CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
PERTEMPURAN PART 1


__ADS_3

Di sebuah hamparan salju yang sangat luas, ratusan prajurit negara Huangshan terlihat sudah berjejer rapi menunggu datangnya musuh yang akan mereka habisi.


Jenderal besar Tian beserta seluruh pasukannya terlihat sudah mulai bersiap – siap diposisinya masing – masing dengan senjata yang berada ditangan mereka.


Baju besi yang digunakan sebagai tameng dari berbagai hunusan pedang yang akan menerjang mereka nanti telah dimodifikasi dengan mantel bulu yang sangat tebal hingga mampu menahan cuaca dingin yang ekstrim.


Di pos penjagaan, para pasukan yang bersiaga disana terlihat mulai memantau kedatangan musuh yang tak bisa diprediksi kapan akan menyerang.


Dengan semangat membara yang terlihat jelas di sorot mata mereka, semua pasukan terus menatap kearah depan dengan kepala tegak terangkat.


Tak ada rasa gentar dalam diri mereka meski nyawa adalah taruhannya. Dengan semangat berkobar semuanya menunggu musuh yang dikenal paling kejam dan susah untuk dihadapi tersebut datang.


Sesuai dengan strategi yang telah dibuat, di pos penjagaan yang posisinya lebih tinggi sudah ada empat lima pemanah di beberapa titik pos yang berada diposisi vital.


Dibalik tembok keliling, lapisan pertama di isi oleh para prajurit yang siap dengan busur dan panah beracun yang siap diluncurkan begitu musuh mendekat..


Sedangkan dibelakang mereka, dilapis kedua sudah berjejer rapi pasukan pelempar bola api yang juga telah siap disamping jungkit - jungkit kayu yang akan digunakan untuk melempar bola api.


Dan selanjutnya dilapisan paling belakang adalah pasukan berkuda yang di pimpin oleh jenderal besar Tian dan Bai Cheung, selaku jenderal muda di kamp militer tersebut telah siap dengan kuda dan pedang yang tergantung di pinggang masing – masing orang.


Sedangkan Fan Jianying berdiri dibelakang bersama singa jantan dan ular berkepala tiga miliknya  serta enam orang pasukan bayangan yang melindunginya.


Huma, Burung phoenix api milik Fan Jianying terlihat bertengger manis dipundak kanannya  sambil pandangan matanya awas menatap kearah depan.


Dengan bantuan tiga hewan kontraknya, Baron, Sunny dan Huma serta pasukan bayangan milik kaisar Huang dan putra mahkota Qin Shi Huang, Fan Jianying  membentuk pasukan tersendiri.


Dimana mereka nantinya akan bertindak sebagai pasukan bayangan yang akan membantu pasukan Huangshan dalam menghadapi musuh - musuhnya.


Dimana tugas utama mereka adalah menjadi bayang - bayang Bai Cheung dan jenderal besar Tian dan menjamin keselamatan keduanya selama pertempuran terjadi.


Fan Jianying membekali para pasukan miliknya dengan senjata – senjata canggih dan tentunya beracun.


“ Apakah aku juga boleh ikut bertempur dengan kalian ?....”, tanya pangeran Xioran yang tiba – tiba sudah ada disamping Fan Jianying dengan pedang panjang ditangannya.


“ Tidak...situasi ini akan sangat berbahaya bagi anda pangeran. Apalagi luka yang anda derita masih belum sepenuhnya sembuh….”, Fan Jianying pun berusaha untuk membujuk pangeran Xioran untuk kembali masuk kedalam tendanya. .


Bai Cheung yang berada tak jauh dari tempat sang istri berkoordinasi dengan pasukannya merasa tak senang waktu melihat Fan Jianying tersenyum manis kearah pangeran Xioran.


Tak ingin merusak hubungan baik yang sudah terbina, Bai Cheungpun pun segera memanggil Hira dan memerintahkan pelayan pribadi istrinya itu untuk sebisa mungkin menjauhkan Fan Jianying dari para lebah yang berusaha mendekatinya.


