
Di kerajaan gurun, kaisar Muzeng menyipitkan sebelah matanya waktu melihat ada sinar terang menyelimuti tubuh peramal Yan.
Cukup lama kaisar Muzeng mengamati perubahan fenomena yang tak biasa itu sambil berpikir apakah ini berhubungan dengan penurunan energy murni yang keluar dari tubuh peramal Yan beberapa hari terakhir.
Kaisar Muzeng merasa jika dua hari ini energy dalam tubuh peramal Yan yang berhasil dia serap sudah tidak sebanyak biasanya.
Kadar kemurnian yang dihasilkan pun juga sudah mulai berkurang, tidak sebagus dan berkualitas seperti biasanya.
Cukup lama kaisar Muzeng berpikir tentang hal itu hingga sinar terang yang menyelimuti tubuh peramal Yan perlahan mulai menghilang.
“ Aku rasa penyebabnya hanya dua…kehadiran sang Ratu atau roh peramal Yan berada tak jauh dari istana ini….”, batin kaisar Muzeng bermonolog.
Namun, dia masih perlu melakukan pembuktian akan hal itu. Dan kecurigaannya jatuh pada kota Fushou. Tempat dimana pasukannya berhasil dikalahkan degan telak.
Jika hanya mengandalkan pasukan yang berjaga di perbatasan saja, hal itu tidak mungkin terjadi meski kemampuan jenderal besar Tian dan Bai Cheung sudah tidak diragukan lagi.
Tapi, mereka berdua bukan orang yang bisa mengalahkan seluruh pasukan King of Devil dalam waktu singkat, meski memiliki kemampuan hebat seperti itu.
Hanya kaisar Huang Lo saja di negara Huangshan yang memiliki kemampuan dan kekuatan seperti itu.
Tapi melihat jika sang penguasa Huangshan tersebut sangat sibuk menjalin hubungan kerjasama dengan negara tetangga, membuatnya tak mungkin untuk datang ke kota Fushou hanya untuk melawan pasukan miliknya sedangkan disana sudah ada dua jenderal yang bertugas.
Semakin lama dia berpikir, semakin banyak ide yang muncul dalam benak kaisar Muzeng untuk melakukan pembuktian agar apa yang menjadi kecurigaannya itu terbukti.
“ Kurasa malam ini adalah waktu yang tepat….”, guman kaisar Muzeng pelan.
Sementara itu, di kota Fushou, malam ini terjadi hujan salju diserta dengan angin yang kencang. Mendapati fenomena tersebut, para penjagapun terus melakukan pemantauan secara teratur dari dalam pos.
Karena angin yang berhembus sangat kencang dan hujan salju turun dengan derasnya, para penjaga kesulitan untuk memantau kondisi yang ada dihadapan mereka saat ini.
Dari balik teleskop para penjaga dapat melihat jika angin topan sedang menghantam sebagian wilayah Yulin yang dekat dengan Huangshan.
Dan angin topan tersebut perlahan namun pasti mulai bergerak cepat menuju wilayah Huangshan.
“ Badai salju akan datang !!!… cepat bersiap – siap !!!...”, teriak petugas jaga dari atas pos.
Mendengar teriakan tersebut, semua prajurit mulai berkumpul dalam satu area dipimpin oleh Bai Cheung.
Jenderal besar Tian pun naik keatas pos untuk melihat kondisi yang ada dengan bantuan teleskop yang ada disana.
Setelah memastikan jika situasinya genting, diapun segera menginstruksikan para prajurit yang memiliki kekuatan tingkat empat segera berkumpul bersamanya.
Para prajurit yang memiliki kekuatan tingkat empat segera disebar ke berbagai sisi kota dan segera membuat pelindung untuk kota Fushou.
Karena lokasi kota Fushou yang terlalu lebar sedangkan pasukan Huangshan yang memiliki kekuatan tingkat empat sangatlah sedikit maka lapisan yang mereka hasilkan sangatlah tipis.
Kencangnya angin yang datang menerjang disertai dengan hujan es yang terus turun dengan derasnya membuat benteng pertahanan yang dibuat mulai retak.
