
Malam hari saat hujan turun dengan sangat lebat, segerombolan pasukan berkuda dengan pedang ditangannya menerobos kegelapan malam.
Mereka menembus kegelapan malam sambil mengayunkan pedang yang ada ditangan, menebas habis siapapun yang mencoba menghalangi perjalanan mereka dengan ganas.
Pasukan Yunyi bergerak dengan kecepatan tinggi menuju wilayah perbatasan ibukota dari berbagai macam arah.
Meski pasukan Yunyi sudah berkurang jumlahnya akibat serangan mendadak yang dilakukan oleh pasukan rahasia milik putra mahkota Qin Shi Huang.
Namun nyatanya hal tersebut sama sekali tak mempengaruhi kekuatan mereka. Bahkan pasukan Yunyi bergerak lebih agresif daripada sebelumnya.
Mereka mempertaruhkan segalanya agar bisa segera sampai di perbatasan ibukota dan bersiap untuk memulai pertempuran yang sesungguhnya.
Sebagai salah satu pasukan yang berperan besar dalam penyatuan negara Huangshan di masa lampau, pasukan yang dipimpin oleh jenderal besar Bao ini tentunya bukanlah pasukan sembarangan yang bisa dipandang sebelah mata.
Meski mereka menyadari jika pertempuran kali ini tidaklah mudah, namun mereka sudah berlatih sangat keras hanya untuk tiba dihari ini.
Mereka tak ingin perjuangan yang telah mereka lakukan menjadi sia – sia setelah melakukan penantian yang cukup panjang.
Dendam masa lalu akibat ketidak adilan yang dilakukan pemerintah terhadap mereka yang pada akhirnya memilih untuk memisahkan diri dan berada dalam kendali Ratu Qinly membuat semangat pasukan Yunyi terus membara hingga kini.
Api dendam dalam diri mereka tak akan pernah padam jika dendam masa lampau tersebut tak terbalaskan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang pada akhirnya satu persatu pasukan Yunyi yang terbagi menjadi beberapa kelompok untuk menghindari serangan musuh tiba diwilayah perbatasan dan mulai bergabung dengan pasukan milik Heng Yuan yang sudah tiba lebih dulu disana.
Dengan bersatunya pasukan Yunyi diwilayah perbatasan ibukota membuat formasi pasukan yang dimiliki Heng Yuan menjadi lengkap.
Heng Yuan pun sekarang tinggal menjalankan rencana yang telah disusunnya bersama Ratu Qinly untuk menyerang ibukota dengan keempat pemimpin pasukan yang berhasil dihimpunnya.
Keempat orang besar tersebut terlihat berkumpul untuk mendiskusikan masalah penyerangan yang akan mereka lakukan esok hari, sesuai dengan instruksi Ratu Qinly.
“ Sebaiknya kita menyerang ibukota dini hari nanti, disaat warga masih terlelap…..”, ujar jenderal besar Gao memberi saran.
__ADS_1
Semua orang terlihat sependapat dengan ucapan jenderal besar tersebut. Memang lebih efektif menyerang musuh disaat mereka dalam kondisi lengah.
Dan dini hari adalah waktu yang pas karena waktu tersebut banyak orang masih terlelap di alam mimpi.
Seandainya ada yang bangun, kewaspadaan diri merekapun masih rendah karena pada umumnya jam segini warga masih bersantai sebelum melaksanakan rutinitas harian.
Para pasukan dan pengawal yang berjaga diwilayah gerbang ibukota juga mulai longgar pada waktu tersebut karena adanya pergantian shift dari tugas jaga malam ke petugas jaga siang.
Celah inilah yang akan pasukan Heng Yuan gunakan untuk melakukan serangan. Tanpa mereka sadari jika putra mahkota Qin Shi Huang dan kaisar Huang Lo telah siap terhadap serangan yang akan terjadi tersebut.
Mereka lupa jika ada Fan Jianying yang bisa mengintai setiap pergerakan radius dua ratus meter dari pintu gerbang ibukota tanpa perlu keluar dari istana.
“ Jangan paksakan diri. Sebaiknya istri di dalam istana dan menjaga anak kita dengan baik…”, ucap Bai Cheung sambil membelai perut istrinya dengan lembut.
“ Selama suami bisa mengatasi semuanya, aku akan tetap tinggal didalam istana dengan tenang….”,ucap Fan Jianying lembut.
Rahang Bai Cheung terlihat sedikit mengeras mendengar sindiran yang diberikan sang istri kepadanya.
