
Pagi ini, Fan Jianying bangun dengan sedikit linglung. Diapun segera membersihkan diri begitu Dayu masuk kedalam kamarnya sambil membawa dua ember air hangat.
Setelah mandi, Fan Jianying pun segera berganti pakaian dan duduk dimeja rias sambil mencoba mengingat – ingat tentang mimpinya tadi malam.
Seberapa keras usahanya, mimpi tersebut seperti menghilang begitu saja dalam ingatannya. Hingga tiba – tiba suara pelayan senior Gaeng membuyarkan lamunannya.
“ Madam ketiga, mohon ampuni wanita tua yang ceroboh ini…”, ucap Gaeng yang langsung berlutut dihadapan Fan Jianying.
Melihat hal itu, Fan Jianying pun segera mengangkat tubuh pelayan senior Gaeng dan memberinya kursi agar duduk dan menjelaskan semuanya.
“ Daging bebek yang anda asinkan untuk sarapan pagi ini hanya tinggal tiga potong saja. Semuanya telah habis dimakan tuan muda ketiga tadi malam…”, ucap Gaeng penuh rasa bersalah.
Mendengar ucapan pelayan senior Gaeng, Fan Jianying hanya bisa menghela nafas dalam - dalam dan menghembuskannya secara berlahan.
Entah kenapa suaminya itu terus saja berulah untuk membuat dirinya marah. Namun kali ini Fan Jianying sedang tidak mood untuk menanggapi ulah suaminya itu.
“ Tiga potong dagimg bebek itu juga cukup banyak jika kita jadikan pendamping bubur yang akan kita masak pagi ini….”, ucap Fan Jianying tenang.
Fan Jianying pun menjelaskan kepada Gaeng jika dia bisa mensuir – suir daging bebek tersebut agar menjadi banyak dan lebih mudah larut dalam bubur.
Baru saja Fan Jianying mendapatkan ketenangan saat pelayan senior Gaeng sudah jelas apa yang akan mereka siapakan dan santap untuk sarapan pagi ini.
Kamar Fan Jianying kembali dibuat heboh oleh salah satu pelayannya yang masuk kedalam ruangan sambil berteriak dengan wajah panik.
“ Apa yang terjadi hingga kamu melupakan etiketmu !!!...”, hardik pelayan senior Gaeng pada pelayan wanita yanglangsung nyelonong masuk itu.
“ Mohon maaf pelayan senior…ada salah satu pelayan kediaman utama menyampaikan pesan dari matriark Bai, meminta madam ketiga untuk datang ke aula kediaman utama saat ini juga…”, ucap pelayan tersebut dengan wajah panik.
Melihat wajah cemas mulai hadir diwajah pelayannya, Fan Jianying pun mulai bangkit dari tempat duduknya sambil merapikan bagian bawah gaunnya dan membawa Dayu serta Gaeng pergi bersamanya.
“ Ada apa nenek memanggilku pagi buta seperti ini…”, batin Fan Jianying mengerutkan keningnya cukup dalam selama perjalanan.
Saat ini di aula utama sudah hadir semua anggota keluarga dengan lengkap, kecuali Bai Hongli yang masih bertugas membasmi pemberontak diperbatasan utara, Bai Cheung dandirinya yang baru saja masuk.
__ADS_1
Begitu memasuki ruangan, tatapan semua orang langsung beralih kepada Fan Jianying yang hanya bisa tersenyum canggung karena telah menjadi pusat perhatian dalam pertemuan pagi itu.
“ Ada apa ini ?...kenapa wajah semua orang terlihat tegang seperti itu ?...”, batin Fan Jianying penasaran.
Saat sudah berada didalam ruangan, Fan Jianying baru menyadari jika semua orang menatapnya dengan penuh iba dan rasa bersalah yang sangat dalam.
Mata Fan Jianying yang besar dan jernih berkedip beberapa kali, sambil melirik kekanan dan kekiri kebinggungan dengan tatapan semua orang kepadanya.
Baru saja Fan Jianying hendak bertanya, matriark Bai sudah lebih dulu memanggilnya “ Fan’er…mari duduk dekat dengan nenek…”
Fan Jianying pun segera berjalan mendekati matriak Bai secara perlahan sambil melirik kesedmua orang yang masih setia menatapnya.
Tiba - tiba Fan Jianying merasakan tangan hangatmenarik tubuh munggilnya. Ternyata itu adalah tangan matriark Bai yang lamgsung membawanya untuk duduk disofa yang sama dengannya.
Hal itu sedikit banyak membuat kecemburuan yang terlihat jelas diwajah madam Chao. Meski matriark Bai juga menyayanginya, namun wanita tua itu tidak pernah mengajaknya untuk duduk satu kursi dengannya, seperti yang dia lakukan untuk Fan Jianying.
Fan Jianying merasa aneh karena semua orang masih terlihat menatapnya dengan intens. Bahkan matriark Bai memegangi satu tangannya dan menepuknya dengan lembut seakan sedang menghiburnya karena alasan tertentu.
