
Putra mahkota Qin Shi Huang terliat menaikkan satu alisnya denagn tatapan heran waktu melihat Bai Cheung datang ke ruang kerjanya pagi ini.
“ Bukankah kamu sedang ada pembicaraan penting dengan ayahanda, kenapa malah kemari ?....”, tanya putra mahkota Qin Shi Huang dengan tatapan penuh selidik.
“ Tampaknya, Ayahanda Kaisar sangat merindukan Fan’er sehingga saya memberikan waktu untuk mereka berdua bercengkerama….”, ucap Bai Cheung sambil tersenyum lebar.
“ Sungguh mulia sekali hati tuan muda ketiga Bai ini….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang sarkastik.
Mendengar sindiran tajam yang diberikan oleh kakak tiri Fan Jianying, Bai Cheung hanya bisa tersenyum untuk menutupi sikap canggungnya.
Meski dia berada dikubu putra mahkota Qin Shi Huang, namun Bai Cheung tidaklah terlalu dekat dengan putra pertama kaisar Huang itu.
Dia lebih senang mendiskusikan semua hal dengan pangeran ke empat Wei Jie yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.
Namun kali ini dia mencoba mengesampingkan perasaannya itu demi bisa menjatuhkan dan menjebloskan Ming Huan ke dalam penjara.
“ Ayahanda kaisar menginginkan hamba berdiskusi dengan anda mengenai Ming Huan….”, Bai Cheung pun langsung mengutarakan maksud kedatagannya pagi ini ke ruang kerja putra mahkota Qin Shi Huang.
Mendengar nama Ming Huan disebut, putra mahkota Qin Shi Huang pun terlihat antusias. Diapun langsung mempersilahkan adik iparnya itu untuk duduk.
Selanjutnya, keduanya pun segera membahas semua hal mengenai kecurangan demi kecurangan yang telah dilakukan oleh ayah dari kakak ipar pertamanya itu.
“ Apa kamu yakin akan hal ini ?....”, tanya putra mahkota Qin Shi Huanng tajam.
“ Sangat yakin….”, ucap Bai Cheung sambil menunjukkan beberapa bukti yang sengaja dibawanya pagi ini.
Pada awalnya bukti tersebut sengaja Bai Cheung bawa untuk diperlihatkan kepada kaisar Huang pada pertemuannya pagi ini.
Tapi tampaknya ada hal penting lainnnya yang membuat ayah mertuanya itu tak terlalu membahas masalah Ming Huan dan menyarankannya untuk mendiskusikan hal tersebut dengan kakak iparnya, putra mahkota Qin Shi Huang.
“ Bukti ini sudah lebih dari cukup untuk menyeretnya masuk kedalam jeruji penjara….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang tajam.
Diapun segera merapikan dan menyimpan semua bukti yang dibawa oleh Bai Cheung kedalam brankas pribadinya.
Selanjutnya dia segera menyuruh pengawal pribadinya untuk membuat surat kepada kepala departemen peradilan istana agar membuat surat penangkapan untuk Ming Huan secepatnya.
Sementara itu, Permaisuri Wei yang mendapatkan kabar jika Fan Jianying ada diruangan suaminya segera pergi untuk bertemu dengan putri bungsu yang sangat dirindukannya itu.
“ Yang Mulia permaisuri, pelan – pelan….”, teriak pelayan pribadi permaisuri Wei dari belakang memperingatkan junjungannya agar lebih berhati – hati dalam berjalan.
__ADS_1
Meski tubuhnya masih sedikit lemah, namun demi bertemu dengan sang putri tercinta Permaisuri Wei terlihat sangat antusias dan berjalan sangat cepat hingga menyebabkannya beberapa kali hampir terjatuh karena tidak menjaga keseimbangan tubuhnya.
Salah satu pelayan Ratu Qinly yang tanpa sengaja melihat permaisuri Wei berjalan terburu – buru menuju ruang kerja kaisar Huang bergegas menuju Qinlong Palace untuk melaporkan semuanya.
“ Apa ?!!!...permaisuri terlihat berjalan buru – buru menuju keruang kerja kaisar, mengapa ?....”, tanya Ratu Qinly penuh kecurigaan.
“ Melaporkan Yang Mulia Ratu. Hari ini Yang Mulia Kaisar mengundang Bai Cheung dan istrinya masuk kedalam istana. Saya rasa permaisuri Wei menuju ruang kerja Yang Mulia Kaisar ingin bertemu dengan madam ketiga Bai tersebut…”, ucap pelayan tersebut melaporkan dengan sikap hormat.
“ Lagi – lagi keluarga Bai !!!....”, batin Ratu Qinly geram.
Diapun segera menyuruh salah satu pelayannya untuk mencari informasi mengenai kedatangan Bai Cheung dan istrinya kali ini.
“ Apapun yang terjadi pastikan informasi yang kamu dapatkan sampai ketelingaku…..”, ucap Ratu Qinly tajam.
Dia memberi peringatan tersebut kepada pelayannya bukan tanpa sebab. Setiap orang yang diperintahkan untuk mencari informasi kedatangan Bai Cheung dan istrinya ke istana selalu gagal dan tidak pernah kembali lagi.