__ADS_1
Melihat hal itu, Fan Jianying pun tak bisa lagi berdiam diri dan mulai turun tangan untuk membantu jenderal besar Tian dan Bai Cheung yang sudah terlihat mulai kuwalahan memperkuat lapisan pelindung.
Dengan kekuatan besar yang dimiliki, Fan Jianying mampu memperbaiki pelindung yang telah retak tersebut dan melapisinya dengan lapisan yang lebih tebal dari pada sebelumnya.
Fan Jianying berdiri ditengah – tengah kota Fushou sambil menggerakkan tangannya keatas untuk terus mempertebal pelindung tersebut agar badai salju yang dasyat tidak sampai menghancurkan seluruh kota.
Angin berhembus semakin kencang dan suhu yang ada didalam kota Fushou semakin lama semakin turun.
Membuat semua orang yang memiliki kekuatan tingkat tiga dan yang memiliki elemen api bisa segera menggunakan kekuatannya untuk menaikkan suhu yang ada diwilayah tersebut.
Setidaknya hal itu bisa mencegah penduduk dan para pasukan Huangshan terkena hypothermia. Badai salju terus saja menghantam wilayah kota Fushou terus menerus.
Badai salju yang terjadi ini dianggap tak biasa, seperti ada seseorang yang memiliki kekuatan besar yang mengendalikannya karena terpusat dan terlihat mengarah pada satu titik, kamp militer Huangshan.
Menghadapi tekanan yang semakin lama semakin bertambah besar, beberapa pasukan terlihat mulai memuntahkan darah dari mulutnya dan jatuh lunglai ke tanah.
Tak kuat menghadapi badai yang datang menerjang dan melihat satu persatu pasukan Huangshan sudah mulai tumbang.
Jenderal besar Tian dan Bai Cheung pun mulai menambah kekuatannya. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk menahan badai salju tersebut agar tidak sampai tembus menhancurkan kota Fusahou.
Namun, badai salju yang mendera kota Fushou cukup dasyat hingga akhirnya kedua jenderal tersebut tumbang dengan darah segar keluar dari sudut bibir mereka.
Melihat semuanya tumbang dan terluka parah, kedua mata Fan Jianying terlihat mengeluarkan kilat amarah.
“ Tidak…aku tak boleh menyerah sekarang….”, Fan Jianying terus mengeluarkan kekuatan yang ada dalam tubuhnya hingga batas maksimal.
Kekuatan sang Ratu muncul, sinar yang berhasil dikeluarkan dari kedua tangan Fan Jianying langsung membesar dengan warna yang sangat terang.
Semua orang tercenggang waktu tubuh Fan Jianying melayang diudara dengan kedua tangan terus mengeluarkan sinar yang terang yang sangat besar.
Seiring kekuatan yang ada dalam tubuh Fan Jianying keluar, perlahan tanda yang ada didahi gadis itu mulai muncul dan bersinar dengan terang, membuat silau semua mata yang memandang.
Kekuatan yang dikeluarkan oleh Fan Jianying membentuk bola super besar dan menghantam badai salju yang datang menerjang hingga menyebabkan ledakan cahaya di udara.
Dan beberapa saat kemudian langit yang tadinya tak terlihat perlahan mulai cerah. Bahkan bulan dan bintang dilangit pun mulai tampak dan suhu mulai menghangat.
“ Ini....Sang terpilih !!!....”, guman semua orang waktu melihat apa yang dilakukan oleh Fan Jianying beserta tanda yang keluar di dahinya.
Bai Cheung terlihat sangat syok, dia sama sekali tak menyangka jika istrinya adalah sang terpilih yang merupakan reinkarnasi dari Ratu hutan kematian.
Fan Jianying yang baru pertama kali menggunakan kekuatan sebesar itu, tubuh rapuhnya tak bisa menahan semuanya hingga membuatnya jatuh pingsan.
Bai Cheung segera menangkap tubuh istrinya yang perlahan turun dari atas langit dalam kondisi tak sadarkan diri dan segera membawanya kedalam tenda.
Cukup lama Fan Jianying tak sadarkan diri hingga membuat Bai Cheung cemas. Dia menunggui sang istri dengan wajah sedih sambil memegangi tangan Fan Jianying dengan erat.
