
Sesuai dengan rencana awal yang telah dibuat, pagi – pagi sekali Heyna ditemani oleh dua orang pasukan bayangan milik putra mahkota Qin Shi Huang pergi kepelabuhan Aralian.
Tujuannya adalah untuk merubah rute para pedagang agar tidak melalui kota Hifen menuju ibukota tapi dialihkan melalui kota Xiantaro.
Semua ini Fan Jianying lakukan agar perekonomian masyarak di kota Xiantaro kembali meningkat dan diharapkan para pedagang yang lewat ini akan bermurah hari untuk memberikan bantuan makanan sehingga krisis pangan di kota tersebut bisa segera teratasi.
Bantuan pangan yang diberikan oleh pemerintah nyatanya tak sampai ketangan masyarakat. Entah itu di korup oleh para pejabat setempat ataupun memang tak sampai kelokasi bencana.
Beberapa kali anak buah putra mahkota dan pangeran ke empat datang untuk mencari informasi. Tapi setiap kali orang yang dikirim pergi kesana tak ada satupun yang kembali.
Mendengar hal tersebut, Fan Jianying dan Bai Cheung pun berusaha untuk mengecek langsung kelokasi bencana untuk memastikan semuanya.
Setelah merubah penampilan kereta kuda dan pakaian yang dikenakan oleh beberapa prajurit agar seperti seorang pedagang yang habis melakukan perniagaan di pelabuhan.
Kereta kuda berjalan dengan kecepatan sedang, mengingat jalanan yang tertutup salju tebal tak mampu membuat rombongan tersebut berjalan dengan kecepatan tinggi.
“ Istirahatlah sebentar, jika sudah mau sampai akan aku bangunkan…”, ucap Bai Cheung lembut.
Diapun segera mengatur tempat yang ada didalam kereta kuda tersebut agar nyaman digunakan oleh istrinya untuk berbaring.
Fan Jianying terlihat menaikkan satu alisnya heran. Meski suaminya tersebut sudah lebih baik dan berlaku lembut kepadanya akhir – akhir ini.
Tapi entah kenapa hati Fan Jianying malah semakin cemas melihat suaminya tersebut bersikap lembut dan hangat kepadanya seperti ini.
“ Terimakasih…tapi aku ingin melihat pemandangan sepanjang perjalanan ini…”, tolak Fan Jianying secara halus.
Dia hanya meluruskan kakinya dan menyelimutinya dengan kain tebal yang disiapkan oleh suaminya barusan.
Sedangkan kedua matanya melihat kearah luar, membuka tira kereta dan meninggalkan tirai tipis yang menutupinya.
Selama perjalanan berlangsung, tak ada kendala berarti yang mereka temui. Tapi, pada saat mereka berada diwilayah perbatasan antara kota Qionghailimen dan Xiantaro, Fan Jianying melihat ada sedikit keanehan di wilayah perbatasan kota tersebut.
Diapun segera meminta agar semua orang memperlambat laju kudanya dan menyuruh mereka untuk meningkatkan kewaspadaan.
Benar saja dugaan Fan Jianying, begitu kereta kuda mendekati pintu gerbang sudah banyak gerombolan bandit yang menunggu mereka dan langsung menyerang dengan menggunakan pedang yang ada ditangan mereka.
Peperangan pun tak bisa lagi dihindari. Kali ini para bandit memilih lawan yang salah sehingga mereka dengan mudah bisa Fan Jianying dan yang lainnya basmi dan hanya menyisakan satu orang sebagai petunjuk.
Satu penjahat yang tertangkap ini tetap bungkam tak mau berbicara. Bahkan dia juga berusaha untuk bunuh diri.
__ADS_1
Untung Fan Jianying tanggap dan segera memberikan penawar racun begitu penjahat yang berhasil ditangkapnya tersebut hendak bunuh diri dengan menelan racun yang tersembunyi di bawah lidahnya.
Melihat nyawanya masih aman, penjahat tersebut hendak mengambil belati dan kembali mencoba bunuh diri.
Lagi – lagi aksinya tersebut kembali digagalkan oleh Fan Jianying. Bahkan gadis itu sudah memasukkan sebuah obat kedalam mulut penjahat tersebut yang mengakibatkan tubuhnya terasa terbakar.
Didalam hutan kecil sebelum gerbang kota Xiantaro penjahat tersebut terlihat berteriak kesakitan. Namun hal tersebut sama sekali tak membuat Fan Jianying merasa iba.
“ Jawab semua pertanyaanku maka kamu akan keluar dari siksa api neraka itu…”, ucap Fan Jianying dengan smirk devilnya.
Entah obat apa yang diberikan oleh Fan Jianying kepada penjahat itu hingga membuat tubuhnya terasa panas seperti berada dalam kobaran api.
Yang bisa dilakukan oleh penjahat tersebut hanya menggeliat dan berteriak kesakitan karena tubuhnya terikat di pohon.
Pada awalnya lelaki yang tubuhnya terikat disebuah pohon tersebut masih bersikap keras kepala dan memilih bungkam.
Tapi rasa panas yang ada di dalam tubuhnya terasa begitu menyiksa dan tak kunjung reda bahkan semakin lama semakin membuatnya tersiksa, akhirnya diapun mulai bersuara.
