
Setelah memastikan kondisi sang adik sudah lebih baik, putri Wei Xieun pun segera kembali ke istana untuk berganti pakaian dan menjemput ibundanya sesuai dengan instruksi sang kakak kepadanya.
bai Cheung yang melihat kondisi istrinya sudah lebih baik merasa sedikit lega. Diapun segera menginstruksikan kepada Liam untuk mengambil hadiah yang sudah disiapkan sejak tadi untuk sang istri.
“ Selamat ulang tahun istriku….semoga selalu diberi kesehatan dan bisa menjadi ibu yang baik dan kuat bagi calon anak kita….”, ucap Bai Cheung sambil menyerahkan sebuah hadiah berupa buku yang diberi pita.
Fan Jianying menaikkan satu alisnya waktu menerima hadiah dari suaminya sambil berkata dalam hati “ Buku apa ini ?...kok sedikit aneh….”.
Tidak ingin mengecewakan sang suami, Fan Jianyingpun berusaha untuk tersenyum mengambil hadiah yang diberikan oleh suaminya tersebut.
“ Bukalah….”, ucap Bai Cheung antusias.
Fan Jianyingpun segera membuka pita yang membungkus buku tersebut. Sampul buku terlihat sangat absurd.
“ Gambar apa ini ?....”, batin Fan Jianying ingin tertawa namun berusaha untuk dia tahan.
Mengabaikan sampul buku yang ada, Fan Jianying lebih penasaran terhadap isi buku yang tak terlalu begitu tebal itu.
“ Apa ini buku resep ?....”, tanya Fan Jianying antusias.
Bai Cheung terlihat senang waktu melihat istrinya membalik satu persatu halaman buku yang berhasil dia tulis tersebut dengan wajah ceria.
“ Darimana kamu mendapatkan buku resep ini ?....”, Fan Jianying kembali bertanya dengan penuh semangat.
Seolah dia lupa jika dirinya baru saja pulih dari sakit yang dideritanya pagi tadi. Bai Cheung pun menjawab jika resep yang ditulisnya itu adalah milik ibundanya.
“ Jadi…ini adalah resep warisan keluarga ibunda !!!....”, ucap Fan Jianying dengan kedua mata berbinar.
Dia sama sekali tak menyangka jika dia akan mendapatkan resep warisan turun temurun milik keluarga mertuanya tersebut.
“ Syukurlah jika kamu senang…awalnya aku takut kamu kecewa karena hanya memberikan buku yang aku tulis sendiri alih – alih membelikanmu perhiasan yang mahal untuk hadiah….”, ucap Bai Cheung sedikit gugup.
“ Tidak suamiku….justru buku ini lebih berharga daripada emas dan permata….”, ucap Fan Jianying sambil memeluk suaminya dengan bahagia.
“ Ibunda sangat berharap bisa merasakan kue buatanmu dari resep leluhurnya itu. Karena ada beberapa resep yang tidak pernah berhasil ibunda buat….”, ucap Bai Cheung sedih.
Masih ingat dia ketika ibundanya sehat dahulu, ada beberapa resep meski sudah dicoba berkali – kali namun hasilnya tetap sama.
Bahkan ibunda sempat menyuruh koki Lizeng yang waktu itu masih ada di kediaman untuk memasak berdasarkan resep tersebut, namun hasilnya juga sama gagal total.
Ibunda merasa jika kue tersebut sangat berbeda dengan kue yang dimakannya sewaktu dia masih kecil dulu.
Maka dari itu, waktu Bai Cheung meminta resep milik leluhurnya sebagai hadiah ulang tahun istrinya, Lien Hua terlihat sangat senang.
Dia bahkan berpesan kepada sang anak agar jika kondisi istrinya sudah membaik, dia bisa mencoba membuat salah satu resep kue yang tak pernah berhasil dibuatnya itu.
__ADS_1
“ Memang, resep mana saja yang tak berhasil ibunda buat selama ini ?....”, tanya Fan Jianying penasaran.
Bai Cheung pun dengan semangat menunjukkan beberapa resep yang selama ini selalu gagal dibuat oleh siapapun.
