
Tepat sebelum Bai Cheung dan Fan Jianying berangkat ke istana, surat dari Bai Hongli sampai di kediaman Bai.
Dalam surat tersebut Bai Hongli mengatakan jika dirinya akan menggunakan semua jasa yang telah didapatkan oleh keluarga Bai untuk memohon pengampunan kepada kaisar jika sampai keluarganya di kaitkan dengan permasalahan yang menimpah Bai Wang.
Bai Hongli berpikir jika tindakan tercela yang dilakukan oleh Bai Wang adalah kesalahan pribadi putra keduanya itu.
Dan sama sekali tidak melibatkan keluarga besarnya. Hal itu bisa dibuktikan dengan tetap terjaganya keamanan di berbagai daerah dinegara Huangshan dibawah pengawasannya ataupun putra pertamanya, Bai Axiang.
Bahkan anak bungsunya Bai Cheung juga berhasil menumpas pemberontak dan membasmi habis hewan mutasi yang ada diwilayah perbatasan timur negara Huangshan.
Dan hal itu menurut Bai Hongli bisa dijadikan bahan pertimbangan kaisar Huang dalam mengambil keputusan nantinya terkait permasalahan tersebut.
“ Ternyata, ayahmu satu pemikiran denganmu….”, ucap matriark Bai sedikit lega.
Dengan senyum mengembang, matriark Bai mengantar kepergian cucunya dengan rasa optimis yang tinggi.
Surat yang dikirim oleh Bai Hongli membuat semua orang merasa tenang. Selama ini keluarga Bai selalu setia dan memiliki kontribusi yang tinggi untuk negara.
Jadi mereka tidak perlu takut menghadapi apapun rintangan yang datang menghadang di depan mereka.
Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit, gerbang istana sudah mulai terlihat didepan mata.
Fan Jianying mengenggem tangan suaminya yang terasa dingin sambil tersenyum manis dan berkata “ Percayalah, semua akan baik – baik saja….”.
Kata – kata Fan Jianying seketika membuat hati Bai Cheung menghangat. Diapun mulai tersenyum dan langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat.
“ Terimakasih untuk semuanya, Fan'er….”, ucap Bai Cheung sambil mengecup kening istrinya dengan lembut.
Begitu kereta berhenti, keduanya segera keluar dari dalam kereta kuda. Kasim yang menunggu kedatangan mereka segera membawa keduanya menuju kediaman kaisar Huang.
Meski sudah pernah masuk kedalam istana untuk bertemu dengan permaisuri Wei beberapa waktu yang lalu.
Tapi Fan Jianying masih belum bisa menghilangkan rasa kekagumannya akan keindahan yang ada dalam istana.
Langkah kaki Fan Jianying terhenti waktu dia melewati jembatan dimana ada sungai kecil yang indah. Selain ada banyak ikan hias disana, bunga teratai terlihat tumbuh subur disepanjang aliran sungai kecil buatan tersebut.
Langkah Bai Cheung ikut terhenti sejenak dan melihat kemana arah tatapan mata sang istri. Setelah tahu apa yang diinginkan istrinya, Bai Cheungpun mulai mendekat dan berbisik.
“ Aku akan buatkan sungai kecil yang indah seperti ini dikediaman untukmu….”, bisik Bai Cheung sambil tersenyum.
Kedua mata Fan Jianying langsung berbinar terang waktu mendengar perkataan suaminya itu.
Dia terlihat beberapa kali mencuri pandang kearah suaminya sambil berpikir “ Sejak kapan dia menjadi peka seperti itu….”.
Sikap Bai Cheung yang pengertian seperti itu membuat Fan Jianying merasa bahagia. Bukan hanya lebih perhatian, suaminya itu sekarang lebih peka terhadap sekitarnya, terutama dirinya.
Perubahan sikap Bai Cheung ini dirasa Fan Jianying cukup bagus. Bukan hanya untuknya, tapi juga bagi seluruh keluarga besar Bai.
Kadang Fan Jianying berpikir, apakah suaminya itu bisa membaca pikirannya sehingga bisa mengetahui apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Melihat senyum ceria diwajah istrinya, Bai Cheung merasa sangat bahagia. Dalam kehidupan ini, dia akan berusaha untuk melupakan balas dendamnya dan mulai mencari kebahagiaannya sendiri.
