CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
KECEMBURUAN MADAM CHOU


__ADS_3

Meski sudah mendapatkan sedikit gambaran tentang permaisuri Wei dari Dayu dan pangeran ke empat, namun entah kenapa hati Fan Jianying masih belum puas akan informasi yang sudah didapatkannya itu.


Fan Jianying yang juga sudah bertemu langsung dengan permaisuri Wei dapat melihat jika wanita tersebut baik dan tidak menyimpan maksud buruk terhadapnya.


Tapi entah kenapa feeling buruk terus saja bertengger manis dalam hatinya. Membuat Fan Jianying dibuat gelisah olehnya.


“ Kenapa aku merasa ada hal besar yang akan terjadi ?...”, batin Fan Jianying tak tenang.


Sebelum berangkat, Fan Jianying pergi ke rumah utama untuk memberi hormat kepada matriark Bai dan ibunda mertuanya seperti kegiatan yang biasa dia lakukan setiap pagi.


Matriark Bai sedikit menautkan alisnya waktu melihat cucu menantu perempuannya itu berdandan cantik tidak seperti biasanya.


“ Apakah Fan’er akan keluar lagi hari ini ?...”, ucap matriark Bai penasaran.


“ Nenek, hari ini cucu mendapat undangan dari permaisuri Wei. Jadi setelah mengunjungi restoran, cucu berniat langsung pergi ke istana…”, ucap Fan Jianying sopan.


Mendapatkan kabar tersebut kedua mata matriark Bai terbebelalak dan sedetik kemudian dia tersenyum lebar.


Dia sama sekali tak menyangka jika cucu menantu perempuannya itu ternyata menarik hati permaisuri Wei sehingga mendapatkan undangan langsung darinya.


Siapapun di ibukota sangat tahu jika permaisuri Wei bukanlah orang yang mudah untuk bergaul akrab dengan seseorang, meski dia terkenal lebih ramah dari pada Ratu Qinly.


Dan sekarang, cucu menantu perempuannya itu mendapatkan kehormatan untuk itu. Tentu saja hal ini membuat matriark Bai bangga.


" Nenek sangat bangga padamu Fan'er...lakukan yang terbaik ...", ucap matriak Bai tersenyum lebar.


" Cucu janji tidak akan membuat malu keluarga Bai...", ucap Fan Jianying tersenyum manis.


Madam Chou yang ingin memberikan salam pagi kepada matriark Bai seketika menghentikan langkahnya waktu mendengar pembicaraan adik iparnya dengan sang nenek.


Seketika dadanya berdenyut dan kecemburuan dalam hatinya kembali hadir waktu mengetahui permaisuri Wei mengundang adik iparnya secara pribadi untuk datang ke istana.


“ Aku saja yang dekat dengan putri Wei Xieun tidak pernah diundang masuk keistana, bagaimana bisa adik ipar yang baru sekali bertemu dan tidak memiliki hubungan yang baik dengan putri justru diundang ?... ”, batin madam Chou penuh kedengkian.


Dia merasa jika adik iparnya itu tak memiliki kelebihan apapun selain cantik dan bisa memasak. Bahkan suaminnya saja lebih rela meninggalkannya dan bergabung dengan pasukan perbatasan daripada bersamanya.


Tapi kenapa semua orang terlihat begitu memujanya, bahkan lebih menyayanginya dibandingkan dirinya yang sudah berkorban banyak hal untuk keluarga Bai.


“ Ini tidak adil…dia bisa mendapatkan semuanya tanpa melakukan apapun…”, batin madam Chou sinis.

__ADS_1


Namun, untuk menjaga wibawanya sebagai menantu perempuan tertua, madam Chou kembali menepis rasa iri hatinya itu.


Dia harus bisa tenang dan bijaksana dihadapan semua orang, seperti sikap yang selama ini selalu dia tunjukkan dihadapan semua orang.


Dengan anggun dan tenang, madam Choupun berjalan masuk dan memberi hormat pada matriark Bai.


Fan Jianying yang sudah tak memiliki apapun yang ingin dikatakan kepada sang nenek, segera pamit undur diri dan memberi salam kepada kakak ipar pertamanya sebelum pergi.


Dari sudut matanya Fan Jianying dapat melihat jika sudut bibir kakak iparnya sedikit  terbuka dan tersenyum sinis kepadanya.


“ Ada apa dengannya ?...apa aku telah berbuat salah ?...”, batin Fan Jianying sedikit binggung.


Tapi kemudian perasaan mengenai sikap kakak iparnya tersebut berhasil dia tepis dan menganggap dirinya terlalu capek sehingga memikirkan hal yang tidak – tidak.


“ Mungkin ini karena aku terlalu gugup saja…”, batin Fan Jianying sambil menggeleng – gelengkan kepalanya beberapa kali.


Ditemani Dayu dan Hira, Fan Jianyingpun mulai melangkah keluar kediaman Bai dan bersiap naik keatas kereta kudanya yang akan membawanya ke Impereal Restoran dulu sebelum menuju kedalam istana.


Sesampainya di Impereal Restoran, Fan Jianying bergegas turun dan langsung masuk kedalam, mengecek semua persiapan dan membawa masuk beberapa menu andalan restoran yang sudah dia masak di rumah.


Hal ini lah yang setiap pagi dia lakukan setelah memberi salam kepada nenek dan ibu mertuanya.