Bahkan sekelas koki Lizeng yang merupakan koki terbaik di ibukota pada saat sebelum dirinya meninggal dalam insiden kebakaran yang ada dikediaman Bai dua tahun yang lalu.
Fan Jianying tampak cermat membaca salah satu resep yang gagal dieksekusi tersebut sambil mencoba mendeskripsikan gambar yang sesuai dengan makanan itu.
“ Jika dilihat dari bahan – bahannya sih ini sangat mudah dibuat. Apa aku coba saja ya….”, guman Fan Jianying sambil mengingat apa semua bahan tersebut ada dialmari persediannya.
“ Jangan sekarang.....nanti saja,tunggu kondisi istri sudah lebih baik lagi….”, ucap Bai Cheung penuh perha.tian
“ Tidak…ini sangat mudah dan hanya memerlukan waktu sebentar untuk membuatnya. Sekarang, suami coba jaga kamar agar tak ada siapapun masuk selama aku berada didalam cincin ruang….”, ucap Fan Jianying yang langsung menghilang.
Bai Cheung hanya bisa berdecak kesal sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat istrinya yang sudah kembali bersemangat tersebut.
Meski begitu dia sangat bahagia karena tak salah memilih hadiah untuk diberikan kepada sang istri dihari ulang tahunnya yang ke lima belas tersebut, tapi melihat istrinya langsung bekerja didapur tetap membuat hati bai Cheung gelisah.
Fan Jianying yang sibuk di dapur pribadinya mulai mengolah bahan yang diduga sebagai kue semprong wijen tersebut.
Selain membuat semprong wijen seperti resep aslinya, Fan Jianying juga membuat variasi dengan diisi coklat dan keju.
Hasilnya pun tentunya lebih garing dan renyah serta cepat karena Fan Jianying menggunakan oven listrik yang hanya ada di dapur pribadinya tersebut.
Setelah jadi, ketiga macam semprong tersebut dimasukkan kedalam beberapa toples kecil sebagai kudapan di kediamanannya.
Tak lupa tiga toples sedang yang disiapkan untuk mertuanya telah Fan Jianying pisah agar tidak samapi dihabiskan oleh yang lain.
Tak ketinggalan Fan Jianying juga menyiapkan satu toples besar yang berisi ketiga macam jenis kue semprong dalam satu wadah untuk para pelayannya agar mereka juga bisa menikmati kelezatan kue buatannya.
Bai Cheung langsung terbelalak begitu Fan Jianying tiba – tiba muncul dengan membawa banyak toples yang dimasukkan kedalam keranjang besar yang digendong dibelakang tubuhnya.
“ Kenapa istri membuat kue sebanyak ini !!!...Bagaimana jika istri sakit lagi ?....”, Bai Cheung menatap istrinya cemas.
Fan Jianying yang paham akan kekhawatiran sang suami segera menenangkannya agar suaminya tersebut tak terus mengomelinya sepanjang malam.
Sejak tahu istrinya hamil, Bai Cheung lebih protektiv daripada biasanya. Selain protektiv, suaminya itu juga lebih sensitive dibandingkan dirinya yang sedang hamil.
Malam pun tiba, Fan Jianying tampak binggung waktu Dayu dan pelayan senior Gaeng tiba – tiba merias dan menyuruhnya memakai pakaian yang mewah dan cantik.
Pada awalnya Fan Jianying menolak karena malam ini dia tidak akan kemana – mana jadi ingin berpakaian yang sederhanan saja karena hanya mau rebahan didalam kamar.
Namun kedatang ibundanya dan sang kakak membuat gadis tersebut terpaksa diam dan menurut karena keduanya sudah membawa perias dan pakaian yang sudah mereka siapkan dari istana.
“ Memang ibunda dan kakak mau membawa Fan’er kemana hingga harus berdandan cantik seperti ini ?....”, tanya Fan Jianying dengan muka ditekuk.