Sambil memegang erat tangan istrinya, Bai Cheung melangkah memasuki halaman kediaman kaisar Huang hingga kasim mengumumkan kedatangan keduanya dengan lantang.
__ADS_1
Begitu masuk, keduanya segera memberikan salam hormat kepada kaisar Huang dengan sopan. Dan juga kepada Ratu Qilin yang kebetulan ada disana.
Dari sudut matanya dapat Fan Jianying lihat, Kaisar Huang berdiri tegak dengan pakaian kebesaran berwarna emas.
Meski usianya sudah lebih dari setengah abad, kaisar Huang sama sekali tidak kehilangan sosoknya yang gagah dan berwibawa.
Matanya yang hitam begitu dalam dan tak bisa dibaca. Sikap tenang yang ditunjukkannya membuat orang yang berada dihadapannya akan langsung memiliki sikap hormat tanpa diminta.
Tepat disamping kaisar, dapat Fan Jianying lihat wanita cantik mengenakan gaun hijau yang rumit dan terlihat berusia sekitar empat puluh tahunan.
Wanita itu memiliki sosok tinggi dan langsing. Bajunya diikat tepat dibawah dadanya hingga menekannya, membuatnya terlihat menggoda.
Dapat Fan Jianying rasakan jika wanita cantik paruh baya tersebut memancarkan aura yang penuh kebanggaan dan kekuatan dengan pandangan tajam seakan mengintimidasi lawan bicaranya.
Wajahnya full riasan dengan bibir merah merona yang menggoda. Lirikan matanya seperti magnet yang mampu menarik lawan jenis untuk mendekat namun tak mampu untuk meraihnya.
Inilah wanita paling berkuasa didalam istana kekaisaran saat ini, siapa lagi jika bukan Ratu Qinly.
Bentuk matanya yang seperti kucing tersebut melirik Fan Jianying dan Bai Cheung dari sudut matanya secara bergantian.
Seperti seekor binatang buas yang ingin ingin menerkam mangsanya saat ini juga begitu mereka lengah.
Meski cantik, tapi Fan Jianying masih merasa jika permaisuri Wei lebih pantas menjadi ibu negara karena sikap anggun dan bijaksana yang dimiliki ibunda pangeran Wei Jie tersebut.
Serta aura keibuan yang terpancar membuat siapa saja yang berhadapan dengannya akan merasa nyaman sekaligus segan terhadapanya.
Lamunan Fan Jianying buyar begitu ada suara berat yang berkumandang lantang di gendang telinganya.
Dapat semua orang lihat Ratu Qinly merasa tak senang dengan perlakuan suaminya yang dianggap telah mengusirnya dari ruangan tersebut.
Melihat tatapan suaminya yang penuh ancaman, Ratu Qinly yang hendak memprotes akhirnya mengurungkan niatnya dan berjalan cepat meninggalkan ruangan.
“ Aku bisa berjalan sendiri….”, ucap Ratu Qinly sewot waktu sang kasim menunjukkan jalan dihadapannya.
Namun sebelum pergi, dia sempat melayangkan tatapan membunuh kepada Bai Cheung dan Fan Jianying.
Api kemarahan terlihat jelas berkobar dikedua mata Ratu Qinly. Dia sama sekali tak menyangka jika semua rencana yang telah disusunnya sejak lama bisa hancur berantakan oleh Bai Cheung dalam waktu singkat.
Begitu sampai di luar kediaman kaisar, Ratu Qinly berhenti sejenak dan tak lama kemudian muncul sosok hitam berjongkok disampingnya dengan sikap hormat.
“ Cari informasi tentang kedatangan Bai Cheung keistana….”, perintah Ratu Qinly tegas.
Pasukan bayangan milik Ratu Qinly segera melesat pergi untuk mencuri dengar pembicaraan antara kaisar Huang dengan tamunya tersebut.
Setelah kepergian Ratu Qinly, Bai Cheung dan istrinya segera duduk dikursi yang telah disediakan untuk mereka.
Ketika kaisar Huang melihat wajah Fan Jianying, sekilas ada pancaran rasa rindu yang mendalam dari sorot matanya yang awalnya terlihat sangat tenang.
Namun, satu detik berikutnya wajahnya kembali berubah datar dan tenang seperti awal. Seolah – olah tidak ada apa yang baru saja terlihat hanya sebuah ilusi.
