CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
MENJALANKAN RENCANA


__ADS_3

Sesuai dengan rencana yang telah disusun, siang ini Fan Jianying menemui kaisar Muzeng untuk mendiskusikan beberapa hal  mengenai keberadaan Kristal kehidupan.


Dalam kesempatan tersebut, Fan Jianying juga mengatakan jika peramal Yan merasakan ada kekuatan besar yang samar dari dalam hutan kematian.


Untuk itulah dirinya bersama peramal Yan akan pergi mengeceknya secara langsung sekaligus mencari petunjuk tentang memori mereka yang hilang setelah peristiwa yang terjadi pada malam tersebut.


“ Peramal Yan mengatakan jika dengan datang ke dalam hutan kematian, kemungkinan sebagian memorinya yang hilang akibat peristiwa hari itu bisa kembali….”, ucap Fan Jianying menjelaskan.


“ Jika berkenan, saya ingin mengajak Yang Mulia ikut serta kedalam hutan kematian untuk mencari petunjuk…”, ucap Fan Jianying sedikit berhati – hati dalam pengucapan kalimatnya.


Sekilas, Fan Jianying mencoba membaca isi pikiran lawan bicaranya saat ini yang masih menunjukkan ekspresi datar tak terbaca.


“ Jadi, menurutmu kita bisa mendapatkan petunjuk jika masuk kedalam hutan kematian ?...”, tanya  kaisar Muzeng sambil mengelus – elus dagunya dengan kedua bola mata bergerak ke kiri dan ke kanan secara perlahan.


Mencoba memikirkan kembali rangkaian peristiwa yang sempat hilang dari memorinya setelah Kristal kehidupan berhasil di curi dari tangannya.


Melihat reaksi kaisar Muzeng, Fan Jianying sangat yakin jika umpan yang dilemparkannya berhasil.


Dia hanya menunggu bagaimana kaisar Muzeng memberi reaksi terhadap umpan yang telah diambilnya tersebut.


Setelah berpikir beberapa saat, tampaknya kaisar Muzeng sudah mengambil keputusan jika dia akan ikut serta masuk kedalam hutam kematian bersama keduanya.


“ Baiklah Aurella…aku akan ikut bersama kalian masuk kedalam hutan kematian. Aku harap, disana kita bisa mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Kristal kehidupan….”, ucap kaisar Muzeng yakin.


Keputusan yang dibuat oleh kaisar Muzeng ini selain untuk menyelidiki keberadaan Kristal kehidupan.


Juga sebagai cara agar dirinya bisa masuk kembali kedalam hutan kematian yang konon sekarang menurut beberapa orang yang sudah mencoba memasukinya sangatlah sulit untuk menembus benteng pertahanan yang dibuat oleh Long Wang sepeninggalan Ratu Elisabeth.


Maka dari itu, dengan kesempatan bagus ini dia tak mau menyia – nyiakan waktu dan tentunya akan lebih mudah jika yang membawa dirinya masuk adalah Ratu hutan kematian itu sendiri.


Setelah kesepakatan dibuat, ketigannyapun mulai bersiap – siap untuk berangkat menuju dimana hutan kematian berada.


Melihat istrinya berkemas – kemas, Bai Cheung pun mengangkat satu alisnya heran. Apalagi dia juga melihat jika pasukan gurun juga mulai bersiap – siap untuk pergi.


“ Apakah dia akan pergi bersama kaisar Muzeng ?....kemana ?...”, batin Bai Cheung penasaran.


Diapun segera melangkah menuju tenda dan mendapati istrinya tersebut sudah siap dengan gaun kombinasi yang sangat cantik berwarna pink dan mantel bulu serta sarung tangan dengan warna senada.


Melihat istrinya terlihat sangat cantik, hati Bai Cheung mulai ada kecemburuan yang mengusiknya.


“ Kenapa kamu berdandan cantik seperti ini hanya untuk pergi dengan lelaki lain yang bukan suamimu ?....”, tegur Bai Cheung penuh kecemburuan.

__ADS_1


Untuk sesaat Fan Jianying menautkan dua alisnya heran melihat suaminya itu kembali menatapnya dengan tajam.


“ Kenapa lagi dia ?...bukankah tadi masih baik – baik saja ?...”, batin Fan Jianying tercenggang.


Fan Jianying terus menatap Bai Cheung yang sekarang sedang mengerucutkan bibirnya sambil memainkan jemarinya dan sesekali melirik kearahnya.


Tingkah Bai Cheung yang seperti anak kecil sedang merajuk kepada orang tuanya minta dibelikan mainan tersebut  membuat Fan Jianying tersenyum geli.


“ Hey…apakah suamiku ini sedang merajuk ?...”, tanya Fan Jianying penuh godaan.


Mendengar ucapan istrinya, Bai Cheung pun menggerak – gerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan masih dengan bibir mengerucut membuat Fan Jianying pun semakin gemas dibuatnya.


Tanpa ragu, Fan Jainying pun segera mencubit kedua pipi suaminya berkali – kali sambil terkekeh.


Tindakan spontan Fan Jianying tersebut tentu saja membuat wajah dan telinga Bai Cheung memerah seketika.


Melihat hal tersebut, Fan Jianying pun semakin gencar untuk menggoda suaminya yang terlihat sangat mengemaskan saat ini.


“ Ganti bajumu…aku tak suka…”, ucap Bai Cheung merajuk.


“ Kenapa dengan bajuku ?....bukankah ini sangat cantik ?...”, Fan Jianying sambil berputar di depan Bai Cheung, berusaha kembali menggoda suaminya.