“ Tidak…suamiku sangat kuat. Hanya saja, musuh kita kali ini tidak bisa dianggap remeh….”, ucap Fan Jianying terselip nada kekhawatiran disana.
“ Suami berjanji akan menjaga istri dan anak kita dengan segenap jiwa meski nyawa sebagai taruhannya suami akan pastikan kalian berdua akan baik – baik saja….”, ucap Bai Cheung berjanji.
Sesuai instruksi kaisar setelah berdiskusi dengan Fan Jainying, tanpa semua orang sadari diam – diam tabib Shilin beserta pangeran keempat Wei Jie sejak pagi hari sudah mulai mengungsikan warga ibukota ke kota Funyuge setelah mendapat kabar dari Guang jika pasukan Yunyi diperkirakan akan tiba diperbatasan ibukota malam hari.
Fan Jianying memilih kota Funyuge sebagai tempat pengungsian karena dianggap kota tersebut netral dan tak pernah dilirik karena tak memiliki potensi menambah kas negara seperti daerah laiannya.
Jadi warga ibukota akan tinggal disana selama pertempuran berlangsung hingga kondisi ibukota kembali stabil.
Pengungsian warga ini dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan kecurigaan sehingga menarik waspada musuh.
Para orang tua, wanita dan anak – anak diungsikan terlebih dahulu karena mereka kaum yang lemah sehingga perlu diselamatkan terlebih dahulu.
__ADS_1
Selanjutnya adalah golongan pekerja dan pengusaha. Yang terakhir adalah kaum bangsawan karena mereka dianggap memiliki pengawal yang bisa menjaga keselamatan mereka selama dalam perjalan menuju pengungsian.
Sedangkan untuk keluarga pejabat, hanya yang berada dibawah kubu putra mahkota dan mendukung kaisr saja yang mereka selamatkan.
Sementara untuk pejabat yang berada dibawah kendali Ratu Qinly tidak terlalu mereka perhitungkan karena nantiny akan dianggap dapat merusak rencana yang telah mereka buat.
Karena waktu yang sangat mendesak dan kereta kuda yang membawa para pengungsi tidak cukup maka sebagian warga terutama para pemuda memilih untuk tetap tinggal didalam ibukota dan membantu peperangan.
Begitu juga dengan para wanita muda yang berani, mereka juga memilih menetap untuk membantu konsumsi dan pengobatan.
Tentu saja niat baik tersebut disambut dengan tangan terbuka oleh putra mahkota Qin Shi Huang yang juga turun tangan dalam menangani masalah pengungsian ini.
Ratu Qinly dan pangeran kedua Song Yu yang sibuk dengan rencana penyerangan mereka tak mengetahui jika sebagian besar warga ibukota telah mengungsi kekota tetangga.
Saat ini fokus mereka adalah menyiapkan rencana dengan sangat matang untuk menggulingkan kaisar Huang Lo bersama dengan para pejabat yang mendukung mereka.
Apalagi sampai dengan saat ini kaisar Huang Lo masih dikabarkan sakit dan belum keluar dari kediamanannya membuat Ratu Qinly sangat yakin jika kali ini rencana pemberontakan yang dipimpinnya akan menuai keberhasilan.
Apalagi ada Cheng Lu dan Heng Yuan di belakangnya beserta pasukan Yunyi miliknya membuat rasa percaya diri Ratu Qinly akan menang sangat tinggi.
Saat tengah malam, pasukan iblis kegelapan yang dipimpin langsung Heian mulai bergerak terlebih dahulu.
Selain untuk mengamati situasi yang ada, rencananya mereka akan melakukan teror terhadap warga sebagai pembukaan penyerangan seperti rencana.
Namun siapa sangka jika mereka kembali mengalami kesulitan waktu melihat banyaknya pasukan Muanbai yang tersebar disepanjang pintu gerbang ibukota.
Pasukan Muanbai tersebut terlihat melayang – laying diudara sambil memegang pedang yang bisa menghancurkan tubuh pasukan iblis kegelapan dalam satu kali tebas membuat nyali Heian sedikit menciut.
“ Sial !!!...pasukan Muanbai ada dimana – mana !!!....”, guman Heian geram.
Diapun bergerak memutar, berusaha untuk mencari celah yang ada agar bisa menembus pertahanan yang telah dibuat oleh pasukan Muanbai.
__ADS_1
Heian yang mengalami jalan buntu akhirnya memilih untuk mundur sekaligus menginformasikan peta pertahanan gerbang ibukota yang berhasil dia gambar.