CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
Bab 42. Masalah setelah menikah


__ADS_3

Pagi yang cukup cerah. Vera bangun pagi-pagi sekali untuk membantu ibunya membuat sarapan. Setelah berdebat dengan Damian, tentunya. Dan juga setelah mandi dan menjalankan ibadah bersama.


Tidak ada senyum di wajah Vera, padahal Vera adalah pengantin baru. Harusnya mereka masih merasakan moment bahagia setelah pernikahan.


Selesai masak, Vera menyiapkan sarapan di meja makan. Vera masih betah dengan sikap dinginnya yang membuat ibunya penasaran.


"Ra, dari tadi ibu perhatikan, kamu diam saja. Apa ada yang membuatmu tidak senang?" tanya Bu Hena sambil menata makan di meja makan.


"Tida ada, Bu. Hanya, Vera lagi pingin diam saja," jawab Vera sebisanya.


"Tapi, wajah kamu agak manyun gitu. Orang pasti mengira kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu ini," ucap Bu Hena sambil menghela napas.


"Apa kelihatan seperti itu?" tanya Vera kaget.


"Kalau ada masalah, segera selesaikan dengan baik. Jangan ditunda dan berlarut-larut. Jangan sampai kamu menyesal, Vera," ucap Bu Hena menasehati Vera.


"Hanya sedikit masalah kecil. Tapi kami memang belum menemukan titik temu," kata Vera sambil menatap ibunya sedih.


"Bukannya ibu mau ikut campur urusan kalian. Tapi ada masalah apa sampai pengantin baru, bangun pagi sudah terlihat tidak senang?" tanya Bu Hena penasaran.


Vera tiba-tiba tersenyum malu. Tidak mungkin dia cerita masalah ranjang pada ibunya. Meskipun itu ibunya sendiri, dia masih memiliki rasa malu. Biar mereka akan selesaikan sendiri.


"Ya sudah. Sana panggil suamimu untuk sarapan," perintah Bu Hena.


Vera melangkah menuju ke kamarnya untuk memanggil Damian sarapan. Tapi, hatinya berdesir saat melihat Damian sedang berganti pakaian. Dia hanya mengenakan sarung tanpa baju. Rupanya tadi, sehabis mandi dia hanya memakai sarung dan kemeja untuk sholat.


Terlihat sangat jelas, bentuk tubuh Damian dengan dada yang bidang dan perut yang rata. Dia terlihat sangat seksi. Vera berbalik badan karena dia agak malu melihat pemandangan seperti itu.


"Vera, tolong ambilkan pakaian dalamku. Aku lupa taruh dimana," pinta Damian.


"Kok bisa lupa? Apa mungkin masih di kamar sebelah?" tanya Vera.


"Mungkin juga. Tolong ambilkan, ya," ucap Damian agak malu.

__ADS_1


Vera segera melangkah menuju ke kamar kakaknya. Dia membuka lemari dan mencari pakaian dalam suaminya. Vera menemukan pakaian dalam suaminya tersimpan rapi di salah satu rak di dalam lemari.


Vera tertegun beberapa saat. Ini pertama kalinya dia menyentuh barang pribadi milik suaminya. Tetapi seharusnya, dia berusaha membiasakan diri untuk tidak canggung. Karena kedepannya nanti, dia pasti akan lebih sering menyentuhnya. Vera mengambil beberapa dan membawanya ke kamar.


"Ini, aku taruh di sini ya?" ucap Vera sambil meletakkannya di atas tempat tidur.


"Makasih, Sayang. Tapi, kenapa kamu terlihat malu begitu. Bukannya semalam kamu sudah lihat semuanya?" ucap Damian menggoda Vera.


"Jangan jadi suami mesum. Lebih baik masih punya malu, daripada tidak punya malu. Bahaya," ucap Vera tidak mau kalah.


"Iya, nanti malah malu-maluin. Tapi, bantu kau keringkan rambutku. Di sini tidak ada pengering rambut, jadi bantu keringkan paket handuk," pinta Damian sambil menatap Vera lembut.


Vera menarik napas panjang. Pagi-pagi begini, Damian malah manja seperti anak kecil. Jangan-jangan, dia mau saingan sama Abian. Mengingat hal itu, Vera tersenyum geli. Tetapi sebagai istri yang baik, Vera menuruti saja keinginan Damian, selama itu itu tidak melanggar norma dan Agama.


