
Wushhh…..wushhh…..wushhh…..
Malam ini angin berhembus sangat kencang, membawa terbang daun – daun kering yang berguguran diatas tanah.
Para pelayan yang sudah menyelesaikan tugasnya perlahan beranjak masuk kedalam kamarnya masing - masing dan membungkus tubuh mereka dengan selimut.
Sementara itu para pengawal yang malam ini mendapat giliran untuk berjaga terlihat beberapa kali menggosok – gosokkan telapak tangannya sambil menggerakkan tubuhnya untuk mengusir udara dingin yang mulai menembus pakaian yang mereka kenakan saat ini.
Fan Jianying yang sudah membaik berkat obat yang diberikan oleh tabib Shilin saat ini sedang menghangatkan diri didalam cincin ruangnya sambil bermeditasi.
“ Jawaban dari semua pertanyaan anda, hanya anda sendirilah yang mampu mencarinya…”, Fan Jianying kembali mengingat perkataan tabib Shilin tadi pagi.
Setelah kondisi tubuhnya membaik, Fan Jianying langsung melakukan meditasi sesuai saran yang diberikan oleh tabib shilin kepadanya.
Hal ini dilakukannya untuk menemukan jawaban dari mimpi – mimpi aneh yang terus menganggu tidurnya selama tiga hari terakhir ini.
Fan Jianying terlihat mulai memasuki alam bawah sadarnya begitu meditasi sudah berjalan. Jiwanya mulai berkelana untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan yang tiga hari ini terus membayanginya.
Pada saat tubuh Fan Jianying bergetar hebat, peluh terlihat membasahi wajah cantiknya, meninggalkan jejak – jejak samar disana.
Sekuat tenaga Fan Jianying berjuang untuk bisa keluar dari formasi sihir yang menjerat tubuhnya saat ini. Semakin dia bergerak, ikatan kasat mata tersebut semakin kuat mengikatnya.
Agar bisa memecahkan misteri yang didapatakan dari alam bawah sadarnya itu, diapun berusaha untuk lebih tenang dan memaksimalkan kerja pancar indera dalam tubuhnya.
“ Itu dia….”, guman Fan Jianying senang.
Diapun mulia mengedarkan pandangannya dan memfokuskan penglihatannya pada benang merah tipis yang tak kasat mata tersebut.
Pandangannya terus mengurai dimana pusat dari benang merah tersebut agar simpul yang ada bisa terurai dengan sempurna.
Crassshhhh….
Satu sinar biru keluar dari telunjuknya dan dengan satu gerakan saja, semua simpul dapat terurai dengan sempurna dan diapun bisa melanjutkan perjalanan jiwanya yang sempat tertunda sesaat.
Cukup lama Fan Jianying bermeditasi hingga keringat dingin sudah mengucur deras dari tubuhnya.
Namun hal itu tak menghalanginya untuk terus berjuang hingga akhirnya dia terbangun sambil memuntahkan seteguk darah.
“ Hutan kematian…wilayah perbatasan bagian timur…..aku harus kesana….”, guman Fan Jianying sambil mengusap sisa darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
Semua jawaban dari mimpinya ada di hutan kematian yang posisinya sudah berhasil dia dapatkan.
Saat ini yang harus dia pikirkan adalah bagaimana caranya agar bisa keluar dari kediaman Bai tanpa di curigai oleh siapapun.
Apa alasan yang akan dia gunakan kepada matriark Bai dan ibu mertuanya agar kedua wanita tersebut mengijinkannya pergi.
Belum lagi dia masih memiliki tanggung jawab terhadap Impereal Restoran yang baru saja dibukanya itu.
__ADS_1
Sangat tidak mungkin dia akan meninggalkan tanggung jawabnya tersebut begitu saja. Hal itu membuat kepalanya mulai berdenyut.
“ Coba nanti aku konsultasikan lagi dengan tabib Shilin gimana baiknya…”, batin Fan Jianying tenang.
