
Binweng yang baru saja bersantai dengan rekan – rekannya sambil melumuri senjata miliknya dengan racun yang diberikan oleh Fan Jianying kepadanya tiba – tiba dikejutkan oleh kedatangan seekor burung Elang es yang langsung hinggap kuat dibahunya.
Melihat jika hewan yang hinggap dibahunya itu adalah Yokai, hewan kontrak milik kaisar Huang yang berwujud burung Elang es, diapun segera menghentikan aktivitasnya dan mengulurkan tangannya agar burung tersebut hinggap disana.
Setelah surat yang berada di kakinya di ambil, burung Elang es tersebut langsung melesat pergi begitu saja.
Gerakannya yang super cepat membuatnya langsung menghilang di tengah kegelapan malam yang sangat dingin ini.
Kedua mata Bingwen seketika terbelalak sambil menatap tajam gulungan kertas yang ada ditangannya itu, membuat semua orang menatapnya penasaran.
“ Semuanya berkumpul ditenda jenderal besar Tian sekarang. Aku akan memanggil jenderal muda Bai dan madam ketiga Bai…”, ucap Bingwen yang langsung bergegas pergi.
Dalam surat yang didapatkannya itu kaisar Huang menyuruhnya untuk mewaspadai pergerakan King of Devil yang berada di Yulin.
Salah satu negara kecil yang posisinya bersebelahan dengan negara Huangshan di wilayah perbatasan timur, tempat dimana dirinya berada saat ini.
Dalam surat tersebut kaisar Huang juga mengatakan jika selain ingin menguasai Yulin, King of Devil juga diprediksi akan segera menakhlukkan dua negara kecil lainnya yaitu Hebi dan Laiwe.
Karena ketiga negara kecil tersebut berbatasan langsung dengan perbatasan wilayan timur Huangshan, maka jenderal besar Tian diharapakan lebih waspada terhadap semua pergerakan yang mencurigakan.
Kaisar Huang memprediksi jika tujuan utama King of Devil adalah tiga kota yang ada diwilayah perbatasan timur yaitu, Fushou, Zhangzhou, dan Fujian.
Tujuan utama mereka tentunya wilayah Fujian yang memiliki pegunungan Fujiwa dimana hutan kematian berada.
Selain banyaknya hewan kontrak yang cukup langkah dan kuat. Didalam hutan kematian tumbuh beraneka macam tanaman racun dan tanaman obat yang sangat sulit didapatkan di tempat lain.
Konon di hutan kematian juga tersimpan harta karun tersembunyi milik Ratu Elisabeth yang menghilang bersama dengan tidur panjangnya.
Pada saat Bai Cheung dan Fan Jianying datang, semua orang sudah berkumpul dimeja bundar dengan wajah tegang.
Setelah semua orang sudah datang, diskusi pun segera dimulai. Semuanya menatap miniatur yang ada diatas meja, disana terlihat sangat jelas gambaran wilayah sebelah timur negara Huangshan yang saat ini mereka jaga.
Juga tiga negara kecil yang bersebelahan dengan mereka. Medan area pun tergambar jelas disana.
Melihat miniature kawasan dihadapannya, tiba – tiba dalam ingatan Fan Jianying sekelebat ada gambaran tentang strategi untuk memperkuat wilayah kawasan yang tergambar dalam garis merah yang tentunya hanya bisa dilihatnya saja karena semua itu ada dalam kepalanya.
“ Apakah ini ingatan dari ratu Elisabeth….”, batin Fan Jianying sambil menaikkan satu alisnya penasaran.
__ADS_1
“ Bukankah ingatannya hilang karena sudah dihapus oleh dewa langit. Tapi kenapa ini terlihat sangat jelas….”, batin Fan Jianying meracau.
Melihat Fan Jianying bersendekap sambil mengkerutkan dahinya sangat dalam, semua orang terlihat penasaran dengan apa yang ingin gadis belia itu sampaikan.
“ Karena Yulin sekarang sedang diduduki oleh King of Devil, maka kita harus lebih meningkatkan penjagaan yang berada di sebelah utara yang berdekatan dengan Yulin….”, ucap Fan Jianying sambil menunjuk batas wilayah.
“ Sebaiknya kita tempatkan satu pos disana. Juga pagar keliling yang ada disekitar perbatasan Yulin ini kita perkuat…”, ucap Fan Jianying sambil menunjukkan posisi yang dia jabarkan tadi dengan telunjuknya.
Fan Jianying terus menjabarkan semua yang terlintas dalam pikirannya, termasuk coretan tinta merah yang ada dikepalanya.
Saat ini dia seperti sedang melakukan sebuah presentasi.Semua orang terlihat terkejut waktu Fan Jianying menjabarkan semuanya dengan gamblang dan memang sesuai dengan kebutuhan saat ini.
“ Bagaiamana bisa gadis belia yang sama sekali tak mempunyai pengalaman berperang bisa memiliki strategi pengamanan yang bagus seperti ini…”, batin semua orang tak percaya.
Bai Cheung diam – diam bangga dengan pemikiran sang istri yang dianggapnya sangat masuk akal dan out of the box.
Jenderal besar Tian segera menginstruksikan kepada bawahannya untuk segera membuat pos dan memperbaiki pagar pembatasan sesuai dengan saran Fan Jianying tadi.
“ Lalu, bagaiamana dengan tanaman beracunnya ?....”, tanya jenderal besar Tian penasaran.
“ Untuk tanaman, serahkan semuanya kepada saya. Setelah pagar pembatas selesai di upgrade, tanaman racun akan saya tata disana….”, ucap Fan Jianying tegas.
