
“ Sial !!!...kenapa semua menjadi kacau seperti ini !!!!.....”, teriak Ratu Qinly murka.
Brakkk…….brukkk…...pranggg….
Pranggggg…..Pranggggg….Pranggggg…..
Semua barang yang bisa diraih oleh tangan Ratu Qinly langsung dilemparkannya kesegala arah hingga hancur berkeping – keping di lantai.
Wanita nomor satu di negara Huangshan tersebut sangat murka setelah mendengar jika Ming Huan ditangkap oleh Changyi siang tadi.
Ditambah lagi pelayan yang disuruh untuk mematai – matai pertemuan antara suaminya dengan madam ketiga Bai juga tak kembali lagi. Membuat darah dalam tubuhnya mendidih seketika.
“ Tidak !!!...rencanaku tak boleh gagal !!!....”, guman Ratu Qinly dengan wajah panik sambiul menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“ Aku harus secepatnya membungkam Ming Huan sebelum lelaki tua itu bersuara….”, Ratu Qinly terus berguman sambil berjalan mondar – mandir di dalam kamarnya.
Pengeran Song Yu langsung berlari menuju kediaman ibundanya setelah salah satu pelayan melaporkan jika Ratu Qinly membuat kekacauan dikediamanannya.
Brakkkk….
Pangeran Song Yu membuka kamar ibundanya dengan kasar dan langsung menghampiri wanita yang melahirkannya tersebut dengan wajah panik waktu melihat tangan ibundanya berdarah.
“ Ibunda harus tenang….bukankah itu yang selama ibunda ajarkan kepadaku….”, ucap pangeran Song Yu penuh kelembutan sambil menuntun ibundanya untuk duduk dikursi terdekat.
Diapun segera mengobati dan membalut luka ditangan ibundanya dengan kain. Kemudian menuangkan air kedalam gelas dan membantu ibundanya untuk minum agar hatinya sedikit tenang.
“ Malam ini, lenyapkan pak tua itu sebelum dia mulai membuka mulut !!!....”, perintah Ratu Qinly tajam.
Kali ini pangeran Song Yu tak bisa memenuhi perintah ibundanya karena keberadaan Ming Huan tak mungkin bisa untuk disentuhnya.
“ Kurasa, ini akan sangat sulit….”, ucap pangeran Song Yu mendesah pasrah.
Melihat pangeran Song Yu berkata sedikit gugup, Ratu Qinly merasa firasat buruk mulai menjalar dihatinya. Untuk memperjelas apa yang ada dalam pikirannya diapun kembali bersuara.
“ Jangan bilang Cahngyi membawa laki - laki tua itu ke penjara Hongle sekarang ? !!!.....”, tanya Ratu Qinly dengan kedua mata melotot sempurna karena terkejut.
Pangeran Song Yu hanya bisa menganggukan kepala dengan lemas. Kedua tangan Ratu Qinly pun seketika merosot dari pegangan kursi.
Tubuh wanita itu terasa sangat lemas sekarang. Siapapun di negara Huangshan sangat tahu apa itu penjara Hongle.
Penjara Hongle adalah penjara bawah tanah yang diciptakan oleh kaisar Huang Lo untuk mengurung para pengkhianat dan musuh – musuhnya yang paling berbahaya.
Bukan hanya penjara tersebut tidak bisa ditembus, namun juga tidak bisa dibakar, dirobohkan, ataupun dimasuki oleh sembarang orang.
Selama ini hanya kaisar Huang Lo dan Changyi sebagai salah satu orang kepercayaannya saja yang bisa memasuki penjara tersebut.
Bahkan semua anak kaisar Huang Lo termasuk putra mahkkota Qin Shi Huang yang paling disayang pun tak bisa masuk kedalam penjara Hongle.
__ADS_1
Ratu Qinly yang mulai putus asa akhirnya memutuskan untuk mempercepat pergerakannya sebelum semuanya terlambat.