Untuk saat ini langkah pertama yang harus dia buat adalah mengajari Dayu cara membuat kudapan dan beberapa masakan yang menjadi andalan di Impereal Restoran.
SEbagai langkah pertama, diia harus menyediakan semua bahan per resep, sehingga Dayu hanya perlu mencampur bumbu dengan bahan yang sudah ada sesuai langkah – langkah yang telah ditulisnya dalam selembar kertas.
Fan Jianying pun mulai menimbang dan mencampur berbagai macam bahan, kemudian diapun mulai mengemas satu persatu bumbu dan bahan yang sudah dicampurnya tersebut kemudian diberi label agar tidak tertukar.
Dia setidaknya harus menyediakan bahan – bahan yang bisa digunakan sampai enam bulan kedepan.
Cukup lama dia berkutat dalam dapur pribadinya sebelum mengemas bahan makanan tersebut kedalam sebuah kotak kayu yang sangat besar dan menguncinya.
Selanjutnya dia mulai memanggil Dayu secara pribadi dan mulai mengajarinya cara membuat kudapan dan masakan untuk restorannya di dapur kediamannya.
Servant Meilin memicingkan matanya waktu melihat Fan Jianying berjalan bersama pelayan pribadinya menuju kearah dapur yang ada dikediaman.
Entah kenapa servant Meilin memiliki firasat buruk, seolah – olah majikannya itu akan mengalami sesuatu hal buruk yang dapat mengancam nyawanya.
Ternyata bukan hanya servant Meilin saja yang merasakan hal tersebut. Heyna juga merasa jika ada aura lain yang memancar dari tubuh madam ketiganya itu.
Namun, sekeras apapun dia berusaha, Heyna sama sekali tak bisa mendeteksinya. Hal tersebut tentu saja membuatnya mengkerutkan kening cukup dalam.
Apalagi tuan mudanya terus memerintahkan agar lebih ketat lagi dalam mengawasi madam ketiga Bai dalam surat terakhir yang dia kirim.
Tubuh semua orang langsung menegang waktu tabib Shilin menceritakan semuanya dan mengutarakan asumsi yang berhasil didapatkannya.
“ Jadi, maksudmu Fan Jianying adalah sang terpilih ?….”, tanya pangeran Wei Jie penuh selidik.
“ Kita tunggu hasil dari meditasinya. Jika dia diharuskan untuk pergi ke hutan kematian, maka bisa dipastikan itu dia…”, ucap tabib Shilin menjelaskan.
Putra mahkota Qin Shi Huang yang sudah curiga akan hal tersebut nyatanya masih terkejut mendapati fakta jika gadisnya adalah sang terpilih.
“ Jadi ini alasan sebenarnya ayahanda menyembunyikannya selama ini ….”, batin putra mahkota Qin Shi Huang bermonolog.
Jika hal ini adalah alasan ayahanda kaisar yang sesungguhnya, putra mahkota Qin Shi Huang bisa memakluminya.
“ Pantas saja dia memiliki kemampuan spesial. Aku sebenarnya masih sangat heran bagaimana Fan Jianying bisa memiliki kemampuan membuat racun, bahkan dia bisa membuat penangkalnya. Sesuatu hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh gadis muda yang tak pernah belajar apapun tentang racun dalam kehidupannya…”, pangeran Wei Jie berkata sambil mengingat – ingat apa lagi kelebihan yang dimiliki oleh Fan Jianying.
“ Cheung sungguh bodoh meninggalkan istri secantik dan sepintar itu hanya untuk bergulat dengan hewan mutasi dan pemberontak…”, pangeran Wei Jie kembali berucap dengan nada mencibir.
“ Andai saja dia bukan adikku…ahhhh…”, pengeran Wei Jie mendesah pasrah.
Kedua mata tabib Shilin langsung membulat sempurna begitu mendengar ucapan terakhir yang keluar dari mulut sahabatnya itu.
“ Adik ?....”, tanya tabib Shilin binggung.