Hira pun bergegas menjalankan tugasnya dan berjalan mendekat kearah nyonya mudanya itu sambil berbisik.


“ Nyonya, apakah kita perlu membagikan biscuit tersebut sekarang ?...”, tanya Hira pelan.


Mdendengar perkataan Hira, perhatian Fan Jianying yang semula terarah kepada pangeran Xioran sedikit teralihkan, membuat pemuda tersebut menatap Hira tak senang.


“ Iya…biscuit itu bisa dibagikan sekarang sebagai antisipasi jika musuh sebentar lagi menyerang…”, ucap Fan Jianying yang segera bergegas berjalan menuju tendanya bersama Hira dan Peizhi yang terus mengikutnya dari belakang.


Bai Cheung yang melihat Peizhi terus saja mengekori sang istri seperti seekor anjing yang terus mengikuti majikannya tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


“ Tahan emosimu…sebaiknya, kamu fokuskan pikiranmu kepada musuh yang aku prediksi tidak lama lagi akan datang…”, ucap jenderal besar Tian sambil menepuk bahu Bai Cheung pelan.


Mendengar ucapan pimpinannya, kedua kepalan tangan Bai Cheung perlahan mulai melonggar.


Diapun kembali fokus untuk memberikan arahan kepada pasukannya dan berusaha untuk mengabaikan rasa cemburu yang mulai hadir dalam hatinya.


Setelah semua biscuit terbagi rata, para prajurit segera menikmati kue lezat tersebut agar tenaga mereka cukup untuk menghadapi pertempuran yang sebentar lagi akan terjadi.


Duarrrr…. Duarrrr…. Duarrrr….


Asap putih membumbung tinggi dilangit dan suara ledakan berurutan terdengar tepat setelah semua orang memakan habis biscuit yang ada ditangan masing – masing.


Pasukan di pos melihat dari teleskop jika jumlah pasukan King of Devil yang bergerak menuju wilayah perbatasan negara Huangshan tidaklah sedikit segera berteriak memberi peringatan.

__ADS_1


Melihat ada jebakan tak kasat didepannya, Kosuke, pimpinan King of Devil memerintahkan beberapa pasukannya untuk maju.


Sedangkan yang lainnya diam menunggu untuk melihat sejauh mana jebakan tersebut di letakkan.


" Sial !!!...beraninya mereka menyerang duluan !!!....", batin Kosuke geram.


Duarrrr…. Duarrrr…. Duarrrr….


Beberapa pasukan berkuda yang ditumbalkan untuk melewati ladang ranjau tewas seketika dengan tubuh hancur. Membuat Kosuke mengeram marah dan segera menggunakan kekuatannya untuk membuat jembatan diatas salju sejauh seratus meter agar pasukannya bisa lewat tanpa terluka.


Duarrrr….


Duarrrr….


Duarrrr….


Ledakan kembali terdengar secara acak dilokasi yang tak bisa diprediksi. Namun kali ini para pasukan tetap berjalan maju dengan kencang.


Meski banyaknya pasukan yang tewas terkena rancau, namun  hal itu tak terlalu signifikan untuk mengurangi jumlah pasukan King of Devil yang terlihat seperti gerombolan semut merah bergerak bersama menuju wilayah perbatasan Huangshan.


Ditengah - tengah, King of Devil membagi pasukannya menjadi tiga. Satu kelompok pasukan menyerang sisi kanan, satunya lagi menyerang sisi kiri dan sisanya menyerang bagian tengah.


Untungnya Fan Jianying sudah bisa mengantisipasi pergerakan tersebut dari arahan peramal Yan sehingga tidak terlalu terkejut dengan keadaan yang tak biasa itu.


Dari kejauhan dapat Bai Cheung lihat segerombolan besar pasukan berwarna merah bergerak cepat menuju kearah mereka berada.


Angin yang bertiup kencang membawa butiran salju yang menerpa wajah Bai Cheung seakan memberikannya pesan untuk segera memulai peperangan.


“ Persiapkan diri kalian, sebentar lagi pertempuran akan segera dimulai !!!. Ingat !!!...hanya ada kata MENANG dalam pertempuran kali ini !!!...”, teriak Bai Cheung lantang.


