CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
UJI COBA


__ADS_3

Pagi harinya, Bai Cheung mulai melewatkan sarapan paginya dan memberitahukan kepada koki agar memberikan jatah buburnya dan Liam untuk yang lainnya.


Pada awalnya Liam sedikit terkejut dan berjalan dengan lemas waktu tuan mudanya memberikan jatah sarapannya kepada yang lain.


Namun kedua mata Liam langsung berbinar cerah waktu tuan mudanya itu memberinya sekeping biskuit yang dibuat oleh madam ketiga Bai kepadanya.


“ Makan itu….”, perintah Baui Cheung sambil memberikan sekeping biskuit ketangan Liam.


Sebelum makan, Liam terlihat mencium aroma harum dan gurih dari biskuit yang ada seukuran telapak tangannya itu.


“ Ini sangat lezat….”, ucap Liam dengan kedua mata berkaca – kaca.


Akhirnya, setelah sekian lama lidahnya terasa mati karena merasakan makanan hambar setiap hari, sekarang indera pengecapnya itu sudah kembali seperti sedia kala waktu biskuittersebut berada dalam mulutnya.


Liam memakan sekeping biskuit tersebut secara berlahan, menikmati setiap gigitan yang tak berhenti menggoyangkan lidahnya.


Bai Cheung yang melihat aura kebahagiaan dari pengawal pribadinya hanya karena memakan sekeping biskuit tak bisa menutupi jejak kebahagiaan diwajahnya.


Diapun segera mengambil sekeping biskuit buatan istrinya itu dan mulai menggigitnya. Meski berusaha untuk mengingkari hati kecilnya, namun lidahnya tak bisa berbohong.


Hanya dalam sekejam mata, biskuit seukuran telapak tangan manusia dewasa tersebut sudah berpindah kedalam perutnya.


“ Ini sangat lezat dan mengenyangkan…”, guman Bai Cheung sambil membersihkan remah – remah biskuit yang tersisa disudut mulutnya.


Setelah makan sepotong biskuit dan meminum segelas air, Liam dan Bai Cheung merasa perutnya lebih tenang dari pada menghabiskan dua mangkuk bubur.


Mengetahui reaksi awal dari biskuit tersebut yang sangat menakjubkan, Bai Cheung pun membawa keluar sekeping biskuit untuk dia berikan kepada jenderal besar Tian.


Bai Cheung sangat tahu jika selama ini jenderal besar Tian selalu merelakan jatah makanannya kepada para prajurit  agar persediaan bahan makanan bisa teratasi.


“ Apa ini ?...”, tanya jenderal besar Tian binggung.


“ Biskuit buatan istriku. Cobalah….”, ucap Bai Cheung sebelum berlalu.


Jenderal besar Tian tak bisa menyembunyikan senyum bahagia diwajahnya. Selama disini, ini pertama kalinya Bai Cheung menyebut kata “ Istriku ” dengan wajah cerah.

__ADS_1


Meski dia sangat jauh dari ibukota, namun rumor yang menyebutkan jika rumah tangga Bai Cheung dengan sang istri tidak bahagia sudah banyak dia dengar dari para prajurit yang datang ke wilayah perbatasan.


“ Pantas saja semua orang memuji jika gadis itu sangat berbakat…”, guman jenderal besar Tian sambil melahap habis biskuit yang ada dalam genggamannya.


Setelah semua prajurit selesai sarapan, jenderal besar Tian segera membawa sebagian anggotanya untuk menyerang markas para pemberontak yang sudah diketahui lokasinya.


Sedangkan, Bai Cheung dia tinggal dimarkas untuk mengantisipasi adanya serangan balik dari para pemberontak jika rencananya gagal.


Semua anggota terlihat sudah bersiap dengan semua perlengkapan perang yang akan mereka gunakan nanti.


Begitu juga dengan pasukan yang ada dibawah Bai Cheung, mereka sudah bersiap di titik masing – masing.


Menunggu dengan sigap sambil menatap waspada sekitar wilayah perbatasan untuk mendeteksi sekecil apapun gerak – gerik yang dianggap mencurigakan.


Jika diwilayah perbatasan bagian timur semua pasukan telah bersiaga, begitu juga dengan di kediaman keluarga Bai.


Saat ini Fan Jianying sedang menunggu Dayu untuk mempraktekkan  hasil pelatihan yang telah diberikan kepadanya.


Mencium bau harum dari dalam kukusan, Fan Jianying terlihat sangat puas. Apalagi waktu dirinya melihat hasil kudapan yang dibuat oleh pelayan pribadinya itu.


Senyum lebar langsung mengembang di wajah cantik Fan Jianying begitu kue tersebut melesat mulus didalam mulutnya.


Semua pelayan yang menunggu didapur terlihat meneteskan air liur berharap mereka juga bisa mencicipi kue panas yang baru keluar dari dalam kukusan tersebut.


