
Saat ini sudah memasuki musim gugur dan setiap kediaman sudah menyiapkan beberapa barang – barang keperluan untuk menyambut datangnya musim dingin.
Suhu udara diluar sudah mulai rendah, daun – daun berguguran seiring dengan angin yang berhembus kencang membuat bulu kudu siapa saja langsung berdiri ketika bersentuhan dengannya.
Sudah menjadi agenda rutin Fan Jianying jika setiap pagi dia akan memberikan penghormatan kepada nenek dan ibundanya di ruang utama setelah selesai sarapan.
Matriark Bai terlihat menyesap teh rempah yang ada ditangannya, memandang keluar ruangan sambil menghembuskan nafas secara perlahan.
“ Sekarang sudah hampir musim dingin. Sudah waktunya semua kediaman untuk mendapatkan pakaian tambahan yang dibuat oleh bagian perlengkapan rumah tangga. Istri Axiang, apa kamu sudah menyelesaikan semuanya ?...”, matriark Bai melirik madam Chou yang duduk dikursi yang ada disampingnya.
Madam Chou yang baru saja mengambil secangkir teh langsung menghentikan kegiatannya begitu matriark Bai bersuara dan menatap sang nenek sambil tersenyum manis.
“ Tolong jangan khawatir nenek. Para pekerja sudah memberi informasi jika minggu ini semua pakaian yang saya pesan akan jadi…”, madam Chou menjawab dengan lembut.
“ Pakaian musim dingin kali ini saya pesan sesuai dengan trend yang ada di ibukota saat ini. Tentunya tidak akan mengecewakan…”, ucap madam Chou menjelaskan.
Setelah mengatakan demikian, madam Chou melirik kearah Fan Jianying yang duduk bersebelahan dengan matriark Bai.
Matanya terlihat sedikit redup karena untuk kesekian kalinya sang nenek menyuruh Fan Jianying yang duduk bersamanya, bukan dia.
“ Untuk adik ipar yang baru saja menikah, saya berinisiatif untuk membuatkan tiga stel pakaian musim dingin….”, ucap madam Chou sambil menatap Fan Jianying penuh perhatian.
Meski hatinya snagat kacau, sebisa mungkin dia memberikan kata - kata manis dan sedikit perhatian untuk menarik atensi semua orang.
Dia berharap, dengan perhatian yang diberikannya ini matriark Bai bisa memandangnya sebagai kakak ipar yang sangat penyayang.
Namun harapan madam Chou tersebut hilang waktu wanita tua tersebut berkata dengan tatapan seolah menyalahkan.
“ Tiga stel aku rasa tidak cukup, mengingat musim dingin kali ini diperkirakan akan sedikit panjang dari sebelumnya. Ditambah lagi, Bai Cheung saat ini sedang tidak berada di dalam ibukota, jadi kita harus menjaga istri Cheung ini dengan sangat baik. Tambahkan tiga stel lagi pakaian dan empat set perhiasan untuk istri Cheung…. ”, ucap matriark Bai sambil menetap lembut Fan Jianying dengan penuh perhatian.
Fan Jianying merasa tidak enak akan perhatian yang sedikit berlebihan dari matriark Bai tersebut. Apalagi sekilas dari sudut matanya dia dapat melihat jika kakak iparnya tersebut mengertakkan giginya menahan amarah.
“ Cucu menantu perempuan tertua ini sudah mengerti nenek…”, ucap madam Chou tersenyum samar.
__ADS_1
Meski mengucapkan kalimat positif dipermukaan, namun sorot matanya tidak bisa ditutupi jika rasa dengki dan iri hati kembali menjalar di dalam tubuhnya.
Memberikan Fan Jianying enam stel pakaian baru dan empat set perhiasan dianggap oleh madam Chou terlalu berlebihan.
Itu juga merupakan pemborosan mengingat keuangan keluarga Bai dua bulan terakhir tidak cukup baik.
Madam Chou terlihat sangat kecewa dengan sikap matriark Bai yang dianggap selalu mengistimewakan istri Cheung.
Padahal wanita tua itu sudah mengetahui jika property yang dimiliki keluarga Bai beserta perkebunan yang ada, beberapa bulan terakhir mengalami penurunan yang lumayan drastis.
Ketika madam Chou kembali mengingat waktu pertama kali dirinya menginjakkan kaki dikediaman Bai, matriark Bai tidak pernah memperlakukan dirinya sebaik perlakuan wanita tua itu kepada Fan Jianying saat ini.
Kecemburuan dan rasa frustasi semakin mengakar kuat didalam hati madam Chou. Fan Jianying yang melihat perubahan ekpresi kakak iparnya tersebut merasa tidak enak.
Tapi sekarang juga bukan waktunya untuk berbicara karena bukan menjadi ranahnya. Meski begitu dia masih ingin bersuara agar kesalah pahaman ini tidak semakin besar.