Semua pasukan yang sedari tadi sudah tak sabar untuk mulai bertarung segera melakukan ancang – ancang  dan tinggal menunggu perintah.


“ Serang !!!....”, teriak Bai Cheung dan jenderal besar Tian bersamaan begitu pasukan KIng of Devil terlihat dengan jelas.


Begitu juga dengan para pemanah yang langsung mengarahkan anak panahnya keatas dan dilepaskan secara bersamaan.


Anak panah yang melesat keatas tersebut perlahan mulai menikung kebawah dan langsung tepat mengenai para pasukan King of Devil.


Panah beracun tersebut terus menerus berjatuhan seperti derasnya salju yang turun dari langit. Menghujani prajurit dengan ujung lancipnya yang penuh racun hingga semua orang langsung tumbang begitu panah menembus bagian tubuh mereka.


Brukkk....brukkk....brukkk.....


Satu persatu musuh mulai berjatuhan, para pasukan berkuda tak mengendorkan serangannya dan bergerak maju dengan pedang serta tombak yang tajam dan beracun ditangan mereka.


Suara gesekan pedang dan teriakan kesakitan dari para pasukan menjadi musik tersendiri yang menghiasi siang ini.


Cipratan darah membuat salju yang semula putih bersih kini berubah warna menjadi merah pekat. Mayatpun bergelimpangan dimana - mana.


Melihat hujan panah dan serangan bola pai yang datang terus menerus, para pasukan King of Devilpun segera membentuk formasi dengan tameng – tameng besi yang ada ditangan mereka untuk melindungi dari serangan anak panah dan bola api yang meluncur dengan deras sambil bergerak maju.


Sedangkan pasukan King of Devil yang belum sempat membentengi diri mereka dan membentuk formasi satu persatu mulai tumbang dengan anak panah yang menancap di tubuh mereka.


Dan pasukan yang lainnya dibuat kocar – kacir oleh serangan bola api yang berasal dari segala sisi, bahkan tak sedikit yang dibuat langsung tewas ditempat.


Pasukan King of Devil sama sekali  tidak menyangka jika pasukan negara Huangshan memiliki persiapan yang cukup matang untuk menyambut kedatangan mereka.


Biasanya pasukan KIng of Devil lah yang memerahkan daratan dengan darah pasukan musuhnya dan membuat mereka kocar - kacir.


Tapi sekarang keadaan berbalik, justru pasukan mereka yang lebih banyak tumbang dan dibuat kocar - kacir tak karuan.


“ Apa ini !!!....”, teriak Kosuke, pimpinan pasukan King of Devil murka.


Belum juga pasukannya menumbangkan seorang pun pasukan negara Huangshan, namun pasukan King of Devil sudah banyak yang tewas dan dibuat kacau kehilangan konsentrasi seperti itu.

__ADS_1


“ Sialan !!!...Beraninya mereka membantai pasukanku !!!...”, ucap Kosuke mengerang marah sambil mengertakkan giginya.


Kedua tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengeras waktu telinganya terus menerus mendengar teriakan pasukannya sebelum tubuh mereka berjatuhan ketanah.


Diapun segera terbang keatas dan mulai menggerakkan air yang muncul dari tangannya dan menyatukannya dengan salju yang ada diudara menjadi sebuah ousaran.


Dengan kekuatan air yang dimilikinya, dia terus membuat pusaran tersebut menjadi semakin lama semakin besar dan segera melesatkannya kearah pasukan negara Huangshan.


Wushhhh……


Brummmm......


Badai salju tiba – tiba datang menghantam dan berhasil merobohkan sebagian pagar keliling wilayah perbatasan negara Huangshan.


" Bagus....", ucap Kosuke bangga.


Melihat usahanya berhasil, Kosuke pun  kembali membuat pusaran yang lebih besar dari sebelumnya dengan kekuatan air miliknya.


