
Dari balik jendela kamarnya, permaisuri Wei menatap nanar salju yang turun sangat lebat pagi ini. Dalam diam dia mengingat kembali percakapannya dengan sang suami semalam.
Kemarin malam akhirnya kaisar Huang menceritakan semua rahasia yang sudah dia simpan rapi selama empat belas tahun lamanya kepada sang istri.
Permaisuri Wei mendengarkan semua cerita suaminya dengan berderai air mata. Ternyata firasatnya benar jika Fan Jianying adalah anaknya.
Anak yang berusaha dia lindungi selama sembilan bulan dalam kandungan dari berbagai ancaman yang datang menderanya.
“ Jadi…dia benar – benar anakkku. Wei Fei…”, guman permaisuri Wei sambil menitikkan air mata.
Hatinya sangat pedih waktu mengetahui kenyataan jika sang suami sengaja memisahkan dirinya dengan sang buah hati.
Tapi saat dia mendengar alasan kaisar Huang melakukan semua itu adalah demi keselamatan nyawa putrinya, maka rasa kecewa dan amarah dalam hatinya berangsur mulai hilang.
Kini yang ada dalam hatinya hanyalah rasa rindu yang sangat dalam.Kerinduan akan kehadiran putri tercinta dalam dekapannya.
Entah kapan dia bisa kembali melihat wajah putri bungsunya itu dan memeluknya dengan erat, memberikan kasih sayang yang selama empat belas tahun ini tidak bisa dia berikan.
Putri Wei Xieun yang baru saja datang untuk melihat kondisi sang bunda, terdiam sesaat waktu melihat permaisuri Wei menangis.
Dengan wajah sedih, putri Wei Xiuen segera memeluk ibundanya dari belakang sambil membisikkan kata – kata penyemangat.
Meski dia tidak tahu apa yang membuat ibundanya tersebut bersedih hati, namun sebisa mungkin dia ingin menghiburnya.
“ Ibunda, ananda sudah membawakan sup ginseng seribu tahun agar kesehatan ibunda bisa cepat pulih…”, ucap putri Wei Xieun lembut.
Melihat permaisuri Wei sama sekali tak bergeming, puitri Wei Xieun pun segera menuntun ibundanya untuk duduk dan mengambilkan semangkuk kecil sup untuk ibunya minum.
Sejenak, permaisuri Wei mengamati wajah sang putri yang lebih mirip dengan kaisar Huang daripada dirinya.
Dari ketiga anaknya, hanya Wei Fie saja yang mirip dengannya. Maka dari itu dia bisa langsung mengenali sang putri begitu melihatnya.
Tapi sayangnya, putrinya itu sekarang berada sangat jauh dan tak tahu kapan dia akan kembali lagi ke ibukota.
Meski hatinya sedikit lega waktu mengetahui jika putrinya tidak menderita penyakit seperti yang tersebar di ibukota.
Tapi, membayangkan jika putrinya itu harus tinggal di kamp. militer perbatasan timur hatinya merasa tidak tenang.
Apalagi dia sangat tahu jika suami anaknya itu tidak pernah memperlakukannya dengan baik.
Jika memang bisa, permaisuri Wei ingin sekali meminta kaisar Huang membujuk Fan Shaosheng agar Fan Jianying mau berpisah dengan Bai Cheung setelah kondisi wilayah perbatasan timur aman.
Sementara itu, di wilayah perbatasan bagian timur hari ini salju turun sangat lebat hingga para pasukan yang berjaga di pos penjagaan kesulitan untuk melihat kedepan.
__ADS_1
Bahkan salju tersebut juga sudah mengunung tinggi didalam wilayah kamp membuat para prajurit tidak bisa berlatih dan hanya berdiam diri di dalam tenda sambil memulihkan kondisi tubuh mereka pasca pertempuran beberapa hari yang lalu.
Sedangkan Fan Jianying bersama pasukannya saat ini sedang berada di dalam tenda jenderal besar Tian untuk mendiskusikan banyak hal.
Salah satunya adalah mengenai sosok mencurigakan yang berhasil menyelinap masuk kedalam kamp militer beberapa malam yang lalu diduga adalah Heng Yuan
" Saya rasa dia datang untuk mengecek apakah benar madam muda ketiga berada dalam kamp militer....", ucap
Guang berspekulasi.
" Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu ?...", tanya Fan Jianying penuh selidik.
Guang pun mulai menceritakan jika semalam dia endapatkan kabar dari rekannya yang berjaga di paviliun Huangwei - pegunungan Weixi jika Heng Yuan datang kesana hanya sekedar untuk melihat Fan Jianying.
‘ Jadi maksudmu dia datang kesana hanya untuk melihatku, tanpa mengatakan apapun dan langsung pergi lagi…”, tanya Fan Jianying sambil mengkerutkan keningnya cukup dalam.
“ Betul nyonya. Tabib Shilin bercerita jika Heng Yuan memaksa masuk kedalam paviliun hanya untuk memastikan apakah anda benar – benar berada di paviliun Huangwe atau tidak. Dia bahkan berani mengeluarkan plankat yang diberikan Ratu Qilin kepada penjaga agar bisa diijinkan masuk…”, ucap Guang menjelaskan.
Mendengar ucapan Guang, semua orang mulai terdiam dan sibuk dengan pemikiran mereka masing - masing.
" Apakah dia sudah curiga jika yang menggagalkan aksinya adalah aku...", batin Fan Jianying cemas.
Fan Jianying bukannya takut ketahuan oleh Heng Yuan jika dirinya berada di wilayah perbatasan timur. Tapi hal ini tidak baik bagi rencana yang akan dia lakukan selanjutnya.
