
Setelah semalaman melakukan meditasi untuk bisa bertemu dengan jiwa ratu Elisabeth, akhirnya usaha Fan Jianying menbuahkan hasil.
Menjalang dini hari, jiwa ratu Elisabeth berhasil dia temui. Dari wanita penguasa hutan kematian tersebut dia dapat mengetahu bagaimana cara mengeluarkan kristal kehidupan yang ada dalam tubuhnya.
Meski prosesnya sangat riskan akan bahaya, demi keselamatan bayi yang ada dalam kandungannya dia akan melakukan semuanya meski harus mengorbankan nyawanya.
“ Satu hal yang perlu kamu ingat, dalam proses tersebut pastikan tak ada yang bisa mengganggu konsentrasi kalian…jika tidak, dampaknya cukup fatal bagi tubuhmu….”, pesan Ratu Elisabeth sebelum menghilang.
Seiring dengan menghilangnya jiwa ratu Elisabeth, Fan Jianying pun mulai membuka kedua matanya.
Diapun segera kembali kedalam kamarnya untuk beristirahat sejenak sebelum melakukan ritual mengeluarkan kristal kehidupan yang dapat dipastikan akan menguras energy tubuhnya.
Bai Cheung yang menyadari jika istrinya telah kembali dan berbaring disampingnya, langsung menyelimuti tubuh munggil tersebut dengan selimut.
“ Apa yang kamu lakukan semalaman hingga terlihat letih seperti ini ?….”, batin Bai Cheung penuh kekhawatiran.
Sudah cukup lama Bai Cheung tidak pernah melihat istrinya memasuki cincin ruangnya, terutama setelah dirinya dinyatakan positif hamil.
Kali ini, semalaman sang istri berada disana Bai Cheung merasa pasti ada sesuatu hal penting yang sedang dikerjakan hingga memerlukan tempat privasi yang lebih.
“ Kuharap kamu bisa membagi sedikit bebanmu kepadaku….”, guman Bai Cheung sambil menatap wajah istrinya dengan pandangan nanar.
Meski hubungan keduanya sangat dekat dan harmonis, ditambah lagi dengan hadirnya calon buah hati yang sebentar lagi akan melengkapi keluarga kecil mereka namun entah mengapa Bai Cheung masih merasa belum bisa mendapatkan hati Fan Jianying seutuhnya.
Dia masih merasa istrinya memberi tembok tipis untuknya sehingga tak bisa memasuki hati Fan Jianying seutuhnya.
“ Ah, mungkin aku saja yang terlalu banyak berpikir….”, batin Bai Cheung berusaha menepis keraguan yang entah sejak kapan mulai muncul dalam hatinya.
Sementara itu kaisar Huang yang mengetahui jika pasukan Foresty mulai terlibat segera mendiskusikannya dengan kedua putranya, putra mahkota Qin Shi Huang dan pangeran keempat Wei Jie.
“ Ayahanda tenang saja, kami sudah menyiapkan antisipasi mengenai hal tersebut….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang mencoba menenangkan hati sang ayahanda.
__ADS_1
“ Betul apa yang dikatakan oleh kakak. Ayahanda kaisar jangan terlalu risau. Semua hal sudah kita persiapkan dengan baik. Kami pastikan pasukan Foresty tak akan bisa mengacau dengan seenaknya didalam ibukota, selama kami ada….”, ucap pangeran Wei Jie berapi – api.
Mendengar ucapan kedua putranya yang terlihat bersemangat, untuk sesaat kaisar Huang merasa sedikit tenang.
Dilain sisi, Fan Jianying yang sudah terbangun segera mengajak suaminya untuk masuk kedalam cincin ruang untuk melaksanakan ritual mengeluarkan kiristal kehidupan dari dalam tubuhnya.
Dia juga menyuruh seluruh hewan kontraknya untuk menjaga diluar, mengantisipasi seseorang yang hendak membuat kekacauan dalam kediamanannya selama dia melakukan ritual tersebut.
Pada awalnya semua ritual yang dilakukan berjalan dengan lancar hingga tiba – tiba energy keduanya terputus ditengah – tengah.
Membuat tubuh Fan Jianying terpental cukup jauh dan mengeluarkan seteguk darah segar dari dalam mulutnya.
“ Istriku !!!....”, teriak Bai Cheung panik.
Dia segera membaringkan tubuh Fan Jianying dan langsung menyalurkan tenaga dalam agar luka yang ada dalam tubuh istrinya cepat pulih.
Setelah sinar hijau tersebut redup, kulit wajah Fan Jainying yang semula sangat pucat sudah mulai terlihat ada semburat merah.
“ Jangan dipaksakan. Nanti kita coba lagi jika kondisimu sudah membaik….”, ucap Bai Cheung lembut.