Dia segera mengutus anak buahnya untuk memberikan kabar kepada jenderal besar Bao agar bersiap – siap untuk membawa pasukannya mendekati ibukota secepatnya.
Dengan posisinya saat ini, Ratu Qinly tak bisa menunggu lebih lama dan akan segera melakukan serangan untuk menggulingkan kekuasaan suaminya agar anaknya bisa segera naik tahta.
Meski pangeran Song Yu merasa jika tindakan ibundanya tersebut sangat terburu – buru, tapi dia juga tak memiliki pilihan lain.
Setelah Ming Huan membuka mulutnya maka bisa dipastikan posisi dirinya dan ibundanya akan terancam.
Bukan tidak mungkin kaisar Huang akan mengambil gelar keduanya dan mendepak ibu dan anak tersebut keluar istana jika sampai kepala keluarga Ming tersebut bersuara.
Malam ini, kekacauan bukan hanya terjadi di Qinlong Palace saja. Namun juga terjadi di kediaman keluarga pertama Bai.
Setelah mengusir semua pelayan agar membiarkannya sendiri malam ini, Bai Axiang yang tampak sangat kacau memikirkan semuanya terlihat sedang asyik minum arak sendirian didalam kediamanannya.
Seakan semua fakta yang datang kepadanya secara bertubi – tubi tak cukup menyakiti hatinya, Bai Axiang kembali dibuat terkejut pada saat kedua anaknya tak mau diajak kembali dengan alasan takut bertemu dengan ibundanya disana.
Meski Bai Axiang berusaha menolak keras fakta yang ada dihadapannya, namun hati kecilnya terus memaksa agar laki – laki itu menggunakan logikanya untuk berpikir.
Tidak ingin terus galau, Bai Axiang pun bertekad akan mencoba menemui mertuanya besok pagi didalam penjara.
Dia ingin mendengarnya sendiri secara langsung apa pembelaan yang akan diberikan oleh mertuanya tersebut kepadanya.
Sementara itu didalam kamar terlihat Fan Jianying sedang mengobati luka lebam diwajah suaminya dengan muka ditekuk.
Bukannya menjadi lembut, mendengar suaminya mengaduh kesakitan Fan Jianying semakin bersemangat untuk menekan luka di pelipis dan sudut bibir suaminya itu dengan tatapan puas.
“ Sudah dong marahnya sayang….iya, aku ngaku salah sudah membuatmu khawatir seperti ini….maaf ya….”, ucap Bai Cheung sambil memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Fan Jianying terlihat berontak dari dekapan sang suami, namun Bai Cheung menahan tubuh ijstrinya tersebut dengan kuat hingga akhirnya gadis itu menyerah.
“ Kenapa tadi kalian tidak saling bawa golok dan saling bunuh saja !!!. Itu akan lebih baik...”, teriak Fan Jianying penuh amarah.
Fan Jianying sangat kesal waktu suaminya datang dengan banyak luka, terutama wajahnya yang lebam karena berkelahi dengan Bai Axiang sang kakak.
Meski Fan Jianying tahu jika suaminya tak bersalah karena Bai Axiang lah yang memulai perkelahian, tapi entah kenapa dirinya masih merasa kesal akan hal itu.
Seharusnya keduanya bisa duduk dan saling berbicara sebelum berkelahi seperti anak kecil begitu.
Bahkan jika perlu, Fan Jianying malah berharap keduanya saling bertarung dengan menggunakan pedang agar kemenangan yang didapatkanpun lebih berkualitas dari pada saling hantam dan berguling di tanah seperti itu.
Bai Cheung yang melihat amarah sang istri belum juga mereda segera mengusap – usap perut istrinya itu dengan lembut.
“ Lihatlah nak…ibundamu masih marah dan tidak mau memaafkan ayah….”, Bai Cheung mengadu kepada anaknya yang ada dalam perut dengan wajah sedih.
Melihat hal itu, Fan Jianying yang masih kesal dengan suaminya segera mendorong tubuh Bai Cheung dan langsung beranjak naik keatas ranjang.