“ Apakah mulai sekarang aku harus melakukan penyamaran ?...”, Fan Jianying kembali berkata dalam hatinya.
Fan Jianying pun segera mengeluarkan peralatan make up nya yang entah datang dari mana dan mulai merias wajahnya dan Hira hingga menyerupai seorang laki – laki dengan kumis palsu yang digambar dengan pensil alisnya.
Meski semua orang tak tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu, namun mereka tetap diam sambil membahas permasalahan yang lainnya.
“ Bagaimana penampilanku sekarang ?….”, tanya Fan Jianying penasaran.
Semua orang terlihat kagum akan penampialn barunya yang sangat berbeda dengan penampilan asli mereka.
“ Aku tak menyangka jika anda akan sangat tampan berpenampilan seperti ini…”, ucap Jian terpesona.
Selain merias wajahnya hingga menyerupai seorang laki - laki muda yang tampan , Hira dan Fan Jianying juga mengikat tinggi rambut panjang mereka dan menggulungnya keatas serta menggunakan pakaian perang layaknya prajurit Huangshan.
“ Kurasa ini bisa kita gunakan untuk sementara waktu hingga tujuan Heng Yuan menyusup kedalam kamp militer berhasil terungkap…”, ucap jenderal besar Tian sambil mengelus – elus jenggotnya yang sedikit panjang itu.
Sementara itu, Liam yang sedang menjaga pangeran Xioran di tenda milik Hira sangat terkejut segera memanggil majikannya begitu pemuda tersebut bangun dengan kedua mata yang merah membara dan tubuh kejang - kejang.
“ Nyonya…nyonya…gawat nyonya…gawat.....”,teriak Liam langsung menerobos masuk kedalam tenda jenderal besar Tian dengan nafas tersenggal – senggal.
__ADS_1
Semua orang spontan langsung menatap Liam penuh selidik waktu pemuda tersebut terlihat menundukkan badannya sambil berusaha untuk mengatur nafasnya.
“ Ada apa Liam ?...tenanglah, katakan dengan jelas….”, ucap Fan Jianying cemas.
“ It…itu…pa…pangeran Xio…Xioran…”, ucap Liam terbata – bata sambil menunjuk kearah tenda dimana pangeran Xioran dirawat.
Takut terjadi hal yang buruk, Fan Jianyingpun bergegas menuju tenda dimana pangeran Xioran dirawat dengan berlari.
Semua orang yang ada disana spontan ikut berlari dan mengikuti Fan Jianying dari belakang. Didalam tenda, tubuh pangeran Xioran terlihat mengejang dengan mata melotot berwarna merah menyala.
Fan Jianying yang baru saja datang segera menempelkan satu telapak tangannya kearah dada sedangkan satu lagi ditempelkan di kening pengeran Xioran.
Perlahan – lahan cahaya biru terang keluar dari telapak tangan Fan Jianying membuat tubuh pangeran Xioran yang awalnya kejang berangsur - angsur mulai kembali normal.
Kedua matanyapun sudah redup meski masih berwarna merah. Fan Jianying yang menyadari jika saat ini yang berada dihadapannya adalah peramal Yan, diapun menginstruksikan semua orang agar keluar dari dalam tenda.
Semua orang segera keluar dari dalam tenda kecuali Bai Cheung yang bersikeras tidak mau meninggalkan istrinya sendirian bersama laki – laki lain di dalam tenda.
“ Aku tidak akan menganggumu….lanjutkan saja….”, ucap Bai Cheung sambil menatap tajam pemuda yang terbaring dihadapannya.
Fan Jianying yang awalnya masih ingin mengusir sang suami mengurungkan niatnya waktu peramal Yan tidak keberatan jika Bai Chung ada didalam tenda.
Setelah melepaskan pelindung didalam tenda, Fan Jianying pun mulai bertanya tentang apa yang sedang terjadi pada peramal Yan tadi.
“ Aku merasakan jika tubuhku berada di kerajaan gurun sekarang. Dan aku harap kamu bisa membantuku untuk mengambilnya…”, ucap peramal Yan penuh harap.
Fan Jianying terlihat sedikit binggung dengan ucapan peramal Yan hingga lelaki yang ada dihadapannya itu kembali bersuara untuk menjelaskannya.
“ Anda harus cepat mengambilnya Ratu, sudah tidak ada waktu lagi !!!....Tampaknya energi yang ada dalam tubuhku terus diserap hingga hampir habis dan aku sudah tidak memiliki waktu lebih lama lagi… ”, ucap peramal Yan panik.
Melihat hal itu, Fan Jianying pun berusaha untuk menenangkan peramal Yan dan berjanji akan membantunya untuk mengambil tubuhnya kembali.
Melihat sang Ratu mau membantunya, peramal Yan pun mulai menjelaskan semuanya, termasuk tentang dimana letak kerajaan gurun berada.
Fan Jianying yang memang tidak mengetahui dimana letak kerajaan gurun berada terlihat menyimak dengan seksama semua pejelasan yang diberikan oleh peramal Yan kepadanya.
Meski Bai Cheung sedikit binggung dengan apa yang dibicarakan oleh keduanya, tapi dia tetap diam dan terus menyimak.
Pada saat mendengar kerajaan gurun disebut diapun baru sedikit paham jika hal ini ada hubungannnya dengan kedatangan pasukan King of Devil yang menyerang kota Fushou beberapa saat yang lalu.
“ Tempelkan ini di lengan agar bisa masuk kedalam wilayah kerajaan gurun dengan mudah…”, ucap peramal Yan sambil memberikan sebuah stempel kepada Fan Jianying.
Setelah memberikan stempel, peramal Yan pun mulai menghilang dengan berubahnya warna mata pangeran Xioran menjadi coklat tua seperti mata normalnya.
__ADS_1