
Setelah dari tempat wisata, Damian dan ibunya memutuskan untuk pulang kembali ke kotanya. Meskipun berat bagi Damian berpisah dengan Vera yang terlihat mulai nyaman dengannya.
Ada satu yang membuat Damian sedih, jarak diantara mereka. Mereka sulit untuk bertemu dan mengenal lebih dekat satu sama lain. Saat sudah mulai dekat, mereka harus terpisah jarak yang cukup jauh.
Sesampainya di rumah, Damian tampak murung. Kenangan indahnya bersama Vera, hanya menjadi kenangan yang entah kapan akan terulang. Haruskah dia meninggalkan pekerjaannya dan mengejar Vera?
"Damian." Suara ibunya lembut sambil duduk disamping putranya.
"Mami, Mami belum tidur?" tanya Damian gugup.
"Bagaimana Mami bisa tidur, melihat kamu bersedih seperti ini. Sudah lama sekali, mami tidak melihat kamu seperti ini. Kamu yang dingin, tiba-tiba berubah penuh perhatian dengan seorang gadis. Sebenarnya, Mami sangat bahagia," ucap Bu Farida lembut.
"Mami, Damian tidak sedih. Damian hanya kecapekan terlalu banyak pekerjaan," bantah Damian.
"Mami sudah bicara dengan ibunya Vera," ucap Bu Farida yang langsung membuat Damian panik.
"Mami, bicara apa sama ibunya Vera?"
"Mami, melamar Vera untuk menjadi mantu Mami," jawab Bu Farida sambil tersenyum.
"Me--melamar? Mami, Bukannya Mami tahu kalau orangtua Vera tidak menyukai Damian? Lagi pula, Damian belum yakin kalau Vera juga menyukai Damian," ucap Damian sambil menghela napas.
"Ibunya tidak bilang setuju, tetapi dia mengerjakan semuanya pada Vera. Meskipun Vera setuju menikah dengan Doni. Sebenarnya, awalnya hanya ingin melihat keseriusan kamu. Ternyata, kamu menyerah begitu cepat, tidak ada perjuangan. Mereka merasa, kamu itu tidak serius mencintai Vera. Makanya Sekarang, mereka ingin menguji Vera juga. Apakah Vera mencintai kamu atau tidak," ucap bu Farida panjang lebar.
"Ini memang salah Damian, Mi," ucap Damian penuh penyesalan.
"Sudah, jangan terlalu sedih. Mami sudah menyiapkan semuanya. Besok, kamu pergilah ke yayasan dan kamu akan bekerja disana. Urus yayasan itu, sampai bisa berjalan dengan baik. Mengerti maksud, Mami?" tanya Bu Farida sambil menatap tajam Damian.
"Ngerti, Mami. Lalu, pekerjaan Damian di sini?"
__ADS_1
"Mami sudah meminta kakakmu untuk pulang dan mengurus perusahaan. Kamu tidak perlu khawatir. Bawa pulang calon menantu Mami," ucap Bu Farida sambil tersenyum.
"Siap, Mi," jawab Damian membalas senyum ibunya.
Damian merasa sangat senang, karena ibunya mendukungnya mengejar Vera. Jadi, sudah tidak ada lagi yang perlu Damian takutkan lagi. Dia harus percaya diri, untuk bisa mengejar cinta Vera.
Esok paginya, Damian pergi menuju ke kampung untuk bekerja di yayasan. Dia harus bisa memimpin yayasan tersebut agar bisa menjadi yayasan yang berkembang. Karena memang yayasan ini, di dirikan untuk membantu anak-anak yang kurang mampu. Selain untuk dipersembahkan kepada Vera nantinya.
Tanpa rasa malu, Damian pergi ke rumah Vera untuk menyewa kamar yang dulu pernah gagal disewanya. Dengan penuh percaya diri, Damian mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Damian menunggu hingga Bu Hena membuka pintu dan membalas salam dari Damian.
Rupanya, Maminya Damian sudah membuat rencana dengan menyiapkan perjanjian sewa kamar untuk ditandatangani oleh Bu Hena. Tanpa pikir panjang lagi, Bu Hena segera menandatangani surat tersebut diatas materai. Uang sewa, segera Damian serahkan kepada Bu Hena.
