CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
TERBANGKARNYA KEBUSUKAN MADAM CHOU


__ADS_3

Impereal Restoran semakin besar dan berkembang dengan pesat begitu Fan Jianying kembali menetap di ibukota.


Fan Jainying tetap mepertahankan beberapa menu andalan restoran dan hanya menyediakan dalam jumlah terbatas di hari – hari tertentu saja.


Dia dan koki Amingpun semakin sering bertemu. Meski keduanya memiliki bisnis yang sama namun tak membuat hubungan keduanya menjadi jauh karena menu yang disajikan oleh keduanya cukup berbeda.


Meski ada beberapa menu yang sama, namun menu tersebut bukan merupakan andalan bagi restoran tersebut.


Bahkan keduanya sempat berkolaborasi, menggabung dua menu andalan di dua restoran besar tersebut menjadi menu baru yang akhirnya menjadi andalan kedua restoran tersebut.


Savory untuk Impereal Restoran dan Sweet untuk restoran milik koki Aming. Dua hal yang berbeda tapi menjadi Favorit semua orang.


Melihat keberhasilan cucu menantu perempuannya tersebut membuat matriark Bai merasa sangat bangga.


Dia tak menyangka diusia sebelia itu Fan Jianying bisa mengelola keuangan dengan sangat bagus.


Dari sinilah perlahan matriark Bai mulai mempercayakan sebagian besar asset pribadi miliknya untuk dikelola cucu menantu perempuannya tersebut.


Meski madam Chou merasa tak senang tapi dia juga tak bisa melakukan protes karena semua asset tersebut adalah milik matriark Bai pribadi, bukan asset keluarga Bai.


Yang bisa madam Chou lakukan hanyalah semakin iri hati terhadap keberhasilan Fan Jianying dalam mengelola semuanya.


“ Nyonya…ini…”, ucap pelayan Yu setelah berhasil menemukan obat yang disinyalir digunakan untuk membuat kesuburan seorang wanita terganggu.


Dan jika obat tersebut diberikan dalam jumlah yang besar, kemungkinan rahim menjadi kering dan sulit mempunyai keturunan bisa terjadi.


“ Panggil tabib Shilin dan madam Chou kesini sekarang juga !!!....”, perintah matriark Bai tegas.


Madam Chou tak memiliki firasat apapun waktu dipanggil untuk menghadap sang nenek hingga adanya tabib Shilin dalam ruangan utama membuat perasaannya tak enak.


Tabib Shilin langsung mengkerutkan keningnya cukup dalam waktu mencium aroma yang keluar dari obat yang ada ditangannya tersebut.


“ Ini sejenis obat untuk mencegah kehamilan. Tapi jika dikonsumsi secara terus menerus dalam dosis tinggi kemungkinan rahim menjadi kering dan sulit memiliki keturunan sangat tinggi. Bahkan jika daya tahan tubuh sipenerima cukup lemah bisa menyebabkan kematian….”, ucap tabib Shilin menjelaskan.


Tubuh matriak Bai langsung menegang setelah mendengarkan penjelasan tabib Shilin. Lain halnya dengan madam Chou yang saat ini sudah pucat pasi.


Madam Chou terlihat sangat gelisah dan mulai memainkan kedua tangannya yang terasa sangat dingin.


Dia sama sekali tak menyangka jika apa yang dilakukannya akan diketahui oleh matriark Bai. Padahal semua rencana yang disusunnya sudah sangat rapi dan terorganisir dengan baik.


“ Kalau boleh saya tahu, Anda mendapatkan obat berbahaya ini dari mana. Karena sepengetahuan saya, obat ini tidak dijual bebas dipasaran, dan hanya bisa didapatkan dipasar gelap saja karena sangat langkah dan mahal harganya…. ”, ucap tabib Shilin dengan wajah penasaran.


Seperti yang telah diduga oleh matriark Bai, obat tersebut memang tidak umum karena dia baru melihat yang seperti itu pertama kalinya.


“ Chou…kamu bisa jelaskan darimana kamu bisa mendapatkan obat tersebut….”, tanya matriak Bai langsung tepat sasaran.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu madam Chou terlihat sangat gugup. Hal tersebut membuat tabib Shilin mulai menaruh kecurigaan.


“ Saya tidak mengerti apa yang nenek bicarakan?....”, tanya madam Chou gelagapan, namun dia sebisa mungkin untuk memasang wajh tenang.


“ Pelayan senior Yu menemukan obat ini dalam kediamanmu. Karena kamu sudah tidak mungkin punya anak lagi karena ada masalah pada rahimmu. Lalu, obat ini akan kamu berikan untuk siapa ?....”, ucap matriark Bai dengan nada suara tinggi.