“ Tidak…ini sudah gagal. Tak bisa dicoba lagi….”, ucap Fan Jianying dengan air mata beruarai.
Bai Cheung yang melihat istrinya menangis langsung memeluknya dengan erat dan sesekali mengecup pucuk kepalanya sambil memberikan kata – kata penyemangat.
Untung saja Bai Cheung tidak tahu jika yang menyebabkan ritual mereka gagal ditengah jalan adalah karena dia bukanlah cinta sejati Fan Jianying.
Fan Jianying yang memang sedari awal sudah ragu jika sang suami adalah cinta sejatinya, entah kenapa merasa sangat sedih.
Dia merasa seperti telah menghianati sang suami meski dia sendiri tak tahu dimana cinta sejatinya berada.
Perlahan isak tangis Fan Jianying mulai mereda seiring dengan rasa kecewa dalam hatinya yang mulai bisa teratasi.
__ADS_1
Meski begitu, dia masih enggan untuk melepas pelukan hangat sang suami. Bai Cheung yang menyadari hal tersebut membiarkan sang istri dan semakin mendekap tubuh munggil istrinya dengan erat.
Hingga suara dengkuran halus yang keluar dari mulut munggil Fan Jianying membaut sudut bibirnya bergerak keatas.
“ Syukurlah jika aku masih bisa membuatmu nyaman dalam dekapanku….”, guman Bai Cheung sambil mengecup kening sang istri dan meletakkan kepalanya diatas bantal.
Sementara itu Fan Jianying yang tertidur pulas bertemu dengan seorang bocah kecil laki – laki yang mengaku sebagai anaknya hadir dalam mimpinya.
Diapun segera menghibur hati ibundanya yang sedang bersedih hati karena tak bisa mengeluarkan kristal kehidupan dari dalam tubuhnya.
“ Cinta sejati adalah perasaan tulus yang datang dari hati yang paling dalam. Mampu menerima segala kelebihan dan kekurangan orang yang disayanginya tanpa mengharapkan imbalan apapun….”, ucap bocah kecil tersebut bermonolog.
“ Meski Bai Cheung adalah ayahandaku, tapi dia bukanlah cinta sejati ibunda karena ibunda menerima ayah sebagai suami juga karena keadaan. Rasa sayang yang ibunda rasakan terhadap ayahanda adalah karena terbiasa bersama, bukan karena cinta….”, bocah kecil tersebut kembali berucap sambil menatap lembut sang ibunda.
“ Lalu, siapa cinta sejatiku ?...dimana aku harus mencarinya ?...seumur hidup aku belum pernah merasakan hal itu….”, ucap Fan Jianying sedikit kalut.
“ Ibunda coba kembali merenung, kira – kira siapa lelaki yang selama ini bisa membuat hati ibunda bergetar, meski itu hanya sesaat. Seseorang yang bisa membuat ibunda merasa nyaman. Ibunda merasa bahagia jika orang itu bahagia dan ibunda akan merasa sedih jika orang tersebut sedih….”, ucap bocah kecil itu menjelaskan.
Untuk sejenak, dalam benak Fan Jianying tiba – tiba melintas wajah seseorang. Namun dengan cepat bayangan wajah tersebut buru – buru dia tepis karena hal itu dia rasa sangat tidak mungkin.
“ Yang dibutuhkan dalam ritual ini adalah cinta sejati dari kedua belah pihak. Dan cinta sejati tak harus memiliki….”, ucap bocah kecil itu menambahkan.
“ Lalu…apa aku harus mencoba melakukan ritual ini dengannya ?....”, tanya Fan Jainying sedikit ragu.
“ Jika hati ibunda mengatakan demikian, maka ikutilah. Ananda rasa, hati adalah petunjuk yang terbaik….”, ucap bocah kecil tersebut sambil mengenggam kedua tangan Fan Jianying dengan hangat sebelum bayangannya menghilang seiring dengan kedua matanya mulai terbuka.
Begitu Fan Jianying bangun, Bai Cheung segera membantunya untuk duduk dan mengambilkan secangkir air minum untuknya.
Tindakan suaminya ini membuat Fan Jianying merasa semakin bersalah. Apalagi jika benar seseorang yang melintas dalam benaknya tadi benar – benar cinta sejatinya.
“ Jika dia benar – benar cinta sejatiku, aku akan merasa sangat berdosa pada suamiku yang telah begitu baik padaku….”, batin Fan Jianying sedih.
__ADS_1
Namun mengingat jika dirinya sudah tak ada waktu lagi untuk larut dalam kebimbangan hati, diapun bertekad untuk mencobanya dengan harapan kristal kehidupan tersebut dapat keluar dari dalam tubuhnya sebelum pasukan Ratu Qinly berhasil menerobos masuk kedalam ibukota.