
Kemenangan yang telah diraih oleh pasukan Huangshan membuat bahagia semua orang. Warga ibukota yang sempat diungsikanpun sudah kembali kerumahnya masing – masing.
Para pejabat yang melakukan pemberontakan pun sudah ditahan dan tinggal menunggu hari untuk mengeksekusinya.
Begitu juga dengan Ratu Qinly dan pengeran Song Yu yang jabatannya otomatis sudah dicopot oleh kaisar melalui dekrit yang sudah dia buat sebelum pertarungan berlangsung.
Kini semua orang yang terlibat dalam upaya penggulingan kekuasaan pemerintah hanya bisa pasrah menunggu waktu kapan akan dijalankan eksekusi untuk mereka.
Keluarga yang ditinggalpun hanya bisa menangis sedih tanpa bisa berbuat apapun. Selain kepala keluarga mereka kehilangan posisi didalam istana, gelar kebangsawanan yang mereka sandang pun telah di copot.
Bukan hanya itu, keluarga para pejabat tersebut juga diusir dari ibukota dan cap pengkhianat pun melekat di diri keluarga besar tersebut.
Sungguh ironis, akibat kesalahan yang dibuat oleh satu orang satu keluarga besar menanggung semua hinaan dan cemoan dari semua orang.
Dengan cap sebagai pengkhinat membuat mereka tidak akan mampu untuk menampakkan diri di kota besar dan hanya mampu tinggal dan bersembunyi di daerah terpencil yang jarang penduduk.
Sorak sorai perayaan atas kemenangan pasukan Huangshan terjadi dimana – mana. Namun sayangnya kegembiraan tersebut tak membuat penghuni istana kembali tersenyum.
Pasca peperangan, kaisar Huang dan putri bungsunya Fan Jianying harus terbaring tak berdaya di tempat tidur akibat serangan yang diberikan oleh raja Foresty, Cheng Lu.
Meski janin yang ada dalam kandungan Fan Jianying berhasil diselamatkan, tapi wanita muda tersebut masih harus berbaring diatas ranjang untuk memulihkan kondisi tubuhnya agar kondisinya tidak kembali kritis.
Jika kondisi Fan Jianying sudah membaik, namun lain halnya dengan kaisar Huang yang saat ini masih berada dalam kondisi kritis.
Karena sebagian besar kekuatan kaisar Huang telah menghilang dari dalam tubuhnya, penguasa negera Huangshan tersebut tak mampu menahan serangan dari jurus rahasia milik raja Foresty terebut hingga membuatnya terluka sangat dalam.
Serangan yang dilancarkan oleh Cheng Lu kepada kaisar Huang selain merusak sebagian organ tubuh juga terdapat racun dingin yang sengaja dimasukkan oleh raja Foretsy itu kedalam tubuh penguasa negara Huangsahan tersebut.
Fan Jianying yang hanya memiliki satu pil penawar racun dingin nyatanya tak mampu membendung racun yang dengan cepat menyebar keseluruh tubuh ayahandanya itu.
Untuk membuat pil penawar racun yang baru, kondisi tubuh Fan Jianying masih belum memungkinkan.
Dan tidak ada orang lain didalam istana yang bisa membuatnya.Bahkan tabib hebat seperti tabib Shilin tak mampu untuk membuatnya karena prosesnya yang sulit meski Fan Jianying telah memiliki bahan – bahannya secara lengkap.
“ Suami, bertahanlah…aku yakin kamu mampu….”, batin permaisuri Wei sedih.
Permaisuri Wei hanya bisa menatap suaminya yang terbaring lemah diatas ranjang sambil berderai air mata.
__ADS_1
Permaisuri Wei yang awalnya bolak – balik antara Huangwei Palace dan Meigui Palace akhirnya bisa sedikit tenang sekarang setelah kondisi sang putri sudah mulai stabil.
Sekarang permaisuri Wei hanya bisa menunggu keajaiban agar kondisi sang suami stabil dan bisa sadarkan diri kembali.
Selama kaisar Huang dalam kondisi kritis, agar kursi pimpinan tak kosong untuk sementara putra mahkota Qin Shi Huang lah yang mendudukinya sampai ayahandanya sadar kembali.
Meski masih muda, namun sikap putra mahkota Qin Shi Huang tak kalah tegas dengan ayahandanya.
Dia tak akan segan – segan untuk menghukum siapapun yang dianggap merugikan dan melakukan penyelewengan keuangan negara apapun alasannya.
Kebijakan yang dinilai sedikit frontal tersebut tentu saja membuat kondisi pemerintahan sedikit goyang.
Untung saja ada penngeran Wei Jie dan Bai Cheung serta Fan Jianying ada dibelakang untuk mendukungnya hingga kondisi pemerintahan mulai stabil kembali.
Putra mahkota Qin Shi Huang pun semakin ketat dalam penarikan dan pengawasan departemen pajak serta keuangan.
Karena dua hal tersebut adalah bagian yang paling krusial dan banyak sekali penyimpangan terjadi sehingga perlu dibenahi secara mendalam.