__ADS_1


Mendengar ucapan sang nenek yang terkesan memojokkannya, madam Chou pun memutar otaknya untuk bisa keluar dari masalah ini.


“ Sepertinya ada seseorang yang berniat menjebak saya nek….. ”, ucap madam Chou dengan wajah dibuat sesedih mungkin.


“ Siapa yang ingin menjebakmu ?....”, tanya matriark Bai penuh selidik.


“ Saya tidak tahu pasti siapa yang ingin menjebak saya. Hanya saja, adik ipar beberapa hari yang lalu berkunjung ke kediaman saya. Mungkinkah..... ”, ucap madam Chou dengan wajah sedih.


Madam Chou sengaja mengantung kalimatnya agar semua orang mulai berpikir sesuai dengan tujuannya.


Melihat matriark Bai terdiam sambil berpikir, madam Chou merasa jika dia bisa membalikkan keadaan dengan menfitnah Fan Jianying.


“ Saya tidak menyangka jika adik akan berbuat hal ini pada saya. Padahal saya sangat baik dengan adik. Tapi kenapa dia melakukan hal sekeji ini kepada saya….”, ucap madam Chou sambil menitikkan air mata.


Melihat semua orang mulai menaruh atensi pada sandiwara yang dia mainkan, lewat sorot matanya pelayan pribadi madam Chou tiba - tiba saja maju dan mulai berbicara.


“ Nyonya, anda yang sabar. Mungkin madam muda ketiga melakukan ini tak sengaja, jadi anda mohon untuk memaafkannya….”, ucap pelayan madam Chou sambil berlutut dihadapan majikannya.


Sekilas, orang mungkin mengira jika pelayan pribadi tersebut seakan membela Fan Jianying. Tapi kata – kata yang diucapkannya sangat jelas tersirat jika semua ini adalah perbuatan licik Fan Jianying untuk menjebak madam Chou.


Tabib Shilin yang melihat sandiwara madam Chou tak bisa lagi untuk menahan tawanya. Tentu saja tindakan lelaki tersebut mengundang perhatian semua orang.


“ Saya tidak tahu jika madam muda pertama sangat menyayangi madam muda ketiga Bai hingga mampu mengirim pembunuh bayaran untuk mencabut nyawanya….”, ucap tabib Shilin penuh penekanan.


Mulut semua orang terbuka lebar dengan kedua bola mata melotot, terkejut dengan ucapan tabib Shilin tersebut.


“ Apa yang anda katakan tabib Shilin ? saya benar - benar tak mengerti....”, ucap madam Chou berpura - pura bodoh.


Lidah madam Chou seketika menjadi keluh, keringat dingin mulai mengucur deras dari tubuhnya waktu melihat matriark Bai menatapnya tajam menuntut jawaban.


“ Nenek….lihatlah, tabib Shilin sangat dekat dengan adik. Dia bahkan memfitnahku dengan keji seperti itu….”, ucap madam Chou menjatuhkan tubuhnya ke lantai sambil terisak.


Dia terus menangis berurai air mata hingga membuat hati semua pelayannya ikut bersedih dan berusaha untuk menenangkannya.


“ Apa yang kamu bicarakan ?!!!....”, teriak matriark Bai sambil menatap tajam tabib Shilin.


Meski dia cukup marah waktu mengetahui cucu menantu perempuan pertamanya ingin membuat Fan jainying tak bisa memiliki anak.


Tapi dia juga tak bisa membiarkan begitu saja orang luar yang asal menuduh tanpa bukti kepada Madam Chou seperti itu.


" Jangan bicara jika tak ada bukti !!!.....", teriak matriark Bai penuh amarah.


Madam Chou yang melihat jika matriark Bai membelanya kembali terisak dan air matanya keluar dengan derasnya.


" Saya berani berbicara tentu memiliki bukti....", ucap Tabib Shilin tenang.


“ Nomura, masih ada dalam sel tahanan pribadi didalam istana. Dia sekarang kondisinya sangat memperihatinkan tidak hidup dan tidak mati....", Tabib Shilin masih berucap dengan santainya.


“ Dipenjara istana !!!.…omong kosong !!!...apa kamu harus membual sejauh itu untuk memfitnahku !!!....”, ucap madam Chou dengan penuh emosi.


" Jika matriark Bai dan madam Chou ingin mengunjunginya, saya bisa memintakan ijin kepada Yang Mulia Kaisar sekarang juga….” , ucap tabib Shilin dengan senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


" Kaisar...apa hubungannya ini dengan kaisar Huang ?.....", tanya matriark Bai gusar.


