
Fan Jianying yang masih berada di ruang pribadi sang kakak terlihat sedikit linglung untuk sesaat memikirkan semuanya.
Pada saat Fan Jianying larut dalam pikirannya, tiba – tiba dia dikejutkan oleh benda kenyal dan hangat yang menghisap bibirnya dengan sedikit kuat.
“ Kakak !!!...”, teriak Fan Jianying sambil berusaha mendorong tubuh kaisar Qin Shi Huang dengan kuat.
Namun, gerakan Fan Jianying masih bisa ditahan oleh kaisar Qin Shi Huang yang sudah kembali memeluk tubuhnya dengan possesiv.
“ Manis….”, ucap kaisar Qin Shi Huang sambil mengusap bibir Fan Jianying yang sedikit berdarah karena ulahnya dengan jempolnya.
“ Apa yang kakak lakukan ?!!!!....”, ucap Fan Jianying melotot marah.
“ Kenapa Fan’er marah ?...bukankah kita berdua saling mencintai….”, ucap kaisar Qin Shi Huang dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
“ Siapa bilang Fan’er mencintai kakak ?....”, ucap Fan Jianying tajam
“ Hanya cinta sejati yang bisa membuat kristal kehidupan keluar dari dalam tubuhmu….”, ucap kaisar Qin Shi Huang kembali mengingatkan Fan Jianying.
“ Ta…tapi, Fan’ er sudah bersuami kak…”, ucap Fan Jianying gugup.
“ Fan Jianying yang sudah bersuami, tapi Aurela Wilson masih lajang….dan kamu adalah Aurela. Jadi, tidak salah jika aku mencintaimu. Yang aku cintai sejak awal bukan tubuh ini, tapi jiwa yang ada didalamnya….”, ucap kaisar Qin Shi Huang menjelaskan.
Mendengar ucapan kaisar Qin Shi Huang entah kenapa jantung Fan Jianying tiba – tiba berdetak dengan kencang.
Kaisar Qin Shi Huang yang menyadari kegugupan Fan Jianying tak mensia – siakan kesempatan yang ada\, diapun segera m*****t bibir Fan Jianying dengan rakus dan penuh nafsu.
Fan Jianying terus merontah agar dilepaskan oleh sang kakak. Namun\, tindakannya tersebut malah memicu kaisar Qin Shi Huang semakin memperdalam c*******a hingga membuatnya kehabisan nafas.
Ating yang melihat kegilaan junjungannya tersebut hanya bisa terbelalak tanpa bisa melakukan apapun karena tak punya nyali.
Merasa tak ada jalan lain, Fan Jianying pun segera menggunakan kekuatannya hingga tubuh kaisar Qin Shi Huang terpental kebelakang dengan keras dan langsung melarikan diri begitu ada kesempatan.
“ Sangat manis….”, ucap kaisar Qin Shi Huang terkekeh sambil mengusap bibirnya yang basah oleh aksinya tadi dengan jempolnya.
Fan Jianying yang berhasil lolos dari ruang pribadi kaisar Qin Shi Huang terlihat kelelahan dengan nafas tersenggal – senggal.
__ADS_1
“ Putri…anda jangan berlarian seperti itu lagi. Sangat berbahaya….”, ucap salah satu pelayannya mengingatkan.
Fan Jianying baru saja sadar jika para pelayan juga ikut berlarian dengannya waktu mendapati dirinya keluar dari ruangan sang kakak sambil berlari terbirit - birit.
Untuk itu dia berhenti sejenak. Setelah nafasnya stabil, Fan Jianying pun mulai melangkah dengan anggun menuju kediamanannya.
Namun, langkah kakinya terhenti waktu melihat sang sumi juga sedang menuju Meigui Palace sama seperti dirinya.
“ Gawat…dia tak boleh melihatku kacau seperti ini….”, batin Fan Jianying panik.
Sebelum sang suami melihat dirinya, Fan Jianying buru – buru berbelok arah menuju Huangwei Palace untuk menemui ayahandanya terlebih dahulu sebelum kembali ke Meigui Palace.
Huang Lo terlihat menautkan kedua alisnya hingga menukik ke bawah dengan tajam waktu melihat sang putri berjalan tergesa – gesa menuju kediamanannya.
“ Kenapa dia terlihat seperti sedang menghindari suaminya ?....”, batin Huang Lo penasaran.
Dan begitu Fan Jianying sudah mendekat, Huang Lo terlihat menatap putrinya tersebut dengan intens.
Tak lama kemudian diapun mulai berdecak heran sambil menggeleng – gelengkan kepala melihat bibir Fan Jianying yang memerah dan sedikit bengkak.
“ Dasar anak nakal….”, ucap Huang Lo sambil menepuk kepala Fan Jianying pelan.
Fan Jianying yang masih belum sadar akan keadaannya hanya bisa terbenggong untuk sesaat sambil menatap ayahnya dengan tatapan penasaran.
