
Langit semakin gelap dan suara petir bergemuruh membuat siapa saja enggan untuk keluar rumah di akhir pekan seperti ini.
Termasuk Aurella yang lebih memilih berada didalam rumah dan hanya menatap fenomena alam tersebut dari balik kaca jendela apartemennya sambil termenung.
Sejak pertemuannya dengan lelaki tua misterius yang ditemuinya ditaman dua hari lalu, hati Aurella mulai sedikit ragu.
Awalnya dia sangat ingin kembali ke negara Huangshan untuk bertemu dengan sang buah hati yang telah dilahirkannya.
Tapi setelah mendengar penjelasan dari lelaki tua misterius tersebut bahwa dirinya tak akan pernah bisa kembali lagi kedunia asalnya setelah kembali kesana membuat hatinya bimbang.
Apalagi waktu Aurella mendengar fakta jika dia memutuskan untuk kembali ke negeri fiksi tersebut, maka secara otomatis keberadaannya didunia nyata ini juga akan menghilang sepenuhnya.
Bahkan keberadaannya disini seolah – olah tak ada. Dia seperti seseorang yang tak pernah dilahirkan kedunia ini karena memilih takdir yang berbeda.
“ Apa yang harus aku lakukan sekarang ?....”
“ Aku harus kembali kesana atau tidak ?….”
“ Apa benar kebahagiaanku ada disana ?....”
“ Apakah tepat meninggalkan dunia nyata demi sebuah dunia yang merupakan hasil imajinasi seseorang ?....”
Semua pertanyaan mulai bermunculan dikepala Aurella satu persatu tanpa henti. Membuat kepalanya terasa berat dan pening.
Aurella segera mengambil tas kecil, mengeluarkan sebotol pil dan langsung meminumnya. Setidaknya, obat penenang tersebut bisa meredakan sakit yang hinggap dikepalanya saat ini.
Kemudian diambilnya sebuah batu keemasan berbentuk kelereng dari dalam saku celananya dan mulai dimainkan di telapak tangannya.
Begitu batu tersebut bersinar, tanpa Aurella sadari buku novel kuno yang tertata apik di almarinya juga ikut mengeluarkan cahaya terang.
Seolah ada keterikatan antara kelereng tersebut dengan buku novel kuno itu. Sementara itu didunia lain, Dayu yang hendak menidurkan Baoji setelah selesai memberikan susu kepada tuan mudanya sangat terkejut waktu menyadari tubuh bayi tersebut mengeluarkan cahaya terang yang tak biasa.
Dengan tergesa- gesa, Dayu pun segera berlari kecil sambil mengendong Baoji menuju ruang kerja Bai Cheung dengan wajah cemas.
“ Ada apa Dayu ?....kenapa kamu kelihatan cemas seperti itu ?....”, tanya Liam khawatir begitu Dayu tiba didepan tuang kerja Bai Cheung.
“ Apa tuan masih ada didalam ?....”, tanya Dayu cemas.
“ Benar....tuan masih didalam untuk menyiapkan berkas yang akan dibawa ke pengadilan pagi ini….”, ucap Liam menjelaskan.
“ Biarkan aku masuk…ada yang aneh dengan tuan muda….”, ucap Dayu sambil membuka penutup tubuh Baoji.
Liam yang melihat tubuh tuan mudanya tersebut mengeluarkan cahaya bergegas membukakan pintu dan menemani Dayu masuk.
Bai Cheung yang sedang sibuk menata berkas yang hendak dibawanya langsung mengalihkan atensinya begitu mendengar suara langkah masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1
“ Kenapa kalian berisik sekali !!!....Ada apa ?…..”, hardik Bai Cheung tajam.
Bai Cheung yang merasa terganggu dengan kehadiran Liam dan Dayu langsung membulatkan kedua matanya begitu melihat tubuh Baoji mengeluarkan cahaya terang.
Tanpa banyak berkata lagi, Bai Cheung pun langsung mengambil anaknya dari dekapan Dayu dan menatapnya dengan intens, mencoba mencari jawaban atas peristiwa yang sedang terjadi.
“ Liam…bawa semua berkas yang ada diatas meja dan ikuti aku !!!....”, perintah Bai Cheung tajam.
Diapun bergegas meninggalkan ruang kerjanya dengan cepat menuju Huangwe Palace untuk bertemu dengan ayah mertuanya.
Sementara Liam berusaha mengejar ketertinggalan langkahnya dibelakang sambil membawa berkas – berkas yang diminta oleh Bai Cheung.
Para penjaga hanya menunduk dan mempersilahkan menantu Huang Lo tersebut masuk begitu Bai Cheung sudah berada didepan Huangwe Palace.
Huang Lo menghentikan aktivitasnya waktu melihat menantunya tersebut berjalan tergesa- gesa menuju ke tempatnya berada sambil mengendong Baoji.
“ Ada apa ?....”, tanya Huang Lo dengan wajah cemas.
Sama dengan reaksi Bai Cheung tadi, Huang Lo langsung membulatkan kedua matanya begitu penutup tubuh Baoji dibuka.
“ Cepat ikuti aku !!!....”, perintah Huang Lo tajam.
