
Setelah perjamuan tersebut, semua orang diibukota terlihat mulai membicarakan kehebatan Fan Jianying setelah berhasil membuat roti persik panjang umur yang rasanya lebih lezat daripada buatan koki Aming dari D’Delicious restoran seketika menjadi terkenal dalam sekejap.
Nama baik Fan Jianying yang semula buruk akibat rumor yang dihembuskan oleh adik tirinya itu berubah dalam sekejap.
Sekarang yang diingat semua orang adalah Fan Jianying yang cantik dan hebat dalam memasak serta memiliki sikap rendah hati.
Tentu saja kabar menghebohkan tersebut sampai juga di telingga koki Aming yang merasa sangat penasaran dengan sosok madam ketiga Bai tersebut dan berniat untuk mengundangnya secara langsung.
“ Bagaimana bisa dia memiliki resep yang lebih hebat dariku…”, batin Aming penasaran.
Untuk itu dia berniat mengundang Fan Jianying dan menantangnya untuk memasak didalam dapur pribadinya. Dia ingin melihat secara langsung dengan kedua mata kepalanya sendiri agar yakin.
Sedangkan gadis yang menjadi buah bibir semua orang saat ini terlihat sedang duduk manis didalam kamarnya sambil berkutat dengan buku yang ada dihadapannya.
Setelah satu bulan berada didunia asing ini, Fan Jianying yang sudah mulai bisa beradaptasi dan menerima semua keadaan yang ada, mulai membuat rencana jangka panjang dalam hidupnya.
Rencana yang akan membuat hidupnya lebih berarti dan tentunya bahagia. Meski tinggal dalam keluarga Bai semua kebutuhannya tercukupi.
Namun sebagai wanita mandiri, Fan Jianying tidak ingin terus hidup dengan bergantung pada orang lain.
Untuk itu, dengan harta yang berhasil dikumpulkannya saat ini, rencananya dia akan menggunakannya sebagai modal usaha yang nantinya dapat menjadi sumber pendapatannya selama berada disini.
“ Apa aku harus mulai berbisnis makanan saja ya. Tapi apa ?...Membuka restoran, itu perlu budget lumayan besar juga. Apa membuka street food ?. …”, guman Fan Jianying galau.
Mungkin untuk saat ini dia masih memiliki banyak uang dan tinggal dikediaman keluarga Bai. Tapi itu juga tidak bisa menjamin masa depannya karena hingga kini suaminya tersebut sama sekali belum ada kabarnya.
“ Oya, bagaimana perkembangan penangkal racun yang kubuat, apa itu berhasil ?....”, guman Fan Jianying penasaran.
Karena dia tidak bisa bertemu langsung dengan pangeran ke empat untuk menanyakan hal tersebut, maka Fan Jianyingpun berinisiatif untuk menulis surat.
Pada saat dia sedang menikmati kegalauan hatinya, tiba – tiba kedatangan Dayu membawa surat undangan dari koki Aming terasa membawa angin segar bagi Fan Jianying.
“ Ini dia….”, ucap Fan Jianying bersemangat.
Meski Dayu tidak mengerti apa yang telah membuat nona mudanya itu bahagia, namun melihat wajah cerah Fan Jianying diapun merasa ikut bahagia.
Baginya, kebahagiaan nona mudanya adalah kebahagiaannya juga. Begitupun kesedihan, pada saat nona mudanya bersedih, hatinya juga akan merasa sakit bahkan lebih sakit dari apa yang dirasakan oleh junjungannya itu.
“ Dayu…ada tugas untukmu…”, perintah Fan Jianying dengan nada datar.
Diapun segera memasukkan surat yang sudah ditulisnya tadi kedalam amplop dan memberikannya kepada Dayu untuk menyerahkannya kepada pemilik restoran Shadong.
“ Kamu harus hati – hati dan jangan sampai ketahuan…”, ucap Fan Jianjing pelan.
__ADS_1
Untuk saat ini Fan Jianying hanya bisa menggunakan Dayu karena dirinya untuk sementara waktu tidak bisa bebas berkeliaran karena ada pelayan bawahan Bai Cheung yang mengawasinya.
