
Semalaman Fan Jianying tidak bisa tertidur setelah memikirkan semuanya. Meski hal itu tidak berkaitan dengannya sama sekali yang tidak ingin masuk kedalam masalah politik dan intrik yang terjadi dalam istana.
Namun, mendengar jika Fan Nuan dan Heng Yuan bergabung dengan pangeran Song Yu melakukan tindakan kejam untuk melukai warga yang tinggal di wilayah perbatasan untuk mencapai ambisinya membuat hati Fan Jianying geram.
Inilah yang tidak disukai oleh Fan Jianying dalam dunia politik, mereka akan melakukan berbagai macam cara agar tujuannya tercapai, meski harus mengorbankan nyawa banyak orang tak berdosa.
Menyebut nama hewan mutasi membuat Fan Jianying bergegas masuk kedalam cincin ruangnya untuk mendapatkan informasi mengenai hal tersebut.
Tampaknya usaha Fan Jianying tidak sia – sia, selain mendapatkan informasi mengenai hewan mutasi secara lengkap, dia juga tahu bagaimana cara hewan tersebut berkembang biak dan apa yang bisa membuat mereka hilang kendali.
“ Jadi, hanya dengan menangkal racun tersebut maka hewan mutasi akan kembali normal….”, ucap Fan Jianying sambil terus membaca buku yang ada ditangannya itu.
Setelah mendapatkan semua informasi yang dibutuhkannya, Fan Jianying yang sudah mencatat semua bahan yang akan digunakan untuk membuat penangkal racun agar hewan mutasi kembali normal segera keluar dari cincin ruang.
Dia berencana untuk segera memberikan catatan tersebut kepada pangeran ke empat agar dia bisa menyampaikannya kepada jenderal besar Tian atau Bai Cheung, sebelum hewan mutasi berulah.
Fan Jianying melakukan semua ini bukan untuk sang suami, tapi demi nyawa warga yang tinggal di wilayah perbatasan yang dia yakini jumlahnya tak sedikit.
“ Satu masalah sudah terpecahkan, sekarang tinggal satu masalah lagi….”, guman Fan Jianying sambil menatap langit gelap diatas sana.
Teka – teki tentang peledakan dapur utama yang dilakukan oleh kakak iparnya masih belum terpecahkan hingga saat ini, membuat hatinya masih belum sepenuhnya tenang untuk saat ini.
“ Siapa yang menjadi sasaran kakak ipar dikediaman ini ?...”, batin Fan Jianying penasaran.
Lagi – lagi ada bayangan hitam yang mengawasi dan mendengar semua kata yang diucapkan oleh Fan Jianying dalam gelap.
“ Ini belum saatnya….”, batin bayangan hitam tersebut sebelum dirinya kembali menghilang seperti udara tak berbau dan tak berbentuk.
Membuat siapapun tak akan pernah menyadari kedatangannya, termasuk Fan Jianying yang masih setia memandang keatas langit yang gelap karena tertutup oleh mendung sehingga bintang – bintang tak terlihat mata.
Bukan hanya Fan Jianying saja yang malam ini tak bisa tidur, pangeran Wei Jie pun juga begitu. Dia terus saja membayangkan wajah cantik Fan Jianying sambil memandang langit gelap diatas sana.
“ Aku senang, dia tidak larut dalam kesedihannya…”, batin pangeran Wei Jie lega.
Diapun kembali membayangkan senyum manis Fan Jianying yang diberikan kepadanya, meski hal itu hanyalah fantasi pangeran Wei Jie saja.
Sementara itu, Zoelu yang berjaga di halaman depan Heluo Palace tidak bisa berbuat banyak meski saat ini banyak hal yang ingin dia utarakan kepada junjungannya itu.
Zoelu masih tak habis pikir bagaimana bisa pangeran Wei Jie jatuh cinta kepada nona Fan yang sudah menjadi istri sahabatnya sendiri.
Jika itu adalah orang lain, mungkin tidak akan sesulit ini. Meski begitu, Zoelu juga tak bisa menghancurkan kebahagiaan yang dirasakan oleh junjungannya itu.
Mengingat, ini pertama kalinya pangeran Wei Jie jatuh cinta. Namun sepertinya, cinta pertamanya ini tidak akan mungkin bisa dia gapai, sekeras apapun usahanya.
Siapapun juga sangat tahu jika dalam keluarga Bai tidak ada kata perceraian dan hanya bisa menikah satu kali seumur hidupnya.
Begitu juga untuk Bai Cheung, meski dia tidak suka tapi dia juga tetap harus bersama dengan istrinya sampai maut memisahkan keduanya.
“ Tapi…kita juga tidak bisa memastikan bagaimana dan kapan cinta itu akan datang…. ”, batin Zoelu mengembuskan nafas pasrah.
Malam gelap tanpa bintang hari ini tampaknya membawa dampak yang tidak begitu baik, dimana semua orang terjaga dalam kegalauan.
