
Pagi harinya, sebelum para pelayannya masuk kedalam kamar, Fan Jianying sudah bangun sedari tadi dan sibuk mencorat – coret kembali buku agendanya.
Diapun mulai membuat list apa saja kegiatannya hari ini sehingga waktu bisa dia manfaatkan dengan baik. Hal inilah dulu yang selalu dia lakukan setiap pagi sebelum berangkat kerja.
Melihat kembali scedul hariannya agar semua yang dilakukannya bisa berjalan dengan lancar dan bisa menggunakan waktu seefektif mungkin.
Pelayan senior Gaeng dan Dayu cukup terkejut waktu mereka masuk kedalam kamar madam ketiganya tersebut sudah berada di depan meja kerjanya.
“ Aku senang melihat madam ketiga bersemangat seperti ini…”, batin Gaeng bahagia.
Semua orang pun segera menyiapkan semua rutinitas pagi seperti biasa sambil sesekali melirik Fan Jianying yang tampak fokus pada buku yang ada dihadapannya, sama sekali tak merasa terganggu dengan segala aktivitas yang adadiruangan tersebut.
Sejak akan mulai melakukan bisnis, Fan Jianyingpun merubah sudut kamarnya menjadi ruang kerjanya agar dia bisa melakukan semuanya didalam kamar tanpa perlu berbolak - balik jika ingin beristirahat.
Dia pun mulai menempatkan satu set meja dan kursi serta sebuah papan disamping meja yang nantinya akan dia gunakan untuk menempel notes yang telah dia buat.
“ Air mandinya sudah siap nyonya…”, ucap salah satu pelayan sopan.
Fan Jianying segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selanjutnya dia segera bersiap untuk pergi sarapan yang sudah tertata apik diatas meja kamarnya.
Pagi ini dia makan dengan cepat tanpa mengeluarkan sepatah katapun dan langsung bergegas pergi untuk meninjau lokasi restoran bersama Dayu, dan ketiga pelayan yang dikirim sang suami.
Matriark Bai yang mendapatkan laporan dari pelayan senior Yu jika Fan Jianying sudah meninjau lokasi restoran pagi – pagi buta membuat senyum diwajahnya mulai mengembang.
“ *S*emoga niat tulusku ini bisa dilihat oleh seluruh keluarga Fan…”, batin matriark Bai lega.
Selama perjalanan hanya kesunyian yang ada didalam kereta. Fan Jianying terus fokus pada agenda yang ada dihadapannya sambil sesekali mengamati tempat yang dia lewati selama perjalanan.
“ Aku tidak pernah melihat madam ketiga sesemangat ini…”, batin servant Meilin penasaran dan terus menatap Fan Jianying selama perjalanan.
Sedangkan Dayu sibuk dengan makanan yang ada ditangannya karena dia tadi tidak sempat untuk sarapan setelah melihat nona mudanya tergesa – gesa untuk keluar.
Heyna dan Hira berada diluar berjalan bersama para pengawal yang menemani perjalanan Fan Jianying pagi ini untuk memastikan perjalanan hari ini berjalan dengan lancar.
Sesampaianya dijalanan yang tidak terlalu ramai kereta yang dinaiki oleh Fan Jianying pun berhenti tepat dibanggunan berwarna merah.
Dibantu Dayu, Fan Jianying keluar dari dalam kereta dan memandang banggunan yang tidak terlalu besar tersebut sambil berkacak pinggang.
" Lumayan juga banggunan ini, sayang posisinya tidak strategis....", guman Fan Jianying sambil mengamati banggunan yang ada dihadapannya itu denga seksama.
Dapat dia lihat jika banggunan tersebut masih kokoh meski sudah sangat lama tidak dia tempati sehingga dia hanya perlu dibersihkan dan ditata ulang kembali saja mengingat banyaknya jaring laba – laba dan debu yang menumpuk didalam banggunan.