Lega rasanya, satu masalah sudah Damian selesaikan. Meskipun Damian tidak tahu bagiamana tanggapan ayah Vera ketika mengetahui hal ini. Yang terpenting, dia sudah mendapatkan dukungan dari ibunya Vera.
Hari ini, Damian sengaja berdiam diri di kamar. Dia menikmatinya dengan mendengarkan musik dan menonton film sambil rebahan. Ternyata hidup santai lumayan nyaman. Damian biasanya hanya sibuk bekerja dan bekerja. Terasa sangat monoton.
Siangnya Vera pulang dan memarkir sepedanya di depan rumah. Vera kaget saat melihat sebuah mobil yang sepertinya dia sangat kenal. Mobil Damian. Dia segera masuk sambil mengucapkan salam yang dibalas oleh ibunya.
"Benar, itu mobil nak Damian. Dia sekarang, akan tinggal bersama kita di rumah ini," jawab sang ibu.
"Pak Damian tinggal di rumah kita? Bukannya sewanya sudah dibatalkan?" tanya Vera kaget.
"Pelan-pelan, ayo duduk dulu. Nanti ibu ceritakan." Ibu Hena menarik tangan Vera dan mengajaknya duduk.
"Ibu, ada apa?" tanya Vera penasaran.
"Damian sekarang sedang tidur. Vera, saat ini ibu dan ayah sedang butuh uang untuk memulai pembibitan di sawah. Untuk beli pupuk dan lain-lain. Jadi ibu menyewakan kamar kakakmu pada Damian," jawab Bu Hena.
"Apa ayah tahu?"
__ADS_1
"Tidak. Ibu hanya memberitahu ayah, kalau ada yang mau sewa kamar. Ayah setuju, tapi belum tahu kalau yang menyewa itu Damian," jawab ibunya sambil menghela napas berat.
"Nanti Vera bantu ibu bicara sama ayah," ucap Vera menenangkan ibunya yang terlihat gelisah.
Vera heran dengan sikap ayahnya. Dahulu beliau sangat baik pada Damian. Lalu tiba-tiba, berubah. Lagian, kenapa ayahnya jadi nggak suka sama Damian. Ini juga yang ingin Vera ketahui.
Hingga sore hari, Damian belum juga keluar kamar. Padahal menurut ibunya, Damian belum makan siang. Terpaksa, Vera harus berani membangunkan Damian agar dia tidak jatuh sakit karena kelaparan.
Vera mengetuk pintu kamar kakaknya. Tetapi, sampai beberapa kali, Damian tidak juga membuka pintu. Vera takut jika terjadi apa-apa dengan Damian. Karena itu, Vera mencoba membuka pintu dan ternyata tidak di kunci.
Dengan perasaan agak takut, Vera membuka pintu lebih lebar. Vera melihat Damian yang sedang tertidur lelap. Vera merasa tidak elok masuk kamar pria, Vera bergegas keluar secara diam-diam.
"Tunggu!" teriak Damian mengejutkan Vera.
"Sudah bangun?" tanya Vera malu.
"Aku terbangun setelah kamu masuk. Ada apa?" tanya Damian sambil duduk di atas ranjang.
"Aku cuma mau bilang, ini sudah sore. Dan kamu belum makan siang. Kalau kamu sakit di rumah ini bagaimana? Kenapa kamu tidak bisa menjaga diri sendiri, masih harus diingatkan," ucap Vera seperti ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya.
"Terima kasih, sudah mengkhawatirkan aku. Aku tadi ketiduran. Makanya, aku butuh kamu untuk selalu mengingatkan aku," jawab Damian sambil tersenyum.
"Siapa yang khawatir? Siapa juga yang mau selalu mengingatkan kamu? Sudah dewasa seharusnya bisa menjaga diri," ucap Vera pelan seolah bergumam sendiri.
"Aku mandi dulu, nanti aku makan," ucap Damian sambil berdiri mencari handuknya. "Dimana kamar mandinya?"
"Mari Aku tunjukkan," jawab Vera.
Vera dan Damian berjalan beriringan menuju ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Setelah itu, Vera menyiapkan makanan untuk Damian. Meskipun sederhana, Vera berharap Damian tidak akan pilih-pilih makanan atau dia akan kelaparan.
__ADS_1
Bersambung