__ADS_1
Fan Jianying yang memang tak suka berias semakin benci merias diri sejak hamil. Mungki hal tersebut bawaan bayi yang ada dalam kandungannya jadi semua orang berusaha memakluminya.
Tapi malam ini adalah malam special untuk gadis itu. meski hanya makan malam bersama keluarga, namun gadis itu tetap harus tampil cantik dan segar dihari perayaan ulang tahunnya.
Setelah siap, Fan Jianying pun dibawah keluar oleh ibunda dan kakaknya menuju tempat perayaan yang telah disiapkan.
Meski hanya dihadiri oleh kelurga Bai dan keluarga Fan serta beberapa keluarga kekaisaran, namun kemeriahan pesta tetap tak berkurang.
Tak lupa Fan Jianying juga menyuguhkan kue semprong yang baru saja dibuatnya tesebut dimeja makan.
Lien Hua sangat senang waktu melihat menantunya itu membuatkan kue kecil favoritnya yang selama ini selalu gagal dibuatnya.
“ Ini sangat lezat…rasanya sama dengan buatan ibuku….”, ucap Lien Hua dengan kedua mata berkaca – kaca.
Selama ini, dia sudah berusaha untuk membuat kue yang rasanya sangat mirip dengan buatan sang ibu, namun selalu gagal.
Dan kali ini menantu perempuannya yang mengabulkan keingginannya. Lien Hua merasa jika dia mati saat ini juga tak ada penyesalan karena bisa mencicipi rasa yang sangat akrab tersebut.
Pada saat semua orang sedang asyik menikmati kue semprong buatan Fan Jianying tiba - tiba ada seoarng lelaki yang memeluknya dengan erat.
“ Selamat ulang tahun dik…semoga kamu kamu selalu bahagia dan diberkati….”, ucap Pangeran Wei Jie tulus.
Pangeran Wei Jie memberi isyarat kepada Zoelu untuk melangkah maju. Zoelupun berlari keluar dan setelah beberapa saat dia kembali masuk sambil membawa sebuah kota kayu besar dan meletakkannya diatas meja.
Kota kayu yang sangat besar tersebut terbuat dari kayu dupa yang samar tercium aroma bunga pir segar yang bisa membuat hati orang yang mencium aromanya menjadi tenang.
Semua orang tanpa sadar berdiri mengelilingi meja, ingin melihat hadiah apa yang dibawah oleh pangeran Wei Jie untuk Fan Jianying.
“ Kakak….diaman kakak mendapatkan bahan obat langkah seperti ini !!!....Terimakasih kak…”, ucap Fan Jianying dengan kedua bola mata berbinar terang dan langsung memeluk tubuh sang kakak.
Melihat adik yang dicintainya senang, pengeran Wei Jie merasa tak rugi telah merogoh koceknya cukup dalam hanya untuk tiga bahan obat langkah tersebut.
Bagi Fan Jianying mendapatkan resep masakan dan bahan obat yang langkah adalah hadiah yang lebih berharga daripada emas permata.
Pada saat semua orang menikmati pesta tersebut dengan riang gembira ada salah satu orang yang sedari tadi memasang wajah penuh kecemburuan, siapa lagi jika bukan Fan Nuan, adik tiri Fan Jianying.
Fan Nuan merasa cemburu dan iri hati waktu mengetahui fakta jika Fan Jianying adalah putri bungsu dari kaisar Huang dan permaisuri Wei.
Pada awalnya Fan Nuan cukup senang waktu mengetahui jika sang kakak sama sekali tidak memiliki dari Fan di tubuhnya.
Namun melihat semua orang masih menyayanginya seperti ini setelah mengetahui fakta tersebut membuat api kecemburuan dalam dirinya mulai berkobar.
“ Kenapa !!!…kenapa selalu kakak yang mendapatkan semuanya !!!....”, batin Fan Nuan penuh amarah.
Dengan wajah penuh kebencian diapun perlahan melangkah kehalaman samping rumah utama kediaman Bai agar bisa bernafas karena saat ini dadanya terasa sesak menyaksikakn semua orang begitu perhatian dan mengelu – elukan sang kakak.
__ADS_1