Setelah melihat banggunan dua lantai tersebut dan menggambar semuanya, Fan Jianyingpun mulai berjalan keluar sambil mengamati lokasi sekitarnya yang tidak terlalu ramai itu.
Hanya ada beberapa kios di samping kanan dan kirinya serta penjual kaki lima yang terlihat berjajar rapi disepanjang jalan.
__ADS_1
“ Tempat ini agak sedikit masuk, jadi sedikit sulit bagi seseorang untuk menemukannya…”, guman Fan Jianying sambil terus berjalan disekitar restoran yang akan dijadiakn tempat usahanya.
Setelah menguasai medan, diapun segera kembali dan mulai mengistruksikan kepada servant Meilin agar membersihkan tempat tersebut sekarang juga.
Servant Meilin bergegas mencari orang untuk membersihkan seluruh ruangan, sedangkan dirinya mulai berjalan menuju ke pengerajin besi untuk memesan sebuah oven tangkring dan beberapa Loyang serta peralatan memasak lainnya.
Ditemani Dayu dan sikembar, Fan Jianying pun mulai menuju pengrajin besi dan menunjukkan gambar yang telah dibuatnya.
“ Ini agak sulit nona mengingat bahan yang digunakan juga bukan bahan yang biasa…”, ucap pengerajin besi tersebut sambil mengkerutkan alisnya cukup dalam.
“ Aku ingin satu minggu dari sekarang semua barang ini harus sudah jadi…”, ucap Fan Jianying sambil mengeluarkan sekantong uang dan memberikannya kepada sang pengrajin.
Melihat banyaknya uang yang diberikan oleh gadis yang ada dihadapannya sebagai uang muka, lelaki tua tersebutpun tersenyum lebar dan menyanggupi keingginan Fan Jianying.
“ Jika sudah jadi, kirim kesini…”, ucap Fan Jianying sambil menuliskan alamat restorannya.
Selanjutnya diapun mulai memesan papan nama untuk memperbarui papan nama yang telah rusak dan kotor yang ada didepan restorannya.
Saat semua urusan awal restoran yang akan dibukanya selesai, diapun bergegas menuju D’Delicious restoran sesuai dengan janji temu dengan koki Aming.
“ Jadi ini tempatnya…cukup ramai juga…”, batin Fan Jianying sambil mengamati para pengunjung yang keluar masuk dalam restoran.
Setelah menyebutkan nama, salah satu pelayan segera mengantarkan Fan Jianying masuk kedalam ruangan khusus yang ada didalam toko.
Aming spontan membelalakkan kedua matanya mendengar gadis belia yang ada dihadapannya berkata menggunakan bahasa yang sudah sepuluh tahun ini tidak dia dengar.
“ Bagaimana bisa ?...apakah kamu ?...”, ucap Aming terbelalak.
“ Tebakan anda benar. Saya sama seperti anda yang masuk kedalam sebuah novel…”, ucap Fan Jianying tersenyum lebar.
Sebelum menemui Aming hari ini, Fan Jianying yang sebelumnya sudah menaruh kecurigaan jika lelaki tersebut merupakan pelintas waktu terbukti setelah melihat wajah lelaki paruh baya tersebut seperti lelaki Eropa pada umunya dengan rambut pirang, hidung mancung dan mata berwarna biru yang teduh.
Ditambah lagi nama restorannya yang menggunakan bahasa inggris membuatnya semakin bertambah yakin.
“ Novel ?....ini ada didalam novel ?...”, ucap Aming tak percaya.
“ Ya…ini adalah novel yang aku baca. Tapi sayangnya aku tak membaca keseluruhan cerita sehingga hanya mengetahui kondisi diawal saja…”, ucap Fan Jianying menjelaskan.
Aming terlihat masih syok waktu mendapati kenyataan jika dirinya masuk kedalam sebuah novel. Dia mengira jika dia kembali kemasa lampau dan berada dinegeri cina jaman dulu.
Bedanya antara Aming dan Fan Jianying adalah, jika gadis itu hanya jiwanya yang masuk kedalam tubuh seseorang.