Bukannya takut, dia hanya tidak mau Heyna membuat kehebohan seperti waktu itu. Jika tidak, kemungkinan besar dia tidak akan bisa menutupi hal ini dari matriark Bai.
“ Mungkin untuk sementara waktu, ini adalah cara yang terbaik…”, guman Fan Jianying dan mulai kembali mencorat – coret buku yang ada dihadapannya itu.
Sementara itu, Hira terlihat sedikit gelisah sejak tadi. Sewaktu pulang dari pasar pagi tadi, tiba – tiba ada seorang pelayan wanita menghentikannya saat hendak sampai di depan pintu gerbang kediaman keluarga Bai.
Dari pelayan wanita tersebut dia mendapatkan sebuah surat dari seorang yang ditujukan untuk madam ketiganya.
Setelah mengawasi kondisi sekitarnya dan memastikan jika tidak ada seorang pun disana, diam – diam Hira mulai mengambil surat yang sejak tadi pagi dia simpan di lengan bajunya.
“ Jika dilihat dari tulisannya, dia sepertinya orang yang tegas…”, batin Hira sambil mengamati sebuah nama “ Yuan ” didepan surat.
Karena menganggap ada seseorang yang ingin membingkai madam ketiganya. Hira yang seharian kemarin bersama Fan Jianying benar – benar merasakan bahwa nyonya mudanya itu adalah orang yang sangat baik bertekad tidak akan membiarkan siapapun untuk menyakitinya.
“ Madam ketiga adalah orang yang baik, jadi dia tidak mungkin memiliki seseorang rahasia dibelakang tuan muda ketiga Bai. Semua orang tampaknya telah salah paham. Aku rasa tuan muda juga begitu…”, batin Hira bermonolog.
Melihat bagaimana tuan mudanya dengan keji meninggalkan istrinya demi bergabung dengan pasukan perbatasan untuk membasmi para pemberontak dan hewan mutasi yang ada disana membuat Hira bertekad akan melindungi madam ketiganya itu dengan nyawanya jika perlu.
Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti madam ketiganya itu, meski dia harus bertentangan dengan saudara kembarnya Heyna dan menentang perintah servant Meilin.
“ Aku harus memusnahkannya agar tidak ada yang mengetahuinya….”, batin Hira yang sudah mengeluarkan pematik api dan langsung membakar surat tersebut.
Diapun segera membersihkan abu hasil pembakaran surat tersebut agar tidak ada seorang pun yang curiga dan membuka jendela agar bau asap bisa segera keluar.
Sementara itu dikediaman Heng terlihat seorang laki – laki tampan sedang duduk dikursi kayu sambil membaca buku yang ada ditangannya.
Seorang pelayan wanita masuk begitu tuan mudanya itu mempersilahkan. Setelah menutup pintu dengan sangat hati – hati, pelayan wanita tersebut berlutut didepan Heng Yuan.
“ Lapor tuan, perintah sudah dijalankan…”, ucap pelayan wanita tersebut dengan sikap hormat.
“ Apa kau yakin aman ?...”, tanya Heng Yuan memastikan.
“ Tuan muda, tenanglah. Saya sudah memberikan surat tersebut kepada pelayan pribadi nona kedua Fan, dan saya yakin sekarang pasti nona kedua sudah membacanya…”, ucap pelayan wanita tersebut menjelaskan.
“ Baik, kembalilah bersembunyi. Jangan mengekspos dirimu…”, perintah Heng Yuan tajam.
“ Dipahami…”, ucap pelayan tersebut yang langsung berdiri, membuka pintu dan pergi.
Tepat setelah pintu tertutup, ekpresi dingin yang ada diwajah pelayan wanita tersebut berubah menjadi wajah seorang wanita yang sangat lemah dan pemalu.
Seolah dia adalah dua orang yang berbeda dan tentunya tidak akan ada yang mencurigai jika wanita muda itu adalah pembunuh berdarah dingin dengan sebutan three yang ahli dalam penyamaran dan racun.
__ADS_1
Heng Yuan memiliki tujuh penjaga rahasia yang memiliki kemampuan tinggi dan sangat mengerikan. Panggilan mereka adalah one, two, three, four, five, six, dan seven.
