
Fan Jianying terbangun dari tidurnya dengan berurai air mata. Sambil terisak, dia mulai membuka kedua matanya yang terasa sangat berat.
Kedua matanya langsung menyipit begitu ada cahaya terang yang masuk kedalam retinanya. Diapun berusaha menyesuaikan kedua matanya sambil menghalau datangnya sinar dengan satu tangannya yang terangkat keatas.
Begitu pandangannya sudah mulai normal, dia menyapu semua tempat yang sudah sangat lama dia tinggalkan tersebut.
“ Ini….”, guman Fan Jianying terdiam sesaat.
Dia melihat setiap sudut unit apartemennya yang bisa dijangkau melalui pandangan matanya tanpa ada satupun yang terlewatkan.
“ Jadi…aku sudah kembali….”, ucapnya kembali terisak.
Masih belum menerima fakta jika dirinya kembali kedunia asalmnya membuat Fan Jianying terduduk lemas dengan wajah dibenamkan dikedua kakinya sambil menangis tersedu - sedu.
Masih tergambar jelas dalam benaknya proses melahirkan yang baru saja dia lalui dengan sangat menyakitkan .
Bahkan rasa sakit yang ada masih terasa hingga membuat tubuhnya lemas tak bertenaga. Suara tangisan bayi yang baru saja dilahirkannya kembali mengema digendang telingannya.
Membuat hati Fan Jianying terasa sangat sakit. Dia pergi tanpa bisa melihat wajah sang buah hati yang baru saja dilahirkannya itu.
“ Anakku !!!....”, teriaknya lantang.
Untung saja apartemennya kedap suara, jika tidak mungkin tetangga samping kanan dan kirinya sudah datang karena teriakannya yang keras dan menyayat hati.
Fan Jianying yang sudah lelah menangis merasa jika tenggorokannya sangat kering dan sedikit panas.
Begitu melihat kesamping, diatas nakas ada segelas air putih yang masih utuh. Diapun segera meminum segelas air putih tersebut hingga habis tak bersisa.
Setelah sedikit tenang dan nafasnya kembali teratur, Fan Jianying yang merasa jika kandung kemihnya telah penuh berusaha bangkit dengan enggan dari atas sofa.
Begitu dia berdiri, kakinya tak sengaja menginjak sebuah buku yang terbuka lebar dan tergeletak begitu saja diatas lantai.
Itu adalah buku novel kuno yang terakhir dibacanya dan membuatnya terdampar di dunia asing yang memberinya keluarga dan kebahagiaan yang selama ini tak pernah dia rasakan.
Karena sudah tak tahan lagi, Fan Jianying mengabaikan buku tersebut dan segera berlari menuju kamar mandi saat perutnya mulai terasa sakit.
“ Ah…lega….”, ucapnya dengan wajah puas.
__ADS_1
Baru saja hendak beranjak keluar dari dalam kamar mandi, Fan Jianying yang merasa tubuhnya sangat lengket oleh keringat perlahan mulai melepaskan semua pakaian yang dikenakannya dan langsung mengguyur tubuhnya dengan dinginnya air shower agar tenaganya bisa pulih kembali.
Setelah tubuhnya segar dan bersih, Fan Jianying pun mulai melangkah menju kamarnya dan mengambil ponsel yang ada didalam tas kerjanya.
“ Baru jam tiga pagi….”, ucapnya lemah.
Fan Jianying yang baru sadar jika tanggal yang tertera dilayar ponsel hanya berbeda satu hari dengan tanggal dimana dia terdampar dalam dunia yang ada didalam novel membuat kedua matanya melotot lebar.
“ Apa ini ?!!!!....”, teriaknya dengan mata terbelalak waktu mengetahui jika dia hanya meninggalkan dunianya selama delapan jam saja.
“ Tidak mungkin !!!….”, ucapnya tak percaya.
Diapun mulai berlari untuk melihat kalender yang ada diatas meja kerjanya dan juga menyalakan televise untuk memastikan semuanya.
“ Tidak !!!...semua itu tak mungkin hanya sebuah mimpi !!!....”, gumannya sambil menggelengkan kepala beberapa kali.
Fan Jianying tak bisa percaya jika semua yang dia alami selama beberapa tahun disana itu hanyalah bunga tidur semata.
Tapi melihat jika didunia asalnya waktu sama sekali tak bergerak, membuat Fan Jianying mulai sedikit ragu dengan semua hal yang telah dia alami tersebut.
“ Aku bisa gila jika terus begini….”, gumannya meracau.
