CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
PERAYAAN


__ADS_3

Udara malam ini terasa lebih dingin dan mencekam. Meski mayat sisa pertempuran sudah di bakar habis, namun bau anyir masih tercium dimana – mana dan suara lolongan hewan malam semakin membuat bulu kudu berdiri.


Dalam tenda perawatan, Fan Jianying bersama Hira dan hewan kontraknya yang sudah berubah wujud menjadi manusia membantu tabib Mian untuk merawat luka – luka pasukan Huangshan.


Meski tidak ada yang serius, namun tubuh penuh luka tersebut harus segera diobati agar tidak terinfeksi dan menjadi lebih parah.


Pangeran Xioran yang kondisi tubuhnya masih belum pulih benar, saat ini sedang beristirahat didalam tenda milik Hira dengan Sunny yang terus berada disampingnya untuk memastikan kondisinya tidak kembali memburuk.


Disaat Fan Jianying sedang sibuk menutup luka salah satu prajurit yang terkena sabetan pedang dengan perban, Hira datang dan langsung membisikkan sesuatu ditelinganya.


“ Nyonya, luka tusukan di dada kanan tuan muda tampaknya lumayan parah. Tapi beliau menolak untuk diobati oleh tabib Mian ataupun saya…”, ucap Hira mengadu.


Dari sudut matanya dapat Fan Jianying lihat jika suaminya tersebut sedang duduk diujung tenda sambil memegangi dada sebelah kanannya yang terlihat terus mengeluarkan darah.


“ Dasar keras kepala….”, ucap Fan Jianying menggerutu.


Fan Jianying segera mengemasi perlengkapannya setelah selesai mengobati prajurit yang ada dihadapannya itu dan segera berjalan menuju tempat dimana Bai Cheung berada.


Hira yang melihat hal tersebut tersenyum  sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Bai Cheung dengan jempol terangkat.


“ Kerja bagus…”, ucap Bai Cheung lewat sorot mata yang hanya bisa Hira baca.


Bai Cheung tersenyum bahagia waktu melihat istrinya datang menuju kearahnya dengan peralatan medis ditangannya.


Sambil berdehem, Bai Cheung mulai mengembalikan wajahnya menjadi datar kembali saat Fan Jianying sudah tiba dihadapannya.


“ Kenapa tidak langsung diobati ?...bagaimana jika luka ini terinfeksi ?....”, Fan Jianying terus saja mengomeli Bai Cheung karena suaminya itu menolak untuk diobati oleh tabib Mian dan Hira.


Dalam hati Bai Cheung tersenyum bahagia mendengar semua omelan yang keluar dari mulut istrinya itu.


Entah sejak kapan Bai Cheung suka melihat wajah istrinya yang mengemaskan jika sedang marah seperti itu.


Melihat suaminya hanya terdiam, Fan Jianying yang merasa jika ucapannya dianggap angin lalu oleh Bai Cheung segera menekan kuat – kuat luka suaminya itu dengan kasa yang sudah diberi alkohol beberapa kali dengan tatapan tajam.


“ Achhh….”, teriak Bai Cheung spontan waktu lukanya ditekan dengan keras.


“ Istriku, pelan sedikit. Ini sakit sekali….”, ucap Bai Cheung merintih.


Mendengar hal itu, bukannya melembutkan tepukannya, Fan Jianying semakin menepuk – nepuk luka tersebut dengan kasar sambil mengolesinya obat sebelum dia perban agar luka tidak terbuka dan terinveksi.


“ Jangan manja !!!….luka ini tak seberapa !!!…”, ucap Fan Jianying ketus.


Setelah meneliti jika tidak ada lagi luka ditubuh sang suami, Fan Jianying pun bergegas membereskan semua perlangkapannya dan hendak pergi.


Namun langkahnya terhenti begitu Bai Cheung menarik tangannya hingga tubuh munggilnya jatuh kedalam pangkuan sang suami.