Setelah semua kue yang dibuat Dayu telah lolos dari penilaian Fan Jianying, kue – kue tersebut segera diberikan kepada para pelayan yang setia menunggu dengan wajah penuh harap.


Servant Meilin dan Heyna saling bertatapan mata melihat wajah cerah Fan Jianying yang bagi keduanya terasa sedikit ganjil.


Ternyata hal tersebut bukan hanya dirasakan oleh keduanya, Dayu dan pelayan senior Gaeng juga merasakan kecurigaan yang sama.


Namun lagi – lagi keduanya harus kembali menutup rapat - rapat mulutnya waktu Fan Jianying terlihat selalu mengalihkan pembicaraan waktu keduanya sudah menyinggung mengenai hal tersebut.


Siang harinya, setelah beristirahat sebentar Fan Jianying segera memberikan tes kepada pelayan senior Gaeng untuk merapikan pembukuan Impereal Restoran.


Hati Fan Jianying sangat lega waktu melihat kerapian dan kerajinan pelayan senior Gaeng dalam menulis pembukuan.

__ADS_1


“ Ingat ya…pembukuan harus ditulis setiap hari agar kita tidak lupa dengan transaksi yang sudah berjalan pada hari itu. Dan jangan lupa meminta rincian, sekecil apapun itu untuk bahan pencatatan agar kita tahu kemana saja uang yang sudah kita keluarkan…. ”, ucap Fan Jianying menjelaskan.


Pelayan senior Gaeng mendengarkan dengan seksama semua penjelasan yang telah diberikan oleh madam ketiga kepada dirinya.


“ Saya masih terlalu dini untuk memegang pembukuan seperti ini nyonya….”, ucap pelayan senior Gaeng merendah.


“ Saat usahaku sudah berkembang, aku tentunya tidak bisa mengurus semuanya sendirian. Dan saat ini, hanya anda yang saya percayai untuk memegang keuangan pribadi saya…”, ucap Fan Jianying sambil mengenggam tangan Gaeng dengan erat.


Pelayan senior Gaeng tak bisa membendung lagi air mata yang sudah dia tahan sedari tadi. Dia sangat terharu dengan ketulusan madam ketiganya tersebut kepada dirinya.


“ Pelayan ini akan menjalankan kepercayaan yang diberikan oleh nyonya dengan sebaik – baiknya….”, ucap Gaeng berderai air mata.


Selain mengajari masalah pembukuan, Fan Jianying juga mengajari pelayan seniornya itu administrasi keuangan.


Dia mengajari Gaeng cara memilah – milah kebutuhan, mana yang menjadi kebutuahn primer sehingga harus didahulukan.


Dan mana yang merupakan kebutuhan sekunder yang haru ditangguhkan. Dia juga mengajari berapa keuntungan yang harus masuk kedalam kas dari modal yang telah dikeluarkan.


Meski Gaeng sedikit lambat karena terbentur usia untuk belajar, namun daya tangkapnya dan fokus serta ketelitiannya membuat Fan Jianying mengacungkan dua jempol kepada wanita paruh baya tersebut.


Saat semua orang sedang mempersiapkan diri agar tujuannya tercapai, begitu juga yang dilakukan oleh Heng Yuan dalam ruang kerjanya.


Didalam ruangan yang tidak terlalu besar itu, Heng Yuan mulai mengembangkan beberapa racun untuk mengubah hewan mutasi sesuai dengan apa yang diinginkannya.


Memiliki anak buah yang pandai membuat racun menjadikan keberadaan Heng Yuan cukup ditakuti oleh musuh – musuhnya.


Apalagi ayah angkatnya sangat mendukung kegiatannya tersebut dan memberikan modal yang cukup besar agar anak angkatnya itu bisa mengembangkan keilmuan yang sangat jarang ada di negeri ini.


Setelah mengalami kegagalan berulang kali, akhirnya dia bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan keingginannya.


Pengeran kedua Song Yu yang kebetulan hadir pada uji coba terakhirnya juga merasa sangat puas.


Dia sangat yakin dengan hewan mutasi baru yang diciptakan ini akan membunuh banyak prajurit yang bertugas diperbatasan.


“ Perbanyak populasinya dan jalankan setelah kuota hewan mutasi telah terpenuhi…”, perintah pangeran kedua Song Yu sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Diapun segera keluar dari tempat uji coba dengan hati riang menuju kedalam istana untuk melaporkan hasil terbaru rencananya kepada ibunda Ratu.


Dia sangat berharap, dalam serangan hewan mutasi kali ini bisa membunuh jenderal besar Tian yang sudah menjadi target utamanya sejak lama dan Bai Cheung tentunya agar langkahnya tidak terganjal.


__ADS_2