Bukannya tidak mempercayai kokinya, hanya saja ada beberapa bahan yang dia ambil dari cincin ruangnya.


Suatu bahan yang hanya bisa dia dapatkan di dunia modern yang entah kenapa selalu terisi ulang di almari makanannya yang berada di dalam cincin ruang.


Sehingga koki hanya mencampur bahan masakan tersebut bersama sayur, daging dan saos yang akan dibuatnya.


Sedangkan untuk kudapan, biasanya Fan Jianying akan membuatnya dikediaman dan paginya dibawa ke restoran agar kualitas kue yang dibuatnya bisa terjaga.


Sementara itu dikediaman Bai, cucu tertua matriark Bai terlihat memasuki halam rumah. Sebelum kembali ke kediamannya dia menyempatkan diri untuk memberi salam kepada Ibunda dan neneknya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan istri dan akedua putrinya.


Bai Axiang yang baru saja tiba dikediaman setelah satu bulan berada di luar ibukota untuk membantu membantu sang ayah menumpas para pemberontak segera membersihkan tubuhnya.


Begitu melihat masakan yang tersaji diatas meja, keningnya sedikit berkerut cukup dalam membuat madam Chou langsung menatapnya heran.


“ Ada apa ?...ini semua adalah makanan kesukaanmu…”, ucap madam Chou tersenyum lebar sambil mengambilkan semangkuk kecil nasi.


“ Kenapa tidak ada bebek panggang dari Impereal Restoran…padahal aku sangat ingin memakannya…”, ucap Bai Axiang kecewa.

__ADS_1


“ Bebek paggang ini juga tak kalah lezat dari buatan Impereal Restoran…”, ucap madam Chou sambil mengambilkan sepotong daging bebek dan memasukkanya di mangkok sang suami.


Tidak ingin berdebat dengan sang istri, Bai Axiang pun memakan apa yang istrinya ambilkan untuknya.


Bai Axiang terlihat tidak begitu menikmati makanan yang ada dihadapannya, dia hanya mengambil sedikit dari setiap masakan yang ada.


Tentu saja hal itu membuat madam Chou mendengus tak senang karena menganggap sang suami tak menghargai usahanya untuk menyiapkan semua makanan tersebut.


“ Nanti aku akan meminta pelayan untuk membelikannya di Impereal Restoran…”, ucap madam Chou mengalah.


Melihat wajah suaminya seketika berbinar waktu mendengar ucapannya, madam Chou tersenyum masam.


“ Terimakasih…waktu di kamp. aku hanya sempat mengincipinya sedikit karena harus berbagi dengan yang lainnya. Bebek panggang buatan adik ipar memang benar - benar sangat lezat. Waktu ada salah satu prajurit yang baru pulang membawanya dan langsung diserbu habis oleh semua orang…”, ucap Bai Axiang sambil tersenyum lebar.


“ Dan sampai sekarang aku masih belum bisa melupakan rasa lezat yang ditinggalkan dari bebek panggang buatan adik ipar. Aku sama sekali tak menyangka jika adik ipar sehebat itu dalam mengolah makanan. Ibunda tadi juga bercerita jika adik ipar seringb mengiriminya masakan yang lezat, terutama kudapan. Aku jadi ingin memakannya juga ….”, Bai Axiang kembali berucap dengan kedua mata berbinar.


Melihat suaminya terus saja memuji adik iparnya membuat dada madam Chou terasa sesak dan sakit.


Api kecemburuan yang sedari sudah berkobar berangsur semakin besar hingga mampu membakar apa saja yang ada didekatnya.


Bai Axiang yang menyadari jika semua ucapannya sedikit menyinggung istrinya, diapun langsung bungkam seketika dan berjalan masuk kedalam kamar untuk beristirahat.


“ Dia lagi dia lagi !!!....”, batin madam Chou geram dengan kedua bola mata menyala penuh kilatan amarah.


Setelah mendengar adik iparnya diundang masuk kedalam istana oleh permaisuri Wei, madam Chou yang sempat berbincang dengan matriark Bai semakin kesal waktu sang nenek terus saja memuji istri Bai Cheung tersebut.


Bahkan saat dia memberi salam dan mengantarkan sup sehat buatannya, lagi – lagi Ibu mertuanya tersebut membandingkan masakannya yang tidak selezat buatan Fan Jianying dan hanya meminum sup tersebut dua suapan sendok kecil.


Amarah dalam diri madam Chou sedikit reda waktu mendengar sang suami hari ini pulang, setelah sebulan penuh meninggalkan rumah.


Dengan penuh semangat dia menyiapkan semua makanan kesukaan sang suami dengan harapan dia mendapatkan pujian dan bisa bermanja – manja dengannya.


Namun siapa sangka, sang suami juga sama dengan ibundanya yang membandingkan masakannya dengan Fan Jianying.


Bahkan suaminya yang selama ini selalu lahap memakan apapun yang dimasaknya, hari ini terlihat seperti tidak mempunyai selera makan.


Ditambah lagi, suaminya itu terus saja memuji kehebatan adik iparnya dalam memasak makanan terutama olahan bebek panggang kesukaannya.


“ Ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Dia hanyalah gadis kecil bau…bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan diriku yang seorang wanita matang berpengalaman… ”, guman madam Chou sambil mengertakkan giginya.

__ADS_1


__ADS_2