
Black Tiger, salah satu pembunuh bayaran terbesar dan terkuat yang ada dibenua ini akhirnya kembali mendapatkan misi penting dari Ratu Qilin.
Pembunuh bayaran yang sering digunakan oleh Ratu Qilin untuk membunuh musuh – musuhnya tersebut tersenyum bahagia waktu kembali mendapatkan tugas dengan bayaran yang sangat tinggi..
Melihat tugas yang diberikannya kali ini dianggap cukup mudah, mereka hanya menurunkan tim lapis duanya untuk mengeksekusi seorang gadis muda yang kondisinya sedang sakit diatas kereta kuda.
“ Cepat bereskan dan kembali untuk misi selanjutnya….”, perintah pimpinan Black Tiger congkak.
Dia sangat yakin jika tugas kali ini dapat diselesaikan oleh tim lapis keduanya dengan mudah, sehingga dia tidak perlu membuang tenaga dan pikiran dengan menurunkan tim intinya.
Sementara itu, kereta kuda yang membawa Fan Jianying sudah mulai meninggalkan ibukota. Tabib Shilin yang berada dalam kereta bersama Fan Jianying mulai meminumkan penawar dari obat yang diberikannya.
Sambil membantu Fan Jianying meminum obat, tabib Shilin juga memerintahkan agar gadis itu menggunakan sebagian kecil kekuatannya agar obat yang dikonsumsinya cepat bereaksi.
Tabib Shilin terlihat beberapa kali menyeka peluh dikening Fan Jianying sambil berusaha menahan bantal disamping tubuh gadis itu agar posisi duduknya tetap stabil.
Sebenarnya tabib Shilin sedikit merasa bersalah karena menggunakan cara yang sedikit menyakitkan untuk bisa membawa gadis itu keluar dari kediaman Bai.
Namun dia juga tidak bisa mencari ide bagus yang kecil resikonya seperti yang dilakukannya saat ini.
Berangsur – angsur tubuh Fan Jianying terasa lebih ringan dan bertenaga setelah obat yang dikonsumsinya bekerja dengan baik.
Setelah satu jam bermeditasi, Fan Jianying yang baru saja membuka kedua matanya segera menyambut botol air yang sudah disiapkan oleh tabib Shilin untuknya.
Diapun dengan cepat meneguk habis botol yang berisi air tersebut hingga tandas. Selanjutnya Fan Jianying mengeluarkan sebuah pil pemulihan dari dalam lengannya untuk mengembalikan stamina tubuh dan kekuatannya.
Fan Jianying sedikit risih waktu melihat tabib Shilin terus menatap botol kaca tempat pil pemulihan miliknya berada dengan wajah penuh harap.
“ Mau…”, ucap Fan Jianying sambil menyodorkan pil kecil berwarna merah darah yang tinggal dua buah dan menaruhnya ditelapak tangannya.
“ Pil pemulihan level tujuh….barang langkah…”, ucap tabib Shilin terkejut.
Diapun langsung mengambil dua butir pil pemulihan tubuh yang langkah tersebut dan segera memasukkannya kedalam botol kecil yang dibawanya sebelum Fan Jianying berubah pikiran.
Melihat gerak cepat tabib Shilin, Fan Jianying tersenyum geli. Dia sama sekali tak menyangka jika pemuda tampan dihadapannya itu masih terkejut dengan pil yang baginya tidak terlalu berarti tersebut.
“ Jika kau mau, nanti aku akan membuatkan lebih banyak untukmu….”, ucap Fan Jianying terkekah.
“ Tidak…aku tidak ingin menguras energimu hanya untuk membuatkanku pil penyembuh seperti ini…”, ucap tabib Shilin tak enak hati.
“ Tidak apa…lagian membuatnya juga cukup mudah dan tak membutuhkan banyak tenaga. Sambil tidur pun pil itu bisa aku buat…”, ucap Fan Jianying congkak.
__ADS_1
Tabib Shilin seakan ingin memuntahkan seteguk darah mendengar ucapan sombong gadis muda yang ada dihadapannya itu.
“ Mudah katanya…bahkan sekelas tabib kekaisaran saja masih kesulitan untuk membuat pil tersebut. Karena sulit dibuat itulah yang membuat harga pil tersebut sangat mahal dipasaran….…”, batin tabib Shilin bermonolog.
Jika Fan Jainying mendengar pemikiran tabib Shilin mungkin dia akan sangat bahagia karena bisa menghasilkan uang banyak hanya dengan menjual pil yang baginya tak berharaga itu.
“ Istirahatlah…perjalanan kita masih cukup jauh….”, ucap tabib Shilin sambil membenahi selimut agar tubuh Fan Jianying tertutup dengan sempurna dan hangat.
Baru saja Fan Jianying menutup kedua matanya, tiba – tiba dia merasakan ada pergerakan dari sekelompok orang dalam diam dan menuju ke kereta kudanya.
“ Perintahkan kusir dan seluruh prajurit untuk waspada, seratus meter didepan ada musuh yang menghadang….”, perintah Fan Jianying tegas.
Tabib Shilin yang mendengar perkataan Fan Jianying bergegas keluar dan duduk disamping sang kusir sambil memberikan instruksi kepadanya.
“ Sial !!!...siapa yang berani menganggu waktu istirahatku !!!...”, batin Fan Jianying kesal.
Diapun segera menyiapkan belati dan menaruhnya di pingganya, begitu juga dengan jarum beracun yang sudah dia ambil dari dalam cincin ruang beserta beberapa senjata racun lainnya waktu tabib Shilin keluar untuk memberi peringatan kepada para pengawal.