__ADS_1


“ Apa yang kau lakukan ?....”, ucap Fan Jianyinng sambil melotot.


Wajah Fan Jianying seketika merah padam waktu menyadari ada banyak pasang mata yang melihat keintiman mereka.


Namun, sedetik kemudian semua orang terlihat mulai menunduk dan mengalihkan pandangannya setelah Bai Cheung memberikan tatapan tajam kepada semua orang.


Fan Jianying terlihat berusaha untuk berdiri namun tangan kekar Bai Cheung yang melilit di perutnya membuat gadis itu sulit untuk bergerak.


“ Cheung…lepaskan….”, geram Fan Jianying sambil mengertakkan giginya marah.


“ Diamlah…biarkanlah begini sebentar…”, ucap Bai Cheung yang langsung menyandarkan kepalanya dipundak Fan Jianying tanpa malu.


Semua orang terlihat mencuri – curi pandang sambil tersenyum samar, menyaksikan kemesraan pasangan tersebut.


Mereka sama sekali tak menyangka jika jenderal muda mereka yang garang dan dingin ternyata bisa bersikap manja seperti itu kepada sang istri.


“ Jadi, apakah gossip itu benar jika mereka berdua telah melewati malam bersama…”, tanya seorang prajurit setengah berbisik dan diangguki oleh beberapa orang yang berada disekitarnya.


“ Tuan muda terlalu sibuk setelah menikah, jadi biarkan mereka berbulan madu disini…”, bisik Liam dengan suara yang hampir tak terdengar.


Semua prajurit yang berada disekitarnya segera menganggukkan kepala sebagai respon setuju dengan ucapan Liam.


Tanpa semua orang sadari ada sepasang mata merah dengan kedua tangan terkepal kuat saatmelihat keintiman antara Bai Cheung dan Fan Jianying,


Jian yang berada disampingnya, menepuk pundak sahabatnya itu pelan untuk meredam amarahnya.


“ Abaikan saja….”, bisik Jian dan segera mengalihkan perhatian Aiguo dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkannya.


Sementara itu Fan Jianying yang masih saja terus merontah didalam dekapan suaminya hingga suara koki Lizeng menyelamatkannya.


“ Makan malam sudah siap….”, ucap koki Lizeng sambil membawa sepanci besar penuh bubur dengan beberapa piring lauk yang dibawahkan oleh beberapa prajurit yang ada dibelakangnya.


Bai Cheung yang mendengar teriakan koki Lizeng mulai mengangkat kepalanya dan kesempatan tersebut tidak disia – siakan oleh Fan Jianying untuk melompat turun dari pangkuan suaminya begitu laki – laki tersebut lengah.


Bai Cheung hanya bisa tersenyum geli waktu melihat istrinya itu segera bergerak menjauh darinya begitu berhasil kabur.


“ Kenapa dia sangat mengemaskan seperti itu sih….”, batin Bai Cheung dengan semburat merah yang mulai muncul diwajahnya.


Meski dia hanya bisa memeluk dan mencium aroma wangi tubuh istrinya untuk sesaat, namun semua itu bisa menghapus semua rasa lelah yang ada.


Dari sini Bai Cheung mulai menyadari jika keputusannya untuk memulai semuanya dari awalnya adalah benar adanya.


Makan malam kali ini cukup special karena tersedia berbagai macam lauk yang cukup lezat dilidah.


Semua ini koki Lizeng dan Fan Jianying siapkan untuk merayakan kemenangan pasukan Huangshan yang berhasil memukul mundur pasukan King of  Devil hanya dalam waktu singkat.

__ADS_1


Untuk perayaan hari ini Fan Jainying tak segan – segan untuk mengeluarkan semua persediaan lauk yang sudah dia buat dan disimpan didalam cincin ruangnya.


Baron dan Gao terlihat menambah lagi tungku pemanas dalam tenda yang sangat besar tersebut agar tubuh prajurit yang terluka tidak kedinginan.