Matriark Bai yang menyadari hal itu, sebelum Fan Jianying bersuara, dia terlebih dulu menjelaskan kepada madam Chou.
Mendengar penjelasan dari sang nenek, bukannya semakin meredahkan amarah dalam hati madam Chou, justru sebaliknya.
Perkataan tersebut bagaikan bensin yang dituang dalam kobaran bara api. Membuat api kecemburuan dalam dirinya semakin besar.
“ Saya mengerti, nenek…”, ucap madam Chou sambil tersenyum tipis.
Madam Chou memegang pergelangan kursi dengan sangat erat, berusaha untuk menahan agar amarah dalam hatinya tidak meledak saat ini juga.
“ Bagus sekali !!!…semua orang sangat perduli dengannya hanya karena sang suami pergi ke perbatasan timur. Tapi itu juga keputusan Bai Cheung sendiri !!!…tidak ada seorang pun yang mendesaknya untuk kesana !!!...Jika ingin menyalahkan seseorang, Fan Jianying lah seharusnya orang yang patut untuk disalahkan karena tidak bisa membuat suaminya tetap berada di ibukota. Kenapa jadi semua orang di korbankan untuk menebus perbuatannya !!!.... ”, batin madam Chou penuh amarah.
Sementara itu, didalam kediamannya permaisuri Wei terlihat sangat sedih. Setelah mendengar cerita darui putri Wei Xieun jika Fan Jianying memiliki tanda lahir berupa kupu – kupu berwarna merah darah yang sangat cantik.
Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Bahkan sekarang dia tidak bisa mendekatinya karena perintah yang diberikan oleh suaminya tadi malam.
Kaisar yang mengetahui kabar bahwa permaisuri Wei mengundang Fan Jianying untuk masuk kedalam istana terlihat sangat murka.
__ADS_1
Apalagi pengawal tersebut mengatakan jika Ratu Qinly sempat melihatnya dan menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki semua hal tentang putri yang sudah disembunyikannya selama empat belas tahun itu.
Akhirnya yang bisa dilakukannya adalah dengan memberi peringatan keras kepada permaisuri Wei.
Jika dia masih bersikukuh untuk tetap bertemu dengan Fan Jianying, kaisar mengancam jika istrinya itu tidak akan pernah bisa melihat gadis itu untuk selama – lamanya.
Meski sangat marah, namun permaisuri juga tidak bisa melawan kehendak sang suami yang malam itu memperingatkannya dengan sangat keras.
“ Baru saja aku temukan…tapi kenapa sudah kembali dipisahkan….”, guman permaisuri Wei sedih.
Putri Wei Xieun yang melihat ibundanya sedih dan tidak memiliki sera makan sejak semalam akhirnya berlari ke raung kerja sang kakak, berharap pangeran Wei Jie bisa membantunya.
“ Ada apa ?...”, tanya pangeran Wei Jie sambil memicingkan matanya pada saat melihat sang adik menerobos masuk ruang kerjanya tanpa permisi.
“ Kakak...kakak harus berbicara dengan ibunda sekarang juga...tolong hibur dia...”, ucap putri Wei Xieun sedih.
Melihat kedua mata adiknya terlihat berkaca – kaca, pangeran Wei Jie pun menghentikan pekerjaannya dan duduk disamping putri Wei Xieun sambil menatapnya hangat.
“ Ada apa ?...ceritakan dengan jelas ?...”,pangeran Wei Jie berkata dengan lembut agar sang adik mau berbicara.
Putri Wei Xieun pun menceritakan semuanya. Tentang undangan pribadi yang diberikan olah ibundanya kepada madam ketiga Bai dan larangan kaisar agar permaisuri Wei tidak pernah lagi menemui Fan Jianying hingga menyebabkan keduanya bertengkar hebat semalam.
Juga tentang ibundanya yang menanyakan masalah tanda lahir yang dimiliki Fan Jianying dipunggung sebelah kirinya.
“ Tanda lahir ?...”, tanya pangeran Wei Jie penasaran.
“ Iya, tanda lahir bergambar kupu – kupu merah darah…”, ucap putri Wei Xieun sedih.
Mendengar ucapan sang adik, untuk sesaat pangeran Wei Jie tertegun sejenak. Dia merasa dari hari kehari Fan Jianying ini semakin menarik.
Untuk menuntaskan rasa penasarannya dan tidak ingin membuat adiknya semakin sedih, pengeran Wei Jie pun berjanji akan meluangkan waktu untuk menghibur ibundanya setelah semua urusan yang dia kerjakan selesai.
“ Xin’er kembali ke kediaman dulu. Saat semua urusan selesai, kakak akan langsung menemui ibunda…”, ucap pangeran Wei Jie lembut.
__ADS_1