Selain dua departemen tersebut, putra mahkota Qin Shi Huang juga mulai fokus pada kementrian pangan.
Negara Hungshan yang subur dan makmur nyatanya masih ada wilayah yang dilanda kelaparan jika musim dingin mulai berlangsung.
Selain itu, system pengawetan bahan makanan dengan menggunakan metode pengasinan, pengasapan dan penggeringan juga mulai dilakukan.
Sedangkan untuk buah – buahan, selain menggunakan metode pengeringan juga menjadikan buah – buahan segar tersebut sebagai manisan kering dan basah agar bisa disimpan dalam wadah untuk jangka waktu yang lama.
Hal tersebut dipergunakan agar masyarakat bisa mendapatkan bahan makanan sepanjang tahun, tanpa bergantung pada musim yang ada.
Selain sektor pertanian, putra mahkota Qin Shi Huang juga mulai menyentuh sektor perikanan yang sempat terabaikan padahal sumber makanan melimpah diwaktu – waktu tertentu.
Sama seperti sumber daya pertanian, ikan laut hasil tangkapan bisa dikeringkan atau diasap dan disimpan dalam jangka waktu yang lama.
Ada beberapa sumber daya laut negara Huangshan yang tidak dimiliki oleh negara lain sehingga hal itu bisa dijadikan pundi – pundi pemasukan kas negara.
Selain menambah kas negara, masyarakat didaerah pesisir pun kehidupannya akan meningkat karena sumber daya yang ada disana dipergunakan dengan baik.
Jadi kota Heven, Funyuge yang sempat terabaikan sekarang sudah mulai di perhatikan oleh banyak orang.
__ADS_1
Begitu juga kota Aralia yang pada awalnya hanya dipergunakan sebagai pelabuhan transportasi saja juga mulai berkembang dengan sektor perikanan mereka.
Bahkan hasil laut yang mereka dapatkan lebih banyak jika dibandingkan dua kota pesisir yang ada disampingnya karena lengkapnya fasilitas pendukung yang dimiliki masyarakat yang tinggal disana.
Meski begitu, ketiga kota pesisir ini tidak saling bersaing, justru mereka saling melengkapi demi membangun negara Huangshan yang makmur dan sejahterah.
Setiap langkah dan hasil yang didapatkan atas semua kebijakan yang dikeluarkan oleh putra mahkota Qin Shi Huang membuat hati para pejabat merasa tenang.
Mereka pun merasa jika keputusan mereka untuk mendukung putra tertua kaisar Huang tersebut tidaklah salah.
Dilain tempat, di Meigui Palace, Fan Jianying yang kondisinya sudah sehat kembali terlihat sibuk merawat sang ayah.
Selain membuat penawar racun dingin, dia juga mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengobati luka dalam yang diderita kaisar Huang.
Bai Cheung yang melihat istrinya selalu kelelahan setelah kembali dari Huangwe Palace merasa sangat khawatir.
“ Istriku, jangan terlalu dipaksakan. Istirahatlah….”, ucap Bai Cheung lembut.
“ Tidak…aku harus secepatnya membuat ayahanda sadar. Sudah tidak ada waktu lagi….”, ucap Fan Jianying sambil menggeleng – gelengkan kepala.
“ Tidak ada waktu lagi….”, kata – kata tersebut terus saja Fan Jianying ucapakan kepadanya jika sudah menyinggung mengenai kesehatan kaisar Huang.
Bai Cheung tidak merasa jika ini tidak ada hubungannya dengan kondisi kesehatan ayahandanya yang sampai sekarang juga masih dalam kondisi kritis.
Tapi feelingnya mengatakan jika hal ini berkaitan dengan diri sang istri. Tapi apa itu, Bai Cheung pun tak tahu dan tak bisa menebaknya.
Namun setelah Fan Jianying mengembalikan kristal kehidupan ke kerajaan langit dia langsung fokus terhadap keluarganya.
Mulai dari berusaha keras agar kondisi ayahandanya segera membaik, membantu sang kakak membenahi system pemerintahan yang berantakan hingga ikut menengahi pertikaian yang terjadi dikeluarga Fan.
Terkadang, Bai Cheung mendapati istrinya tersebut sedang melamun dan menangis sendirian ditempat sepi.
Entah hanya perasaan Bai Cheung yang terlau sensitive atau ini suatu pertanda jika sang istri akan meninggalkannya.
“ Tidak….tidak…aku mungkin hanya kelelahan sehingga berpikir terlalu banyak….”, batin Bai Cheung sambil menggeleng - gelengkan kepalanya berulang kali.
" Kami akan segera punya anak. Dia tak akan mungkin tega meninggalkan anaknya tanpa kasih sayang seorang ibu....", batin Bai Cheung sedih.
__ADS_1
Bai Cheung sangat berharap apa yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah kegelisahannya semata. Diapun mulai menatap wajah cantik sang istri yang tertidur pulas disampingnya sambil mengecup keningnya cukup lama.
Berusaha menghilangkan smeua kerisauan yang semakin hari semakin dalam dia rasakan.