
Setelah Fan Jianying berhasil dalam usahanya untuk mengolah daging kelinci mutasi menjadi bahan makanan, diapun bergegas keluar dari dalam cincin ruangnya untuk kembali lagi ke kamp. militer.
Fan Jianying muncul dijalan sepi tak jauh dari lokasi kamp militer berada dan segera mengeluarkan barang – barang yang telah disiapkannya.
Dibantu hewan kontarkanya, Fan Jianying mulai menautkan tiga kereta barang yang sudah dibuatnya ke belakang kudanya untuk mengangkut bahan makanan yang akan dia bawa ke kamp militer dan dia bagikan ke warga.
Sesampainya dipintu gerbang, Bingwen yang kebetulan ada didepan bersama prajurit jaga segera menyambut kedatangan Fan Jianying dengan gembira.
“ Anda sudah datang kembali nyonya ?...bagaimana kondisi anda ?...”, tanya Bingwen khawatir.
Dia sempat mendengar dari Hira jika madam ketiga sudah turun dari hutan kematian beberapa hari yang lalu.
Namun, setelah mengobati suaminya, gadis belia tersebut pergi lagi sehingga Bingwen belum sempat bertemu dengannya.
“ Seperti anda lihat, saya baik - baik saja…..”, ucap Fan Jianying tersenyum hangat.
Bingwen tak bisa menutupi rasa penasaran yang sedari tadi melandah hatinya waktu melihat ada tiga gerbong kereta barang yang dibawah oleh Fan Jianying.
“ Tolong anda bawa bahan makanan ini masuk dan berikan kepada koki Lizeng…”, ucap Fan Jianying sambil melepaskan satu kereta barang dan memberikannya kepada Bingwen.
“ Lalu yang dua ini ?....”, tanya Bingwen penasaran.
“ Dua kereta yang ini rencananya akan aku bagikan ke masing - masing penduduk di kota Fushou…”, ucap Fan Jianying tersenyum lebar.
Bingwen pun segera memanggil Peizhi yang kebetulan sedang lewat tak jauh dari gerbang kamp militer untuk membantu prajurit membawa kereta barang tersebut kedapur.
Melihat ada Fan Jianying bersama Bingwen, Peizhi tersenyum dan memberi hormat. Dia senang melihat madam ketiga Bai tersebut lebih sehat dan ceriah dibandingkan sebelumnya.
Mungkin ini adalah efek tingat surgawi yang dimilikinya hingga wajahnya terlihat semakin teduh dan membuat hati siapa yang memandangnya menjadi hangat.
Peizhi pun segera menarik kereta barang tersebut dibantu dua prajurit yang mendorong kereta barang tersebut dari arah belakang menuju dapur.
Sedangkan, Bingwen segera naik keatas kudanya untuk membantu Fan Jianying membagikan bahan pangan tersebut kepada seluruh warga yang ada dikota Fushou.
Dalam perjalanan menuju dapur, Peizhi bertemu dengan Hira dan Liam yang baru saja selesai rapat dengan jenderal besar Tian didalam tendanya.
“ Apa itu ?...”, tanya Hira dengan tatapan menyelidik.
“ Bahan makanan dari madam ketiga…”, ucap Peizhi lantang.
__ADS_1
Mendengar nama nyonya mudanya disebut, Hira tak bisa menyembunyikan rasa bahagia dalam dirinya.
“ Dimana ?....madam ketiga ada dimana ?...”, tanya Hira sambil mengedarkan pandangannya keseluruh area.
“ Dia pergi kekota bersama Bingwen untuk membagikan bahan makanan kepada warga…”, ucap Peizhi menjelaskan.
Hira pun segera berlari mengambil kudanya untuk mengejar Fan Jianying, begitu juga dengan Liam.
Bai Cheung yang berada dibelakang Hira bersama jenderal besar Tian terlihat gelisah. Jika dia tidak memiliki harga diri yang tinggi, mungkin lelaki itu akan segera berlari dan mengejar sang istri.
Sama seperti yang dilakukan Hira dan Liam tadi. Namun egonya yang besar, menghalanginya.
Peizhi yang melihat ada Bai Cheung dihadapannya segera memalingkan wajah dan meneruskan perjalanannya.
Dia masih sangat kesal waktu mendengar jika Fan Jianying yang baru datang dari hutan kematian langsung mengobati suaminya dan pergi lagi tanpa beristirahat dengan kondisi lemah.
Peizhi menganggap jika madam ketiga Bai tersebut sangatlah baik hati. Bagaimana gadis itu masih bersedia mengobati suami yang telah menelantarkan dan menyakitinya hingga mengorbankan kesehatan dirinya sendiri seeprti itu.
Namun apa yang didapatkan setelah laki - laki itu sadar dan pulih. Bukan hanya tidak mencarinya, bahkan sekarang Bai Cheung masih bersikap dingin dan datar waktu mendengar istrinya datang.