Kali ini mereka mulai membahas strategi perang seandainya King of Devil menyerang kota Fushou dalam waktu dekat setelah berhasil menakhlukkan Yulin.
Fan Jianying yang sedari tadi penasaran mengenai King of Devil ini akhirnya mulai bersuara dan menanyakannya.
Semua orang seketika terdiam, larut dalam pemikirannya masing – masing waktu mengenang kembali tentang negara yang terkenal dengan sebutan King of Devil itu.
King of Devil adalah julukan sebuah negara besar yang ada di gurun pasir yang cukup ditakuti keberadaannya kala itu karena mereka memiliki pasukan khusus yang sangat buas dan memiliki kemampuan untuk menakhlukkan negara – negara yang merak inginkan hanya dalam satu kediapan mata saja.
Bahkan kota Fujian dulu merupakan kawasan yang berhasil dikuasainya. Namun entah kenapa tiba – tiba saja negara tersebut hilang bersama dengan istana dan warga yang ada didalamnya begitu saja tanpa sebab seolah ditelan bumi.
Dengan menghilangnya negara gurun dengan sebutan King of Devil tersebut, negara – negara besar mulai berebut negara kecil yang dulu pernah merka kuasai untuk memperbesar wilayah kekuasaan mereka.
Termasuk Kaisar Huang yang bisa menakhlukkan beberapa wilayah kecil hingga menjadi satu kesatuan negara Huangshan, salah satunya adalah kota Fujiwa.
Untuk itulah kenapa wilayah perbatasan bagian timur dijaga lebih ketat dari pada wilayah perbatasan lainnya karena kota Fujiwa sampai saat ini masih menjadi incaran banyak negara tetangga yang menginginkan hutan kematian.
__ADS_1
Kota Fujiwa yang berada dibelakang kota Fushou menjadikan kota berpenduduk paling banyak diwilayah bagian timur ini banyak diserang oleh para musuh untuk bisa ditahklukkan terlebih dahulu sebelum menguasai kota Fujiwa yang mereka anggap lebih muda untuk dikuasai.
Mendengar penjelasan dari semua orang tersebut, Fan Jianying pun mulau berpikir apakah King of Devil ini sama dengan raja iblis yang memcuri Kristal kehidupan dari dewa yang sedang dicarinya.
“ Apakah kebangkitan negara gurun dengan julukan King of evil ini ada hubungannya dengan kembalinya kekuatan sang Ratu Elisabeth yang ada dalam dirinya…..”, batin Fan Jianying penuh tanya.
Fan Jianying bertekad untuk mencari informasi tersebut nanti secara perlahan. Diapun kembali fokus pada pembahasan yang ada sambil memberikan ide – ide cemerlang yang terlintas dalam kepalanya.
Bukan hanya Bai Cheung saja yang merasa jika malam ini Fan Jianying terlihat lebih bersinar. Bahkan penerangan yang ada kalah dengan sinar yang terpancar dari wajahnya.
Tampaknya, mulai malam ini Fan Jianying berhasil mengumpulkan fans baru yang fanatic terhadapnya selain Hira yang semakin hari terlihat semakin bertambah kagum dengan madam ketiga yang menjadi idolanya itu.
“ Wah…tampaknya istrimu akan menjadi idola baru disini…”, bisik jenderal besar Tian tepat ditelingga Bai Cheung dengan nada menggoda.
Membuat laki – laki tampan itu seketika mengepalkan kedua tangannya sambil menatap tajam semua orang yang terpesona dengan kecerdasan dan kecantikan sang istri.
Melihat reaksi Bai Cheung, jenderal besar Tian pun langsung terkekeh membuat semua orang seketika mengalihkan atensi mereka kepadanya.
“ Apa ini ?...kenapa dia menatapku seperti itu ?...dasara aneh…”, ucap Fan Jiaying sambil mengangkat kedua bahunya dengan acuh.
Melihat sang istri hanya sekilas menatapnya dan kembali fokus pada Bingwen yang ada disebelahnya membuat Bai Cheung semakin kesal.
Bingwen yang menyadari hal itu pun mulai menjaga jarak dengan Fan Jianying namun tidak dengan Peizhi.
Dia semakin terlihat mendekat dan sekali – kali menggerakkan jemarinya menunjuk area perbatasan yang sedang ditunjuk oleh Fan Jianying agar kedua jari mereka bersentuhan.
Melihat itu, darah dalam tubuh Bai Cheung seakan mendidih dan bisa meledak kapan saja hingga suara Liam mengalihkan atensi semua orang.
“ Madam ketiga, apa anda masih memiliki kudapan untuk dimakan ?...saya masih merasa sedikit lapar sekarang….”, ucap Liam dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
“ Apa ?!!!...kau masih kelaparan padahal sudah makan banyak seperti itu !!!...”, ucap Jian dengan mata terbelalak tak percaya.
“ Ya.....maklumlah, perut Liam itu tak pernah cukup jika sudah makan masakan madam ketiga….”, ucap Hira dengan nada menggoda.
Liam yang ditatap aneh oleh semua orang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk.
“ Ambil saja ditenda dan jangan bikin malu seperti itu….”, ucap Bai Cheung dengan nada datar dan dingin.
__ADS_1
Liampun bergegas pergi keliuar menuju kearah tendanya sambil menghembuskan nafas lega. Setidaknya tindakan konyolnya itu mampu sedikit meredakan amarah tuan mudanya untuk sesaat.
“ Untung saja belum meledak tadi….”, ucap Liam sambil mengelus dadanya berulang kali.