Pasukan inilah yang sering membantunya menyingkirkan orang – orang yang menghalangi langkah pangeran kedua untuk merebut tahta bersama Fan Nuan.
Heng Yuan sangat yakin, jika pangeran kedua bisa menyingkirkan putra mahkota dan mengantikan posisi kaisar, dirinya yang sudah banyak berjasa tentunya tidak akan dilupakan begitu saja.
Semua ini Heng Yuan lakukan agar bisa setara dengan Fan Jianying. Meski gadis yang dicintainya itu sudah menikah, namun melihat Bai Cheung mengabaikannya membuat pemuda tersebut merasa jika dia masih memiliki kesempatan.
Apalagi dalam perjamuan tersebut dia sempat mendengar rumor jika Bai Cheung meninggalkan istrinya begitu saja tanpa pamit dan bergabung dengan pasukan perbatasan di wilayan timur.
Hal inilah yang akan dia gunakan untuk memanaskan situasi dan rencananya sore ini dia akan berkunjung ke kediaman Fan.
Sementara itu di kediaman Fan saat ini suasana sangat tegang dan mencekam setelah laporan madam Rong kepada tetua Fan mengenai kondisi Fan Jianying selama ini.
“ Bajingan itu !!!...bagaimana dia bisa memperlakukan putri kesayanganku seperti ini !!!...”, teriak Fan Shaosheng penuh amarah.
Waktu itu, saat dia sempat mendengar dari Dayu jika Bai Cheung sering melakukan tindak kekerasan dan menindas putrinya.
Namun Fan Shaosheng tidak terlalu percaya karena melihat putrinya baik – baik saja saat datang kekediaman bersama sang suami.
Bahkan, tiga hari selama berada dikediaman Fan keduanya tak malu - malu menunjukkan keromantisan hubungan mereka hingga membuatnya sangat yakin jika putrinya itu sudah bahagia karena berada ditangan orang yang tepat.
Tapi sekarang, setelah dia mendapati fakta tersebut tentunya hatinya merasa sedih dan marah. Dia bertekad akan membuat perhitungan terhadap keluarga Bai.
“ Kenapa Fan’er menutupi semuanya dari kita ?...”, ucap sang nenek sedih.
“ Mungkin Fan’er sengaja menutupinya karena itu adalah aib baginya. Jika bukan putri Wei Xioeun yang mengatakannya dengan lantang waktu perjamuan akupun juga tak akan tahu. Dan kebenaran ini selamanya akan terus mereka tutupi…”,ucap madam Ronger sedih.
Mereka semua terlihat menitikkan air mata mengingat penderitaan yang dialami oleh Fan Jianying disana.
Dalam pikiran mereka, Fan Jianying yang lemah tentunya telah diancam sehingga dia tidak berani untuk mengungkapkan semua kebenaran yang menimpah dirinya kepada keluarganya.
Saat semua orang sibuk dengan pemikirannya masing - masing, suara keras Yihua membuat lamunan mereka seketika buyar.
*“* Kalian semua jangan bersedih hati. Dalam perjamuan tersebut, untungnya nona kedua bisa membalikkan keadaan dengan roti persik panjang umur buatannya yang sangat lezat. Dan semua orang diseluruh ibukota sekarang sedang membicarakan kehebatannya itu…”, celetuk Yihua bangga.
“ Apa ?!!!...Fan’er membuat roti ?!!!....”, tanya sang nenek membelalakkan matanya.
“ Benar nek…roti buatan nona muda kedua sangatlah lezat, bahkan bikinan koki Aming dari D’Delicious Restoran saja kalah lezat…”, ucap Yihua sambil menceritakan bagaimana bentuk dan rasa roti persik panjang umur yang sangat lezat itu.
Semua orang masih menyangsikan hal tersebut meski madam Ronger dan Yihua membenarkan hal tersebut.
“ Jika Fan Jianying bisa sehebat itu maka rumor yang sudah kusebarkan selama ini akan sia – sia…”, batin Fan Nuan penuh amarah.
__ADS_1
Diapun terlihat menggerakkan kedua bola matanya dengan cepat, berusaha untuk memikirkan cara apalagi untuk menjatuhkan nama baik kakak tirinya itu.