__ADS_1
Tak putus semangat, Bai Cheung pun segera menyusul sang istri, masuk kedalam selimut yang sama dengan Fan Jianying dan langsung memeluknya dengan erat dari belakang.
“ Maaf…aku janji tak akan membuatmu khawatir lagi seperti ini….”, bisik Bai Cheung penuh penyesalan.
Mendengar ucapan suaminya yang begitu tulus, perlahan hati Fan Jianying pun luluh dibuatnya. Bagaimanapun ini semua bukanlah kesalahan suaminya.
Semuanya gara – gara ulah kakak iparnya yang berhati busuk, madam Chou. Meski kejiwaannya sedikit terganggu, namun nyatanya wanita ular tersebut mampu berakting hingga membuat Bai Axiang terhasut.
Tiba – tiba pikiran Fan Jianying beralih kepada Ming Huan. Selama ini dia merasa jika ayah madam Chou tersebut tak sesederhana kelihatannya.
Dia merasa jika Ming Huan pastilah menyimpan rahasia besar hingga membuatnya bisa bergerak bebas seperti itu didalam istana.
Dan feeling Fan Jianying mengatakan jika hal tersebut pasti ada hubungannya dengan Ratu Qinly.
Wanita licik yang penuh dengan ambisi berbahaya. Itulah kesana yang tertanam dalam benak Fan Jianying pada saat pertama kali bertemu dengan Ratu Qinly di istana.
“ Kurasa, aku harus menemui laki – laki tua itu secepatnya….”, batin Fan Jianying bermonolog.
Setelah memastikan suaminya tertidur pulas, Fan Jianying perlahan keluar dari dalam kamar dengan mengendap – endap.
“ Dafu…ikut aku…”, ucap Fan Jianying datar.
Pengawal bayangan tersebut segera mengikuti langkah kaki majikannya dari arah belakang. Keduanya segera melesat pergi menuju istana tempat dimana penjara Hongle berada.
Tanpa keduanya sadari Bai Cheung dan Liam mengikuti pergerakan sang istri dari belakang.
Meski dia tahu kemana tujuan sang istri, tapi dia juga tak bisa mencegahnya. Maka dari itu, tadi dia pura – pura tertidur agar bisa mengikuti dan mengawasi istrinya dari kejauhan.
“ Tuan, masuk ke penjara Hongle itu tak mudah. Apa sebaiknya kita peringatkan nyonya ?....”,Liam terlihat cemas memikirkan bagaimana nasih nyonya mudanya itu jika memaksa masuk kepenjara yang terkenal tak bisa ditembus tersebut.
“ Sebaiknya kita jangan ikut campur dan mengawasi saja dari kejauhan….”, ucap Bai Cheung sambil terus menatap pergerakan sang istri dengan awas.
Setelah berhasil menembus pertahanan istana, Fan Jianying pun tiba di depan sebuah batu besar dengan banyak semak belukar yang menutupinya.
Siapapun pasti tak akan menyangka jika dibalik batu besar tersebut ada ruangan yang berupa penjara bawah tanah milik kaisar Huang Lo.
“ Kamu tunggu disini dan amankan kondisi sekitar hingga aku kembali….”, perintah Fan Jianying tajam.
Diapun segera mengarahkan satu tangannya dan begitu ada sinar terang keluar dari telapak tangannya dan membelah batu besar tersebut, diapun langsung masuk dan menghilang dari pandangan mata.
“ Seperti yang kuduga…..”, guman Bai Cheung tersenyum masam.
Liam tak bisa untuk tidak terbelalak melihat bagaimana miudahnya Fan Jianying masuk kedalam batu tersebut.
Namun tidak dengan Bai Cheung yang sudah mengetahui dengan jelas jika istrinya itu bukanlah gadis biasa.
Jika tidak, mana mungkin kaisar Huang begitu melindungainya seperti itu hingga tak ada yang menyadari keberadaannnya sampai segel kekuatan yang ada dalam tubuhnya terbuka.
__ADS_1