__ADS_1
Hal itu juga yang dirasakan pangeran Song Yu yang berada di Qinlong Palace. Meski dia bisa mendapatkan solusi sementara untuk rencananya.
Tapi, kedatangan Bai Cheung untuk bergabung bersama jenderal besar Tian tidak bisa dianggap remeh dan dibiarkan begitu saja.
Bukan tidak mungkin, Bai Cheung akan menjadi batu sandungan yang cukup besar dalam keberhasilan rencana yang sudah disusunnya sejak lama itu.
“ Jika Bai Cheung tidak segera disingkirkan, maka usahaku selama ini akan sia – sia…”, batin pangeran Song Yu cemas.
Diapun segera memerintahkan pasukan bayangan yang ada dibawahnya untuk menghabisi nyawa Bai Cheung saat ada kesempatan.
Hanya itulah jalan agar Bai Cheung tidak menganggu semua rencana yang sudah dia susun dengan rapi, termasuk rencana pembunuhan jenderal besar Tian yang sudah dia susun dengan sangat matang.
………………………………..
Pagi harinya, Fan Jianying bangun dengan wajah terlihat cukup mengerikan. Ada kantung mata yang cukup lebar dan wajahnya terlihat sangat pucat, seperti mayat hidup.
Membuat Dayu yang baru saja masuk berjingkat karena terkejut. Begitu juga dengan pelayan senior Gaeng dan beberapa pelayan yang akan menyiapkan air hangat untuk madam ketiga mereka membersihkan diri.
“ Dayu…tolong ambilkan aku kain dan daun teh sisa seduhan semalam….”, ucap Fan Jianying pelan.
Meski agak sedikit binggung, namun Dayu tetap mematuhi perintah nona mudanya itu. Sementara pelayan senior Gaeng diperintahkan oleh Fan Jianying untuk membawakan putih telur, buah lemom, dan madu.
Pelayan senior Gaeng yang sama binggungnya dengan Dayu tadi juga menjalankan perintah madam ketiganya tanpa bersuara.
Melihat kondisi Fan Jianying yang cukup kacau pagi ini, mereka masih mengira jika madam ketiganya itu masih bersedih hati pasca kepergian tuan muda ketiga untuk bergabung dengan pasukan yang ada di wilayah perbatasan.
Setelah air mandi dan semua yang dimintanya telah siap, Fan Jianying pun mulai masuk kedalam bak dan mulai melakukan ritualnya kecantikannya.
Saat masker wajahnya bekerja, Fan Jianying berusaha untuk merileks kan tubuhnya dengan berendam air hangat yang di tetesi minyak essensia mawar.
Setelah masker mengering, Fan Jianying segera membersihkan wajahnya dengan handuk kecil hingga bersih lalu mengeringkan tubuhnya dan segera beranjak untuk berganti pakaian.
Dayu dan Gaeng tak bisa menyembunyikan raut keterkejutannya begitu melihat wajah Fan Jianying terlihat semakin bersih dan bersinar.
" Bagaimana bisa secepat itu ?...", batin keduanya tercenggang.
" Kalian juga bisa jika rutin melakukannya satu minggu sekali...", ucap Fan Jianying sambil tersenyum.
Selain Dayu, dua orang pelayan yang membantu Fan Jianying berganti pakaian terlihat menganggukan kepala dan bertekad mereka akan melakukan ritual kecantikan seperti yang diajarkan madam ketiga karena ingin memiliki wajah yang mulus, bersih bersinar seperti itu.
Setelah berganti pakaian dan berias tipis, Fan Jianying yang merasa sedikit lapar segera menuju kearah dapur.
Didapur dia melihat banyak buah segar yang dikirimkan oleh dapur utama, diantaranya ada anggur, buah persik, jeruk mandarin, Loquats, dan beberapa jenis buah lainnya.
Serta ada beberapa sayuran segar serta biji – bijian dan beberapa jenis kacang – kacangan. Diapun segera memerintahkan beberapa pelayannya untuk mengupas buah - buahan tersebut dan memotongnya menjadi bentuk dadu.
Selanjutnya dia mulai sibuk menyiapkan wadah untuk membuat saus yang akan dia gunakan untuk membuat salad buah.
Saat melihat semuanya sedang sibuk, Fan Jianyingpun berjalan ke sudut dapur dan mengambil mayonnaise, yogurt, keju, dan susu kental manis yang sangat dia yakini tidak akan bisa dia dapatkan disini dari dalam cincin ruangnya.
Setelah bahan saos tersebut telah didapatkannya, dia segera menuangkannya satu persatu kedalam wadah besar yang sudah disiapkan dan memasukkan kembali sampah bahan – bahan tadi kedalam cincin ruang agar tidak ada yang mencurigainya.
__ADS_1
Fan Jianying terlihat mengaduk saos yang ada dihadapannya dengan wajah serius, sambil merasakan apakah komposisinya sudah cukup pas.