“ Sudah mau melahirkan masih saja berulah….”, guman Hung Lo yang lagsung mengandeng tangan sang putri dan langsung mengajaknya untuk masuk kedalam kediaman.
Melihat putrinya masih binggung, Huang Lo segera mengarahkan pandangannya kearah bibir Fan Jianying yang merah dan sedikit bengkak tersebut.
“ ohhh…in..ini….”, belum sempat Fan Jianying menjelaskan Hung Lo sudah memotong ucapannya.
“ Biar nanti ayahanda yang akan memarahi kakakmu…Fan’er disini dulu temani ayah ngobrol sebentar…..”, ucap Hung Lo sambil memerintahkan pelayan untuk menyiapkan teh dan kudapan untuk putrinya.
Huang Lo sangat tahu jika Bai Cheung adalah lelaki pencemburu. Jika melihat putrinya pulang dengan kondisi seperti itu setelah bertemu kakaknya.
Bukan tidak mungkin menantunya itu akan menghajar putra sulungnya itu saat ini juga. Namun, Huang Lo juga tak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada Qin Shi Huang karena perasaan cinta yang tak seharusnya tetap dia rawat hingga tumbuh subur dihatinya seperti itu.
__ADS_1
Setelah berbasa – basi sedikit, Fan Jianying pun mulai meminta saran kepada ayahandanya mengenai takdir hidupnya tersebut.
“ Jika langit sudah berhendak demikian, kita hanya bisa pasrah menerimanya dengan lapang dada. Dan jika kaisar langit mengatakan Fan’er mungkin bisa kembali lagi setelah melakukan beberapa amalan, semua langit yang menentukannya. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha sebaik dan semampu yang kita bisa….”, ucap Huang Lo bijaksana.
Mendengar ucapan sang ayah, hati Fan Jianying sedikit tenang. Takdir sudah tak bisa dirubah lagi dan hanya bisa pasrah menerimanya.
Jika seandainya dia masih diberi kesempatan untuk bisa datang ketempat ini lagi, maka kembali lagi, takdirlah yang berbicara.
Setelah mendapatkan beberapa petuah bijak dari ayahandanya, Fan Jianying yang merasa jika kondisi bibirnya sudah normal kembali berinisiatif untuk kembali ke kediamanannya.
Sepanjang perjalanan, Fan Jianying memikirkan semua hal yang terjadi hari ini. Tentang perasaannnya, maupun takdir hidup yang seolah – olah tak membiarkannya untuk terus mencecap kebahagiaan.
Karena sibuk dengan pemikirannya sendiri, tak terasa kakinya sudah tiba di Meigui Palace. Bai Cheung yang melihat istrinya datang dalam kondisi sedikit linglung segera membawanya kedalam kamar untuk beristirahat.
“ Jika capek, kenapa tidak pulang dan beristirahat. Jangan memaksa untuk menyelesaikan semuanya secepatnya. Setidaknya kita masih ada waktu hingga anak kita lahir kedunia….”, ucap Bai Cheung dengan tatapan cemas.
Melihat suaminya penuh perhatian seperti itu kepadanya, Fan Jianying yang selama kehamilan sedikit sensitive tiba – tiba menangis sambil memeluk erat tubuh suaminya.
“ Maafkan aku suamiku…aku sudah melakukan banyak kesalahan hari ini….”, ucap Fan Jianying berderai air mata.
Melihat istrinya menangis, Bai Cheung hanya bisa menenangkannya. Dia sudah tak terkejut lagi dengan sikap istrinya yang seperti itu.
Sejak hamil, istrinya itu memang lebih sensitiv jika dibandingkan sebelumnya. Dia bisa merasa sangat sedih atau bahagia hanya dalam waktu cepat.
Perubahan hormon ini sudah tak membuat Bai Cheung asing lagi. Yang bisa dia lakukan hanyalah berusaha untuk menenangkan hati sang istri jika sudah seperti ini.
“ Aku tidak marah…aku hanya menghawatirkan kondisi kesehatanmu saja. Hanya itu….”, ucap Bai Cheung sambil membelai lembuat kepala Fan Jianying yang ada dalam dekapannya.
Mendengar nada suaminya yang lembut dan menyejukkan dihati membuat rasa bersalah dalam hati Fan Jianying semakin dalam.
Apalagi waktu mengingat jika dia sempat menikmati ciuman panas yang diberikan oleh kakak tirinya tadi.
Membuatnya terus meruntuki kebodohannya karena masih saja jatuh dalam jeratan pesona sang kakak.
“ Fan’er janji….mulai sekarang, Fan’er akan mendengarkan semua ucapan suami….”, ucap Fan Jianying sesenggukan.
__ADS_1
“ Gadis baik….”,ucap Bai Cheung sambil mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta.