
Fan Jianying terlihat mengkerutkan dahinya cukup dalam waktu mengecek denyut nadi ayahandanya.
“ Bagaimana bisa racunnya sudah menumpuk sebanyak ini dalam waktu singkat ?....”, batin Fan Jianying penuh kecurigaan.
Diapun segera menginstruksikan kepada kasim Liu untuk menggeledah seluruh ruangan dan mengumpulkan semua vas bunga yang ada diruang kerja serta ruang pribadi ayahandanya.
Karena kasim Liu sudah pernah melihat langsung bagaimana bentuk rumput darah tersebut, maka dirinya lah yang turun secara langsung untuk mengeceknya bersama para pelayan.
Sementara itu, Fan Jianying sibuk mendetoksasi racun yang perlahan mulai menyebar keseluruh tubuh ayahandanya.
Dengan hati – hati kasim Liu menaruh vas dan guci yang didalamnya tumbuh rumput darah didepan ruangan pribadi kaisar Huang sambil menunggu Fan Jianying selesai mengobati tubuh junjungannya tersebut.
" Sebanyak ini ?!!!!.....", teriak Fan Jianying sambil melotot.
Dia sama sekali tak menyangka jika akan menemukan rumput darah sebanyak ini dalam kediaman ayahandanya.
" Pantas saja racunnya sudah menumpuk sebanyak itu dalam waktu singkat....", batin Fan Jianying bermonolog.
Tanpa banyak kata, Fan Jainying langsung membekukan semuanya dan menghancurkannya hingga tak bersisa agar tak melukai yang lainnya.
" Mulai saat ini, apapun barang pemberian untuk kaisar, kumpulkan menjadi satu dalam wadah dan tidak boleh diberikan kepada kaisar sebelum aku selesai mengeceknya !!!.....", perintah Fan Jianying tegas.
Semua orang terlihat mengangguk patuh akan perintah yang diberikan oleh Fan Jianying kepada mereka.
Di lain sisi, tepatnya di Qinlong palace, setelah kepergian pelayan pribadinya Ratu Qinly berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mengitari ruangan beberapakali dengan wajah cemas.
Kedua tangannya saling meremas dengan bola mata bergerak cepat kesana – kemari, seolah memikirkan alasan yang tepat jika sampai kaisar Huang menanyakan perihal rumput darah yang tumbuh di dalam vas bunga dan guci yang dijadikan hiasan didalam kediamanannya.
bagaimanapun vas dan guci itu dialah yang mengatur dan menaruhnya. Jadi tak akan ada alsan bagi Ratu Qinly untuk bisa mengelak lagi.
“ Brengsek !!!...gadis busuk itu selalu menganggu setiap rencanaku !!!....”, guman Ratu Qinly penuh amarah.
Dalam beberapa aspek, Fan Jianying telah dianggap musuh yang paling berbahaya didalam istana saat ini.
__ADS_1
Setiap pergerakan yang dilakukan oleh anak buah Ratu Qinly dapat dia endus dengan mudah hingga kemungkinan kegagalan rencana tersebut menjadi sangat tinggi.
Ratu Qinly terlihat berpikir keras dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya mengambil keputusan dan melangkah menuju kearah sebuah kotak kayu kecil yang ada ditempat agak tersembunyi dalam almari bukunya.
“ Ini adalah caraku satu – satunya untuk menyingkirkan seluruh kekuatan yang dimiliki kaisar. Jika kekuatannya melemah, aku yakin dapat dengan mudah untuk mengalahkannya. Dan pada saat itu, Fan Jianying yang memiliki kekuatan hebat sekalipun tak akan bisa untuk menyelematkannya…..”, batin Ratu Qinly tersenyum puas..
Diapun segera memasukkan botol kecil berisi racun pemberian dari Fan Nuan yang rencananya akan dia gunakan sebagai alternative terakhir jika rumput darah tak bekerja dengan maksimal.
“ Tapi kali ini aku harus memberikan racun ini sendiri agar bisa langsung melihat hasilnya….”, Ratu Qinly terlihat menatap kedepan dengan penuh keyakinan.
Setelah tekadnya bulat, diapun segera mencari informasi mengenai waktu yang biasa digunakan oleh Fan Jianying untuk mengunjungi sang ayahanda dikediamanannya untuk mencari sela yang ada agar bisa menjalankan rencana yang telah disusunnya dengan mudah.
Disisi lain, Fan Jianying baru saja mendapatkan kabar dari Dafu jika pasukan yang dibentuk oleh Heng Yuan bukanlah pasukan biasa karena melibatkan manusia yang telah mati dan dihidupkan kembali atau biasa disebut pasukan iblis kegelapan.
“ Pasukan iblis kegelapan ?....”, tanya Fan Jianying sedikit binggung.
“ Selain tak bisa mati, tak ada yang istimewa dari pasukan ini nyonya…”, ucap Dafu berusaha untuk menjelaskan.