Liam yang mendapat perintah melalui sorot mata majikannya hanya menganggung dan menunggu Bai Cheung diluar ruangan.
Huang Lo tak tahu yang terjadi pada Baoji merupakan pertanda baik atau butruk sebelum dia memasukkan cucu pertamanya tersebut kedalam ruang meditasinya.
Begitu sampai didalam ruangan rahasia, Huang Lo segera menyuruh Bai Cheung untuk meletakkan Baoji di atas batu besar yang ada ditengah – tengah ruangan dengan lingkaran bermantra yang ada dibawahnya.
Setelah Baoji diletakkan, Huang Loa pun mulai duduk bersila menghadap kearah bayi yang masih tertidur pulas tersebut untuk mulai bermeditasi.
Cukup lama Huang Lo bermeditasi, berusaha memusatkan pikirannya pada bayi yang ada dihadapannya tersebut.
Cringggg…..
Sinara terang yang menyelimuti tubuh Baoji tiba – tiba saja bergerak keatas dan menembus langit.
Karena pagi hari, maka tidak banyak orang yang menyadari fenomena langkah tersebut. Hanya beberapa orang yang memiliki ilmu tinggi saja yang bisa menyadarinya.
Jderrr !!!.....
Petir yang menyambar langit membuat Aurella yang sednag termenung terkejut dan menjatuhkan batu keemasan seukuran kelereng tersebut hingga terpental sampai di depan rak buku.
Kedua mata Aurella langsung menyipit waktu mengikuti kemana arah batunya tersebut terlempar melihat ada seberkas cahaya terang dari arah rak buku yang ada diatas batu tersebut terlempar.
“ Sinar apa ini ?....”, batin Aurella penasaran.
__ADS_1
Diapun segera mengambil novel kuno mengenai kehidupannya dinegara Huangshan tersebut karena mengeluarkan sinar terang yang aneh.
“ Awww…..”, jerit Aurella terkejut waktu menyadari jika buku tersebut sangat panas.
Novel kuno tersebut terjatuh tepat disamping batu keemasan yang tadi terlempar waktu dia terkejut karena adanya petir dilangit.
Aurella terlihat mengamati dengan intens halaman buku yang terbuka tersebut dimana disana dapat dia lihat sesosok bayi yang sangat mirip dengan wajah putranya tergambar jelas disana.
“ Baoji…..”, guman Aurella sedih.
Tak terasa air matanya langsung jatuh begitu dia mengingat wajah putra yang sempat dia susui beberapa waktu yang lalu.
Ikatan emosionalnya sebagai seorang ibu kembali bangkit wkatu melihat wajah putranya dalam novel tersebut, membuat Aurella menangis tersedu - sedu.
Aurella terlihat berusaha keras untuk membaca tulisan yang ada disekitar foto bayi tersebut. Namun sekeras apapun dia berusaha, dia tak dapat menterjemahkan bahasa asing itu.
“ Kenapa ini….”
“ Kenapa aku tak bisa memahami tulisan ini….”
Aurella terlihat sedikit binggung namun tetap fokus pada tulisan yang ada dihadapannya, berusaha untuk menggali ingatannya.
Dia merasa sangat aneh karena sama sekali tidak bisa membaca tulisan tersebut padahal sebelumnya dia bisa lancar membaca isi dalam novel itu meski menggunakan bahasa yang belum pernah dia pelajari dan temukan sebelumnya.
Keingginan Aurella yang kuat untuk bisa mengetahui apa yang tertulis pada halaman novel tersebut membuatnya fokus menatap kebawah.
Karena terlalu fokus, Aurella tak menyadari jika dia sudah duduk cukup lama sambil menatap halaman novel yang terbuka tersebut hingga malam hari.
Waktu mulai berjalan dengan sangat cepat tanpa Aurella sadari. Perlahan – lahan awan gelap yang menyelimuti langit mulai terbuka dan berganti sinar terang sang rembulan.
Karena terlalu fokus, Aurella tak menyadari jika hari sudah berganti malam dan tepat hari ini adalah bulan purnama.
Sinar sang rembulan yang terang perlahan masuk melalui jendela ruangan dan menyatu dengan sinar yang terpancar dari dalam novel dan batu keemasan yang ada disampingnya.
Aurella yang sangat fokus pada sang buah hati dan tulisan yang ada dihadapannya tak menyadari jika jiwanya perlahan mulai terserap masuk kedalam novel.
Wushhhh………
Seiring jiwanya masuk kedalam novel, perlahan – lahan wujud tubuhnya didunia nyata perlahan mulai menghilang.
Begitu juga dengan seiisi ruang yang ada didalam apartemen, smeuanya ikut menghilang menjadikan apartemen tersebut kosong seperti pada awalnya.
Meski Aurella tidak mengucapkan keputusannya, namun apa yang ada dalam hatinya sudah merupakan sebuah keputusan yang telah diambilnya.
Perlahan – lahan ingatan semua orang akan kehadiran sosok Aurella pun mulai terhapus, seolah – olah gadis tersebut tak pernah terlahir kedunia ini.
__ADS_1