Para pembunuh bayaran yang memakai pakaian serba hitam dengan wajah tertutup kain hitam, langsung menyerang begitu kereta kuda yang membawa Fan Jianying semakin mendekat.
Crashhh….crashhh….crashhh….
Para pengawal tampak dengan mudah membasmi para pembunuh bayaran yang berjumlah dua puluh orang tersebut dalam waktu sekejap.
Perlahan tabib Shilin menautkan kedua alisnya waktu melihat leher semua orang yang tergekletak tersebut berwarna coklat kehijauan.
" Racun....", batin tabib Shilin terkejut.
Diapun kembali mengamati satu persatu mayat yang memiliki jarum beracun yang menancap langusng dibagian tenggorokan mereka.
Dari ekor matanya dia dapat melihat Fan Jianying ternyata sudah duduk manis disamping sang kusir sambil membicarakan sesuatu.
“ Apa ini ulahnya ?...”,batin tabib Shilin penasaran.
Bukan hanya tabib Shilin yang penasaran bagaimana pembunuh bayaran Black Tiger bisa tumbang dengan mudah tanpa perlawanan.
Bahkan pasukan bayangan yang dikirim oleh putra mahkota dan kaisar Huang belum bertindak, musuh sudah tumbang duluan.
“ Jarum beracun…”, ucap Hira yakin.
Hira dan Hyna segera mendekati mayat satu persatu untuk memastikan ada jarum yang menancap di leher masing – masing orang begitu kereta yang membawa Fan jainying pergi meninggalkan tempat kejadian.
__ADS_1
“ Apa ini perbuatan tabib Shilin ?...”, guman Hyna penasaran.
Karena dalam kereta kuda tersebut hanya tabib Shilin lah yang mempunyai kemampuan untuk mengolah jarum beracun tersebut.
Sementara itu, pelaku utama pelempar jarum beracun tersebut sudah tertidur cantik setelah membereskan lalat – lalat penganggu tadi.
“ Pantas jika dia disebut sang terpilih….”, batin tabib Shilin bangga karena gadisnya itu ternyata bisa melindungi dirinya sendiri.
Sementara itu dimarkas Black Tiger, Nomura, ketua mereka terlihat sangat murka waktu mengetahu jika tim lapis kedua yang dikirimnya berhasil ditumbangkan oleh para pengawal Fan Jianying dengan sangat mudah.
“ Apa ?…jarum beracun ?....”, tanya Nomura dengan suara keras.
“ Benar ketua….hal itulah yang melumpuhkan kekuatan tim lapis kedua hingga mampu dibantai habis oleh para pengawal kerajaan…”, lapor salah satu anggota Black Tiger yang membereskan mayat rekan – rekannya.
Nomura sedikit terkejut waktu menyadari jika tabib Shilin bisa menggunakan jarum beracun seperti itu.
Tampaknya dia sudah salah telah meremehkan targetnya kali ini. Dengan geram, diapun segera memerintahkan tim utama Black Tiger untuk menyerang pada bukit berikutnya yang akan mereka lewati.
Kali ini dia juga akan ikut turun tangan untuk melihat seberapa hebat kekuatan yang dimiliki oleh tabib Shilin.
Karena selama ini yang dia dengar hanya tentang keahliannya dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit tanpa tahu jika pemuda itu bisa membuat racun dan menggunakannya.
Didalam kereta kuda, Fan Jianying yang sudah cukup beristirahat mulai terbangun karena merasa perutnya sangat lapar.
Diapun segera membuka kotak bekal yang telah disiapkannya sejak semalam sebelum dirinya meminum obat dari tabib Shilin.
Semua kudapan yang dibuatnya adalah roti lapis daging yang sudah dioven sehingga bisa tahan lama dan beberapa kue kering yang cukup untuk menganjal perut.
Tak lupa juga dia membagikan para pengawal dan kusir kereta sebuah biskuit seukuran telapak tangan orang dewasa agar semua orang merasa kenyang selama perjalanan.
Tabib Shilin yang juga penasaran dengan biskuit yang terlihat renyah dan gurih tersebut segera dipukul tangannya oleh Fan Jainying waktu hendak mengambil satu keping biskuit.
“ Jika kamu makan itu, maka kamu tak akan bisa merasakan kue enak yang lainnya…”, ucap Fan Jianying sambil bergegas keluar kereta untuk membagikan semua biskuit yang ada ditangannya.
Tabib Shilin yang lebih tertarik dengan kudapan yang ada dalam kotak bekal hanya bisa menelan ludahnya beberapa kali waktu melihat para pengawal begitu menikmati biskuit sebesar telapak tangan orang dewasa itu.
Setelah biskuit ditangan mereka sudah habis, para pemgwal dan kusir kereta segera melanjutkan perjalanan dengan hati riang gembira karena bisa menikmati kudapan lezat yang dibuat oleh madam ketiga Bai secara gratis.
Selain rasanya yang lezat, kue tersebut juga membuat perut para pengawal menjadi anteng sehingga mereka sangat bersemangat untuk meneruskan perjalanan yang ada.
Tabib Shilin tak merasa menyesal karena telah memilih kotak bekal daripada sekeping biskuit karena rasa semua kue yang ada didalam kotak bekal tersebut sangatlah lezat sehingga dia tak lelah untuk teru mengunyah hingga semua isi kotak bekal tersebut habis.
__ADS_1
“ Kamu memang memiliki tangan emas, karena apapun yang kamu masak pasti hasilnya selalu selezat ini…”, ucap tabib Shilin penuh pujian.