Jenderal besar Tian dan Bai Cheung yang memiliki kekuatan angin segera terbang keatas langit dan mengabungkan  kekuatan mereka sehingga bisa membuat badai salju tersebut berbalik arah dan menghantam pasukan King of Devil sendiri.


Melihat pusaran salju yang dibuatnya kembali pada dirinya dan menghantam serta menewaskan pasukannya, Kosuke terlihat sangat geram.


“ Serang dan habisi mereka sekarang juga !!!!....”, teriak Kosuke dengan lantang.


Mendengar teriakan tersebut, para pasukan bertopeng merah tersebut segera maju dengan semangat berkobar untuk membalas kematian rekan – rekan mereka menuju gerbang perbatasan yang berhasil Kosuke robohkan tadi.


Pasukan musuh yang berhasil menerobos melalui pagar keliling yang sudah berhasil dirobohkan langsung berhadapan dengan pasukan negara Huangshan yang sudah siap dengan pedang dan tombak beracun ditangan mereka.


Suara pedang beradu dan dentuman bola api serta hujan anak panah terus menghiasi langit yang putih akibat derasnya salju yang turun menjadi lebih berwarna.


Melihat beberapa rekannya berhasil menerobos masuk, pasukan panah King of Devil terus melesatkan anak panahnya sembari menunggang kuda menuju wilayah perbatasan Huangshan.


Sebagian  pasukan King of Devil  berusaha untuk merobohkan tembok keliling yang masih utuh agar semua pasukan bisa menerobos masuk dengan mudah.


Namun sayangnya banyak yang langsung mati begitu tangan dan kulit tubuh mereka yang terbuka bersentuhan dengan tumbuhan beracun yang di tanam merambat disepanjang tembok oleh Fan Jianying.


Melihat banyak rekannya yang tumbang setelah terkena tanaman beracun tersebut, merekapun akhirnya menggunakan kayu besar untuk merobohkannya.


Fan Jianying, Baron dan Sunny terlihat sibuk menghalau anak panah yang menghujani mereka dengan pedang yang ada ditangan keduanya sambil melumpuhkan musuh yang berhasil menerobos masuk.


“ Achhhh !!!....”, teriak pangeran Xioran begitu dua panah mengenai lengan dan kakinya.


Mendengar suara teriakan tersebut, Fan Jianying dan Sunny segera berjalan mundur menuju pangeran Xioran yang sudah terduduk ditanah dengan tangan dan kaki tertancap anak panah.


Sunny pun segera memapah pangeran Xioran menuju brankar dibelakang gudang.  Sedangkan,  Fan Jianying terus menghalau panah yang datang dengan pedangnya.


“ Sunny, tolong rawat dan lindungi pangeran Xioran. Aku kembali kedepan….”, ucap Fan Jainying sambil terus menghalau anak panah yang jatih diatasnya.


Begitu Sunny dan pangeran Xioran sudah masuk kedalam brankar, Fan Jianyingpun bergegas kembali ke medan pertempuran dan membantu mereka dengan mengendarai Baron.


Para pasukan bayangan dibawah Fan Jianying segera melesatkan serangan kepada Kosuke dan tiga jenderal besar yang menjadi target mereka.


Jenderal besar Tian menyerang musuh yang datang dari sebelah kanan sedangkan Bai Cheung menyerang musuh yang datang dari sebelah kiri.


Huma, Baron dan Fan Jianying menghabisi musuh yang menyerang dibagian tengah. Karena tak bisa menggunakan kekuatannya, Fan Jianying hanya bisa menggunakan pedang biru yang ada ditangannya.


Kerja sama yang apik dan solid serta senjata yang beracun nyatanya mampu membantai pasukan musuh dengan lebih mudah.


Melihat musuh satu persatu mulai berjatuhan membuat rasa percaya diri para prajurit semakin besar dan kobaran semangat mereka untuk meraih kemenangan dalam pertarungan ini semakin besar.


“ Jangan kasih kendor musuh !!!...terus serang !!!....”, teriak Bai Cheung lantang.


Teriakan Bai Cheung membakar semangat para pasukan negara Huangshan untuk terus maju pantang menyerah sebelum kemenangan berada ditangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2