Sedangkan yang lainnya mulai menyiapkan meja dan menata hidangan diatasnya dan spontan membuat perut semua orang meronta untuk diisi begitu aroma lezat tersebut masuk kedalam indera penciuman mereka.


Melihat Peizhi ingin duduk disamping sang istri, Bai Cheung pun segera menyabotasenya dengan lebih dulu duduk disamping Fan Jianying.


Dia juga segera memberi Hira isyarat agar gadis itu duduk disamping nyonya mudanya agar tidak ada laki – laki lain yang mendudukinya.


Hal tersebut tentu saja membuat semua orang melotot dengan mulut terbuka lebar. Sedangkan Peizhi dan Aiguo hanya bisa memberikan tatapan sinis kepada Bai Cheung.


Mereka sama sekali tak menyangka jika Bai Cheung akan bersikap posesif seperti itu kepada Fan Jianying.


Keduanya segera duduk dihadapan Bai Cheung dan Fan Jianying dengan mengusir prajurit yang lebih dulu duduk disana.


Jenderal besar Tian dan Bingwen yang melihat perseteruan tersebut hanya bisa menggeleng – gelengkan kepala sambil tersenyum dan langsung mengajak pasukannya untuk segera makan setelah ada peristiwa yang menyita atensi mereka.


Selama makan malam berlangsung, mangkuk Fan Jianying berisi banyak lauk karena baik itu suaminya, Aiguo dan Peizhi berlomba – lomba untuk mengambilkan lauk untuknya.


Tampaknya perang diatar ketiganya tak berhenti sampai disana, mereka juga berlomba dengan berbagai cara untuk menarik perhatian Fan Jianying hingga prajurit yang duduk makan bersama dimeja mereka merasa kikuk dan tak nyaman.


“ Cukup !!!...”, teriak Fan Jianying sambil membanting sumpitnya diatas meja dengan kasar.


Semua orang pun seketika menghentikan suapan ke mulut mereka setelah mendengar teriakan  penuh amarah dari gadis tersebut.


“ Jika kalian tidak mau makan, pergilah dari sini dan jangan menganggu yang lain !!!....”, ucap Fan Jianying penuh emosi sambil mengarahkan tatapan tajam ke ketiga laki - laki tampan yang sejak tadi berseteru memperebutkan perhatian darinya.


Mendengar amarah Fan Jianying ketiganyapun hanya bisa menunduk takut dan langsung makan dengan tenang.


Fan Jianyingpun bangkit dan meminta maaf kepada semuanya karena menyebabkan keributan malam ini dan mempersilahkan semuanya untuk kembali menikmati makan malam yang telah tersaji diatas meja.


“ Gadis kecil itu kalau marah menyeramkan juga ternyata…”, ucap jenderal besar Tian terkekeh.


Bingwen hanya menanggapi ucapan lelaki jenderal besar Tian dengan senyuman. Semua orang terlihat kembali menikmati makanan yang ada dihadapan mereka dengan hati riang gembira.


Sementara itu ketiga laki – laki tampan yang tadi membuat keributan terlihat makan dengan penuh tekanan karena sepasang mata tajam Fan Jianying terus mengawasi ketiganya.


Hira tersenyum lebar melihat bagaimana tuan mudanya dan kedua pemuda yang bagi Hira cukup menyebalkan itu bisa tunduk kepada nyonya mudanya.


“ Nyonya memang benar – benar hebat….”, puji Hira dalam hati dengan penuh kekaguman.


Para pasukan terlihat menikmati jamuan makan malam kali ini dengan wajah penuh kebahagiaan.


Rasa sakit yang ada ditubuh tak mereka sudah tak dirasa lagi, yang ada sekarang hanyalah luapan rasa bahagia yang ada dalam diri mereka masing – masing.

__ADS_1


__ADS_2