“ Kurasa, aku harus pergi ke psikiater besok….”, Fan Jianying kembali berguman dengan wajah cemas.
Diantara kebinggungan dan kecemasan yang melanda hatinya saat ini, nada pengingat diponsel seketika membuyarkan lamunan Fan Jianying.
Membuatnya segera beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil ponselnya yang tergeletak diatras sofa yang tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
" Meeting tahunan ....", tulisan dalam alarm mampu mengumpulkan kembali kesadarannya.
“ Sekarang kamu kembali menjadi Aurela Wilson…bukan Fan Jianying. Jadi, kamu harus kembali pada rutinitas harianmu kembali…..”, ucap Fan Jianying kepada dirinya sendiri waktu menatap wajahnya yang terpantul dilayar ponsel.
Melihat jika alarm pengingatnya menampilakan catatan jika pagi ini dia akan melakukan meeting dengan pimpinan perusahaan, membuat Aurela mulai mempersiapkan diri.
Diapun mulai mengambil laptop didalam tas kerjanya dan mempelajari kembali materi yang akan dia gunakan meeting pagi ini.
Krucukkkkk.....
__ADS_1
Mendengar suara nyaring dari dalam perutnya, Aurelapun segera berjalan menuju kedapur untuk membuat sarapan agar perutnya tidak terus berdemo.
Ketrampilan memasaknya yang terus terasa selama berada di dunia asing dalam novel tersebut membuatnya tak membutuhkan waktu lama dalam menyiapkan makanan yang akan dia santap pagi ini.
Hanya dalam waktu lima menit semua makanan sudah tersaji diatas meja dan siap untuk disantap.
Aurela makan sambil mempelajari materi yang akan dia gunakan untuk meeting pagi ini. Dia tidak ingin performannya turun kerena sudah lama tak memegang berkas – berkas yang memusingkan kepala tersebut.
Apalagi ini adalah meeting pertamanya ditahun ini bersama para kepala cabang yang lainnya sehingga dia harus memberikan hasil kerja yang bagus dan memuaskan kepada pimpinan.
Waktu berlau dengan cepat hari ini membuat Aurela mengurungkan niatnya untuk menemui psikiater karena di harus bekerja lembur.
Banyak catatan selama meeting berlangsung membuatnya harus mengevaluasi ulang kinerja seluruh karyawannya dan membuat perencanaan kerja yang baru.
Hari berganti dan waktupun cepat berlalu. Aurella yang mulai disibukkan dengan berbagai macam aktivitas mulai membenamkan diri diatara berkas – berkas kantor yang mulai menumpuk.
Rutinitas harian yang padat membuat Aurella pulang keapartemen dalam keadaan lelah hingga gadis itu tak bisa memikirkan apa - apa lagi dan langsung terlelap begitu sampai karena kelelahan.
Sementara itu dilain sisi, dinegara Huangshan semua keluarganya terlihat masih bersedih hati pasca kepergian Fan Jianying dalam kehidupan mereka.
Meski begitu, mereka tak ingin larut dalam kesedihan yang ada dan tetap melanjutkan hidup dengan mulai menyibukkan diri dengan berbagai macam rutinitas yang ada.
Bai Cheung mulai melakukan amalan yang dituliskan dalam catatan yang ditinggalkan oleh istrinya sambil membesarkan buah hatinya.
Semua orang yang membantu persalinan Fan Jianying di perintahkan untuk tutup mulut oleh kaisar Qin Shi Huang atas kepergian putri bungsu Huang Lo tersebut.
Pihak keluarga mengumumkan jika kondisi Fan Jianying sangat lemah pasca melahirkan sehingga dia harus dirawat di istana dalam dan tak mengijinkan siapapun untuk masuk kecuali keluarga dan tabib istana yang membantu persalinannya.
Daintara semua anggota keluarga, ibunda Fan Jianying lah yang paling terpukul atas kepergian gadis tersebut yang terbilang cukup mendadak.
Permaisuri Wei kesehatannya terus menurun setelah kepergian Fan Jianying yang sangat cepat itu.
Membuat hari semua orang merasa sangat sedih. Sementara itu kaisar Qin Shi Huang dan pangeran Wei Jie terus berupaya untuk memajukan negara Huangshan.
Mereka berdua berupaya untuk memenuhi impian Fan Jianying akan negara Huangshan yang aman, makmur dan sejahtera.
Dengan harapan saat adiknya tersebut kembali, negara Huangshan sudah menjadi negara sesuai impian dan harapan gadis tersebut.
__ADS_1