Hal itu tentu saja membuat Ratu Qinly sangat geram. Jika sampai anak buahnya dihabisi, pasti ada sesuatu hal yang sangat penting dibalik pertemuan tersebut yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
Dan kali ini, dia tak ingin kembali mengalami kegagalan serupa dengan membiarkan pelayannya pergi tanpa kembali.
Sementara itu, permaisuri Wei yang sudah berada diruang kerja kaisar Huang tak bisa untuk menahan rasa bahagianya begitu melihat putrinya bercengkerama hangat dengan sang suami.
Dia segera memeluk erat tubuh munggil sang putri dan mengecup kedua pipinya dengan penuh cinta.
“ Bagaimana keadaanmu ?....kehamilanmu tidak ada masalah kan ?....”, tanya permaisuri Wei dengan tatapan cemas.
“ Seperti yang ibunda lihat, Fan’er baik – baik saja dan tak kurang satu apapun….”, ucap Fan Jianying berusaha menenangkan.
Mendengar putrinya berkata seperti itu, permaisuri Wei semakin merasa sedih hingga tak terasa air matanya mulai mengalir di kedua pipinya.
Fan Jianying pun segera mengusap dengan lembut air mata yang mengalir di pipi ibundanya sambil tersenyum hangat.
“ Ibunda jangan seperti ini…ini tak baik untuk kondisi kesehatan ibunda…..”, ucap Fan Jianying penuh perhatian.
Fan Jianying pun langsung mengenggam kedua tangan permaisuri Wei dengan erat, berharap ibundanya itu tak bersedih lagi.
“ Maaf, sudah membuat Fan’er cemas. Ibunda sangat merindukanmu, itu saja….”, ucap Permaisuri Wei mencoba menenangkan gejolak hatinya oleh luapan kebahagiaan.
Keduanya pun segera tersenyum lembut dengan tatapan penuh rasa cinta. Aktivitas tersebut sempat disaksikkan oleh pelayan suruhan Ratu Qinly.
__ADS_1
Namun sayangnya, nyawa pelayan tersebut tak panjang. Diapun merenggang nyawa, sama dengan nasib orang – orang suruhan Ratu Qinly sebelumnya.
Sementara itu departemen peradilan istana, Changyi yang baru saja mendapatkan surat dari putra mahkota Qin Shi Huang yang mendapatkan persetujuan dari kaisar Huang Lo segera menjalankan tugasnya untuk menangkap Ming Huan.
Ming Huan yang tak mengetahui jika kebebasannya sebentar lagi akan terengut terlihat sedang bersenang – senang dengan selirnya di halaman belakang kediaman Ming.
Tokkk…tokkk….tokkk….
“ Tuan besar…gawat tuan besar…”, teriak salah satu pelayan keluarga Ming dengan suara panik.
Ming Huan yang merasa jika kesenangannya terganggu menampilkan wajah gelapnya. Diapun langsung mengambil pakaiannya dan membuka pintu dengan kasar hingga membuat pelayan yang ada dibalik pintu terjungkal.
“ Katakan dengan jelas, apa yang berani membuatmu mengangguku seperti ini !!!....”, hardik Ming Huan dengan wajah memerah penuh amarah.
“ Ampun tuan besar…ada Tuan muda Changyi dari peradilan istana menunggu anda di depan….”, ucap pelayan tersebut gugup sambil bersujud dan membenturkan keningnya berkali - kali di atas lantai dihadapan Ming Huan.
“ Changyi ?..Untuk apa dia kesini ?.....”, guman Ming Huan sambil menautkan dua alisnya hingga menekuk ke bawah dengan sempurna.
Selama ini Ming Huan merasa jika dirinya tak pernah berselisih paham dengan anak kedua dari keluarga Chang yang terkenal sangat arogan dan keji tersebut.
Tak sedikit para pejabat yang bersinggungan dengannya pasti akan mendapatkan permasalahan serius dalam pekerjaannya.
Meski sikapnya buruk dan sewenang – wenang, tapi karena keberaniannya dalam menegakkan keadilan membuat kaisar Huang Lo sangat menghargai kinerja pemuda tersebut hingga memberi kepercayaan lebih kepadanya.
Dan kali ini di datang ke kediaman Ming, ini bukanlah pertanda baik bagi Ming Huan yang sangat paham jika Changyi ada di suatu tempat pasti tempat tersebut bermasalah.
Dengan perasaan campur aduk, Ming Huan bergegas menuju ruang tamu kediaman Ming dan mencoba menyambut Changyi dengan hangat.
“ Wah…ada angin apa yang membuat tuan muda Changyi mengunjungi kediaman Ming siang ini….”, ucap Ming Huan ramah.
Changyi yang paling tak suka berbasa – basi dan beramah tamah dengan para pejabat langsung mengeluarkan surat tugas penangkapan untuk Ming Huan.
“ Anda pasti salah…saya tidak mungkin melakukan percobaan pembunuhan kepada madam muda ketiga Bai…pasti ada seseorang yang mencoba memfitnaku….”, ucap Ming Huan gugup.
Melihat Ming Huan hendak kabur, dengan sigap anak buah Changyi pun langsung menangkapnya.
“ Lepaskan aku….aku akan membuat perhitungan dengan kalian semuanya….”, teriak Ming Huan memberontak.
Namun usahanya tersebut sia – sia, para petugas segera menggelandang lelaki tua itu masuk kedalam kereta yang telah disiapkan dan langsung membawanya kedalam penjara.
__ADS_1