…”, guman Bai Cheung sinis.
Meski bibirnya berkata pedas, namun tak bisa dipungkiri jika hati Bai Cheung sangat bahagia saat ini.
Bukan hanya menyiapkan banyak bahan makanan, dia juga melihat jika istri kecilnya itu juga memberinya beberapa potong pakaian hangat yang baru selesai dijahit dan mantel kulit binatang yang sangat tebal serta sepatu yang sangat aneh menurutnya.
Namun saat dia coba, wajah Bai Cheung langsung bersinar cerah. Sepatu aneh tersebut sangat hangat dan terlihat kuat.
“ Dimana dia mendapatkan barang sebagus ini…aku yakin sepatu ini harganya sangat mahal…”, batin Bai Cheung sedikit gelisah mengingat jika dia tidak meninggalkan harta sepeserpun kepada sang istri waktu pergi meninggalkannya begitu saja.
“ Apakah ini keuntungan dari Impereal Restoran ?…”, Bai Cheung kembali berguman dengan rasa penasaran yang tinggi.
Meski dia sudah mendengar laporan dari pasukan rahasianya jika Impereal Restoran yang diberikan oleh matriark Bai sangat popular dan mengeruk keuntungan yang banyak.
Namun ini baru sebulan restoran tersebut berjalan jadi belum bisa menjadi tolak ukur apakah bisnis tersebut bisa berjalan dengan baik atau tidak.
Setidaknya perlu waktu satu tahun baru bisa kita lihat bisnis yang dijalankan tersebut sangat berpotensi untuk diteruskan ataukah harus dihentikan.
Yang tidak Bai Cheung ketahui adalah jika sepatu yang dia pakai saat ini tidak dijual dimanapun karena dia mendapatkan itu dari almari yang ada didalam cincin ruangnya.
Fan Jianying sangat yakin jika sepatu kulit binatang tersebut dibuat dijamannya, karena melihat desain dan bahan yang digunakan sangatlah rapi dan berkualitas.
Liam yang baru saja kembali dari dapur terlihat sangat bahagia waktu melihat banyak sekali bahan makanan didalam tenda.
“ Apakah ini dari madam ketiga ?...”, tanya Liam antusias.
Tak terasa air liur Liam sudah menetes waktu Bai Cheung menganggukan kepalanya untuk merespon pertanyaannya.
Belum sempat Liam berjalan maju, Bai Cheung sudah menghadang langkah pengawal pribadinya itu dengan kedua tangannya yang dia bentangkan lebar untuk menghalangi Liam bergerak maju.
“ Ini untukmu…yang lainnya, biar aku distribusikan besok pagi…”, ucap Bai Cheung possesif.
Diapun segera menyimpan semua bahan makanan yang dikirimkan sang istri untuknya, terutama seplastik besar biskuit yang telah dibungkus satu persatu dengan plastik kecil didalamnya.
Bai Cheung masih ingin membuktikan apakah benar biskuit seukuran telapak tangan orang dewasa tersebut mampu menahan rasa lapar hingga seharian penuh.
Dia ingin mencobanya terlebih dahulu sebelum nantinya akan dia distribusikan kepada para prajurit.
“ Jika yang dikatakannya dalam surat benar adanya, ini akan sangat membantu…”, guman Bai Cheung senang.
__ADS_1