__ADS_1
Pangeran Wei Jie langsung terdiam dan memalingkan wajahnya binggung karena keceplosan mengatakan sesuatu yang seharusnya tak pernah terucap dari mulutnya.
Sementara itu, putra mahkota Qin Shi Huang sudah menatapnya tajam.Tabib Shilin yang baru mengetahui fakta tersebut hanya bisa menutup mulutnya dengan satu tangannya syok.
“ Sebaiknya kau tutup mulut jika tak ingin nyawamu melayang !!!...”, ancam putra mahkota Qin Shi Huang.
Mendengar ancaman dari sahabatnya, tabib Shilin hanya bisa menganggukkan kepala tanpa bisa berkata – kata lagi.
Tabib Shilin yang masih syok waktu mengetahui jika Fan Jianying adalah sang terpilih kembali dibuat terkejut dengan fakta yang baru saja di dengar.
Dia merasa jantungnya sudah tidak aman lagi. Meski begitu, ada sedikit kelegaan dalam hati kecilnya.
" Akhirnya dua saingan beratku gugur tanpa perlu aku berusaha...", batin tabib Shilin bahagia.
Tabib Shilin yang pada awalnya berusaha untuk menyerah dengan kata hatinya akhirnya bisa mulai untuk kembali berjuang setelah mengetahui dua saingan beratnya adalah kakak dari gadis yang sudah mengambil hatinya tersebut.
Meski putra mahkota Qin Shi Huang bukanlah kakak kandung, namun karena mereka masih satu ayah jadi tidak mungkin bagi lelaki itu untuk menikah dengan adik tirinya sendiri.
“ Berarti sekarang tinggal menunggu Bai Cheung menceraikan Fan Jianying. Dengan begitu, langkahku untuk mendapatkannya semakin besar…”, batin tabib Shilin bahagia.
Tanpa semua orang ketahui, ada sosok bayangan hitam melesat pergi begitu dia sudah mendapatkan informasi penting yang dibutuhkannya.
Pranggg……...
Ratu Qilin membanting semua benda yang berhasil diraihnya hingga jatuh berkeping – keping diatas lantai.
Selanjutnya dia mulai mencekik lelaki paruh baya yang ada dihadapannya hingga lehernya berdarah akibat kuku tajam Ratu Qilin yang menancap kuat di kulit lehernya.
Lelaki yang ada ditangannya itu adalah pengkhianat yang memberitahu pergerakan para pemberontak kepada jenderal besar Tian sehingga lelaki tersebut bisa membasmi para pemberontak dengan mudah.
“ Bereskan dia !!!...”, perintah Ratu Qilin tajam.
Laki – laki paruh baya yang tersungkur dilantai tersebut hanya bisa pasrah waktu dua pengawal berbadan kekar menyeretnya keluar ruangan dengan kasar.
Ratu Qilin terlihat mengerakkan bola matanya kekanan dan kekiri dengan cepat sambil berpikir langkah apa lagi selanjutnya yang bisa diambilnya.
Belum sempat kemarahannya reda, tiba – tiba pengawal rahasianya datang melaporkan semua pembicaraan yang dilakukan oleh putra mahkota bersama pangeran ke empat dan tabib Shilin.
“ Apa ?!!!...dia adalah sang terpilih !!!....”, ucap Ratu Qilin dengan mata melotot.
Kedua tangan Ratu Qilin mengepal kuat dengan gigi gemertak. Dirinya sangat marah mengetahui fakta tersebut.
Dia sama sekali tak menyangka jika kaisar Huang mampu menyembunyikan putrinya tersebut dengan sangat baik.
Bukan hanya akan membahayakan posisi pangeran kedua Song Yu dalam perebutan tahta, jika Fan Jianying benar adalah sang terpilih maka menyingkirkannya bukanlah perkara yang mudah.
“ Jika begitu, aku akan coba untuk menjadikannya sekutu…”, batin Ratu Qinli tersenyum licik.
__ADS_1