Sedangkan lelaki paruh baya yang ada dihadapannya itu berpindah dimensi ke masa lampau. Aming terlihat linglung untuk sesaat.
Kini dia mulai sadar kenapa gadis belia tersebut mampu membuat roti lebih baik dari dirinya. Ternyata dia juga berasal dari jaman modern sama dengannya.
__ADS_1
Karena kesamaan hal inilah keduanya terlihat mulai ngobrol dengan akrab karena merasa satu nasib, meski keduanya baru saja bertemu.
Dalam obrolan tersebut kadang – kadang Aming menggunakan bahasa inggris, rindu akan kampung halamannya.
Setelah hari menjelang sore, Fan Jianying pun pamit undur diri karena dia masih harus menemui pangeran ke empat direstoran Shadong.
“ Aku harap kamu bisa hadir waktu pembukaan restoranku…”, ucap Fan Jianying sebelum masuk kedalam kereta.
“ Ok. Aku tunggu undanganmu….”, ucap Aming sambil melambaikan satu tangannya mengantar kepergian teman barunya itu.
“ Akhirnya, aku merasa tak sendirian lagi di negeri asing ini…”, batin Aming bahagia.
Pangeran Wei Jie terlihat sudah bersiap dikompartemennya, menunggu gadis yang sangat dirindukannya itu datang.
Zoelu hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya waktu melihat junjungannya itu tak berhenti berjalan mondar – mandir sambil sesekali membenahi penampilannnya.
“ Apakah jatuh cinta bisa merubah orang seperti ini ?...”, batin Zoelu sambil menyipitkan kedua matanya heran.
Pangeran Wei Jie segera duduk diatas sofanya sambil tersenyum manis waktu mendengar ada suara langkah kaki mendekat.
Begitu pintu dibuka, terlihat sesosok gadis cantik masuk kedalam ruangan. Wajahnya yang cerah bersinar membuat pangeran Wei JIe dan Zoelu terlihat menyipitkan kedua matanya karena silau.
“ Maaf, membuat Yang Mulia menunggu lama…”, ucap Fan Jianying begitu sudah masuk kedalam ruangan.
“ A...aku ku juga baru datang…”,ucap pangeran Wei Jie sedikit tergagap.
Zoelu yang melihat pangeran Wei Jie terlihat gugup tak bisa untuk tidak membulatkan kedua matanya.
" Bagaimana bisa seorang yang bisa dengan tenang membantai dengan keji semua musuh - musuhnya tanpa perasaan bisa gugup dan salah tingkah seperti itu hanya karena seorang gadis ?...", batin Zoelu dengan mulut terbuka lebar.
Setelah duduk, Fan Jianyingpun langsung menanyakan hal yang sudah dia tuliskan dalam surat sebelumnya.
Pangeran Wei Jie pun menjelaskan semua informasi yang berhasil didapatkannya dari Bai Cheung tadi malam. Tentang bagaimana ramuan tersebut bekerja hingga kekuatan hewan mutasi yang sangat tidak wajar.
“ Apakah ada contoh darahnya ?...jika ada mungkin aku bisa menganalisanya ?...”, ucap Fan Jianying dengan sorot mata serius.
“ Apa kamu bisa ?...”, ucap pangeran Wei Jie penasaran.
“ Akan aku coba…”, ucap Fan Jianying santai.
“ Wah…aku sama sekali tak menyangka jika nona Fan ini memiliki kemampuan yang luar biasa…”, ucap pangeran Wei Jie penuh pujian.
Keduanpun mulai terlibat percakapan santai setelah pangeran Wei Jie memuji kue buatannya yang sempat dikirm kepada adiknya kemarin.
“ Aku jadi ingin lihat ekpresi Bai Cheung jika tahu kalau yang membuat ramuan untuk membantunya mengalahkan hewan mutasi adalah istrinya…”, batin pangeran Wei Jie tergilitik.
__ADS_1