CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
ULAR BERSISIK PERAK


__ADS_3

Malam hari ini suasana terasa sedikit asing dan mencekam, tidak seperti malam - malam biasanya. Seperti akan ada sesuatu hal besar yang akan terjadi.


Bahkan hewan malam seakan menahan nafas mereka begitu sosok dingin dan menakutkan tersebut lewat.


Fan Jianying yang baru saja selesai membuat kalung untuk sang ayahanda tercinta segera membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam.


Begitu dia selesai berpakaian, tiba – tiba saja udara disekitarnya menjadi lebih dingin dari sebelumnya ditmabha dengan aura hitam yang sangat pekat.


“ Apa ini ?....”, batin Fan Jianying penasaran.


Sejenak dia terdiam untuk mengukur seberapa besar kekuatan musuh yang berhasil menyelinap masuk kedalam wilayahnya tanpa terdeksi oleh jaring yang disebarkannya diseluruh area kediaman.


“ Aura hitam ini begitu kuat….”, batin Fan Jianying tercenggang.


Selama berada di negara Huangshan, Fan Jianying tidak pernah menemukan sosok yang memiliki aura hitam yang begitu pekat seperti ini.


Bahkan kaisar Muzeng yang bersekutu dengan iblis aura hitam miliknya masih biasa tidak segelap sosok yang sekarang terlihat mulai mengintainya dari luar.


Perlahan sosok asing tersebut berjalan masuk melalui celah banggunan kamar mandi. Entah mengapa Fan Jianying merasa jika diluar sangatlah sepi tak seperti biasanya.


“ Pasti semua pelayan dan pengawal sudah berhasil dilumpuhkannya….”, batin Fan Jianying waspada.


Fan Jianying terus saja mengikuti kemana arah sosok asing tersebut masuk hingga bayangan hitam tersebut berhenti tepat di batu besar hitam samping bak mandinya.


“ Keluarlah !!!….”, ucap Fan Jianying datar dan dingin.


Mengetahui jika keberadaannnya terdeteksi, tak lama kemudian muncullah ular bersisik perak yang sangat besar dari balik bebatuan disamping bak mandinya tersebut.


Moncongnya sedikit membuka hingga gigi - gigi tajamnya terlihat begitu mengerikan seolah siap menerkan mangsanya dalam satu kali lahap.


Melihat Fan Jianying sama sekali tak bergeming dengan aksi yang ditunjukkannya, ular besar bersisik perak tersebut segara  berubah menjadi sosok lelaki tampan nan mempesona.


Meski hanya melirik dari sudut matanya dapat Fan Jianying lihat jika pesona lelaki tampan  tersebut sangatlah tak biasa.


Seperti ada magnet yang akan menarik setiap orang hingga jatuh kedalam pesonanya waktu bertatapan langsung denga kedua mata birunya yang menyala terang.


Dan Fan Jianying tak mau hal tersebut terjadi padanya hingga memutuskan untuk tetap berada ditempatnya dan mengawasi siluman ular tersebut dari balik kaca riasnya.


Tindakan Fan Jianying ini dapat dikatakan dia secara tegas memberi batasan pada tamu yang masuk kedalam kediamanannya tanpa diundang itu agar tak melewati batasan yang ada.


“ Katakan langsung apa tujuanmu mencariku ?....”, tanya Fan Jianying dengansuara rendah dan dingin.


Melihat Fan Jainying bertanya tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari kaca yang ada dihadapannya sambil menyisir rambut panjangnya, lelaki jelmaan siluman ular itu hanya mampu tersenyum sinis.

__ADS_1


“ Ternyata rumor yang beredar selama ini salah. Anda sangat cantik dan pemberani….”, ucapnya sarkastik


Meski kata – kata lelaki tampan tersebut begitu manis didengar, tapi Fan Jianying merasa itu seperti sebuah sindiran untuknya.


“ Jika tuan hanya berbicara omong kosong sebaiknya lekas angkat kaki dari sini !!!....”, ucap Fan Jianying tajam.


Hahahahaaa…..


“ Wah wah wah….tak kusangka nona begitu pemarah seperti  ini…..”, ucap lelaki asing itu sambil terkekeh.


Dengan lancangnya dia duduk ditepi ranjang sambil menatap kearah Fan Jianying dari pantulan cermin yang ada dihadapan gadis tersebut dengan penuh minat.


Melihat jika lelaki yang ada dibelakangnya itu sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaannya, Fan Jianying diam – diam mengeluarkan jarum beracun dari lengan bajunya dan berbalik menyerang siluman ular perak tersebut.


Wushhh….


Dengan gesit lelaki tersebut berhasil menghindari serangan yang dilancarkan oleh Fan Jianying secara bertubi – tubi itu.


“ Tidak buruk…..”, ucapnya dengan senyum mengejek.


Fan Jianying yang merasa diremehkan tak ingin bermain - main  lagi dan segera mengeluarkan pedang birunya, mengarahkan ujung pedang tersebut tepat dileher lelaki siluman ular perak tersebut.


Melihat Fan Jianying serius ingin membunuhnya, lelaki siluman ular perak tersebutpun berusaha untuk menenangkan amarah gadis yang ada dihadapannya itu.


“ Wow…wow….tenang dulu nona….”, ucap lelaki terseut sambil mengangkat kedua tangannya sedikit panik.