Matriark Bai menepuk – nepuk kepala Fan Jianying dengan lembut beberapa kali. Gadis itu baru menyadari satu hal waktu tangan keriput itu menyentuh kepalanya jika dirinya tadi belum sempat menyisir rambut karena kehebohan Gaeng yang kehilangan daging bebek untuk sarapan pagi.
Disusul dengan salah satu pelayannya yang memintanya untuk segera datang ke aula kediaman utama hingga Fan Jainying hanya mengerainya secara asal.
“ Fan’er…nenek punya sesuatu untuk dikatakan kepadamu. Tapi Fan’er harus janji pada nenek dulu jika cucu cantik nenek ini tidak akan marah…”, ucap matriark Bai dengan lembut.
Ucapan matriark Bai terdengar seperti seorang anak yang sudah melakukan suatu kesalahan dan mencoba untuk bicara jujur dengan kedua orang tuanya.
Dalam hati, Fan Jianying tersenyum lucu mendengar ucapan nenek suaminya itu. Tapi tak urung ucapan matriark Bai tersebut sukses membuat dirinya sangat penasaran.
“ Nenek dapat mengatakan apapun dengan bebas dan cucu nenek ini tidak akan marah…”, ucap Fan Jianying menenangkan hati semua orang.
“ Baiklah jika begitu. Nenek hanya ingin memberitahu jika Cheung telah pergi keperbatasan timur untuk bergabung dengan pasukan yang ada disana. Dia pergi tadi pagi sebelum fajar…”, ucap matriark Bai hati – hati.
Melihat Fan Jianying langsung terdiam setelah mendengar ucapan matriark Bai, semua orang menganggap jika gadis itu pasti sangat marah sekarang, sehingga semua orang hanya bisa menunggunya bersuara sambil menahan nafas.
__ADS_1
Dalam hati Fan Jianying mulai bertanya – tanya dan berusaha mencerna semuanya. Saat ini dia merasa jika alur yang terjadi tidak pernah dia baca.
“ Apakah mungkin hal ini ada di bab pertengahan novel ?...”, batin Fan Jianying penasaran.
Meski sedikit kecewa karena tidak bisa mendapatkan jawaban apa yang akan terjadi selanjutnya karena alur yang ada sudah tidak bisa dia terka lagi, jadi diapun memutuskan untuk mengikuti alur yang ada saja.
“ Jika dia tidak ada disini, apakah ini berarti aku bisa bebas ?...apakah aku bisa keluar untuk mencari posisi dimana hutan kematian berada ?...”, batin Fan Jianying antusias.
Jika semua orang yang ada diruangan bisa mendengar suara hati dan apa yang sedang dipikirkan Fan Jianying saat ini, mungkin mereka akan langsung muntah darah.
Fan Jianying terdiam bukan karena sedih ditinggal pergi oleh suaminya tanpa pamit. Tapi dia sedang memikirkan apa yang bisa dia lakukan dengan kebebasan yang dia dapatkan saat ini.
“ Pergi keperbatasan bukankah itu sama saja dengan pergi berperang kan…jika begitu, dia pasti akan lama tinggal disana…”, Fan Jainying tertawa riang dalam hati.
Untuk beberapa saat Fan Jianying terlihat sibuk dengan pikirannya. Namun yang dilihat seluruh keluarga Bai adalah jika gadis itu sekarang sedang binggung hingga terus terdiam karena tidak bisa berekspresi seperti apa untuk menanggapi kabar yang sangat mengejutkan itu.
Sebenarnya semua orang juga terkejut dengan kepergian Bai Cheung yang sangat mendadak dan tidak mengatakan apapun kepada semuanya, selain meninggalkan sepucuk surat yang diletakkan di atas meja ruang kerjanya.
“ Jangan sedih…Fan’er masih memiliki dua saudara laki – laki dan satu saudara ipar disini. Juga ada ibumu dan nenek yang akan selalu mendampingi dan melindungimu disini… ”, ucap matriark Bai dengan kedua mata berkaca – kaca.
Fan Jianying yang paling tidak sanggup melihat keluarganya menangis, kedua matanya ikut berkaca - kaca waktu melihat matriark Bai menangis dihadapannya.
Saat ini semua orang menganggap jika Fan Jianying seperti anak domba yang kehilangan induknya. Dimana hatinya hancur mendengar suaminya pergi tanpa berpamitan dengannya.
Tapi, hanya Fan Jainying sendiri lah yang mengetahui jika hatinya sangat bahagia atas kepergian Bai Cheung saat ini.
“ Kenapa suasanya jadi sedih seperti ini…akukan jadi ikutan nangis….”, batin Fan Jainying tidak senang.
Ingin menyudahi drama pagi hari ini, Fan Jianyingpun mulai mengusap air mata wanita tua yang ada dihadapannya itu kemudian mengenggam erat kedua tangannya.
“ Nenek, aku tahu jika semua keluarga ada disini untukku. Bahkan jika suami saya tidak berada disini, saya akan terus hidup dengan baik….”, ucap Fan Jainying sambil tersenyum lebar.
Semua orang merasa tambah sedih melihat gadis belia itu berusaha tegar dihadapan semua orang. Dan tampaknya kesalah pahaman semua orang ini membuat Fan Jianying berhasil mendapat perhatian utama saat ini.
__ADS_1