“ Kaisar Huang sangat melindungi madam muda ketiga. Bahkan dalam perjalanan menuju pegunungan Weixi, Yang Mulia memerintahkan pengawal bayangan miliknya untuk memastikan madam muda ketiga sampai dengan selamat dipaviliun Huwanwei. Dan, pengawal bayangan itulah yang menangkap Nomura dan menggagalkan pembunuhan tersebut… ”, ucap tabib Shilin menjelaskan.


Tubuh madam Chou seketika langsung lemas waktu mendengar penjelasan dari tabib Shilin. Bukan hanya madam Chou, matriark Bai seketika langsung ambruk dan terduduk lesu dikursinya mendengar fakta tersebut.


“ Anda seharusnya berterimakasih kepada madam muda ketiga karena meminta kepada Yang Mulia agar tidak memperpanjang masalah ini. Jika tidak, apa keluarga Ming masih bisa berdiri tegak hingga sekarang….”, ucap tabib Shilin penuh penekanan.


Madam Chou tak bisa lagi menggelak dan hanya bisa menangis menyesali perbuatannya. Jika tidak, dia sangat yakin pasti keluarga besar Ming akan terkena imbas atas perbuatannya itu.


Madam Chou terlihat bersujud di kaki matriark Bai, tapi langsung ditendang dengan keras oleh wanita tua tersebut.


Dia sama sekali tak menyangka jika madam Chou akan bertindak nekat dan kejam seperti itu kepada Fan Jianying.


Pada awalnya, masalah obat penunda kehamilan ini saja sudah membuat matriark Bai murka.


Apalagi sekarang, dia mendengar fakta jika cucu menantu perempuan pertamanya tersebut ingin membunuh Fan Jianying membuat darah dalam tubuh matriark Bai semakin mendidih.


“ Kurung dia diruang doa selama tiga bulan dan berpuasa sepanjang hari untuk instropeksi diri dan cabut kuasanya sebagai nyonya rumah keluarga Bai….”, perintah matriark Bai tegas.


Dikurung diruang doa bukanlah masalah bagi madam Chou, tapi dicabut kuasanya sebagai nyonya rumah keluarga Bai adalah hal yang paling berat untuk dilaksanakannya.


“ Nenek…tolong ampuni aku nek…aku tidak bersalah…semu ini karena ulah gadis busuk itu….”, madam Chou terus berteriak saat diseret menuju ruang doa.


Matriark Bai hanya bisa memijat keningnya dengan kuat waktu merasakan kepalanya terasa sangat sakit.


Tabib Shilin yang melihat kondisi kesehatan matriark Bai langsung menurun segera memeriksanya dan memberikan pil penenang serta menyuruhnya untuk beristirahat.


“ Sebaiknya anda beritirahat lebih lama agar kondisi tubuh anda bisa segera pulih kembali….”, ucap tabib Shilin sambil meresepkan obat untuk tetua Bai tersebut.


“ Kenapa Fan’er menyembunyikan masalah sebesar ini dariku. Dan kenapa kamu juga tidak mengatakan apapun kepadaku….”, ucak matriark Bai berlinang air mata.


“ Madam muda ketiga hanya tak ingin membuat semua orang khawatir kepadanya, jadi beliau meminta saya merahasiakannya….”, ucap tabib Shilin memberi penjelasan.


“ Tapi ini sudah diluar batas !!!....”, teriak matriark Bai penuh amarah.


“ Apakah Cheung tahu akan masalah ini ?....”, tanya matriark Bai pnuh selidik.


Tabib Shilin hanya menggeleng pelan. Hal itu membuat matriark Bai semakin merasa sangat bersalah.


“ Bagaimana aku harus menebus semua kekacauan ini….”, ucap matriark Bai lemah.


“ Madam muda ketiga tidak mengharapkan apapun. Yang beliau inginkan hanyalah ada kedamaian dan keceriaan didalam keluarga Bai. Itu yang madam muda ketiga ucapkan kepada kaisar Huang waktu meminta ampunan untuk madam muda pertama…”, tabib Shilinpun membeberkan semuanya, tanpa ada lagi yang dia tutupi dari matriark Bai.


“ Dia memang gadis yang baik. Selalu mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri…”, ucap matriark Bai berderai air mata.


Hira yang menyaksikkan semuanya segera melaporakn semuanya kepada Fan Jianying yang sedang bersantai di gazebo taman kediamannya.


“ Kakak terlalu implusif dan ceroboh. Baguslah jika dia sudah mendapatkan hukuman….”, ucap Fan Jianying santai.


Ini hanyalah hukuman kecil yang Fan Jianying berikan. Tapi jika kaka iparnya itu masih mengusik kehidupannya maka jangan salahkan jika dia akan bersikap lebih kejam lagi.

__ADS_1


" Apa yang kamu perbuat, itulah yang kamu tuai.....", begitulah prinsip Fan Jianying.


__ADS_2