"Ganti pakaian dulu baru aku mau," jawab Vera.


Damian menuruti keinginan Vera meski hanya memakai kaos dalaman saja. Vera tidak habis pikir, disuruh ganti pakaian, malah hanya pakai itu saja. Tetapi Vera hanya diam saja, melihat ulah Damian. Daripada hal kecil jadi perdebatan seperti tadi.


Vera mengambil handuk dari tangan Damian lalu meminta Damian duduk. Dengan sabar Vera mengusap pelan kepala suaminya dengan handuk. Hanya butuh beberapa menit, rambut Damian sudah cukup kering.


Damian tidak menjawab, dia hanya tersenyum menyeringai, membuat Vera curiga. Damian berdiri lalu memeluk Vera dengan mesra.


"Aku mencintaimu. Aku bahagia, akhirnya aku menjadi suamimu. Aku tidak ingin jauh darimu lagi," bisik Damian lembut.


Vera terdiam. Vera tidak tahu, harus menjawab apa. Haruskah dia membalas bisikan suaminya?


"Katanya mau keluar untuk sarapan. Ayo, jangan sampai ayah dan ibu menunggu," ucap Damian lalu melepaskan pelukannya.


Vera keluar kamar untuk menjemur handuk. Sementara Damian segera memakai pakaiannya untuk pergi ke meja makan untuk sarapan.


"Damian, apakah kalian ada rencana berlibur atau seperti orang-orang kota itu, apa namanya?" tanya pak Anto sambil menatap Damian.


"Bulan madu, Ayah," jawab Damian.

__ADS_1


"Ya, bulan madu. Ada tidak?" tanya pak Anto lagi sambil mengunyah makanan di mulutnya.


Damian melihat ke arah Vera yang termenung dan tidak mendengar pertanyaan ayahnya.


"Terserah Dek Vera saja," jawab Damian setelah melihat Vera acuh tak acuh.


"Vera, bagaimana?" tanya pak Anto sambil melihat ke arah Vera yang menunduk sejak tadi.


"Vera, ayah berbicara padamu. Kamu ini kenapa diam saja dari tadi," ucap Damian sambil memegang tangan Vera.


"Maaf, Ayah. Vera tidak mendengarkan perkataan Ayah. Bisakah Ayah mengulangi lagi pertanyaan Ayah?" tanya Vera gugup dan merasa bersalah.


"Ayah bertanya tentang bulan madu. Aku jawab terserah kamu," jawab Damian.


"Iya Vera. Ayah hanya ingin tahu, berapa lama kamu akan pergi. Kami harus mempersiapkan diri tanpa kamu. Kami pasti akan merindukan kamu," ucap pak Anto.


"Ayah, jangan bicara seperti itu. Nanti Vera malah sungkan kalau mau pergi bulan madu. Vera, Jika kamu ingin pergi, kami akan mendukungmu," ucap Bu Hena lembut.


"Iya, Ayah Ibu. Vera belum terpikirkan untuk bulan madu. Tapi, entahlah. Kita lihat saja nanti," jawab Vera sambil menatap Damian.


"Ayah, setelah beberapa hari di sini, Damian akan membawa Vera ke kota. Ke rumah Damian," ucap Damian yang membuat ayah dan ibu Vera berhenti makan.


"Apa, kamu akan membawa Vera pergi ke kota?" tanya Bu Hena kaget.


"Damian, apa aku tidak salah dengar?" tanya pak Anto sambil menatap tajam Damian.


Vera dan Damian saling berpandangan. Masalah tempat tinggal setelah menikah, memang tidak pernah mereka bicarakan sebelumnya. Damian mengira mereka pasti sudah tahu jika pekerjaan Damian ada di kota, makan Vera pasti juga akan ikut dia ke kota.


Sedangkan ayah dan ibu Vera berpikir, bahwa Vera adalah putri satu-satunya. Karena setelah kakaknya bertugas di luar kota, otomatis, Vera menjadi anak tunggal di keluarga mereka. Tentunya mereka berharap, Vera dan Damian bisa tinggal bersama mereka.


Bersambung


Yuk baca juga karya imajinasi author yang lain

__ADS_1



__ADS_2