“ Justru karena itu aku tak suka….”, Bai Cheung pun terus merenggek agar istrinya itu mau menganti pakaiannya.


“ Aku tak akan pernah membiarkanmu pergi jika masih bersikeras menggunakan pakaian ini…”, ancam Bai Cheung tepat disamping telinga Fan Jianying.


Nafas hangat yang dihembuskan oleh Bai Cheung tepat di telingga Fan Jianying membuat gadis tersebut kegelian.


Melihat hal tersebut, Bai Cheung pun memiliki ide untuk menjaili istrinya. Di hembuskannya beberapa kali udara lewat mulutnya hingga membuat tubuh Fan Jianying merinding seketika.


Kejailan Bai Cheung tidak berhenti disitu saja, diapun dengan nakal menggigit daun telingga Fan istrinya beberapa kali sambil menjilatinya hingga suara lengkuhan lolos dari mulut munggil istrinya itu.


Merasa jika nafas sang suami semakin memburu dan berat, Fan Jianying pun berusaha untuk melepaskan diri dari kukungan Bai Cheung.


“ Iya, aku akan berganti pakaian sekarang…”, ucap Fan Jianying patuh.


Perlahan, Bai Cheung pun mulai melonggarkan dekapannya dan mulai duduk disamping ranjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


“ Hufft….hampir saja aku hilang kendali….”, batin Bai Cheung mendesah frustasi.


Jujur saja, jika tadi Fan Jianying tak menghentikannya mungkin saat ini Bai Cheung akan kembali melakukan kesalahan yang dapat membuatnya susah untuk mendapatkan maaf dari istrinya.

__ADS_1


Melihat suaminya masih terdiam sambil menunduk, Fan Jianying pun mulai menganti pakaiannya dengan baju prajurit yang tadi dia pakai dan mengucir rambutnya ekor kuda tinggi – tinggi.


“ Bagaimana sekarang ?...apa dengan begini aku bisa pergi ?...”, tanya Fan Jianying sambil memiringkan kepalanya.


Mendengar ucapan istrinya, Bai Cheung pun mulai mengangkat wajahnya dan menatap Fan Jianying dari atas hingga ke bawah.


“ Kenapa dia masih menatapku seperti itu ?...apakah ada yang salah ?...”, batin Fan Jianying binggung.


Bai Cheung masih merasa tidak senang waktu menyadari jika kecantikan istrinya itu tidak dapat disembunyikan, apapun pakaian yang dia gunakan.


Tapi, diapun tak bisa berpikiran sempit. Bagaimanapun, istrinya itu sudah menuruti keingginanya untuk berganti pakaian jadi tak mungkin bagi dirinya untuk kembali protes akan hal itu.


“ Kamu akan pergi kemana dengan kaisar Muzeng ?...”, tanya Bai Cheung datar.


“ Aku, peramal Yan dan kaisar Muzeng akan kehutan kematian, hanya ingin memastikan sesuatu …”, ucap Fan Jianying sambil mulai memasang beberapa senjata di pinggangnya.


“ Berapa lama kalian ada disana ?...”, tanya Bai Cheung penasarn.


“ Tidak lama…setelah semua urusan disana selesai, aku akan langsung kembali…”, ucap Fan Jianying sambil menatap suaminya hangat.


Melihat suaminya itu tak puas dengan jawabannya, Fan Jianying pun segera meraih tangan Bai Cheung dan duduk disampingnya.


Meski ragu, namun Fan Jianying harus memastikan ini semua agar rencana yang sudah disusunnya bisa berjalan dengan lancar.


Bagaimanapun nantinya, dia masih akan membutuhkan suaminya itu untuk bisa masuk kedalam istana. Meski dia bisa meminta bantuan pada pada pangeran ke empat ataupun putra mahkota.


Tapi hal tersebut tentunya akan menimbulkan kecurigaan yang besar, lain hal nya jika dia masuk kedalam istana dengan suaminya.


“ Apakah tugasmu disini masih lama ?...”, tanya Fan Jianying  dengan tatapan penuh selidik.


“ Karena hewan mutasi sudah tak muncul lagi dan negara gurun sudah membuat kesepakatan genjatan senjata dengan kita, mungkin aku bisa kembali ke ibukota dalam waktu dekat. Kenapa ?...”, ucap Bai Cheung sambil menatap istrinya dengan curiga.


“ Setelah aku kembali dari hutan kematian, apakah kita bisa langsung balik ke ibukota ?...”, tanya Fan Jianying sedikit ragu.


“ Jika kamu ingin seperti itu, aku bisa mengaturnya…”, ucap Bai Cheung sambil mengenggam tangan istrinya dengan erat.


“ Apapun itu, sebagai suamimu…. aku akan selalu mendukungmu. Untuk itu, kapanpun kamu memerlukan bantuan, kamu bisa mengandalkan aku….”, ucap Bai Cheung memberi semangat.


Hati Fan Jianying seketika menghangat waktu mendengar ucapan dari suaminya itu. Tanpa sadar, dia meneteskan air mata haru sambil menganggukkan kepala dan tersenyum.


Bai Cheungpun segera memeluk istrinya dengan erat sambil kembali membisikkan kata – kata penyemangat untuk gadis tersebut.

__ADS_1


“ Terimakasih….”, ucap Fan Jianying bahagia.


“ Ini sudah menjadi tugasku sebagai suamimu, untuk selalu mendukung dan melindungi istrinya dengan segenap jiwa dan raga….”, ucap Bai Cheung hangat.


__ADS_2