“ Tenang saja, dia tidak apa – apa hanya kelelahan saja karena baru pertama kalinya menggunakan kekuatan sebesar itu…”, ucap pangeran Xioran yang tiba – tiba muncul didalam tenda.
__ADS_1
Melihat jika kedua mat pangeran Xioran berwarna merah, Bai Cheung menduga jika pemuda yang ada dihadapannya itu bukanlah pangeran Xioran yang asli melainkan orang yang diajak istrinya berbincang tentang banyak hal mengenai kerajaan gurun.
“ Dia sudah menyadari keberadaan sang Ratu. Sebaiknya kalian cepat pergi ke kerajaan gurun dan mengambil tubuhku sebelum terlambat…”, ucapnya mengingatkan.
Setelah mengatakan hal itu, peramal Yan yang berada didalam tubuh pangeran Xioran langsung menghilang.
Pangeran Xioran terlihat sedikit linglung setelah tubuhnya diambil alih oleh peramal Yan tadi.
Bai Cheung yang menyadari jika warna mata pemuda yang ada dihadapannya itu sudah berubah menjadi coklat tua segera memanggil Liam untuk mengantarkan pangeran Xioran kembali kedalam tendanya.
Sementara itu, Bai Cheung berusaha menangkap maksud dari ucapan lelaki yang memasuki tubuh pangeran Xioran tadi.
“ Dia…siapa Dia ?...dan, tubuh siapa yang harus diambil di kerajaan gurun ?....”, batin Bai Cheung penasaran.
Banyak pertanyaan mulai bermunculan di dalam benak Bai Cheung hingga gerakan tangan sang istri membuyarkan lamunannya
Fan Jianying yang mulai sadar segera membuka kedua matanya perlahan sambil merintih kesakitan. Melihat hal itu, spontan Bai Cheung segera membantu istrinya untuk duduk.
“ Fan’ er…ada apa sayang ?....bagian tubuh mana yang terasa sakit ?...”, tanya Bai Cheung dengan suara sangat lembut.
Mendengar suara lelaki yang sangat lembut dan merdu, Fan Jianying pun spontan membualtkan kedua matanya dengan sempurna.
“ Suara siapa itu ?...”, batin Fan Jianying penasaran.
Diapun segera mengedarkan pandangannya kesegala arah, menyapu bersih seluruh ruangan. Namun, yang dia lihat hanya ada Bai Cheung didalam tenda bersama dengannya.
“ Apa itu tadi suaranya ?...”, batin Fan Jianying tercenggang
Bagaimana tidak terkejut, ini adalah pertama kalinya dia mendengar suaminya itu bertanya kepadanya dengan suara lembut dan merdu seperti itu.
Bai Cheung yang melihat istrinya hanya terdiam sambil menatap dirinya, seakan mencari sesuatu melalui bola matanya menaikkan satu alisnya binggung.
“ Istriku…katakan padaku, bagian mana yang sakit ?....”, Bai Cheung kembali bertanya dengan suara lembut sambil meneliti seluruh tubuh sang istri apakah ada luka yang tidak terlihat olehnya.
Setelah meyakini jika suara yang dia dengar tadi adalah suara sang suami, Fan Jianying pun mulai menjawab dengan pelan.
“ Aku tidak apa – apa, hanya sedikit pusing saja…”, ucap Fan Jainying sambil menggelengkan kepala.
“ Syukurlah jika istriku baik – baik saja…”, ucap Bai Cheung lega.
Bai Cheungpun segera memanggil Hira untuk menyiapkan makanan untuk sang istri sementara dirinya terlihat memijat kepala Fan Jianyiing dengan lembut.
Fan Jianying terlihat sangat tidak nyaman mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya. Meski dia menyetujui untuk memulai semuanya dari awal dan memperbaiki hubungan yang ada.
Tapi, perhatian lebih dan sikap lembut yang diberikan oleh Bai Cheung ini entah kenapa membuat dirinya mejadi tidak nyaman dan terasa kikuk.
Meski begitu,Fan Jianying tetap menghargai usaha sang suami untuk merubah sikapnya demi keutuhan rumah tangga mereka.
__ADS_1