Hal itu tentu saja membuat Peizhi bertambah geram. Dan kebenciannya kepada Bai Cheung semakin besar.
“ Apa ini semua dari madam ketiga Bai…”, tanya koki Lizeng penasaran.
Diapun mengamati satu persatu bahan makanan yang dikirim dan menyimpannya kedalam gudang baru disamping dapurnya.
“ Wah…ada kudapan juga. Malam ini tampaknya para prajurit dapat tidur nyenyak setelah makam malam mewah…”, ucap koki Lizeng gembira.
Koki Lizeng pun memasukkan bahan makanan tersebut kedalam kotak baja yang baru dibuat oleh prajurit agar tidak ada hewan mutasi yang mampu menembus kotak baja tersebut dan merusak isi yang ada didalamnya.
Sementara itu, untuk aneka kue kering yang ada dalam toples, dia tata serapi mungkin dalam kotak baja yang lebih kecil agar mudah diambil dan tahan lebih lama.
Hira dan Liam yang berhasil menyusul nyonya mudanya segera bergabung dengan Bingwen untuk membagikan bahan makanan ke rumah masing – masing warga kota Fushou.
Tentu saja warga kota Fushou terlihat bahagia mendapatkan bahan pangan disaat kondisi pangan mereka menipis.
Hati Fan Jianying menghangat waktu melihat senyum lebar warga yang berhasil diberi bantuan pangannya itu.
Apalagi waktu mendapati beberapa anak kecil yang berceloteh riang gembira waktu membuka tutup toples kudapan yang diberikan olehnya dan memakannya.
__ADS_1
Tak sampai siang hari, pemberian bantuan sudah selesai dan merata ke seluruh warga Fushou.
Sisa kue kering dalam toples pun langsung di bawa kembali oleh Fan Jianying ke kamp militer yang rencananya akan dia bagikan kepada jenderal besar Tian, Hira dan pasukan bayangan yang mengantarnya.
Sedangkan tiga toles sisanya, biar disimpan oleh suaminya. Setelah sampai didalam kamp, Fan Jianying beristirahat didalam tenda Hira.
" Nyonya... Kenapa anda tidak beristirahat didalam tenda tuan muda saja yang lebih bersih dan hangat....", ucap Hira setengah memaksa.
Meskipun tuan mudanya itu tak mengatakan apapun, tapi Hira sangat yakin jika tuan mudanya itu pasti merindukan sang istri.
" Jika kamu tak ingin aku disini...aku akan pergi !!!!... ", ancam Fan Jianying pura - pura marah.
" Tidak... tidak.... nyonya silahkan beristirahat disini dengan nyaman.... ", ucap Hira ketakutan.
Dia pasti akan dimarahi oleh tuan mudanya jika kali ini dia membiarkan gadis itu pergi lagi, seperti beberapa hari yang lalu.
Begitu Hira keluar dari tenda, Fan Jianying pun segera masuk kedalam cincin ruangnya. Setidaknya beristirahat disana lebih enak dan hangat daripada harus tidur didalam tenda yang dingin dan sedikit lembab.
Bai Cheung yang melihat Bingwen dan Liam kembali tapi tak melihat istrinya segera menghampiri Hira yang baru saja keluar dari dalam tenda dan menanyainya.
" Dimana istriku?. . ", tanya Bai Cheung tajam
" Nyonya sedang beristirahat didalam tenda saya tuan. Tadi saya sudah menyarankan agar nyonya beristirahat di dalam tenda tuan, tapi nyonya tidak mau dan bersikeras untuk tinggal di tenda saya.... ",ucap Hira sedikit takut.
Bai Cheung cukup tahu jika istrinya itu sangat keras kepala, maka dari itu diapun tak bisa menyalahkan Hira akan hal ini.
Dengan cepat Bai Cheung bergegas masuk kedalam tenda Hira untuk memaksa istrinya beristirahat didalam tendanya yang lebih hangat dan tertutup.
Raut kekecewaan muncul diwajah lusuhnya waktu mendapati tenda Hira kosong melompong. Dengan tangan terkepal, Bai Cheung pun menegur Hira.
" Kenapa tendamu kosong ?...Dimana dia?...", tanya Bi Cheung geram.
" Nyonya ada di dal.... ", Hira berhenti berkata waktu melihat tendanya telah kosong.
Dia sendiri juga binggung bagaimana Fan Jianying bisa tidak ada dalam tenda, padahal dia baru beberapa langkah meninggalkan tenda.
Keduanya pun berpencar untuk mencari keberadaan Fan Jianying diseluruh area kamp milter yang tak terlalu besar itu.
Sementara itu obyek yang membuat semua orang panik sedang menikmati cemilan diatas sofa sambil bercengkerama dengan hewan kontrak miliknya didalam cincin ruang miliknya.
__ADS_1
“ Siang yang menyenangkan….”, batin Fan Jianying tersenyum bahagia.