“ Kasihan madam ketiga, dia berusaha untuk menyibukkan diri dan mengalihkan kesedihannya dengan memasak didapur…”, batin Gaeng sedih.
Saat kedua mata madam ketiga menatap kearahnya, Gaeng berusaha untuk tersenyum lebar dan berusaha untuk menyemangati gadis tersebut agar bisa melalui semua cobaan yang datang menerpanya.
Fan Jianying yang tidak mengerti arti senyuman yang ditujukan oleh pelayan seniornya itu hanya bisa membalasnya dengan tersenyum lebar, hingga deretan gigi putihnya terlihat jelas.
" Ada apa dengannya ?....aneh...ahhh...sudahlah....", batin Fan Jianying sambil mengangkat kedua bahunya acuh.
Setelah semua buah selesai dikupas dan dipotong, Fan Jianying segera memerintahkan salah satu pelayan untuk mengambil bola dingin atau kita biasa menyebutnya es batu untuk merendam buah agar menjadi dingin.
Maklum, di dunia kuno ini tidak ada kulkas, jadi hanya cara ini lah yang bisa dia gunakan untuk saat ini.
Fan Jianyingpun membayangkan, jika buah dalam kondisi dingin, maka salad buah akan terasa lebih segar saat dimakan.
Sambil menunggu buah tersebut dingin, Fan Jianying yang binggung ingin melakukan apa lagi tiba - tiba memiliki ide saat melihat tumpukan beberapa macam kacang di dalam sebuah wadah yang belum sempat disimpan pelyannya.
Diapun mulai mengambil beberapa anek kacang dan mulai menyangrai beberapa jenis kacang tersebut hingga matang kemudian setelah agak dingin diapun mencincangnya kasar..
Selanjutnya dia mulai memasak gula lalu menuang air hingga gula larut dan memasaknya dalam api kecil hingga gula menjadi caramel.
Setelah itu kacang yang telah dia cincang kasar tadi dia masukkan kedalam gula yang sudah menjadi karamel tadi dan mengaduknya dengan cepat sampai rata.
Olahan kacang dan gula yang masih dalam kondisi panas tersebut oleh Fan Jianying dimasukkan kedalam loyang berbentuk persegi panjang dan meletakkan es batu disekita luar loyang agar kudapannya itu bisa segera dingin dan terbentuk.
Saat buah sudah dingin diapun segera memasukkannya kedalam saos kemudian diaduk rata hingga seluruh buah tercampur rata.
Selanjutnya, buah yang sudah tercampur saos tersebut di tuang kedalam beberapa mangkok kecil dan ditaburi keju parut yang tadi dia ambil dari dalam cincin ruang dan menghiasi bagian atasnya dengan daun mint dan buah anggur yang telah dipotong beserta irisan jeruk hingga tampilannya menjadi sangat cantik.
" Cantiknya....aku jadi tidak tega untuk memakannya....", ucap salah satu pelayan sambil berusaha menahan agar air liurnya tidak menetes.
Rencananya salad buah yang ada dalam mangkok - mangkok kecil yang sudah dia hias itu akan dia kirim kepada ibu mertuanya dan sang nenek.
Sedangkan untuk para pelayan, Fan Jianying membebaskan mereka untuk membaginya secara rata. Bahkan pengawal yang berjaga pagi ini juga mendapatkan bagian.
Setelah salad buah siap disajikan, saat melihat kudapannya sudah mengeras, Fan Jianying segera mengeluarkannya dari Loyang dan memotongnya menjadi bentuk kotak yang tak terlalu besar sehongga bisa habis dalam satu kali gigitan.
“ Gaeng, tolong antar salad buah dan naugat kacang ini kepada nenek dan ibunda…”, perintah Fan Jainying setelah selesai menata hasil masakannya diatas nampan.
" Untuk naugat kacang bisa dimakan terakhir, tapi untuk salad buahnya, usahan dimakan segera, mumpung masih dingin....", ucap Fan Jianying berpesan.
Karena ada empat nampan, maka Gaeng membawa tiga pelayan lagi untuk membantunya. Sementara Dayu dan yang lainnya segera membagi kudapan dan salad buah tersebut kepada seluruh pekerja yang ada dalam kediamannya.
Dikediaman utama, pelayan senior Yu menerima makanan yang dikirim oleh madam ketiga melalui pelayan senior Gaeng.
Pelayan senior Yu terlihat mengajukan sedikit pertanyaan mengenai kondisi madam ketiganya itu.
Gaeng pun mulai menceritakan semua hal, jika saat ini madam ketiga sering memasak makanan agar terlihat tegar dan tidak memikirkan tuan muda ketiga.
“ Syukurlah…setidaknya madam ketiga mempunyai kesibukan agar tidak larut dalam kesedihan.....”, ucap pelayan senior Yu bersimpati.
__ADS_1