Dia yang awalnya ingin sedikit bermain – main dengan Fan Jianying akhirnya menyudahi niatnya tersebut begitu melihat gadis tersebut menatapnya dengan tajam.


“ Ok…aku akan mengatakan semua hal yang ingin kamu tahu. Sekarang, turunkan dulu pedangmu dari leherku….”, ucap lelaki itu mencoba untuk bernegoisasi.


Melihat jika lelaki yang ada dihadapannya tidak berbahaya, perlahan Fan Jianying pun menurunkan pedangnya tanpa sedikitpun mengendorkan kewaspadaannya.


“ Cepat katakan apa tujuanmu datang kesini ? !!!....”, tanya Fan Jianying dengan nyalang.


Melihat Fan Jianying sudah tak sabar lagi, diapun segera duduk diahadapan gadis itu  dan mulai mengatakan apa maksud kedatangannya malam ini.


Namun, lelaki itu sama sekali tak mengharapkan reaksi Fan Jianying akan biasa saja seperti ini setelah mendengar semua peringatan dan cerita darinya.


Bukan hanya bersikap biasa saja, bahkan gadis tersebut tetap menampilkan wajah datar dan dinginnya sedari tadi. Tanpa ada sedikitpun jejak penasaran disana.


“ Aku tahu jika kamu tak mempercayai ucapanku….tapi, kamu bisa menanyakan hal ini langsung kepada kaisar Huang agar lebih jelas lagi…”, ucap lelaki itu sambil mendesah  pasrah.


“ Apa untungnya aku percaya padamu ?....”, tanya Fan Jianying ketus.

__ADS_1


Belum juga lelaki tersebut menjawab, tiba – tiba ada suara orang berjalan mendekat membuat lelaki siluman ular bersisik perak tersebut segera bangkit dari tempat duduknya dan bersiap untuk pergi.


“ Jika bertemu kaisar Huang, bilang Chenglu dari Foresty menunggu ditempat yang telah disepakai lima belas tahun yang lalu….”, ucapnya sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.


Setelah lelaki siluman  ular perak tersebut menghilang, tiba – tiba suhu didalam ruangan mulai menghangat dan aura mencekam tersebut perlahan menghilang.


Brakkkk….


Bai Cheung masuk dengan wajah panik sambil menatap sang istri yang sedang duduk di kursi dengan pedang biru ditangannya.


Tadi dia sempat merasakan ada uara hitam yang sangat pekat dari arah kamarnya hingga dia berlari cepat takut istri dan calon anaknya terluka.


“ Siapa dia ?...apa dia melukaimu ?....”, tanya Bai Cheung dengan wajah penuh kekhawatiran.


“ Entahlah…dia hanya titip salam buat ayahanda….”, ucap Fan Jianying datar.


Bai Cheung merasa tak senang dengan ucapan istrinya tersebut yang dirasa biasa saja padahal dia sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya tadi.


Setelah menyimpan kembali pedang birunya dalam cincin ruangnya, Fan Jianying yang melihat wajah suaminya ditekuk berjalan menghampiri Bai Cheung sambil bergelayut manja di lengannya.


“ Ayo makan…aku lapar….”, ucap Fan Jianying manja.


Melihat sikap manja sang istri, perlahan kekesalan yang ada di hati Bai Cheung pun menghilang tanpa bekas.


Keduanya segera menuju ruang makan untuk menyantap makan malam yang telah disiapkan disana.


Semua pekerja terlihat biasa saja seperti tak pernah terjadi apapun dalam kediaman. Padahal baru saja ada seorang penyusup yang masuk kedalam kamar majikannya.


“ Kurasa, aku harus menanyakan kepada ayahanda kaisar semua hal secara detail agar jelas….”, batin Fan Jianying bermonolog.


Bai Cheung yang melihat istrinya sempat melamun sesaat segera menyadarkannya dan menyuruhnya untuk segera makan.


Melihat menu yang ada diatas meja adalah makanan kesukaannya, tanpa menunggu waktu lama Fan Jianying segera melahap semuanya hingga habis.


Dia berpikir untuk mengisi energy sebanyak – banyaknya malam ini agar bisa tidur dengan nyenyak karena besok banyak hal yang harus dia lakukan.


Untung saja kehamilannya ini tak terlalu menganggu sehingga dia bisa makan apapun dengan lahap, meski tiap pagi dia masih mengalami muntah – muntah tapi itu tak terlalu parah.


Bai Cheung yang melihat istrinya makan dengan sangat lahap merasa sangat bahagia. Diapun terus mengambilkan lauk kesukaan sang istri dan meletakkannya didalam mangkok Fan Jianying.


“ Makan yang banyak ya sayang…supaya kamu cepat tumbuh besar….”, ucap Bai Cheung sambil mengelus perut Fan Jianying dengan penuh kasih sayang.


Semua pelayan yang melihat kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh tuan muda ketiga Bai tersebut kepada istrinya merasa sangat terharu.

__ADS_1


“ Semoga tuan muda tumbuh sehat didalam perut nyonya hingga waktu lahiran tiba….”, batin pelayan senior Gaeng penuh haru.


Dia sangat berharap moment kebersamaan seperti itu bisa terus dia lihat di kediaman keluarga ketiga Bai.


__ADS_2