“ Aku rasa Heng Yuan tak akan merekrut pasukan yang hanya tak bisa mati untuk mengacaukan ibukota. Aku rasa dia memiliki tujuan lain disini…”, ucap Fan Jianying penuh kecurigaan.
“ Aku rasa pasukan iblis kematian ini hanya dia gunakan sebagai umpan untuk mengecoh. Pergi dan selidiki lagi Heng Yuan. Aku yakin dia pasti memiliki pasukan lain yang tersembunyi yang akan menjadi kartu As nya disini….” , perintah Fan Jianying tegas.
“ Dimengerti….”, ucap Dafu patuh.
Setelah kepergian Dafu tiba – tiba Fan Jianying mengingat kembali beberapa film horror yang dulu sering dia tonton jika sedang tak ada novel bagus yang bisa dia baca.
Dalam film tersebut biasanya dijelaskan bahwa mayat hidup yang dibangkitkan dari kematian memiliki kekuatan yang lebih besar daripada manusia.
Dimana sumber kekuatannya adalah dengan menghisap roh atau nutrisi yang ada dalam diri manusia secara perlahan melalui mulutnya hingga mangsanya menemui ajalnya.
Biasanya tubuh korbannya akan langsung mengering setelah seluruh sari – sari yang ada dalam tubuhnya terhisap oleh mahluk tersebut.
“ Apakah kinerja pasukan iblis kematian juga seperti ini ?...”, guman Fan Jianying sambil menyandarkan dagunya pada kedua telapak tanngannya yangdia gunakan untuk menyanggah kepalanya diatas meja.
__ADS_1
Karena terlalu serius, Fan Jianying tak menyadari jika suaminya sedari tadi mengamati semua gerak geriknya didalam ruangan.
“ Hal apa yang bisa membuat istriku tak menyadari kedatangan suaminya seperti ini ?....”, ucap Bai Cheung sambil mendekap sang istri dari belakang.
Fan Jianying yang terkejut dengan kedatangan suaminya yang tiba – tiba spontan memukul lengan Bai Cheung dengan kedua mata melotot tajam.
Melihat istrinya terlihat kesal, Bai Cheung hanya terkekeh dan langsung emngecup pipi kiri Fan Jianying sambil kedua tangannya mengelus perut buncit snag istri dari belakang.
“ Apa suami pernah mendengar tentang pasukan iblis kematian ?...”, tanya Fan Jianying penasaran.
“ Iblis kematian ?...pasukan tersebut sudah lama menghilang dari dunia. Kenapa istri menanyakan hal tersebut ?....”, Bai Cheungpun langsung menatap sang istri penuh selidik.
Meski tak terlalu berbahaya namun pasukan iblis kematian juga bukan sesuatu hal yang dianggap remeh.
Apalagi istrinya saat ini sedang dalam kondisi mengandung. Tentunya para mayat hidup tersebut akan sangat tertarik dengan janin yang ada dalam kadungannya itu untuk menambah kekuatan mereka.
Dan hal itu bukanlah sesuai yang bagus jika istrinya sampai harus berhadapan langsung dengan mereka.
“ Iblis kematian adalah pasukan yang disiapkan oleh Heng Yuan untuk menyerang ibukota. Tapi, aku yakin jika Heng Yuan tak hanya menyiapkan pasukan ini saja. Masih ada pasukan lain yang leih kuat dibelakangnya. Untuk itu aku sudah mengistruksikan kepada Dafu untuk mencari petunjuk agar kita bisa menentukan langkah apa yang harus kita ambil….”, ucap Fan Jianying panjang kali lebar menjelaskan.
“ Kurasa, hal ini juga ada kaitannya dengan rumput darah yang ada ditemukan dikediaman ayahanda kaisar....”, guman Bai Cheung sambil mendesah pelan.
“ Apa maksudmu ?...”, tanya Fan Jianying sedikit binggung.
“ Menurut cerita kakek buyutku, rumput darah merupakan makanan yang biasanya dikonsumsi oleh pasukan iblis kematian disaat mereka tak bisa menemukan manusia sebagai mangsa….”, Bai Cheung pun mulai menceritakan semua hal yang masih diingatnya ketika waktu kecil.
Fan Jianying terlihat cukup terkejut mengetahui fakta mengejutkan seperti itu ternyata ada dan bisa dia temui disini.
Sesuatu hal yang sulit dinalar dengan menggunakan akal sehat dan tidak mungkin terjadi pada kondisi normal.
Namun jika dia kembali merenung bahwa dirinya berada dalam sebuah novel, dimana hal yang tidak mungkin bisa terjadi.
Semua tergantung dari imajinasi sang penulis, maka diapun kembali mengikuti alur yang ada dan mencermati setiap penjelasan yang diberikan suaminya, berharap informasi tersebut nantinya bisa membantu.
__ADS_1
“ Dalam kondisimu seperti ini, aku harap kamu tidak menghadapinya secara langsung. Aku tak mau ambil resiko….”, ucap Bai Cheung penuh kekhawatiran yang dalam.
“ Tentu saja tidak…aku punya cara tersendiri…”, ucap Fan Jianying dengan senyum liciknya.