Meski hanya sebentar, namun perubahan ekpresi kaisar Huang tersebut bisa Fan Jianying dan Bai Cheung lihat.
Tak lama kemudian kasim memberitahukan jika permaisuri Wei, pangeran keempat Wei Jie dan putri Wei Xieun memasuki ruangan.
__ADS_1
Permaisuri Wei tak bisa menyembunyikan pancaran kerinduan yang cukup dalam kepada putrinya itu.
Tapi semua itu berusaha dia tahan sampai suaminya sendiri lah yang menjelaskan kepada gadis tersebut mengenai identitasnya.
Fan Jianying dan Bai Cheung hanya bisa berpandangan dengan raut wajah binggung “ Kenapa mereka juga dipanggil kesini, ada apa ini?....”.
Setelah permaisuri Wei dan kedua anaknya duduk, Bai Cheung dan Fan Jianying segera berdiri dan memberi hormat kepada semuanya.
Setelah acara makan siang selesai, kaisr Huang pun segera mengatakan inti tujuan dirinya memanggil keduanya datang keistana.
Jderrrrr……
Bagai petir disiang bolong, Fan Jianying sangat terkejut waktu mengetahui jika dia adalah anak bungsu dari permaisuri Wei yang bernama asli Wei Fei.
Meski sangat terkejut tapi Fan Jianying masih bisa mengontrol raut wajahnya agar tetap tenang.
Bukan hanya Fan Jianying dan suaminya yang terkejut dengan fakta tersebut, putri Wei Xieun juga sangat terkejut atas fakta tersebut.
Dia sama sekali tak menyangka jika gadis yang sempat dimusuhinya itu adalah adik kandungnya yang selama ini dikabarkan telah mati setelah dilahirkan.
Tapi sekarang dia baru memahami, kenapa ibundanya begitu perhatian kepada Fan Jianying.
Bahkan permaisuri Wei sempat jatuh sakit waktu mendengar jika Fan Jianying menderita penyakit yang sama dengan mendiang Ratu Shua.
Semua orang terlihat memperhatikan Fan Jianying dengan perasaan campur aduk karena wajah gadis itu masih tetap datar, tanpa ekspresi.
Meski sorot matanya sempat ada keterkejutan waktu mendengar jika dia adalah putri kandung kaisar Huang dan permaisuri Wei.
Tapi itu hanya sesaat dan wajahnya kembali datar seperti sedia kala. Kaisar Huang terlihat mengambil nafas panjang sebelum kembali bersuara.
“ Fan’er, ikut aku sebentar…”, ucap kasiar Huang mulai beranjak dari tempat duduknya.
Fan Jianying patuh mengikuti kaisar Huang dari arah belakang tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
Diamnya Fan Jianying bukan karena dia syok atas apa yang baru saja didengarnya tapi lebih kearah apa maksud tersembunyi dari ucapan kaisar Huang hingga membeberkan identitasnya sekarang.
Jika dia ingin melindungi keselamatannya, bukankan seharusnya seumur hidup rahasia tersebut beliau sembunyikan.
Apalagi keadaan dalam istana saat ini boleh dibilang dalam keadaan genting, meski tidak banyak yang menyadarinya.
“ Rasa penasaranmu akan segera terjawab sebentar lagi…bersabarlah…”, ucap kaisar Huang tanpa menghentikan langkah kakinya dan terus berjalan kedalam ruangan yang semakin lama terasa semakin gelap.
Meski begitu, Fan Jianying tidak takut dan terus mengikutinya dari arah belakang hingga dia tiba disebuah ruangan minim pencahayaan dengan tembok batu memiliki gambar naga melingkar yang sangat besar.
“ Long Wang….”, guman Fan Jianying sedikit ragu.
Sreekkkk…
Tiba – tiba tembok tersebut bergeser dan menampilkan ruangan yng cukup besar dihadapannya. Tanpa membuang waktu, kaisar Huang segera mengajak Fan Jianying masuk kedalam ruangan tersebut.
“ Benar – benar sang terpilih….”, ucap kaisar Huang terkekeh.
Begitu keduanya masuk, pintu tersebut langsung tertutup dan gambar naga melingkar tersebut langsung hilang dan hanya menyisakan tembok batu tanpa celah sehingga tak akan ada orang yang menyadari jika dibalik tembok tesebut ada ruang rahasia.
__ADS_1