Semua orang mendengarkan semua jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Fan Jianying dengan seksama.
Untung saja semua informasi sudah mereka dapatkan saat anak panah melesat dan langsung membunuh penjahat yang terikat kuat disebatang pohon.
Begitu sosok tersebut sudah terlihat, Bingwen langsung melemparkan belati beracun tepat didada lelaki tersebut hingga langsung meninggal ditempat.
“ Pengawal Bai Wang ?...”, guman Bingwen dengan mata melotot.
Bingwen cukup kenal dengan penjahat yang baru saja dibunuhnya karena beberapa kali melihat lelaki tersebut mengawal cucu kedua matriark Bai tersebut masuk kedalam istana.
Temuan mengejutkan tersebut segera Bingwen beritahukan kepada Bai Cheung dan Fan Jianying agar bisa dijadikan acuan untuk melakukan langkah selanjutnya.
Bai Cheug terlihat memutar kedua matanya ketasa, berpikir keras waktu mendapatkan fakta tersebut.
Untuk memastikan semuanya, diapun segera mengikuti Bingwen untuk melihat apa benar lelaki yang terbunuh adalah pengawal kakak laki – lakinya.
Rahang Bai Cheung menegang begitu dia melihat sosok lelaki yang terbujur kaku tersebut adalah salah satu pengawal yang setia menemani sang kakak.
“ Jika dia ada disini berarti kakak juga ada di kota Xiantaro saat ini…”, batin Bai Cheung geram.
Meski dia sangat tahu jika sang kakak bersekutu dengan pangeran kedua Song Yu dan Ratu Qilin, tapi dia sama sekali tak menyangka jika Bai Wang akan ikut terlibat dalam kasus penggelapan bantuan pangan untuk kota Xiantaro.
__ADS_1
“ Jika benar kakak ku terlibat dalam masalah ini, dengan kedua tanganku sendiri aku akan menjebloskannya kedalam penjara….”, guman Bai Cheung penuh amarah.
Selama ini keluarga Bia sebagai keluarga militer yang bermartabat dan menjunjung tinggi kejujuran.
Tindakan Bai Wang ini dianggap telah mencoreng wajah keluarga Bai secara tidak langsung meski niatnya mungkin bukan bukanlah untuk memupuk kekayaan tapi lebih besar dari itu.
“ Pemberontakan !!!....”, hal inilah yang terlintas dikepala Bai Cheung.
Diapun segera memanggil hewan kontarkanya dan menuliskan surat untuk pangeran keempat Wei Jie mengenai temuannya tersebut dan menyuruh waspada terhadap rencana pemberontakan yang mungkin akan dilaksanakan oleh pangeran kedua Song Yu dalam waktu dekat.
Setelah sisa – sisa pertempuran dibereskan sehingga sama sekali tak terlihat jejak apapun disana, semua orang segera melanjutkan perjalanan menuju kota Xiantaro.
Warga kota Xiantaro langsung menyerbu begitu pelihat ada sekelompok pedagang memasuki kota mereka.
Bingwen pun segera menertibkan semuanya sementara yang lainnya terlihat mulai membangun tenda untuk tempat memasak bubur agar bisa dibagikan kepada warga.
Setelah bubur matang, masing – masing orang mendapatkan semangkuk bubur panas dan satu buah roti.
Semua orang terlihat berdesak – desakkan untuk mendapatkan makanan hangat tersebut. Tentu saja kerumunan orang tersebut memancing kecurigaan para prajurit yang kebetulan sedang berpatroli.
Para prajurit yang berpatroli terserbut langsung menuju kediaman walikota dan melaporkan semuanya.
Semua orang terlihat sangat terkejut bagaimana bisa ada pedagang yang melewati kota mereka setelah semua rute sudah dipindahkan ke wilayah Jinande dan Aralian untuk warga dari arah perbatasan timur ke ibukota.
Dan untuk mereka yang dari ibukota menuju wilayah timur, rute sudah dipindahkan ke arah Hifen dan Banjiwa.
Ditambah lagi, banyaknya bandit yang berada diwilayah perbatasan kota yang selama ini tidak bisa ditembus dengan mudah oleh para pedagang yang kebetulan melewati wilayah mereka.
“ Antar aku kesana…”, ucap sang walikota Xiantaro penasaran.
Karena penasaran, Bai Wang pun mengikuti pak walikota bersama para pejabat setempat untuk menemui pedagang yang dermawan tersebut.
Dapat dia lihat, tak jauh dari pintu masuk berdiri tenda yang tak terlalu besar dikerumuni oleh warga yang menginginkan semangkok makanan hangat untuk menganjal perut mereka.
Bai Cheung terlihat memegang mangkok yang ada ditangannya dengan sangat erat waktu melihat sang kakak berada diantara para pejabat dan memasuki sebuah restoran tak jauh dari tempat mereka berada.
Untung saja semua orang sudah Fan Jianying rias hingga penampilan merekapun tak mungkin ada yang mengenali.
Fan Jianying dan Hira pun sudah berdandan seperti seorang prajurit agar bisa bebas bergerak dan untuk mengelabui musuh.
__ADS_1
Fan Jianying dan Bai Cheung segera mengikuti prajurit yang tadi menghampiri mereka menuju sebuah rumah makan yang tak jauh dari tempat mereka mendirikan tenda.